
Viola. Viola.... serasa nama itu bagaikan mantra dia ucapkannya sendiri. Kakinya perlahan ke arah mobilnya sendiri dan tak lama dia berlari cepat masuk mobil. Meninggalkan tamu specialnya dan melaju cepat mencari Viola yang sudah berlalu dari rumahnya.
Alan celingukan kemana mana. Dia tidak tahu di mana rumah Viola dan harus ke arah mana dia melaju. Saat itu setiap gang kecil dia lalui bertanya tanya ke orang orang tentang Viola tapi tak ada yang tahu sama sekali. Betapa hatinya sendiri terasa perih. Bagaikan benda tipis menyayat hatinya sendiri, ucapannya yang tajam itu harus dia lontarkan secara kejam kepada orang yang menolongnya dari kematian.
Sudah lumayan lama... ditengah kepasrahannya mencari Viola... Ternyata Tuhan tidak 100% jahat dengannya. Di perlihatkannya Viola tengah mendorong sepedanya berjalan kaki dan terlihat dari kejauhan ia sedang menyeka air matanya dan terlihat bahunya naik turun karena tangis yang di tahannya. Perkataan Alan begitu menyakitkannya. Apalagi bubur yang dibuat sampai di banting begitu saja.
Geragap Alan mau mendekat. Tapi langkahnya seperti terhenti saat Viola hendak masuk rumah. Terlihat Viola seka dahulu air mata dengan kerah bajunya juga mengipas-ipas mukanya yang panas memerah akibat menangis dan kini dia buka pintu masuk kerumah yang sangat sederhana dan kecil dipinggiran kota tersebut.
Kembali Alan berjalan cepat, mendekati rumah Viola, dia amati rumah kecil tersebut. Sesaat Alan berjalan. Kakinya berhenti disisi jendela yang setengah terbuka di malam tersebut. Terdengar di telinganya, dua orang tengah bicara. Yang satunya terbaring dan satunya terduduk di samping neneknya.
“Kok sudah pulang? Gimana buburnya. Pacarmu suka apa tidak?”
Sejenak terdiam Viola, menunduk lalu menjawabnya. “Dia baik baik saja nek... Viola kwartir nenek sendirian jadi Viola pulang lebih cepat."
“Tidak apa... nenek kan sudah sehat. Nenek ingin bertemu pacarmu. Nenek sudah Tua.. nenek juga ingin melihatmu menikah sebelum nenek mati.”
Hal yang membuat Viola mau saat itu dengan Dion... karena Viola menyukai Dion dan yang kedua, Nenek ingin melihat Viola bisa menikah atau mempunyai pacar yang baik dengannya, Permintaan nenek untuk melihat Viola menikah sebelum dia pergi sepertinya itu tidak mungkin. Dengan semakin membaiknya kondisi nenek saat ini, membuat Viola lebih lega atas permintaan nya tersebut.
“Kenapa melamun?”
“Nenek ini bicara apa. Nenek sudah sehat kembali. Tidak boleh lagi berpikir seperti itu.” “pacarku sangat sibuk bekerja saat ini. Dia bilang dia akan cepat melamarku. Jadi nenek jangan pikirkan yang aneh aneh ya.”
Alasan yang membuat neneknya lebih tenang dengan permintaannya saat ini. Dan semua perkataan itu terdengar semua oleh Alan dari luar jendela. Tangannya seakan menggenggam gemetaran. Betapa dia jahatnya saat ini. Mengira Viola yang murahan dan gratisan ternyata semua itu hanya demi neneknya yang sedang sakit. Kakinya kini melangkah ke arah pintu masuk ke rumah kecil tersebut. Tangannya mengetuk ketuk pintu rumah Viola.
“Ada tamu. Siapa?” tanya nenek.
Viola juga terheran. Siapa biasanya jarang ada tamu. Hatinya yang bertanya tanya segera berjalan bergegas membuka pintu masuk. Pintu yang yang setengah terbuka tersebut. Membuat mata Viola terbuka lebar disana, tubuhnya terperangah. Saat dia ketahui lelaki yang melukainya tadi berdiri diam di pintu tersebut. Lalu nenek bersuara. “Siapa Viii.....??”
Masih menatap heran satu Arah ke Alan, Viola menyahut keras perkataan neneknya. “Bukan nek... Orang salah rumah...”
__ADS_1
Alan yang juga masih menatap Viola malah ikut menyahut pertanyaan sang nenek. “Bukan nek... Aku Alan pacar nya Viola. Mau jenguk nenek.”
Tambah terkejut lagi. Mata Viola yang terkejut tadi kini bertambah melebar setelah mendengar nama yang berbeda menyahut seperti itu.
“Pergilah.” Viola setengah menutup pintunya.
Tapi tangan Alan menahannya. “Biarkan aku masuk.”
Lagi, Viola mau menutup pintunya kembali. Alan terus menahan dan nyelonong masuk lalu kembali bersuara keras untuk nenek Viola.
“Aku masuk ya nek... Saya mau jenguk nenek.”
“Masuk. Masuk nak... Viola antar pacar mu kesini.”
Viola sangat bingung dengan sikap Alan saat ini. Alan yang memandang Viola diam saja, lanjut berlalu masuk sendiri keruangan sang nenek dan duduk di kursi samping ranjang nenek. Sedangkan dengan jarak yang sedikit tak jauh Viola duduk diam disana. Saat Alan terduduk Nenek Viola menyambut dengan senyum tulus dan halus. “Benarkah ini pacar anakku. Nenek hampir tak percaya. Kau tinggi gagah dan sangat tampan. Mungkinkah ini Cuma bohongan saja Viola?"
Alan memandang dan tersenyum balik untuk sang nenek. “Sungguh Nek. Aku sungguhan pacar Viola.”
Hanya bisa banyak diam Viola disana saat Alan malah bercanda dengan sang Nenek. Sebenarnya apa maksud Alan saat ini. Viola tak mengerti dengan sikapnya saat ini. Hingga Alan meminta ijin ke neneknya untuk berpamitan pulang. Viola hanya diam seolah berpaling tak mau menanggapi semua itu. Rasa sakit itu benar-benar masih terasa, Viola belum sanggup tiba tiba berbaik hati dengan Alan. Alan hanya bisa menatap Viola saat itu. Tapi suara nenek seakan memecahkan semua itu. Nenek menyuruh Viola untuk mengantar Alan sampai ke luar rumah. Viola tak dapat mengelak dan Viola hanya bisa mengiyakan permintaan sang Nenek.
Berjalan depan belakang. Viola di belakang Alan berjalan di depannya. “Antarkan aku sampai gang depan rumah.” ucap Alan.
Viola tak menjawab hanya menunduk tapi mengiyakan apa yang Alan minta. Sampai di gang kecil remang gelap malam hari itu di jalanan paving Viola berhenti dan perlahan dengan hati hati menyuarakan suaranya.
"Kenapa? Kenapa datang kesini, kenapa bicara seperti itu depan nenekku..."
"Aku... Maaf aku baru tahu. Maafkan aku yang selalu merendahkan mu."
Viola tersenyum ironis lembut dan hanya berkata, "Iya, aku mau balik dulu." Tapi di saat Viola berbalik badan hendak berjalan. Alan menarik lengan Viola hingga tubuh Viola berbalik menghadap tepat dekat dengan tubuhnya. “Aku suka. Aku menyukai.”
__ADS_1
Terperangah, menganga Viola mendengar kata itu dari bibir Alan. Sungguh tak percaya karena siang tadi baru saja Alan menghina dan mencelanya dan kini mengatakan kata itu, membuat Viola tak percaya.
“Kau. Kau bicara apa.”
“Aku kehilanganmu. Saat kau tidak ada... Maaf. Maafkan aku yang baru tahu semua ini dan kenapa kau tak mengatakan dari awal. Kalau kau yang menyelamatkan nyawa juga hidupku.”
Alan menggenggam jemari Kanan kiri Viola dengan erat. Perlahan kata yang berarti itu keluar dari bibir Alan. “Maukah kau menjadi pacarku sesungguhnya.”
Wajah yang masih mendongak, kini pupil Viola bertambah melebar setelah kata tersebut terucap.
“Kau mau kan?” tanya Alan.
Tapi Viola malah meneteskan air mata dan seolah menahan sedannya. perlahan air matanya yang hangat kembali mengalir di malam remang itu. Betapa terluka hatinya yang tadi dan dia masih teringat jelas hujatan Alan tadi. Membuat Viola tak bisa berkata apapun.
Alan melihat air mata mengalir itu hatinya ikut tersakiti. Dia seka air mata Viola dengan jemarinya. Saat masih terisak Isak Alan menunduk menempelkan keningnya ke kening Viola... “Maaf. Maaf kan aku. Aku akan membayar semua kesalahku padamu. Tolonglah tetap bersamaku...”
Jemari Alan meraba halus mendongakkan rahang pipi Viola. Pelan pelan ia dekatkan bibirnya ke bibir Viola.. saat kedua bibir itu hampir saja menyentuh. Tiba tiba Viola mengulurkan tangannya. Mendorong pelan dada Alan. Membuat Alan refleks merenggang, Alan terperanjat dan bertanya tanya. “Kenapa?” Sembari kedua tangan alan meremas jemari Viola yang ada di dadanya.
Dengan menunduk Viola berucap. “A... Alan. Aku....”
.
.
.
.
Berikan komen terbaik kalian....
__ADS_1
by UlanZu