
Apes banget sih aku... udah dihukum nata gudang masih dipecat juga. Kan mending langsung di pecat gak perlu capek capek nata barang barang di gudang.
Belum lagi sampai di rumah. Dari kejauhan jarak pandang Viola. Viola melihat rumah kontrakannya terlihat seperti banyak laki laki lainnya berdiri dan yang lainnya ada yang keluar masuk mengeluarkan barang barang miliknya keluar rumah. Viola mencoba fokus mengamati dari jauh dan itu ternyata memang benar. Itu kontrakannya dan itu barang barang milik Viola. Melaju cepat Viola mengayun pedal sepeda secepat mungkin dan terhenti mendadak di depan pria pria sangar dengan berbadan besar besar tersebut.
“BERHENTI!! Kalian siapa?! Kenapa barang di rumahku di keluarin semua!!”
Dan para lelaki kekar itu tersenyum menyeringai ke Viola.
“Hahahaha... sebenarnya KAU yang siapa Nona cantik. Ini kontrakan milik Bos kami. Kalau Bos kami memerintahkan mengosongkan rumah ini. Kau bisa berbuat Apa HAH?!! HAHAHAHA.”
Betapa geramnya Viola. Luka dari rumah sakit saja belum selesai kini dari rumahnya langsung dihadang hal seperti ini.
“Kalian juga tidak berhak!!” teriak kasar Viola yang takut kalau harapannya untuk mempertahankan kontrakannya akan gagal. "rumah ini sudah aku kontrak 5 tahun. Dan ini masih 3 tahun. Masih 2 tahun lagi kami bisa tinggal disini."
“Persetan dengan urusan itu Nona. Kami tidak peduli!! Kau cepat Ambil baju mu dan nenekmu yang dari tadi nangis terus disana.”
Mata Viola menatap tajam pria pria itu. "AKU TIDAK MAU!! aku akan tetap tinggal sesuai kontrak yang sudah aku bayar." Belaan telak dari Viola.
Dan dengan kasar salah satu pria disana mengulurkan map yang terbaca Viola kalau tanah ini sudah terbeli dengan harga mahal oleh orang lain. Naik turun napas Viola. Rasanya ingin meletup saja amarahnya. Tapi semua itu di pikir Viola lagi. Kalau dengan amarah tidak akan menyelesaikan masalahnya saat ini. Sembari bibirnya berkatup rapat, dengan mata yang sebenarnya sudah berkaca-kaca. Viola berjalan cepat melewati pria pria itu tanpa permisi dan langsung masuk kamar neneknya.
Di depan neneknya. Viola tak sanggup lagi untuk tak menangis tersedu air mata dan beberapa kali Viola menyeka air matanya sendiri yang berlinang basah di pipinya. Dibereskannya baju miliknya juga baju milik neneknya. Sambil menggandeng lengan nenek, Viola akhirnya dengan berat hati keluar dari rumah juga.
Beberapa menit berlalu Viola tidak bisa membawa neneknya dengan sepeda miliknya. Viola menuntun neneknya sampai ke Halte bus. Dengan memegang ponsel di tangannya, Viola menelpon Alan. Sampai beberapa deringan akhirnya diangkat juga sama Alan.
“Ada apa sayang..?”
“Emm... kau lagi sibuk tidak?”
“Benar sekali aku lagi sibuk banget. Ada beberapa meeting di kantor pusat.” “Ada apa?”
“Eeh—itu-- aku.”
Perkataan Viola belum sempat selesai. Tiba-tiba Alan menyela ucapan Viola.
“Eh. Bentar dulu sayang. Client ku datang. Nanti aku telfon lagi.”
Viola menutup mata seraya bernapas panjang. Menunduk-- terlihat lesu dari sisi fisik juga siqisnya, Alan yang paling di harapkan Viola... sepertinya tidak bisa membantu Viola yang sekarang ini lagi bertubi-tubi mendapatkan musibah. Ditengah kepasrahannya Viola sedikit curiga seperti ada yang mengikuti dirinya dari belakang. Tapi saat Viola berpaling kebelakang yang terlihat kosong tidak ada orang sama sekali. Tapi firasat itu memang benar adanya. Ada seseorang lelaki bertopi hitam sedang bersembunyi di balik pohon besar jalanan. Bersembunyi saat dia mengetahui Viola mau berpaling muka kebelakang.
Saat di dalam Bus. Sang nenek bertanya ‘kita mau kemana sekarang Viola’ Viola sendiri sebenarnya juga bingung tapi saat ini sudah naik bis dan ke arah rumah pamannya ya akhirnya terpaksa kesana. Yang sebenarnya agak sungkan dengan istrinya paman yang sedikit galak. Takutnya tidak di terima oleh tante. Dan takutnya juga malah akan jadi beban dan merepotkan mereka berdua.
Turun dari bus. Viola dan Nenek kembali berjalan ke rumah paman Viola. Dan tampak paman lagi menata-nata barangnya yang baru datang dari pasar dan ketika melihat Viola dan nenek yang tiba tiba ada di depan rumah paman. Paman tersebut langsung tersenyum tapi tak lama senyum itu berubah jadi rasa penasaran yang kuat kenapa Viola dan nenek sampai membawa banyak tas dan jalan kaki.
“Viola Kau bawa tas banyak sekali. Dan tumben sama nenek kesini.”
“Ceritanya panjang paman...”
“Yasudah yang penting masuk dulu.”
“Tante di mana, Paman?”
“Tantemu masih di pasar.”
“Paman sementara waktu aku menginap disini boleh. Kira kira tante ngijinin tidak ya?”
“Kenapa tidak boleh. Ya pasti bolehlah.”
Viola tersenyum haru. Betapa bersyukurnya dia saat itu. Ternyata hari ini masih ada yang mau baik dengannya. Setelah menceritakan semua kejadian hari ini ke pamannya. Betapa merasa kasihanya paman ke Viola dan neneknya. Tante yang baru datang juga langsung mempersilakan Viola untuk tinggal bersama mereka sampai mereka punya tempat tinggal lagi. Senang si-- tapi menurut Viola ini sedikit aneh. Karena yang dia tahu tante yang dia tahu orangnya sedikit galak. Tapi kali ini tidak sama sekali.
Viola melongok ke jendela dan terlihat langit masih begitu cerah.Viola pikir mau keluar untuk mencari kontrakan secepat mungkin, agar tidak terlalu menjadi beban berat buat Tante dan pamannya. Setelah sedikit menjelaskan apa saja yang di alami Viola hari ini. Viola berpamitan keluar dan diam diam mencari kontrakan yang setidaknya layak tinggal untuk sementara waktu.
.
.
.
__ADS_1
.
Dari jam 2 dan sampai jam 4 sore. Sepertinya dewi fortuna lagi tak berpihak ke diri Viola. Viola tak dapat kontrakan murah. Membuatnya kini akhirnya merasa jengah ditambahnya dengan sikap Alan saat ini membuat Viola setengah kesal dengan Alan. Kesal banget! Dia juga tidak ada telfon sedari tadi.
.
.
.
*****
Air sungai kala itu mengalir halus ke kaki Viola yang tengah duduk di bebatuan sungai besar dengan pinggiran rumput ilalang ditemani pepohonan besar disana. Ditahannya angka 1 di ponsel Viola. Mencoba menelpon Alan kembali dan semoga kali ini sudah tak sibuk lagi.
“Ala--nn-"
“Bentar-bentar sayang. Habis ini aku pasti telpon kamu.”
Tuuttt...
Kecewa....
mendengus kecil Viola.
Sangking kesalnya Viola tentang hari ini dan tentang Alan yang susah di hubungi. Sampai-sampai bibir manyunnya sudah dapat di ikat sama karet. Viola mengambili batu kerikil di sampingnya dan di lempar, lempar kan nya ke sungai sampai beberapa kali lemparan.
Gerutu Viola. "Ya! aku tahu kok ini karmaku, Karena anggap saja aku sudah menolakmu lamaranmu. Menolak lamaran sang pangeran," Gerak cepat! Viola berdiri dan berteriak. "LALU KENAPA KALAU AKU MENOLAKMU. ALAN aku tidak menolakmu... Apa salahnya kalau aku ingin kamu jadi orang baik-baik..." Ocehan kekesalan Viola yang sendirian di pinggir sungai. Tapi Viola tidak tahu, sebenarnya ada orang cekikikan tengah persembunyian nya di balik pohon besar yang tak jauh dari Viola.
Lagi kurang puas, Viola kembali mengoceh. "Tapi Aku cantik kok. Alan dapat aku juga masih perawan. Apa ruginya dia, yang rugi malah aku kalau di tinggal Alan aku sudah gak perawan lagi. Hahhhhhhh tau ach."
Pria itu harus benar benar membungkam mulutnya rapat agar tawanya tak bersuara dan terdengar Viola.
"HYA!!" spontan Viola kembali berdiri. "Kenapa memang kalau aku tidak perawan! Banyak Dokter yang suka denganku. Dokter Novan. Dokter Galih, Dokter rizal, Dokte--,"
Mendengar rentetan nama Dokter dokter itu. pria yang sembunyi di balik pohon itu. Tiba-tiba memanas! api kecemburuan berkobar besar! nyalannya bisa membakar apa saja yang di sampingnya.
Terlonjat kaget kebelakang Viola. Betapa terkejutnya dia ada Alan di dekatnya.
Dengan suara goyah Viola menjawab seruan pacarnya yang mendadak muncul begitu saja dan tak ada persiapan apapun.
"Ka-Kau sejak kapan kau ada disini."
"Bilang sekali lagi, siapa saja yang mau rebut pacarku Viola. Akan aku racuni mereka."
"A-Aku-- bercanda kok--"
Alan perlahan mendekat ke posisi Viola... saling pandang saling tatap lembut di jarak yang aman. Amarah Viola tadi seolah terurai perlahan sirna setelah melihat Alan di depannya. Yang ada malah rasa kangen. Rasa rindu yang Viola ingin menyerbu. Memeluk Alan di depannya.
Setelah saling pandang tersebut, Viola memeluk erat erat tubuh Alan. Segala musibah tadi seakan lenyap begitu saja saat melihat Alan. "Hu'u huhuhuhu kemana saja kau. Kenapa susah sekali dihubungi." tangis Viola.
Alan senang juga terharu. Alan balik memeluk erat tubuh Viola dan menyandarkan dagunya ke bahunya dan rasanya tak ingin melepaskan pelukannya tersebut.
"Aku dari tadi pagi mengikutimu. Aku yang menyuruh pihak rumah sakit memecatmu. Dan aku yang membeli rumahmu."
"APA!!!!" Mata Viola langsung Membesar sempurna. Tangan Viola mendorong kuat tubuh pacar.
Nada kesal. "Apa kau bilang!! buat apa kau lakuin semua itu. Itu pekerjaanku Alan."
Alan tersenyum... "Kalau bukan cara ini kau tidak akan mau pindah ke rumahku. Sekarang kau cukup di rumahku menjadi permaisuriku dan kau tidak boleh bekerja karena kau akan jadi ibu buat anak-anakku."
"Maksudmu."
"Aku tidak melamarmu lagi. Tapi aku mau langsung menikahimu," Dengan suara ketegasannya.. Alan pegang erat kedua bahu Viola. "Viola-- dengarkan Aku. Aku sudah lenyapkan semua obat pembunuh itu. karena kamu... aku ingin kau jadi istriku. Aku sadar cuma kamu yang mampu mengubahku jadi lebih baik. Karena itu aku ingin cepat menikah denganmu."
Kata kata yang begitu menyusup masuk ke dalam hati Viola. Matanya berkaca
__ADS_1
-kaca. Pandangannya menjadi buram karena terhalang genangan air mata di kelopak mata gadis tersebut.
"Maafkan aku. Mungkin aku terlalu merepotkanmu. Aku gadis biasa yang banyak sekali permintaannya."
Menggeleng kepala Alan. perlahan jemarinya menyibak untain rambut di kening Viola. Dan meninggal satu kecupan manis di sana.
"Kau sama sekali tidak merepotkan ku, sayang. Karena kau aku sadar diri, aku tak lebih baik darimu. Aku juga pria biasa. Kau bukan wanita biasa bagitu. Tapi wanita manis yang selalu ada buatku."
Viola menunduk-- pipi-pipinya tersipu merah jambu. Dan berucap tulus-- "Terimakasih.." Viola dongakkan wajahnya. Ia jinjitkan ujung kakinya. di dekat kan mukanya lalu Ia cium kening Alan. Di detik itu juga... mendesir jantung Alan. Alan pejamkan matanya. Seakan dia tak sanggup menopang tubuhnya yang lemah atas desiran tersebut.
Betapa bahagianya Alan saat ini. Seperti tak ada lagi beban untuknya. Betapa bahagianya dia kini hidupnya tak lagi sendiri lagi. Alan akan ada teman. Akan ada anak, dan itulah impiannya setelah di tinggal pergi oleh kedua orang tuanya. Mungkin kini orang tua Alan tengah tersenyum senang di surga sana. Melihat anaknya tak lagi melakukan hal kejahatan lagi dan mendapatkan gadis yang baik dan Alan cintai.
.
.
.
Setelah itu...
Alan tiba-tiba jongkok membelakangi Viola. "Ayo naik sini."
"Ada Apa? Aku bisa jalan kaki sendiri."
"Katanya kau tidak enak badan."
Viola tersenyum lebar. Yang tadinya gak mau kini mau dan naik ke punggung calon suaminya. "Alan, hari ini aku harus cari tempat tinggal dulu buat nenek."
"Buat apa."
"Ya buat tidur. Gak enak kalau nginep dirumah paman."
"Hahahaha..."
"Kok ketawa?"
"Nenek mungkin sekarang juga ketawa ketawa sambil lihat TV."
"Ha! mana mungkin nenek ketawa ketawa apalagi di rumah orang."
"Kata siapa rumah orang. Nenek sudah aku beliin rumah besar terus aku kasih 2 perawat disana. Dan satu lagi akting nenek tadi bener bener seperti sungguhan. Seperti orang nangis sungguhan. Aku salut sama Nenek.
"APA!!!," Viola menegang tubuhnya menegak ke belakang.
"Jadi semua adalah rencanamu."
"Hihihihi... bagus kan. Semua sukses dan berhasil."
Bibir Viola berkatup rapat! di jitak kepala Alan berulang kali dari belakang. "Dasar KAU rambut pirang."
"Aduh sakit. aduh sakit. Hahahaha... pacarku kena tipu ternyata."
Hahahahahahahaa....
.
.
.
.
.
The End Alan & Viola selanjutnya lanjut cerita Key n Feirvy
__ADS_1
Terimakasih sudah mau mengikuti kisah Alan dan Viola. by UlanZu.