Laman Kosong (Key)

Laman Kosong (Key)
Tawaran yang kedua kalinya


__ADS_3

Dia tadi terlihat kecewa sekali ya, tapi aku memang punya suami dan aku harus terus terang. Kalau tidak dia akan terus begitu denganku. Hah... Disisi lain aku mencurigainya di sisi lain juga kasihan dengannya. Semoga kamu dapat wanita yang baik buatmu. Guman Feirvy yang berjalan sesa'at setelah keluar dari ruangan Alan di rawat.


Feirvy memang baru saja mengatakan statusnya, untuk yang kedua kalinya kepada Alan. Yang pertama mungkin memang tak ada bukti dan itu membuat Alan tak percaya dan kini Feirvy berucap sambil memperlihat kan jemarinya yang sudah memakai cincin pernikahan. Dan kemungkinan Alan kini tengah di landa kekecewaan setelah ia berharap hatinya Feirvy hanya untuknya.


.


.


.


.


Alan pria itu kini tengah berbaring lurus di ranjangnya. Memejamkan mata sembari jemarinya menelangkup ke atas keningnya. Gelisah tengah menyelimuti hati dan pikirannya Alan. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Tapi begitu terlihat guratan kekecewaan kentara pada sikap dan mimik wajahnya. Dia ambil obatnya sendiri dalam sakunya. Dia minum beberapa butir. Efeknya memang menenangkan dan perlahan efeknya akan membuat rasa kantuk dalam tubuhnya. Pilihan meminum obatnya sendiri yang bisa membuatnya tertidur mungkin Itu adalah pilihan tepat kali ini. Dimana dia setengah menahan rasa sakit dan gelisah dalam pikirannya. Mungkin kalau tertidur semuanya perlahan akan menghilang dengan sendiri. Tapi entahlah kalau udah siuman nanti. Apakah pikirannya yang memikirkan Feirvy juga akan hilang atau malah terus balik menghantuinya. Entahlah belum terlihat jelas saat ini.


.


.

__ADS_1


.


.


Selang satu hari sudah dan Alan masih dirawat di rumah sakit itu. Feirvy saat itu sampai kini juga belum menemukan keganjalan atau barang hilang di tempat dia bekerja. Lalu dalam pikirnya ia bertanya tanya -buat apa Dion ada disini-


Feirvy masuk ke kamar Alan. Melihat Alan sedang makan makanannya. Feirvy memeriksa Alan untuk hari ini. “Kau terlihat lebih sehat hari ini, kau boleh pulang dan istirahat di rumah.”


“Kenapa. Kau tidak menemukan bukti kalau aku bertindak kriminal disini ya.”


“Kenapa kau tidak melakukan cangkok sumsum tulang belakang untuk penyakit mu saat ini."


“Aku belum menemukan yang cocok untukku.”


Feirvy menarik setiap sudut bibirnya. Saat pandangannya tertuju ke nampan yang berdiri empat kaki di depan Alan terduduk. Feirvy melihat satu makanan yang kurang cocok untuk penyakitnya. Refleks tangan Feirvy mengambil Supit dan menyingkirkannya ke samping. “Jangan makan yang ini ... Kurang cocok dengan penyakitmu.”


Di waktu itu Alan memandang dalam dalam wajah Feirvy tanpa Feirvy sadari. Ya Feirvy memang memberi tahu kalau dia sudah menikah dan sudah ada bukti cincin nikahnya. Tapi Feirvy tidak berani mengungkapkan jadi diri suaminya ke sembarangan orang dan kini Alan tidak tahu wanita di depannya itu adalah istrinya musuhnya sendiri. Dan tak peduli dia tetap menyukainya.

__ADS_1


Jemari Alan Manahan Supit yang masih terpegangi jemari Feirvy membuat gerak tangan Feirvy terhenti. Mata Feirvy membeliak dan Alan segera berucap. “Aku menyukaimu. Kalau kau tinggalkan suamimu. Aku akan jadi pengganti yang baik untukmu.”


Belum sempat menarik supitnya Feirvy termanggu. Guratan keningnya mengkerut ke bawah. Perkataan yang tak masuk akal dan Feirvy segera menampiknya lalu berucap.


“Seorang pasien harusnya sopan dengan dokternya. Apalagi dokter itu sudah punya suami.”


Feirvy mengambil nafas dalam dalam dan segera berlalu dari hadapan Alan. Lantas pria itu hanya menatap pilu punggung Feirvy dimana Feirvy sudah mulai menjauh dan berlalu hilang dari balik pintu. Andai aku lebih dulu....


.


.


.


.


Yang like, Komen vote tambah cantik kalau yang cewek. kalau yang cowok tambah memikat hehe..

__ADS_1


__ADS_2