Laman Kosong (Key)

Laman Kosong (Key)
Tamparan untuk diri sendiri


__ADS_3

Sudah hampir 2 minggu dirumah sakit dan Viola kini sudah kembali ke rumahnya bersamaan neneknya sudah mulai membaik setelah paska operasi yang di danai oleh Feirvy. Sore itu di dapur yang sangat sederhana. Berbagai bahan-bahan membuat bubur dia siapkan setelah pagi tadi dia belanja di pasar yang tak jauh dari kediamannya yang kecil tapi cukup nyaman untuk tinggal berdua saja.


Di icip icip mungkin entah sampai berapa kali icipan Viola lakukan. Viola takut kalau rasanya tidak enak. Apalagi ini bubur pertama setelah dia sakit mau dikasihkan ke Alan malam ini. Dan akhirnya siap sudah, sebelumnya dia kasih dahulu almunium foil Di dalam rantang stenlis tersebut biar buburnya tidak kemana mana selain itu juga bisa menahan suhu hangat bubur agar tetap hangat sampai kerumah Alan.


Kini malam hari sudah mulai tampak gelap. Di siapkan nya sepeda mini onthel dan malam ini dia mulai menggayuh sepeda yang sebelumnya Viola sudah berpamitan dengan neneknya yang masih tiduran di ranjang. Viola pamit ke nenek mau antarin bubur ke rumah orang yang special buatnya.


Sementara itu Feirvy dan Key sudah ada dalam perjalanan dan hampir saja sampai di rumah besar milik Alan. Didampingi beberapa Bodyguard guna berjaga jaga kalau ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Dalam hatinya Key sebenarnya belum rela sampai harus ke rumah lawannya sendiri apalagi sampai makan malam bersama, itu sebenarnya hal yang mustahil tapi kini malah terjadi karena Feirvy yang sudah menyakinkan kalau Alan sungguhan sudah berubah akhirnya Sedikit Key menurut mau menerima undangan tersebut.


Turun dari mobil. Feirvy lebih duluan turun dan menunggu suaminya keluar. Feirvy tersenyum menatap Key yang baru saja keluar mobil. Dalam tatapannya, Feirvy tersenyum sembari berucap pelan. “Masuk sekarang." Feirvy membatin, Semoga ini adalah awal yang baik. Awal pertemanan juga akhir dari permusuhan.


Key menjitak kepala Feirvy. “Ini semua demi kamu."


Tanpa penjagaan apapun yang dilakukan Alan. Alan yang tengah mamakai sweter putih keluar rumah dengan senyum halus menghampiri mereka yang masih berada di halaman rumahnya. Saat Alan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Key tak terlalu peduli dengan sambutannya. Malah menggandeng Feirvy ke arah rumah Alan. Dengan berucap dingin. Dan berucap “Aku lapar.”


Perkataan yang sebenarnya ketus dan dingin tapi Alan sudah bisa mengartikan kalau Key ternyata bisa menerima permintaan maafnya meski tak secara langsung Alan sudah memahaminya. Dari belakang Alan mengikuti mereka, setelah di ambang pintu masuk Key langsung disambut beberapa pelayan mereka secara sopan menunjukkan jalan ke meja makan mereka bertiga. Feirvy balik tersenyum kepada mereka. Duduk dengan sopan elegan di barengi Alan yang duduk tak jauh darinya.


******


Suara krenyitan Gayungan sepeda onthel begitu jelas terdengar di keheningan malam itu. Melewati jalan perumahan yang terlihat sepi dan setengah gelap Viola lewati. Dan hampir sampai di rumah Alan. Viola terengah engah tapi dia tetap semangat juga tersenyum di raut mukanya. Turun dari sepedanya Viola benahi dulu tampilannya. Viola berpikir supaya Alan lebih melihatnya dari pada sebelumnya.


Rumah megah itu seakan tak menyapanya tapi dia sendiri yang seakan mengajak rumah tersebut berkompromi dengannya. Tidak ada penjaga yang menghalanginya, saat dia datang. Karena mereka tahu Viola adalah perawat Alan selama Alan sakit. Sampai di depan pintu rumah. Salah seorang penjaga memberi tahu Alan kalau nona Viola tengah menunggu di luar. Feirvy sedikit terkejut tapi dia tak ingin langsung mencampuri urusan mereka.

__ADS_1


Alan membeliakan matanya saat mendengar ada Viola di depan pintu. Alan cepat langkahnya ke luar ruang makan. Sempat terhenti saat melihat Viola tengah berdiri dan membawa rantang di tangannya apalagi melihat Viola seperti tengah berpakaian rapi tidak seperti biasanya.


Tapi sepertinya suasana hati Alan tak seperti apa yang Viola harapkan. Lebar lebar Alan melangkahkan kakinya. Sesampai di ambang pintu, di depan Viola Alan secara mendadak dan tiba-tiba menampik rantang Viola hingga terjatuh ke sofa depan rumah. Tercengang! bahkan terkejut! Setengah mati Viola dibuatnya.


Bubur yang di buatnya susah-susah dan penuh kehati-hatian juga penuh rasa sayang harus terbuang terlempar begitu saja sebelum satu katapun terucap dari bibir mungil Viola. Tangan Viola serasa menggigil seraya menatap rantang yang terjatuh tersebut. Mata Viola mulai memerah karena air mata yang tertahan disana. Kini diberbalik Viola menatap Alan yang di depannya seraya berucap. “Kenapa...?”


“Kenapa?! seharusnya aku yang bertanya kenapa kau datang kesini. Kau datang dan butuh aku saat aku sehat dan tak mau berjuang saat aku sakit. Lalu kau kenapa kesini. Apa kau sedang di telantar kan pacarmu lalu kesini hah.”


Mengharu biru Viola rasakan. Tenggerokan harus beberapa kali menelan ludah sendiri untuk menahan untuk tak menagis tapi ternyata semua itu tak bisa terbohongi, dimana air mata tanpa suara itu mengalir hangat membasahi pipinya. Cecar dan yang dilontarkannya Alan begitu menyayat hatinya. Dia tak pernah memiliki hubungan dengan siapapun selama menyukai Alan dan kenapa sekarang seperti ini.


“Ak. Aku tak pernah seperti itu. Karena aku hanya menyukaimu..”


“Viola. Kau pergi saja dari sini aku tak ingin melihatmu.”


Tak jauh dari Alan berdiri. Kedua tangan kecil itu mengepal kuat kuat setelah mendengar semua apa yang Alan ucapkan untuk Viola. Feirvy melangkah cepat dengan berjuta juta emosi dan cepat suara Plaaakkk Feirvy dengan keras menampar pria brengsek di depannya saat itu.


Bagaimana tidak emosinya mendidih. Feirvy sendiri yang menangani pendonoran sumsum tulang belakang yang terbilang langka itu di donorkan Viola ke Alan. Demi menjaga perasaan Alan Viola harus membunyikan bahwa dia pendonornya. Demi Alan Viola harus menahan sakit selama hampir 2 Minggu dan semua itu untuk Alan bagaimana bisa lelaki itu malah tidak tahu terima kasih sama sekali.


“Feirvy. Kenapa kau penamparku.” Nada terkejut juga terheran seraya Alan memegang pipinya.


Key yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa Mengeryitkan pandangannya. Key sedikit tak percaya semua ini akan Feirvy lakukan.

__ADS_1


“Ralat ucapanmu itu! kau dengan lantang bilang dia tidak peduli saat kau sakit. Kau pikir kau bisa sesehat ini berkat siapa hah!! Kau tahu hampir 2 Minggu Viola menahan sakit buat kamu."


"Maksudmu apa Fyy..??”


“Viola. Viola orang yang mendonorkan sumsum tulang belakang saat kau akan mati.”


Berkerut kening Alan. Setiap suara yang dia dengar bahkan dia tak percaya kalau ini kenyataannya dan inilah yang sebenarnya. Dia belum bisa percaya. Tidak mungkin tidak mungkin Viola lakukan itu.


Alan memegang erat kedua bahu Feirvy. “Katakan yang sejujurnya. Apa itu benar semua.”


Feirvy memandang suram. “Iya itu benar semua. Semua yang aku katakan benar adanya."


Mundur kebelakang, Runtuh serasa hati Alan. Setelah dia berucap kasar dan mengusir Viola dan terlambat dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.......5/6 chapter


__ADS_2