
“Hahahahahaaa.” Mereka saling tertawa gembira.
“Ayok pulang.” Ajakan Key.
“Ayok- tapi aku gendong ya.”
“Boleh. Tapi apa upahnya.”
“Upah -Feirvy tampak berpikir- Ada pokoknya kalau kau bisa jawab pertanyaan ku, nanti aku cium kamu duluan.”
“Boleh. Apa pertanyaan nya.”
“Emm.. Bentar. Ekor. Ekor apa yang kalau di panggil nyahut terus datang?”
Key berpikir, berguman. “... Ekor apa ..., EKOR CICAK.”
“Kok cicak—Ayo tebak dong.”
Berpikir lagi. “Eemm... Gak tau.”
“Nyerah ya. Ekor. E—koran BANG. Wakakakakaka....”
Key tersenyum tak percaya, Jemari Key menutup mata dan menggeleng geleng kepala berguman apaan sih.
“Ada lagi, ada lagi. Panci. Panci apa yang bisa manjat pohon?
“Emm yang ini pasti bener. Panji petualang.”
“Salah.”
“Banci di kejar kejar satpol PP.”
“Salah.”
“Kera naik pohon bawa panci.”
“Salah.”
“Apaan dong ...”
“Nyerah ya. Panci panci gue suka suka gue. Hep wahahahaha.”
Key meradang. “Bikin kesel ya pertanyaannya."
“Lagi. Lagi ya. Ini yang terakhir kalau kalah gendong aku sampai rumah.”
“Baiklah.” Key mengangguk.
“Hidung hidung apa yang mirip hidungnya kambing.”
“Ya hidungnya kambing.”
“Bukan ... Yang mirip hidung kambingnya ...”
__ADS_1
Key berpikir lagi. “Hidung jerapah.”
“Bukan.”
“Nyerah deh.”
“Hidung yang mirip hidungnya kambing. Ya hidungnya Key. Wakakakakaka...”
Key ketawa ketawa kesel. Key cekik leher istrinya sembari tertawa terhibur.
“Hahahahaa. Kau kalah terus. Gendong aku Key.”
Key jongkok dengan hati senang gembira. Feirvy naik ke punggung suaminya. Mulai key berdiri. Sebelum berjalan Key berpaling ke istrinya dan berucap. “Aku suka kamu.”
Feirvy tersenyum dan membalas dengan tulus. “Aku juga suka kamu.”
Dan mereka saling tersenyum...
.
.
.
.
****
“Kalian mau masuk ke kamar.”
“Iya Bu. Mau mandi dulu.” Jawab Feirvy.
“Malam ini hawanya sangat dingin. Pemanas di kamar itu sedikit bermasalah. Ibu sudah siapkan kamar di paviliun depan. Disana ada juga perapian bisa untuk menghangatkan tubuh kalian.”
“Emm.. Baiklah -Feirvy meminta Key untuk putar balik ke arah paviliun depan- Feirvy kesana dulu. Daa ibu. Daa Tante.”
Salam yang di balas senyuman hangat dari mereka berdua Tante dan ibu Feirvy.
Sesaat pintu di buka. Paviliun itu cukup besar dan mewah. Di ruang kamar yang besar terdapat perapian yang sengaja sudah di hidupkan sebelum mereka datang. Key menurunkan Istrinya. Merangkul istrinya dari belakang lalu berbisik lirih. “Kita lakukan di sini sayang. Tempat enak sekali buat gituan.”
Feirvy memaksa terlepas dari dekapan suaminya. “Kau ini bicara apa. Aku mandi dulu.” Feirvy melangkah pergi. Tapi dengan cepat Key meraih tubuh istrinya kembali. Mengambil tangan Feirvy diarahkannya menempel dan mengelus elus barang miliknya.
Kembali bersuara lirih. “Sudah menegang nih ...”
Feirvy menampiknya. “Aku mau mandi.”
Feirvy berlalu ke kamar mandi sedangkan Key duduk di ranjang sembari mengotak Atik handphone nya. Setelah sekian menit terlewati. Feirvy keluar kamar mandi dan hanya memakai handuk, berganti pakaian di dalam kamar dimana ada Key disitu yang duduk melihat istrinya. Feirvy tak sungkan sungkan telanjang dan berganti baju tanpa permisi dulu dengan Key yang ada di sana juga. Key mengamati dan hanya bisa menelan ludahnya dalam dalam. Sebuah pemandangan eksotis yang langsung membuat milik Key kembali berdiri lagi. Dan membatin, dia ini sengaja ya.
“Kau tidak mandi Key.”
“Nanti.” Key membatin tidak tahukan Istrinya kalau Key sedang kepingin.
“Ayo makan dulu yuk.”
__ADS_1
“Makan,” makan apaan aku ingin memakan dirimu saja.
Feirvy mendekati sang suami duduk di ranjang di dekatnya Key. “Kau tidak lapar ...?”
“Aku lagi main game. Temani aku dulu.” Key mendekat ke posisi istrinya. Lalu melingkarkan kedua lengannya memeluk Feirvy dari belakang sembari tangannya masih main game di handphone nya.
Dan sembari menunggu suaminya main game Feirvy menyadarkan tubuhnya ke dada milik Key. Di sandarkan lah pula kepalanya ke sisi lehernya Key. Dan masih berbau harum meski seharian di luar rumah. Mendapati istrinya seperti seakan mengendus tubuhnya. Key tersadar dan menikmati endusan sang istri dan kembali mencuat lagi hasratnya untuk bercinta lagi.
“Kenapa.” Ucap Key.
Masih bersandar Feirvy menjawab perkataannya Key. “Dirimu masih harum saja, padahal belum mandi.”
Key tersenyum tipis. Jemari Key meraba halus pipi istrinya. Memberi membuat rangsangan disana. Dan kelembutannya itu mampu membuat rasa gelenyar pada tubuh Feirvy. Dan membuat Feirvy halus memejamkan matanya.
Membaca ekspresi istrinya saat ini. Key tak sanggup lagi, setengah di dorong punggung Feirvy yang duduk menungginginya. Pertama ia tatap ironi punggung yang terdapat resleting di belakang punggung Feirvy. Dentam jantungnya Key mulai berdentam lebih cepat. Matanya mulai berkabut nafsu. Dia tatap tubuh Feirvy. Perlahan jemarinya menurunkan Resleting itu dan perlahan sampai ke bawah. Membuat punggung mulus itu terlihat kontras dan menggoda penglihatannya.
Seraya dentam jantungnya yang terus menerus seakan memukul mukul rongga dadanya. Perlahan Key mendekat. Menghisap. Menghirup mengendus punggung Feirvy. Menggeliat Feirvy di buatnya. Kala itu bulu kuduk Feirvy meremang. Jantungnya semakin berdebar kuat. Saat Key mulai mengecup punggung nya. Cepat refleks Feirvy memejamkan matanya erat erat.
Bahkan ketika tangan Key mulai meraba halus dan menelusuri punggungnya, Feirvy mendesah tak kuat lagi dirinya. Dan desahan itu membuat jemari Key menurunkan baju Dress Feirvy sampai ke pangkal pinggang istrinya. Kembali Feirvy mengeluarkan suara terkejut. Tangannya mendekap pay*daranya.
“Tubuhmu harum sekali sayang.” Cepat Key setengah membanting dan menarik tubuh istrinya terlentang di atas ranjang. Tangan Key congakkan antara dagu dan bibir Feirvy hingga terbuka mulut nya. Kini pandangannya yang sangat berkabut. Di ulurkan lidahnya memasuki rongga mulut istrinya. Di pautnya disana di sesapnya disana saling beradu lidah hingga terasa terserap habis lidah Feirvy.
Tubuh yang tak bisa menahannya lagi. Key merajalela tangannya menjelajahi tubuh istrinya. Di permainkan ya tangannya dengan hasrat yang membara. Aliran panas tubuhnya mulai menjalari seluruh tubuhnya begitu juga Feirvy yang beberapa kali harus mendesah mengerang setiap sentuhan itu.
Key tak mau menahannya lagi. Key ingin suatu yang berbeda kali ini. Dimana tubuh istrinya sudah telanjang bulat. Key kembali terduduk menatap Nyalang untuk sang istri dan tak terbaca apa yang ingin Key lakukan. Sekelibat tadi Key melihat shal di atas nakas. dan Cepat di ambilnya.
Feirvy penasaran. “Kau mau apa?”
Membisik lirih dan senxual. “Mau membuat istriku mengerang dan meminta untuk di puas kan oleh ku.”
Key mengikat kedua tangan Feirvy ke atas. Feirvy terkejut -dia mau apa- Key tersenyum. Di ciuminya seluruh tubuh Feirvy terlebih juga di bagian bagian sensitif nya. Sembari melirik Ekspresi istrinya yang tak bisa menahan rangsangan itu. Membuat Key senang puas dan tersenyum. Dengan tangan terikat Feirvy kelonjatan menggeliat setiap perlakuannya Key padanya. Membuah Feirvy terengah engah matanya sayu berkabut.
Suara lirihnya. “Key ...”
“Masih bisa menahannya ya.”
Key membalas. Membalas mencium juga memasukkan jemarinya ke milik Feirvy. Sontak kelonjatan mengerang kuat. Berulang kali Key lakukan sampai Key dapat kan yang dia mau. Jemari Feirvy mencengkeram tangan Key dan mulai terengah engah. Key tersenyum lagi. Dia tahu sebelum Terpuaskan Key berhenti. Tentu membuat Feirvy kecewa. Membuat hati Feirvy dongkol dan protes.
“Aku ... Aku inginkan lagi ...”
Sebuah kata yang di nanti nanti oleh Key. Dengan senyum manis seringainya. Key membalikkan badan istrinya. Duduk di atas tubuhnya. Membuka bajunya setengah telanjang dada. Key menatap manis senxual istrinya. Tangannya memegangi pinggang Feirvy.
“Kalau kau ingin kan lagi. Kau bisa mengambilnya sendiri sesukamu. Sayang.”
.
.
.
.
Like. komen. ranting and vote yang banyak ya. biar up secepatnya😆
__ADS_1