
Setibanya Arjuna di rumah, terlihat kediaman Arjuna dan Anggrek tampak sepi. Yang ada hanya para penjaga dan ada Bibi Carol yang tengah menonton di ruang keluarga.
"Bi, apa Anggrek sudah tidur?" tanya Arjuna ketika tiba di ruang keluarga.
"Nyonya baru saja masuk ke kamar Tuan, Nyonya tengah menenangkan triplet yang menangis sepertinya sudah ingin tidur karena tadi sempat terbangun cukup lama," kata Bibi Carol apalagi jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Baiklah, Bi aku mau ke kamar dulu." kata Arjuna.
Dengan langkah sigap pria tampan itu memasuki kamarnya. Ternyata anak-anaknya telah tenang dan mata jernih itu menatapnya ketika dia memasuki kamarnya.
"Faris dan Faqih nungguin Ayah ya Sayang? Ooo sayangnya Ayah, lagi minum susu ya? Cepat besar biar bisa nemanin Ayah pusing mikirin bisnis dan kita bisa pergi kebanyak tempat. Seperti main bola di Swiss sambil liburan, pergi ke USA untuk menemui Anty Ariana dan Uncle Kai yang bertambah tua. Eh berarti Ayah juga akan tua? Tidak Ayah menolak tua Anakku Sayang," kata Arjuna saat akan memegang sang Putra, Anggrek mempelototi sang Suami. Karena Arjuna belum cuci yangan sejak datang ke kamar.
"Iya Bunda yang cantik kesayangan Ayah. Aku cuci tangan dulu ya sayang," pamit Arjuna yang hanya membuat Anggrek menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mau heran tapi itu Arjuna, kalau ngak aneh berarti ada yang salah. Huft untung Sayang yah Bun. Gimana yang dirumah ada yang mengalami hal yang sama.
"Bagaimana Bang, lancar?" tanya Anggrek membuat Arjuna sedikit termenung.
"Ada sesuatu yang inggin Abang katakan Sayang. Tapi ada baiknya setelah triplet tertidur atau paling tidak besok karena besok hari minggu dan aku tidak ke kantor," kata Arjuna dan Anggrek hanya menganggukkan kepalanya saja.
Dia percaya jika Arjuna bilang besok berarti besoklah yang terbaik apalagi sekarang sudah larut. Lagi pula jika dimenunda untuk tidur maka dia akan terlambat bangun bukan, nanti ngak bisa caper rugi dong kalau ngak dapat sepertiga malam.
"Ya sudah, sekarang Abang langsung tidur saja. Jangan lupa wudhu dulu biar ngak mimpi burukz" kata Anggrek.
"Mimpiin kamu boleh ngak Yang?" tanya Arjuna mengedip genit pada sang istri.
"Ih Abang makin genit deh," kata Anggrek yang melihat sang suami mengedip manja padanya.
__ADS_1
"Ayang, genit sama istri sendiru masa dilarang?" kata Arjuna malah memeluk sang istri seraya berdiri didekatnya tapi semua itu tidak berlangsung lama karena Faris menolak botol asinya dan menjulurkan tangan pada sang Ayah untuk minta digendong.
"Ya Allah, sayang masa baru dekat-dekat sama Bunda kamu langsung minta gendong? Ya udah ayo sini Sayangnya Ayah, nang ning nong si ganteng pake banget poto kopian Ayah," kata Arjuna mengendong dan mengayun-ayunkan Faris dalam gendongannya.
"Rasanya gendong mereka buat capek Abang hilang deh Sayang. Kamu ngerasain yang sama juga ngak? Uuululu Sayang Ayah," kata Arjuna.
"Tentu Abang, rasanya bahagia sekali bisa bersama dengan mereka. Oh iya Bang, aku mendapat banyak pesanan lagi. Tapi sepertinya aku tidak akan sanggup merancang busan sendiri. Aku butuh tambahan designer, bagaimana aku bisa menemukannya dalam waktu yang cepat," kaluh Aggrek pada Arjuna.
"Sayang jika usahamu berkembang pesat memang designernya tidak akan cukup satu, maka dari itu kaunakan sangat membutuhkan tenaga tambahan. Begini saja, nanti aku akan coba katakan pada Jinyoung bagaimana pun dia lebih ahli dibidang ini. Dia pasti akan menemukan orang yang tepat. Jika belum mampu menemukan mungkin kau bisa meminta bantuan pada gurumu yang juga memiliki usaha yang sama," kata Arjuna yang hanya diangguki oleh Anggrek.
Pagi hari datang menyambut lebih awal, Anggrek tengah bersandar dipelukan sang suami. Tapi ada yang aneh, mereka tidak bermesraan Anggrek sengaja menjadikan sang suami sebagai kursi tempat bersandar sekaligus menghafal hafalannya yang kacau.
"Sayang ada baiknya kita berhadap-hadapan, kalau kayak gini Abang kurang bisa lihat hurufnya dengan jelas Sayangku," kata Arjuna.
"Jadi Abnmang mau bilang aku gemuk sehingga membuat Abang sesak karena bersandar padamu?" tanya Anggrek kesal.
"Baiklah, kayaknya juga lebih nyaman kayak biasa," kata Anggrek.
Ya mereka berdua tidak pernah menjauhkan hal-hal baik, bagaimanapun kebiasaan baik harus dipaksakan dulu sebelum jadi kebiasaan. Setelah jadi kebiasaan harus bisa dipertahankan, bagaimanapun Iman itu kadang naik kadang turun bukan. Jadi butuh support sistem yang saling mengingatkan dan bisa diajak bekerja sama.
Setelah menyelesaikan semua yang menjadi kebiasaan keduanya setelah caper disepertiga malam, saat ini Anggrek tengah menatap pemandangan disekitar dari lantai dua.
"Abang, kenapa kita malah meninggali rumah disini. Mengapa tidak apartement atau apa gitu? Aku suka melihat pemandangan dari ketinggian terlebih dimalam hari. Tapi disini hantmya lantai dua jadi rasanya tidak sebebas ketika kita tinggal di apartement kita di USA waktu awal-awal kita menikah," kata Anggrek menyandarkan tubuhnya pada sang suami.
"Abang ngak berani ambil resiko sayang, Abang masih ngak bisa membayang begitu banyak uang menimpa kita berdua akhir-akhir ini. Terlebih kejadian dua hari yang lalu, semuanya sangat menganggu," kata Arjuna sambil sesekali mengecup pipi sang istri ataupun jemari istrinya.
"Bagaimana jika kita kencan untuk makan malam?" tanya Arjuna pada Anggrek.
__ADS_1
"Setelah apa yang terjadi belakangan ini, Abang rasa kita butuh suasana baru. Jadi ayo kita pergi Dinner malam ini, jika memungkinkan kita akan menginap di hotel. Triplet bisa kita tinggalkan dengan Bibi Carol, lagi pula disini banyak penjaga," kata Arjuna seraya mengusap lengan sang istri yang dibalut switer cokelat.
"Abang, mungkin jika kita meninggalkan dengan Mamah dan Papah aku akan lebih tenang, bukan aku tidak percaya. Kita yang orang tua kandungnya saja terkadang sering lalai bagaimana mungkin kita meninggalkan anak-anak kita pada Bibi Carol dalam waktu yang lama. Kalaupun memang bisa tapi aku tidak bisa tenang karena tidak menuntut kemungkinan kita pulangnya sedikut lama, terlebih bayi kita bukan satu tapi tiga," kata Anggrek memberikan pengertian pada Arjuna.
"Iya Sayang Abang mengerti. Baiklah bagaimana kita ajak triplet, lagi pula Abang ngak mau karena kita lengah hal-hal yang tidak diinginkan malah terjadi," kata Arjuna dan Anggrek mengiyakan.
Malam menjelang, Anggrek dan Arjuna baru bisa melakukan Dinner di jamnyang tidak seharusnya. Jam 10 malam, ya apa mau dikata, merejka berdua harus menidurkan Triplet terlebih dahulu baru bisa berdua.
"Abang, ternyata walau surprizenya aku ketahui tetap rasanya menyenangkan melakukan hal romantis bersamamu. Mungkin karena udah cinta pake banget ya Bang?" tanya Anggrek pada Arjuna.
"Apapun itu Sayang, Abang bahagia kalau kamu bahagia. Oh iya, bagaimana makanannya kamu suka?" tanya Arjuna pada Anggrek.
"Aku sangat suka Abang, ini sangat menyenangkan,'' kata Anggrek pada Arjuna.
Setelah makan malam, Anggrek berdiri dibalkon kamar ketinggian 100 lantai. Semuanya tampak kecil dari atas, tapi beruntung balkonya setinggi dada jadi akan aman walaupun dekat dipinggir.
"Bagaimana Sayang, kamu suka?" tanya Arjuna dan Anggreknhanya menganggukan kepalanya.
"Oh iya Sayang ada sesuatu yang ingin Abang katakan. Ini terkait kebenaran tentang Ayah kandung kamu," kata Arjuna menjeda kalimatnya.
"Apa yang akan kau katakan padanya jika kau menemukannya Sayang?" tanya Arjuna pada Anggrek.
"Entahlah Abang. Tidak pernah bertemu, juga tidak mengenalnya dengan baik bagaimana aku bisa merindukannya. Bahkan meski Papa Taufik yang membesarkan aku bersama dengan Mama Ayana tapi jarak diantara kami terlalu lebar. Walau merindukan mereka tapi ketika bertemu aku bingung bagaimana mengekpressikan rasaku pada mereka," kata Anggrek yang menyandarkan kepalanya pada sang suami.
"Abang mengetahui siapa Ayah kandungmu. Dia merindukanmu dan ingin bertemu denganmu, dia menyadari betul kesalahannya dan ingin meminta maaf padamu. Dia juga yang dua hari yang lalu menyelamatkan Abang dari jebakan teman Abang," kata Arjuna yang malah membuat Anggrek menangis.
"Jika itu yang Abang katakan aku percaya, tapi bagaimana aku menemuinya? Aku takut Abang, aku takut jika dia juga tidak akan jauh berbeda dengan Papa Taufik dan Mama Ayana," kata Anggrek.
__ADS_1
"Anggrek, jangan berpikir begitu sayang. Tidak semua orang berpikiran sama seperti orang tau angkatmu, walau kenyataannya Nyonya Ayana terhormat adalah Ibu kandungmu. Banyak diluar sana Ibu dan Ayah yang menjadi orang tua tanpa memiliki Anak yang sebenarnya, maksudku anak angkat dan mereka menyangi seperti anak kandung. Jadi Sayang, cobalah menemuinya dan bicara padanya agar kau bisa memahami bagaimana kasih sayangnya dan memahami pola pikirnya. Kau tenang saja jika kau merasa tegangbdan takut Suamimu yang paling tampan ini akan membantumu," kata Arjuna.