
“Aku hanya ingin membuat mu terhibur.”
Feirvy menunduk tersenyum ramah. Baginya ini terlalu berlebihan dan sebenarnya tidak perlu... Karena gajinya menjadi dokter sudah bisa mencukupi kebutuhannya, bahkan bisa dikatakan Feirvy sudah bisa menabung hasil kerja kerasnya sendiri untuk dirinya hidup mandiri.
Di teras ujung kastil tua itu mereka menghadap luas ke pemandangan luar dimana gedung gedung besar itu terlihat berjajar berdampingan disana. Key ceritakan semua apa saja yang ada di kota itu—dan bagaimana sejarahnya kota ini bisa berdiri dan bagaimana Key mengelolanya hingga sebesar itu. Itu hal yang menakjubkan tapi dibalik semua itu Feirvy merasa
cemas dengan semua yang Key miliki saat ini. Hingga Feirvy harus memeluk suaminya, memohon pada suaminya untuk tak terlalu membesarkan lagi apa yang Key punya dan lakukan saat ini. Dan lelaki itu hanya menatap sendu seraya menganggukkan kepalanya.
Hingga sore tiba dan Key sudah sampai di rumah miliknya. Sebenarnya sudah sedari tadi badan intelijen negara dari dalam dan dari luar negari berusaha menghubungi nomor pribadi milik Key, tapi Key sengaja mengsilent ponselnya. Sepertinya Key memang tengah enggan, juga jengah untuk berkata apapun atau menerangkan apapun pada mereka semua.
***
***
***
3 hari berturut-turut surat panggilan beserta berkas berkas dari intelijen negara datang. Semua terabaikan, Bukan hanya itu saja, Email intelijen yang terkirim dari luar negeripun tak pernah terbaca oleh Key. ketika ada perwakilan intelijen datang hanya Verru lah yang menghadapi mereka. Semua terasa terabaikan oleh Key saat ini. Hari-harinya hanya Key penuhi dengan berduaan bersama sang istri. Dan malah sering kali membuat Feirvy merasa curiga dengan sifat agresif yang di berikan suaminya kepadanya.
Sampai saat malam itu tiba. Key berjalan sendirian di halaman rumahnya. Key pandangi ke setiap sudut rumahnya. Seolah-olah pikirannya tengah menghafal semua barang yang ada di rumahnya saat ini. Dan Key seolah ingin mengingat apa saja yang sudah ada di rumahnya. Sampai terlihat di ujung sudut rumahnya, ada beberapa makanan anjing peliharaannya. Diambilnya makanan itu, dan Key kasih makanan itu ke beberapa anjing peliharaannya. Semua anjing itu berlarian ke tempat Tuannya yang setengah jongkok menunggu mereka datang.
Anjing itu segera memburu makanan mereka. Dengan perasaan lembut key pulas halus bulu-bulu anjing tersebut. Sebagian mereka membalas dengan menjilati tangan Tuannya. Sebagian mereka malah seakan menatap mata Tuannya. Seolah mereka tahu kalau Tuannya tengah mengalami hal besar dalam hidupnya. Kini Key berdiri Key usap-usap halus kepala mereka. Entah apa yang anjing itu rasakan, tapi tatapan mereka seolah sedih. mungkinkah malam ini malam terakhir mereka akan melihat tuannya. Entah apa yang yang mereka pikirkan tapi dari mata mereka terlihatlah sendu saat mereka melihat Tuannya sudah jauh dari mereka.
****
Di malam berikutnya Key peluk istrinya dengan selimut yang menyelimuti tubuh istrinya. Key bertanya, “Kau ingin makan apa?”
“... Aku ingin makan mie instan.”
“Aku buatkan.”
Mendengar kata itu Feirvy terperanjat, tangan Feirvy meranjuk lengan Key. Mencegah Key yang akan berjalan ke dapur. “Ada apa denganmu. Ada pelayan di belakang. Aku rasa mereka juga tidak sedang sibuk.”
Key tersenyum lebar menatap lembut mata Feirvy dan mencubit ujung hidung istrinya. “Tidak apa. Bukan hal yang berat juga. Kau tunggu di ruang makan nanti aku siapkan disana.”
__ADS_1
Key berjalan ke dapur, Sepertinya kebetulan sekali bertemu Verru yang juga mau masak mie di ruangan itu. Tak ada sapaan atau candaan seperti yang biasa Verru lakukan. Yang ada hanya keheningan yang tercipta disana. Tak bersuara tak menyapa bahkan menolehpun tidak. Key yang diam sejajar dengan Verru, matanya melirik ke samping ke arah Verru yang terlihat masih marah dengannya.
Key ambil mie dari tangan Verru. Saat itu juga Verru sekilas memandang temannya lalu lambat Verru berucap. “Aku sedang lapar. Aku mau memasaknya.”
Key berbalik badan dan menghadap temannya yang sedang marah itu. “Aku saja yang masak. Kau tunggu di ruang makan.”
“Tidak.”
“Masakanmu tidak akan enak. Kalau sedang marah.”
Sejenak terdiam. Kemudian Verru berlalu begitu saja. Duduk diam di kursi makan lalu di susul Feirvy yang datang langsung duduk di kursi yang tak jauh pula dari tempat Verru duduk.Tapi, melihat tatapan Verru yang terlihat jengah, membuat Feirvy bertanya-tanya, kenapa lagi ini anak.
Kurung waktu 15 menit mie instan akhirnya jadi. 2 mangkuk mie instan Key letakkan di atas nampan dan Key bawa ke meja makan. Special untuk adik lelakinya itu Key dengan lembut sodorkan mangkok mie ke hadapan Verru yang sedang duduk di dekatnya. Verru masih diam membisu...padahal biasanya Verru yang paling heboh dan banyak bicara dengan Nayna. Tapi sayangnya Nayna sementara waktu ini di Pulangkan ke kampung halaman oleh kakaknya selama liburan sekolah.
Ucap Feirvy ke suaminya. “Verru kenapa?”
“Oh... Dia lagi kalah lotre. Jadi ngambek gitu aja.”
Verru membuang muka. “Bukan itu. Aku tidak selera makan kalau ada Key kampret disini.”
Key tak marah malah tersenyum terhibur. Verru mau kembali mengejeknya setelah beberapa hari ini mogok untuk bicara dengannya. “Sudah cepat dimakan.” Ucap Key cepat.
Lantas semua itu membuat Feirvy tertawa cekikikan. Betapa menggemaskan nya tingkah mereka berdua saat marahan.
Sehabis makan malam, Verru duduk-duduk di teras lantai 2 sambil merokok disana. Tak lama key datang. Mengambil putung rokok milik Verru dibuatnya untuk menghidupkan putung rokok miliknya sendiri.
“Kau masih marah?”
Verru masih enggan menatap Key yang sedang bersandar di tralis besi pembatas teras tersebut.
“Masih...”
Key setengah tersenyum. Lalu dirinya berjalan mendekat dan duduk di samping adik angkatnya itu. Di rangkulnya pundak teman baiknya itu. Menghela napas panjang Key mulai kembali bicara padanya.
__ADS_1
“Aku sedih kalau adikku yang ini marah. Nanti siapa lagi yang berani memanggilnya kampret selain dirimu.”
Verru yang tadinya masih enggan menatap kakaknya itu. Terlihat di guratan pipinya kalau dia tengah tersenyum yang berusaha dia kendalikan agar tak terlihat oleh Kakaknya itu. Tak perlu di tahan lagi sebenarnya, karena Key sudah menyadari kalau adiknya itu tengah tersenyum di sampingnya.
“Kau memang adikku. Cuma beda rahim yang melahirkannya.”
Verru tampak berpikir dan hening.....
Verru tertunduk. “Benarkah?? Kalau kau kakakku—“ Mendadak suara Verru seperti tersendat dan menjadi serak. Kepalanya menunduk seraya meneruskan perkataannya tadi. “seharusnya kau tempati janjimu dulu. Kalau kau tak kan terkalahkan dan menyerah begitu saja.”
Menetes air mata Verru jatuh begitu saja ke lantai. Key semakin erat merangkul pundak adiknya itu. Tak kuasa Verru akhirnya menangis sesenggukkan. Semua ini sungguh membuat Key tersayat hatinya dia merasa bersalah dengan apa yang sudah dia janjikan pada adiknya itu. Key erat erat rangkul adiknya itu dan meminta maaf untuk semua yang sudah terjadi pada mereka.
Dan untuk yang kedua kalinya Verru sungguh tak bisa menahannya lagi. Pria muda itu terisak-isak dalam pelukan kakaknya. Ucap Key untuk Verru... “Terimakasih-- Kau selalu ada disisiku. Menjadi aku yang kedua saat aku tak mampu sendiri. Aku lebih suka kau yang tersenyum tertawa seperti biasanya dari pada menangis seperti ini.”
Di sela sela tangisannya yang menggeru itu samar terdengar Verru tertawa kecil dan juga berusaha menahan sedan tangisannya. Verru berusaha untuk bisa berbicara lancar pada kakaknya itu. “Aku melihat kakakku lebih baik dari yang dahulu. Aku hanya meminta kau selalu jaga diri dan kesehatan. Aku ingin lebih lama denganku.”
Key tersenyum haru...“Lihatlah kau. Kau sudah hampir sama dengan selingkuhanku sendiri.”
Dan kata itu akhirnya membuat Verru tertawa kecil saat itu juga.
****
****
Up 2/3 Chapter
Marhaban ya marhaban ya ramadhan. ..
Mohon maaf lahir & bathin
Selamat menunaikan
Ibadah Puasa & Ibadah-ibadah lainnya selama Ramadhan
__ADS_1