Laman Kosong (Key)

Laman Kosong (Key)
Dilema Cinta


__ADS_3

Mereka yang hanya berdua di bawah langit gelap berbintang diterangi indahnya rembulan.


Puisi yang mewakili hati mereka seakan sekejab mata membuat jantung mereka berdegub hingga detak perdetak jantung mereka bisa terhitung, diiringi gemetar dalam hati mereka yang tak terelakkan lagi. Kedua mata kini saling memandang menatap dalam hingga ke Lubuh hati mereka yang paling dalam. Tersirat kata kata yang ingin mereka ungkapkan tapi mereka tak tahu bagaimana untuk mengungkap kan nya juga mengucapkan nya.


Sementara itu Key yang masih tidur di pangkuan Feirvy semakin mempererat genggamannya, antara jemari mereka yang sudah terjalin erat sedari tadi. Dengan mata memandang ke atas berhadapan tepat menatap mata Feirvy. Key merapatkan bibirnya tanda Key sedang tak bisa berkata apa apa setelah perasaannya di wakilkan oleh puisi yang ia telah baca tadi.


A-aku—bagaimana aku mengatakannya. Aku merasa kini memang mulai mencintainya. Tapi aku belum mampu mengatakannya. Juga tidak bisa mengatakannya sekarang juga.


Sama pula perasaan itu juga Feirvy rasakan. Tenggelam larut dalam tatapannya Feirvy hanya bisa memikirkan. Kau ingin bicara apa ...? Aku ingin tahu perasaanmu. Tapi kau seakan menahannya. Aku ingin tahu yang sebenarnya. Karena aku merasa ... aku mulai menyukaimu Key-- Aku ingin kau seperti apa yang kini aku rasakan terhadapmu.


Karena tak bisa juga mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini. Key lebih memilih menenggelamkan kepalanya ke permukaan perut Feirvy yang datar dan memeluknya dengan erat. Dengan suara tak begitu jelas Key berucap sembari terus mempererat tangannya ke perut Feirvy.


Kata Key dengan ucapan yang sangat lirih. “Aku ... tak bisa mengatakannya sekarang ...”


“Ha- kau bicara apa? suaramu tidak terdengar sama sekali. Aku tak bisa mendengarnya.”


Feirvy ... Kau datang di waktu yang tidak tepat. Andai kau datang setelah aku berhenti dari usahaku ini. Dan kau mengenal aku sebagai pria biasa, mungkin ungkapanku yang kini menyukaimu bisa aku katakan sekarang. Waktu aku menikahimu aku yakin aku tidak akan menyukaimu-- Tapi ... perasaan ini datang begitu saja tanpa bisa aku tolak lagi, aku sangat ingin bersamamu. Tapi perusahaanku sedang dalam banyak masalah. Banyak orang orang yang hanya mementingkan diri mereka sendiri sedang mengincar kota hilang. Kalau aku melepaskannya sekarang. Banyak anak buahku yang akan menderita. Dan aku takut kau akan dalam bahaya. Demi kamu ... mungkinkah bercerai itu jalan terbaik agar kau terlepas dari semua bahaya ini. Kalau itu mungkin. Pasti akan ku jalani. Tapi kini aku tidak bisa jauh darimu. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin terus bersama. Di situasi seperti ini, Aku harus bagaimana agar kau tidak dalam bahaya nantinya.


Bentak Feirvy. “Key!! Kau bengong.”


Key langsung geragap tersadar dari lamunannya. "Kita masuk kedalam. Hawanya mulai dingin.”


Sembari menggandeng tangan Feirvy. Key mengantar Feirvy sampai kamarnya.


“Kau tidurlah. Vero biar pelayan yang menjaganya. Malam ini aku keluar, mungkin tidak pulang sampai besok siang.”


Feirvy tengah menunduk saat Key bicara lalu dengan cepat dia berbicara dengan nada sedikit cemas. “Kau mau kemana?”


“Ada beberapa masalah di proyekku. Aku minta jangan menelfon ayahmu dulu.”


“Tapi aku sudah menikah, tak bisakah ayah dan ibuku tahu tentang diriku saat ini.”


“Aku mengerti, Ayahmu bukanlah orang yang mudah. Tentang ibumu, nanti aku sendiri yang mengantarmu ke rumah tante mu."


“Kamu tahu ibuku ada dimana."


“Tentu saja tahu. Aku dulu teman ayahmu. Dan bibi sangat dekat denganku. Cuma aku tidak tahu kalau lawan ku punya anak secantik kamu.”


“Kau sedang menggombal?"


“Tidak. Aku sedang menghibur. Apa kau terhibur?


Feirvy mengangguk tersenyum. “Iya. Aku terhibur.”


Key tertawa senyum. "Ternyata aku berhasil," selang beberapa detik Key kembali berucap. Sembari satu tangannya sedikit erat menggenggam satu tangan Feirvy. "Feirvy. aku pergi dulu.”

__ADS_1


Feirvy terdiam setengah termenung dengan kepala menunduk, sesaat kalau di terawang Feirvy tengah memikirkan suatu hal. tapi mendengar Key ingin segera pergi. Tangan Key yang setengah mengerat antara jemari Feirvy. Feirvy membalas mengerat tangan Key, sembari berucap. "Aku menunggumu pulang."


Secercah harapan seakan muncul tanpa ada pembatas lagi dalam hati Feirvy. Hati yang telah mengakui perasaannya sendiri kini tengah mencemaskan orang yang dia cintainya. Key mengecup kening Feirvy. "Aku tidak pasti pulang. Aku tidak akan lama."


.


.


.


.


.


*****


Malam malam sekali. Sebagai asisten juga sebagai orang kedua dalam perusahaan yang Key kelola. Verru selalu punya inisiatif sendiri. Apa saja yang harus dia kerjakan dan mana dulu yang harus dia utamakan. Selama pengintaian yang dia lakukan. Baru dini hari Verru dapat mendapat celah untuk bertemu pria yang masih berstatus mahasiswa yang di rekrut Arthur untuk jadi pegawainya, juga sumber lain mengatakan kalau dia juga akan di jadikan mata mata sebagai anak buah Key yang akan melamar kerja di istananya Key. Tentu dia telah membawa segudang ilmu untuk jadi anak buah Key. Tapi sayangnya Key lebih dulu tahu rencana busuk Arthur ingin memasukkan mata mata untuk jadi anak buahnya Key. Demi ingin tahu keadaan anak nya sendiri.


Beberapa pembicaraan mereka perbincangkan dengan celah waktu yang amat singkat. Entah apa hasilnya. Verru tak lama langsung keluar dan secepat mungkin pergi dari kediaman mahasiswa itu. Beberapa hari ini Verru memang harus bekerja Extra untuk perusahaan nya. Apalagi di tambah datangnya Alan yang begitu mendadak sedangkan Verru sendiri belum tahu jelasnya sekarang Alan ada dimana dan rencana apa saja yang Akan Alan rencanakan saat ini.


.


.


.


.


“Kau kenapa kesini lagi.”


“Aku ingin kesini.”


“Kau bertengkar dengannya?”


“Tidak," Key bersandar ke kursi besarnya lalu mencongakkan kepalanya bersandar ke sandaran kursi. "Verru, ... Aku rasa aku menyukainya.”


Menatap terpaku Verru menghadap ke arah Key dengan sedikit nada mengeluh. “Key ... Kau suka dengan seseorang dengan waktu yang tidak tepat sama sekali. Ditambah lagi Alan sepertinya sudah mengintaimu. Kalau dia tahu Kau menikah dan mempunyai wanita disaat seperti ini. Dia dengan mudah menebak kalau itu kelemahanmu.”


Key terduduk lunglai, tangannya seakan meraup mengusap usap wajahnya sendiri seakan kini dia diantara rasa resah, gundah, bingung juga begitu banyak tekanan disaat seperti ini. “Entahlah. Aku juga tidak ingin jauh dengannya.”


“Kau bisa mengamankan dia terlebih dahulu. Agar tak memancing siapapun berbuat jahat padanya.”


“Ayahnya tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan mencari Feirvy sampai ketemu. Dan dia akan mengambilnya sedangkan statusnya masih istri ku. Di manapun Feirvy sekarang, dia tegah dalam bahaya.”


“Lalu apa yang akan kau lakukan.”

__ADS_1


“Mungkinkah aku menceraikannya. Sebelum semua tahu bahwa Feirvy istriku. Sebelum Feirvy tahu kalau aku menyukainya. Dengan begitu dia akan aman.”


“Hah ...! aku tidak suka dengan kebodohanmu itu. Aku tidak yakin dengan itu. Kau bisa bisa menggila lagi seperti dulu saat ditinggal Feirvy terdahulu."


Tubuh dan hati yang lunglai. Key tak mampu berpikir jernih tentang cintanya. Tangannya yang mencubit pangkal hidungnya seakan dia begitu pening dengan keadaannya saat ini.


.


.


.


.


Verru hanya bisa memandang Kelu, melihat Key saat ini. "Kau lihat ini dulu.”


Key melihat beberapa berkas tentang mahasiswa yang akan di pekerjakan Arthur. Dan memang benar anak itu begitu banyak kepintarannya dan bersih, maka akan dengan mudah bisa masuk jadi anak buah Key. Tapi sayangnya Key sudah tahu duluan. Sedangkan anak itu setengah diancam Arthur untuk menerima pekerjaan menjadi mata mata di rumah Key.


“Saat aku mengajaknya bekerja sama. Dia memohon menolaknya. Sepertinya dia sudah sedikit prustasi dengan apa yang akan di tugaskan padanya. Dia bilang sebenarnya takut denganmu kalau dia ketahuan memata matai dirimu. Aku rasa jangan paksa dia. Dia masih mahasiswa. Dia masih berguna dalam hal lain selain tugas ini. Bagaimana menurutmu?”


“Saat dia melamar kerja pastikan jangan terima dia. Maka dia akan terbebas juga dari cengkraman Arthur. Biarkan dia jadi pelajar biasa.”


Key menarik nafas dalam dalam lalu membuangnya.


“Ini akan terus berlanjut dan tak akan berakhir. Aku nanti siang akan ke kantor Arthur.”


“Kau mau apa kesana? Jangan bilang kau mau lagi bekerja sama dengannya. Dia itu orang yang serakah. Dia akan terus mendesakmu untuk kerja seperti ini terus. Kau tidak ingat dengan keinginanmu jadi pengusaha biasa dan melepas ini semua.


“Disaat seperti ini pun juga tidak akan bisa aku melepas ini semua. Sementara Alan malah berencana mengusai ini semua, kalau aku menyerah sekarang--" perkataan Key terpotong oleh ucapan Verru yang amat cemas saat ini.


“Key. Aku mohon jangan bekerja sama dengannya lagi. Aku ingin Key yang dahulu.”


“Kita masih berperang. Kau yang aku inginkan jadi pemilik ini semua bukan mereka. Kita hadapi bersama sekarang.”


Verru hanya bisa memejamkan mata kepedihan seraya menggelengkan kepalanya karena dia sendiri tak mungkin kerja seperti ini terus. Dia hanya ingin temannya baik baik saja, tapi... di masa saat ini. Seperti nyawa taruhannya untuk hidup diri sendiri, juga untuk perusahaan dengan berjuta juta anak buah juga karyawan yang ada di bawah pimpinan Key. Pria biasa yang secara ajaib bisa jadi pengusaha hitam kaya yang di agungkan.


.


.


.


.


Vote yang banyak ya 😆😆

__ADS_1


__ADS_2