Laman Kosong (Key)

Laman Kosong (Key)
Rasa ingin melakukan


__ADS_3

Di dalam mobil mereka berdua bersama saling pandang. Dimana sebelumnya Key sudah dengan sopan meminta ijin kepada atasan Feirvy untuk membawa istrinya, tapi tentu saja di balik kata sopannya itu ada sebesit nada ancaman nan kejam kalau saja wanitanya tak diijinkan keluar dengannya. Dan kata tidak selamat mungkin akan berakhir pada atasan Feirvy kala itu kalau saja sampai itu terjadi.


Di saat setelah rasa haru birunya rasa cinta mereka terucap, kini berganti denyutan jantung kegelisahan di rasakan Feirvy. Dan kini jemari halusnya tengah mengusap pilu pipi Key. Kegelisahan tengah merajai jiwa yang baru saja mendapatkan ketenangn dan belum saja pergi kini berganti rasa cemas ketika Feirvy merasakan suhu tubuh suaminya semakin memanas. Wajahnya pucat dengan bibir yang sudah mulai mengering karena terlalu panas suhu tubuhnya kali ini.


“Kau sakit kenapa nekat sekali kesini.”


“Kalau aku tidak kesini, apa kau akan menemui ku atau merawatku kalau aku sakit.”


“Maaf ...”


Feirvy menunduk termangu. Di kira Key -istriku sungguh peduli bahkan merasa bersalah sudah mengabaikan dirinya- itu yang terpikirkan Key Sebelum Feirvy tiba tiba mendongakkan kepalanya menatap Key. Sembari berucap cepat.


“Itu memang salahmu. Boleh dibilang itu karma dariku. Sudah menyiksaku. Kalau lagi jahat denganku akan aku kutuk kamu jadi ****.”


Telunjuk key mengetuk dahi gadis nakalnya itu. “Awww.”


“Masih saja berani denganku, kapan kau mau menunduk denganku.”


“Kalau kau mau ku rawat dan aku obati aku akan menunduk denganmu.”


Lagi Key mencubit pipi Feirvy. “Obatnya sudah ada di depanku. Apalagi kalau kau menciumku.”


Sesaat terdiam. Feirvy belum pernah mencium diri Key atau tubuh Key secara duluan. Dan kini rasa canggung untuk melakukannya begitu terasa saat Feirvy memalingkan pandangannya yang sebelumnya lurus mengahadap ke diri Key kini berubah jadi berpaling kesamping dengan sejuta rasa gusar di hatinya.


“Kapan aku di ciumnya.”


“Bentar bentar.”

__ADS_1


“Kau ini sedang apa?”


“Aku lagi malu.”


“Apa?!! hahahaha. Aku pikir urat malu mu udah hilang di bawa burung terbang.”


“Enak saja.”


“Terus--”


Tak berani menatap mata Key. Feirvy seakan menyodorkan pipinya ke hadapan suaminya untuk Key menciumnya sendiri.


“Cium sekarang.”


“Ini apa. Aku tadi minta kau yang menciumku duluan. Bukan aku yang duluan."


Ludahnya ia telan dalam dalam. Matanya masih terarah satu arah dengan sepasang bola mata suaminya. Perlahan kedua tangan Feirvy kembali menyentuh pipi Key. Sentuhan yang seakan menggelitik saat di rasakan, tapi rasa gelitik yang Feirvy bawa itu malah terasa seakan sebuah ketenangan hingga Key menutup matanya. Menyerahkan dirinya menyerahkan tubuhnya. Apapun yang di lakukan Feirvy kali ini akan selalu Key terima karena buaian belain sang istri telah mampu merubah rasa hangat menjadi aliran panas dalam darahnya.


Mencoba memberanikan dirinya sendiri. Kini posisi Feirvy semakin dekat begitu pula bibir Feirvy. Getaran kecil seakan tak mau berpaling dan terus mengikutinya. Suara panggilan setengah serak Feirvy Keluarkan saat tangan Feirvy masih memegang lembut kedua pipi Key ketika kedua bibir yang sudah sangat dekat hingga hampir saling bersentuhan.


“Key ...”


Mata tertutup Key menjawab. “Hmm”


“Aku cium sekarang ya.”


Dentuman jantung malah bertambah mencuat pada Key sesaat setelah kata itu terucap. Key hanya menggangguk kecil dan guratan senyum kecil ia perlihatkan setelahnya. Mulailah perlahan ... Lebih dekat lagi dan lebih dekat, dan ... Perlahan bibir itu kini menyentuh bibir suaminya. Pejaman mata Feirvy refleks di lakukan nya dengan hembusan nafas terhembus terus menderai. Bibir Feirvy mulai menekannya, ia cecap bibir itu seakan rasa terjun dalam titik ternikmatkan itu tengah ada pada dirinya.

__ADS_1


Semakin terjun semakin terhanyut dan semakin lupa diri. Semakin juga aliran darahnya mengalir lebih cepat dengan dentam jantung yang semakin mengeras seakan mau perang. Tubuh Feirvy mengerat. Tangannya berubah menjadi pelukan yang di lingkarkan nya ke leher sang suami. Bersama ciuman maut Feirvy lakukan dengan suaminya. Nafas terengah engah, tersengal sengak pandangan mata Berkabut. Hawa gairah tumbuh cepat menyeruak pada mereka berdua.


Gairah itu bahkan tersalurkan ke tubuh Key. Key eratkan pelukannya ke pinggang Feirvy. Ia panggut bibirnya. Key kul*m bibir ranum itu. Hingga berbisik halus.


“Feirvy kau selalu saja menggodaku. Dentam jantungku lebih keras saat ada kamu.”


Feirvy tenggelam ke sisi leher Key. Jemarinya mengerat ke sisi permukaan baju suaminya dan menyahut perkataan nya Key. “Apa kau ingin bercinta sekarang.”


“Kau sedang inginkan sekarang ya."


Terdiam, tersekad. Malu malu Feirvy mengangguk mengungkapan isyarat kata iya.


Key tersenyum. “Aku juga ingin bercinta. Tapi tidak sekarang. Sekarang tutup mata mu dulu. Ada kejutan buat mu.”


Key menutup mata Feirvy dengan selembar kain yang sudah ia siapkan saat di rumah...


.


.


.


.


.


Sebelum lanjut Like komen vote dulu.

__ADS_1


Chapter 1/3 yang di up.


__ADS_2