
Mawar yangbterpesina melihat Arjuna namun tidak demikian dengan Arjuna. Pria tampan yang akan segera jadi calon Ayha itu sibuk dengan ponselnya tanpa melihat ketiga cecunguk yang selalu membuat hidup istrinya tidak damai. Sedari tadi Arjuna sibuk berbalas pesan dengan Anggrek melalui hpnya.
"Arjuna ada yang ingin kamu katakan?" tanya Mamah sebelum Mamah memulai percakapan, karena bagaimanapun Arjuna adalah suami dari Anggrek.
"Sederhana saja dariku, yang pertama saya tidak ingin kalian bertiga menemui Anggrek dikediamanku. Yang kedua siapapun dari kalian bertiga tidak boleh menemui Anggrek tanpa aku! Apapun alasannya. Yang ketiga jangan pernah berharap kalian akan tinggal satu rumah dengan Anggrek walau hanya satu malam! Teruma untukmu Nona!" kata Arjuna dengan mata yang menatap tajam ketiganya yang membuat ketiganya terintimidasi.
"Maaf Nak Arjuna, bukankah kami keluarga Anggrek? Saya Papa dan ini Mama serta Kakaknya sudah sewajarnya jika kami berharap punya waktu lebih banyak dengan Anak kami terlebih Anggrek tengah hamil tua," kata Papa mewakili pertanyaan yang sontak merasuki kepalanya mendengarkan perkataan sang menantu.
"Perlu aku tekankan disini! Kalian memang keluarga Anggrek, tapi keluarga Angkat. Yang selalu memberikan perbedaan mencolok antara Anggrek dan kedua anak kalian. Jadi jangan berkilah merindukan, aku tidak melarang bertemu tapi aku mengantisipasi sikap wanita tidak tahu diri yang memfitnah saudara perempuannya hingga berakhir ditalak di pelaminan. Ayolah, saya yakin betul Anda-Anda semua belum amesia!" kata Arjuna sarkas.
Sadar jika sang Putra merasa emosional, Mama mengusap lengan Arjuna agar tenang.
"Satu lagi, Nyonya saya harap Anda memberikan kenyataan yang sebenarnya pada Anggrek besok! Saya akan membawa Anggrek kemari besok setelah malam tiba. Tidak perlu menyiapkan hidangan apapun, saya yang akan menjamu Tuan dan Nyonya sekalian!" kata Arjuna dan sontak berdiri dari sana meninggakan orang tuanya dan juga keluarga angkat Anggrek.
"Nak, kenapa langsung pergi setidaknya minumlah air yang telah Mawar sediakan," kata Mama dari Mawar.
"Terima kasih Nyonya, tapi Istri saya menunggu dirumah!" kata Arjuna dan meninggalkan semuanya disana.
Sedangkan Mawar yang mendengar sindiran Arjuna merasa meradang.
"Awas saja Kau Arjuna akan aku buat kau bertekuk lutut padaku. Melalui Anggrek aku akan bisa bertemu denganmu dalam waktu sering dan berulang. Ini tidak adil, Anggrek bukan hanya kamu yang berhak bahagia. Aku telah membagi orang tuaku denganmu maka sekarang waktunya kamu membalas budi baik kedua orang tuaku dengan menerimaku sebegai Adik madumu," kata Mawar licik dalam hatinya.
Setelah semua anggota keluarga Arjuna pergi Papa menatap Mama dengan tatapan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Ma, rahasia apa yang Mama sembunyikan dari Papa? Ada apa dengan Anggrek? Mengapa sedari tadi Arjuna selalu berkata sinis? Ini membuat Papa merasa tidak nyaman dan rasanya ingin pulang," kata Papa menatap serius sang istri.
"Apa Papa tidak merindukan Anggrek?" tanya Mama pada Papa.
"Entahlah Ma, mungkin karena Anggrek tidak pernah terlalu dekat dengan Papa makanya Papa juga tidak terlalu merindukan dia. Yang dikatakan Arjuna benar, dia hanya anak angkat kita bahkan sejak kecil dia selalu dibedakan dari Melati dan Mawar. Bagaimana mungkin Papa bisa menyayanginya layaknya anak kandung sedangkan Papa sendiri tau persis bahwa antara Melati, Mawar dan Anggrek berbeda," kata Papa.
"Jangan bilang begitu Mas, bagaimana aku bisa siap mengutarakan yang sebenarnya jika kamu begitu mengasingkan putriku? Bagaimana aku mengutarakannya, aku juga takut kehilangan dirimu dan Mawar sedangkan Anggrek adalah Putriku," kata Mama dalam hati menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca.
"Papa mau istirahat dulu Ma," kata Papa meninggalkan Istrinya dan Anaknya di ruang keluarga.
"Ma, udah jangan terlalu dibawa hati omongan Papa tadi. Begitu juga Arjuna, nanti dia juga luluh kalau Anggrek memintanya untuk menerima kita," kata Mawar lagi.
"Yaudah Ma, Mawar mau kedalam dulu. Udah larut juga," kata Mawar yang memang hari sudah jam 10.30 malam waktu setempat.
Berbeda dengan suasana sendu dikediaman Mawar dan keluarganya maka berbeda dengan kediaman rumah mewah yang Anggrek tempati.
"Sayang, udah malam bobo yu?" tanya Arjuna mendusel manja pada Anggrek yang tengah memakan ayam bakar disampingnya.
"Abaanggg! Ih aku lagi makan, belum mau udahan lagi enak-enaknya tahu!" kata Anggrek yang tidak ingin meninggakan makanannya.
"Ya Allah, Sayangku. Kamu udah ngemil dari tadi, emang belum kenyang aku udah begah banget," kata Arjuna tanpa sadar pada istrinya.
"Abang ini juga gara-gara kamu! Kalau aku ngak hamil aku juga ngak akan makan sebanyak ini, apalagi aku hamilnya langsung dua anak. Kenapa mau bilang aku rakus, aku gendut karena ngak jaga makanan? Ih kamu sadar ngak sih ini anak kamu yang mau loh," kata Anggrek yang langsung menangis tapi yang membuat semua tercengang-cengang disana meskipun menangis Anggrek tidak berhenti makan malah semakin lahap dan membuat kedua pipinya penuh terisi makanan.
__ADS_1
"Sayang, maksud Abang bukan begitu. Kamu ngak rakus, kan makannya bertiga sama Twins. Jangan sedih ya," kata Arjuna cari aman, keamanan biar ngak disuruh bobo diluar mana tahan Arjuna semalam tanpa guling hidupnya yang empuk dan sexy miliknya.
Melihat perilaku Arjuna, Leo dan Kai saling berbisik tidak habis pikir dengan sifat sang Bos yang bucinnya ngak ada obat kalau sudah terkait Anggrek.
"Makanya Abang jangan ngejek aku makan banyak, yang makan bukan cuma aku tapi kedua anak-anak kita ikut dalam bersantap. Ya sudah aku sudah kenyang, ayo kita kekamar," kata Anggrek yang harus dibimbing oleh Arjuna untuk berdiri karena perutnya yang sudah sangat besar sehingga sulit untuk berdiri maupun duduk.
Diperjalanan, Anggrek mengusap punggung tangan suaminya dan sesekali menatap suaminya. Sungguh dia tidak menyangka jika perjalanan panjangnya bersama sang suami bisa ke tahap ini. Apalagi sekarang akan ada dua buah hati yang segera hadir didalam pernikahannya.
"Abang, apa besok malam kita jadi bertemu dengan Mama, Papa dan Kak Mawar?" tanya Anggrek.
"Iya besok kita bertemu diluar ditempat yang Abang sudah rencanakan. Ingat ya Abang ngak mau kamu bandel apalagi memanfaatkan kekeras kepalaan kamu buat tinggal serumah dengan keluarga angkat kamu," kata Arjuna yang di angguki saja oleh Anggrek.
"Iya Abang, aku ngak akan nego lagi kok besok," kata Anggrek pada Arjuna.
Malam tiba, ternyata tempat makan yang disedikan oleh Arjuna adalah sebuah restoran privat yang sengaja dipesannya.
Setiba disana, Anggrek sontak memeluk sang Mama erat dan juga Mawar tentunya. Papa? Anggrek hanya bersaliman takzim layaknya seorang Anak pada Ayahnya.
"Kamu apa kabar Sayang? Ya Allah, ini sudah besar sekali. Kamu pasti kesulitan tinggal sendiri dan hanya ditemani suami, harusnya Mama ada disamping kamu disaat-saat seperti ini. Pasti akan lebih nyaman jika Mama dan Mawar yang membantumu dalam hal-hal yang berbaur kehamilan," Serobot Mama dan mencium wajah Anggrek berkali-kali.
"Iya Anggrek, Kakak juga sebenarnya Khawatir jika kamu hanya tinggal berdua dengan suami kamu apalagi Kamu sudah hamil tua begini," kata Mawar pada Anggrek seraya mengelus perut buncit Anggrek.
"Bu Besan tidak usah khawatir, Saya ada 24 jam dikediaman Anggrek dan juga sangat banyak pelayan yang dipekerjakan oleh Arjuna untuk membantu kebutuhan Anggrek. Belum lagi pegawai butik sekaligus sahabat Anggrek yang selalu menemani Anggrek kemanapun pergi. Jadi Bu Besan dan Mawar jangan terlalu memikirkan Anggrek, dia baik-baik saja bersama kami," kata Mamah.
__ADS_1
"Iya Ma, Mama ngak perku khawatir. Mamah mertuaku selalu ada untukku, dan Abang juga sejak aku hamil 8 bulan Abang lebih sering mengerjakan pekerjaan kantor di rumah ketimbang di kantor," kata Anggrek.
Mendengar perkataan Anggrek dan besannya Mama dari Mawar itu merasa kalah telak. Dia tidak hanya mengasingkan Putri kandungnya tapi juga membuat Anggrek lebih dekat dengan mertuanya ketimbang dia yang selaku Ibu Mertua.