Laman Kosong (Key)

Laman Kosong (Key)
SEASON 2, Episode 3. Penolakan


__ADS_3

“Benarkah?! Aku tidak mengira kalau kau akan menikah lebih cepat dariku. Padahal aku dulu sangat menginginkanmu.” Bicara cepat Erland yang berpura-pura sedang tidak tahu apapun tentang Feirvy. "Lalu kenapa kau dulu tidak mau denganku?" sambungnya Erland kemudian.


“Haha, apaan sih ... wanitamu dulu sangatlah banyak, seharusnya kau juga sudah menikah sekarang." ucap Feirvy yang sedikit malu karena disinggung semasa kuliah dengan Channing.


Erland tersenyum lebar, kepalsuannya begitu sangat luar biasa tak terlihat kalau dia tengah pura-pura saja. "Tapi, sebenarnya kamu yang paling aku inginkan. Sayangnya, kau angkuh sekali langsung menolakku begitu saja." Feirvy hanya berbalas mendengus senyuman setelah perkataan Channing barusan.


Sambil mensesap kopi Erland kembali bertanya lebih serius lagi. “Suamimu bekerja dimana?”


Feirvy sedikit terjengit saat Channing menanyakan pekerjaan suaminya karena bisa saja pekerjaan suaminya itu bukanlah pekerjaan yang bisa langsung memunculkan stigma positif saat dikatakannya. “Ah— itu, dia memiliki suatu usaha yang bekerja sama dengan aparatur sipil negara.”


Erland tersenyum berkembang dengan kekagumannya yang nyata terlihatnya. “Itu bagus dong. Jelasnya dia di bidang apa?" Feirvy menipiskan bibirnya dengan guratan senyum kecut terlihatnya, dan dapat Erland nilai kalau Feirvy sedang tak ingin menceritakan segala detailnya. "Haha, tenang Feirvy ... aku tidak memaksamu untuk menceritakannya ... setiap orang punya hak privasi mereka sendiri-sendiri dan orang lain tidak berhak memaksakan apa yang sudah diprinsipkan pada seseorang itu sendiri."

__ADS_1


Bisa jadi Erland sekarang sedang ada di mode motivator jadi siapa yang mendengarkan mulut palsunya akan percaya begitu saja. Feirvy tersenyum manis ... karena Channing yang dia kenal tak jauh beda dengan yang dulu, penyabar juga selalu dapet mengerti teman-temannya, tanpa Feirvy tahu kenapa Channing begitu baik dan bersikap sopan dengan semua wanita. Karena kalau wanita itu sudah terlena oleh kebaikannya dan kelembutannya, secara perlahan Channing akan menggiring wanita itu mengikutinya dan akhirnya akan terperangkap ke dunia gelap miliknya dan tak dapat terlepas lagi kalau mereka sudah dalam cengkramannya. Tapi, untuk Feirvy dulu memang beda ... Erland dulu memang menyukai Feirvy sebagai gadis yang pemberani dan sangat menarik sekali dipenglihatannya.


Tak sengaja dan tanpa pengawasan dari bodyguard Feirvy. Mereka saling tertawa riang ... saling bertukar cerita dan pengalaman, menceritakan masa lalu mereka yang terlihat menyenangkan untuk kembali diceritakan. Tak ada curiga apapun dari seorang Feirvy yang memang tak tahu apa-apa dengan latar belakang Channing sesungguhnya. Hingga Feirvy hendak mau kembali bekerja, Channing yang berpamitan sebentar kembali lagi menghampiri Feirvy dengan satu tas kecil berwarna merah maron berkilau, saat tas kecil itu diserahkan ... Feirvy sedikit tertegun kalau tas itu adalah untuknya.


“Ambillah, aku beli buatmu.” Yang kebetulan di sebelah cafe mereka ngobrol ada counter jam tangan keluaran swiss. Erland menyerahkan tas itu seraya senyumnya yang amat manis bak madu. Kelopak mata Feirvy berkedip lebih sering saat tas itu diberikan padanya. Dia takut kalau Key akan marah kalau dia menerima pemberian orang lain selain suaminya. Apalagi ini pemberian dari seorang lelaki.


Lama Feirvy yang terlihat nyata sangat ragu tak juga menerima tas tersebut. Channing menipiskan bibirnya penuh kekecewaan, apakah pemberian dari seorang teman lama ini akan ditolaknya mentah-mentah padahal tujuannya adalah sangat baik dan apa yang salah dengan memberikan sesuatu untuk teman yang lama tak bertemu karena belum tentu dirinya akan bertemu kembali setelahnya ini dan inilah penggambaran yang ditunjukan pada Feirvy agar Feirvy percaya dengan kamuflase sempurnanya saat ini.


Feirvy belum juga menerimanya, tapi Channing tetap tersenyum, “Aku tahu kau orangnya sangat berhati-hati, tapi sungguh aku tidak ada niat jahat pada pemberianku ini ... Aku berharap kita bisa bertemu lagi Feirvy. Aku ada jam kerja, aku tinggalkan barang ini di sini. Buang saja kalau kau tidak mau ....” “Aku pergi ya ... senang sekali bisa bertemu denganmu. Ingat itu tadi nomor ponselku,"


Feirvy masih terpaku dengan apa yang ada didepannya saat ini, sedangkan Feirvy menoleh ke arah Channing dia berlalu sambil tersenyum manis untuknya dan berjalan semakin menjauh dari tempat duduk mereka.

__ADS_1


Beberapa menit ... Feirvy buka mini tas maron berkilau tersebut, saat pertama membuka terlihat gelap dan tangan Feirvy merogoh mengambil apa sebenarnya dalam tas tersebut. Bantalan kain kotak kecil dirasanya. Feirvy keluarkan kotak layaknya kotak perhiasan tersebut, setelahnya melihatnya Feirvy merangsek hatinya sendiri. Kalau ini benar kotak berlian yang pasti Key akan marah besar, karena dirinya mau menerima berlian dari orang lain. Feirvy mulai buka kotak tersebut, dan-- terlihat sangat berkilau ... dan itu adalah jam tangan Swiss merek ternama. Pandangan Feirvy langsung melihat-lihat dimana Channing tadi berlalu, tapi Feirvy tak terlihat Channing ada di Cafe tempat mereka minum kopi.


Dengan sikap gelisahan, Dia tutup kembali kotak tersebut. Kembali berpikir kalau ini dia bawa pulang pasti akan menjadi masalah. dan malah akan menimbulkan kecurigaan setelahnya. Pikir Feirvy sekarang sungguh frustasi padahal ini hanyalah benda pemberian dari temannya, tapi ... daripada pada bertengkar dengan suami sendiri. Feirvy berdiri dan meninggalkan tas mini berserta jam tangan berlian itu di atas meja makannya dan dia berjalan cepat berlalu dari tempat itu. Entah siapa nanti yang mengambilnya, daripada membawanya menimbulkan masalah! Feirvy memilih untuk meninggalkannya untuk orang lain saja.


Namun, sepasang mata ternyata telah mengamati Feirvy dari balik pilar gedung Cafe tersebut. Ya. Erland masih ditempat itu dan mengawasi Feirvy sedari tadi. Saat tau Feirvy meninggalkan jam tangan ratusan juta itu begitu saja, Erland tersenyum nungging tak percaya wanita itu meninggalkan barang berharga ratusan juta itu begitu saja, bahkan itu dari temannya sendiri dan hanya karena takut dengan suaminya -Feirvy benar-benar meninggalkannya-


Erland mengancam dirinya sendiri bagaimanapun itu Feirvy harus cepat segera dalam genggamannya. Setelah dirasa Feirvy sudah menjauh pergi, Erland kembali ke tempat mereka duduk tadi dan mengambil tas mini tadi dengan mengumpat halus, “Dasar gadis yang susah dirayu.” Erland berjalan lurus dan tepat di depan kasir Erland menyerahkan tas mini tadi ke salah satu kasir disana, saat di buka betapa terperangahnya gadis manis dan muda itu lalu dengan keras berseru ... “Tuan ...!! Ini milik Tuan,”


“Ambil saja, didalamnya ada kartu namaku." Petugas kasir itu tersenyum-senyum sendiri sembari bergantian mengamati jam tangan lalu kartu nama silver tersebut.


Dan—jangan harap wanita itu akan selamat kalau sudah ditangannya King Erland.

__ADS_1


Up 1/2 chapter


next chapter special edition Verru Nayna


__ADS_2