Luka Di Pelaminan

Luka Di Pelaminan
Kedatangan Papah dan Mamah


__ADS_3

Setelah selesai membersihkan sisa darah-darah yang berserakan di lantai dan menyembunyikan mayat Melati, Jeff segera keluar untuk menemui Pak Budi.


"Bagaimana Tuan Jeff? Apa aku sudah bisa mendapatkan gadis yang akan menemaniku malam ini?" tanya Pak Budi pada Jeff begitu pria itu tiba di hadapan Pak Budi.


"Saya sangat-sangat minta maaf Pak Bukdi! Ada hal yang terjadi di luar kendala Saya, gadis itu melarikan diri setelah membuat Jenny pingsan di kamar," kata Jeff dengan segala kebohongannya.


"Bagaimana ini Tuan Jeff! Anda telah membuang waktu berharga Saya! Menyesal saya telah berbisnis dengan Anda!" nada kesal sangat kentara dari suara pria paruh baya itu.


"Kalau seperti ini Saya akan membatalkan perjanjian kerja sama kita! Saya tidak bisa bekerja bersama orang tidak professional seperti Anda!" kata Pak Budi sebelum keluar dari kediaman Jeff.


Jeff yang masih panik segera menghubungi orang-orangnya.


"Gua tunggu lu di sini! Cepat, Jenny berulah lagi!" kata Jeff pada seseorang di seberang sana.


"Oh Tuhan! Jenny, kenapa masih saja?" kata Jeff mengusap wajahnya kasar dan mengacak-acak rambutnya kesal. Ini bukan pertama kalinya tapi sudah menjadi kasus ketiga Jenny sejak gejala itu terlihat semakin nyata.


Di sisi lain, Anggrek saat ini tengah berada di kediamannya. Wanita cantik itu tengah menonton drama China dan juga beberapa cemilan yang melengkapi acara menontonnya.


"Dek, tuh kan Ayah kamu lagi-lagi pulangnya ngaret!" kata Anggrek seraya mengusap perut datarnya seraya melirik jam yang sebenarnya masih menunjukkan angka 5 sore.


"Padahalkan sudah bilang mau pulang lebih awal, kalau kayak gini mending bunda masih di studio Dek, seenggaknya itu ngak sesepi ini loh. Masih ada Tante Amanda, dan juga semua teman-teman di studio," kata Anggrek dengan wajah cemberut.


Ting nong!


Terdengar suara bel berbunyi, hal ini membuat Anggrek mengerutkan keningnya. Siapa yang datang sore-sore begini. Mana dia lagi sendiri lagi? Kalau yang datang pembunuh gimana? Kalau yang datang ternyata dedemit gimana?" tanya Anggrek mulai ngaco.


Perlahan wanita hamil muda iru berjalan ke arah pintu masuk apartement milik suaminya itu.

__ADS_1


Anggrek tidak langsung membuka pintunya, alan tetapi wanita muda iru melihat ke alat yang bisa melihat siapa yang datang dari rumah.


Betapa bahagianya Anggrek saat melihat siapa yang datang, karena yang datang adalah sang Mamah mertua tercinta.


Dengan cepat Anggrek membuka pintunya dan tersenyum lebar dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mamah," Anggrek memeluk Mamah mertuanya erat dan tangisanpun beruraian dari mata indah wanita cantik itu.


"Mamah kok ngak bilang-bilang mau ke sini? Tau gitukan Anggrek bisa siapin Mamah makanan yang enak," kata Anggrek yang bergelayut manja di lengan sang Mamah mertua.


Tidak lama berselang Arjuna dan Papah masuk dengan mengucap salam sebelum mamah sempat menjawab pertanyaan dari sang menantu.


"Mamahkan mau kasih kejutan sama kamu Sayang. Kalau di kasih tahu kedatangan Mamah dan Papah ke sini jadinya ngak kejutan dong Sayang," kata Arjuna yang mengahampiri aang istri dan mengusap kepala Anggrek yang di tutupi kerudung rumahan ala Anggrek ketika di rumah.


"Abang jahat! Kenapa ngak ngasih tau? Aku tuh kangen banget sama Mamah," kata Anggrek.


Anggrek melapaskan pelukannya dari sang Mamah dan menyalamu sang Papah mertuanya.


"Gimana kabarnya Pah?" tanya Anggrek ketika selelsai bersalaman dengan sang Papah Mertua dan kembali memeluk sang Mamah.


"Alhamdulillah kabar baik Sayang," kata Papah mengusap kepala Anggrek yang di tutupi kerudung.


"Oh iya, Anggrek siapkan mqkanan dan minuman dulu ya..." saat Anggrek akan berdiri Mamah dan Arjuna serempak menahan wanita cantik itu untuk tetap duduk di sofa yang berada di ruang keluarga.


"Kamu tetap di sini Sayang, temani Mamah. Urusan dapur biar Abang dan Papah saja, kamu tenang di sini. Ssstttt jangan protes," kata Arjuna memotong perkataan sang istri yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.


"Sudah Sayang! Biarkan saja kedua pria beda generasi itu bertempur di dapur. Kamu hutang penjelasan sama Mamah!" kata Mamah seraya menggenggam tangan Anggrek yang berada di atas pahanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu ngak cerita kalau kamu sudah hamil? Kenapa ngak ngasih tahu kalau Dedek Bayinya sudah ada di sini?" tanya Mamah seraya mengusap perut datar sang menantu.


"Bukan ngak mau cerita Mamah, cuma memang aku dan Abang sepakat kasih tahu Mamah sudah tiba di sini. Karena kata Abang, takutnya nanti Mamah dan Papah langsung terbang ke sini sedangkan kerjaan Papah belum siap, nanti malah menjadi beban pikiran sama Papah, Mah," kata Anggrek seraya menqtapa sang Mamah dengan tatapan rindu.


"Masyaallah anak itu, mikirnya jauh banget. Sudah berapa bulan Sayang? Dedeknya?" tanya si Mamah pada sang menantu.


"Sekarang sudah 8 minggu Mamah, masih keliatan datar," kata Anggrek seraya mengelus perutnya yang terdapat kehidupan di dalamnya.


"Aaahh, Mamah ngak sabar lagi buat nimang cucu. Pokoknya kamu ngak boleh kecapekan. Oh iya kamu di sini semuanya ngerjain sendiri atau ada yang bantu-bantu buat ngurus rumah dan masakan?" tanya Mamah dengan wajah serius seraya mengusap tangan sang menantu kesayangannya itu.


"Abang sewa orang kok Mah, untuk bantu-bantu di rumah. Abang sewa Bibi yang kebetulan udah dekat banget sama Anggrek. Tapi hari ini Bibi udah pulang ke kediamannya," kata Anggrek yang menyandarkan kepalanya ke bahu sang Mamah mertua.


"Hmmm udah tuh, kalau udah ketemu Mamah, sampe lupa kalau suaminya masih ada di sini," kata Arjuna yang datang dari dapur dengan nampan berisi cemilan dan minuman yang di bawanya.


"Sayang tadi kamu bikin cake cokelat? Kan aku susah bilang..."


"Abangku sayang, ngomelnya di tunda dulu. Aku itu justru bosan kalau ngak ngapa-ngapain Abang. Yang ada itu bawaannya jadi kesal gimana gitu. Jadi buat mengisi hari aku karena pulang cepat jadi aku bikin cake toh itu juga ngak berat Abang," kata Anggrek yang sekarang beralih bermanja pada sang suami.


"Alhamdulillah ya Allah, engkau telah persatukan hati yang begitu asing. Aku bahagia melihat binar kebahagiaan yang begitu nyata di mata putraku," lirih hati Mamah saat melihat Anggrek dan Arjuna.


"Berhubung kamu tengah hamil muda Mamah dan Papah akan menetap di sini untuk waktu yang lumayan lama. Biar saat Arjuna tengah bekerja kamu tidak terlalu kesepian di rumah sendirian," kata Mamah seraya tersenyum.


"Dia sebenarnya juga kerja Mah, Anggrek punya butik dan juga studio yang di gunakan untuk kepentingan pemasaran pakaian-pakaian yang di rancangnya," perkataan Arjuna sukses membuat binar-binar kebahagiaan semakin nyata di mata wanita paruh baya itu.


"Bagus dong Sayang, sekarang kamu bisa menyalurkan semua hobi dan impian kamu. Tapi kamu harus ingat kalau kamu ngak boleh terlalu lelah. Kamu harus ingat dia yang di sini sangat membutuhkan perhatian dari Bundanya," kata Mamah yang menatap perut sang menantu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2