
Sauasana kencan Anggrek dan Arjuna yang sempat kacau karena tangisan Anggrek mengenai Ayah kandungnya dan sekarang kembali romantis. Keromantisan itu bertambah ketika Arjuna memutarkan musik romantis dan mencoba mengajak sang istri berdansa.
"Aku tidak bisa menari dengan baik, tapi aku pembelajar yang baik. Sebagai Mantan playboy aku yakin betul Abang sangat-sangat baik dalam berdansa," kata Anggrek mengedip-ngedipkan matanya pada Anggrek.
"Baiklah, aku tidak akan mengelak. Bukankah Bunda dari ketiga anak-anakku ini selalu benar?" tanya Arjuna pada sang istri.
"Aku tidak akan membantah Abang, aku senang sekali kau menjadi suamiku yang manis. Bagaimana cara melangkahnya Abang? Tolong ajari aku perlahan ini adalah hal baru bagiku. Kau tahu ketika ada festival dan pesta dimasa kuliah aku akan memilih memakan kue dan mengambil waktu untuk beristirahat yang banyak. Terlebih pada awal-awal perkuliahan aku lebih banyak menghemat agar uang biasiswa yang aku dapatkan cukup untuk membiayayi hidupku hingga akhir bulan," kata Anggrek mulai menyendu karena mengingat masa lalunya.
"Sayang, sudah jangan diingat lagi. Kesakitan itu sudah berlalu, sekarang kamu bisa lakukan apapun yang kamu mau dan makan apapun yang ingin kamu makan. Semua kesakitan ittu terbayar lunas saat kamu menjadi wanita muda yang cerdas, berpendidikan tinggi dan memiliki usaha sendiri bahkan bisa membiayai keluarga Mama Ayana. Itu adalah prestasi yang sangat luar biasa Sayang. Ngak banyak orang yang bisa bertahan hingga ketahap kamu sekarang. Tanpa dukungan keluarga yang memadai dan tersisihkan dari yang lain itu tidak mudah. Hei mengapakita harus berduka dan menagis begini katanya kita mau menikmati suasana malam diketinggian. Ayo kita lihat pemandangannya." kata Arjuna mengalihkan perhatian sang istri untuk melihat situasi disekitar.
Setelah Anggrek mulai tenang, Arjuna mengajaknya duduk di sofa untuk menikmati segelas teh hangat. Triplet tidak jauh dari kedua orang tuanya, ketiga anak-anak manis itu ada disamping tempat Arjuna dan Anggrek makan malam tentunya dengan pelindung nyamuk agar si kecil tidak diganggu serangga pada malam hari.
"Abang, ini sudah larut malam. Meskipun udara tidak terlalu dingin aku khawatir anak-anak kita terlalu lama diluar, tapi ditinggal didalam lebih khawatir lagi karena disini hanya kita berdua," kata Anggrek.
"Sayang jangan bicara yang tidak-tidak, yang maha memberikan perlindungan dan penjagaan itu Allah. Jangan terlalu terfokus pada hal-hal seperti itu, ayo kita bawa anak-anak kita kedalam," kata Arjuna.
Pagi hari datang begitu cepat, Arjuna sengaja datang terlambat ke kantor karena menemani sang Istri dan anak-anaknya. Anggrek tampak tengah nyaman diatas sejadahnya melantunkan ayat suci al-qur'an sedangkan Arjuna sibuk bermain dengan Fateen karena Faris dan Faqih tengah terlelap dan Fateen bangun lebih awal tapi tidak menangis. Jadi Arjunalah yang menangani sang Putri karena Anggrek tengah membaca AL-qur'an.
"Abang, jagain Faris dan Faqih ngak papa? Memangnya ngak ada jam pagi dikantor?" tanya Anggrek pada Arjuna.
"Pagi ini Abang ngak masuk kantor Sayang, palingan nanti siang baru Abang pergi ke kantor. Memangnya kamu mau ngapain Sayang?" tanya Arjuna bingung.
"Aku mau mandiin Fateen dulu Abang, nanti baru aku memandikan Faqih dan Faris," kata Anggrek dan Arjuna hanya menganggukan kepala saja.
Setelah Anggrek kembali membawa Fateen yang hanya bisa menggugah sesekali sedikit menggumam tanpa tahu apa yang dimaksud oleh anak kecil yang manis itu.
__ADS_1
"Oh Anak Ayah kayaknya akan suka ngobrol ya? Mau ngomong apa sih Nak?" tanya Arjuna pada Fateen putrinya.
"Oh iya Sayang, mumpung udah pada bangun semua jadi biar aku aja yang pakaikan pakaian pada Fateen. Kamu lanjut buat mandiin Faris aja dulu." kata Arjuna dan diiyakan saja oleh Anggrek.
"Ayo Sayang kita pakai baju dulu ya. Biar makin cantik, unyu dan wangi, uu Putrinya Ayah yang paling cantik," kata Arjuna mengecupi wajah sang anak dan sesekali menggelitiki perut Putrinya seraya memberikan minyak telon dan bedak bayi.
"Ugh Fateen mau ngomong apa Nak? Itu kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Arjuna hingga perhatian Arjuna teralih pada Faqih yang menangis karena merasa terabaikan oleh sang Ayah.
"Oo Anak Ayah kenapa nangis Sayang? Oalah kamu cemburu ya? Ngak boleh cemburu ya sayang-sayangnya Ayah ayo kita main sambil nungguin Bunda selesai Mandiin Mas Faris ya," kata Arjuna.
Ya Arjuna meskipun sibuk dengan bisnis, tapi Bapak dari tiga anak itu tidak ingin melewatkan sedetikpun tumbuh kembang Putra dan Putrinya.
"Uu ternyata Abang jago juga ya walaupun jarang memakaikan pakaian pada Fateen dan Faris tapi sesekalinya memakaikan pakaian rapi banget. Makasih ya sayang." kata Anggrek memeluk tubuh sang suami yang tengah menggendong Faris dalam pelukannya.
"Bang kira-kira Sofia dan Mas Kai gimana ya?" tanya Angrek mengingat mereka sudah lebih dari dua minggu tidak berjumpa dengan keduanya.
"Sayang, Abang yakin Kai akan mempelakukan Sofia seperti Ratu. Kai itu kalau dah jatuh cinta bucinnya ngak nangung-nanggung loh Yang," kata Arjuna pada sang istri.
"Ngak salah lagi sih Bang, lagi pula Suami aku yang tampan ini juga bucin abis jadi ngak heran kalau temannya ngak beda jauh," kata Anggrek pada Arjuna.
"Ya mau gimana sayang, namanya juga cintrong. Cinta sudah terdorong," kata Arjuna pada Anggrek.
"Oh iya Sayang, Mamah katanya mau telponan sama anak-anakdan juga sama kamu. Kapan kamu bisa? Rancangan kamu masih banyak?" tanya Arjuna pada sang istri.
"Abang udah telponan sama Mamah? Kok ngak ajak aku? Ih tega banget, akukan juga kangen sama Mamah," kata Anggrek menggerutu kesal.
__ADS_1
"Sayang, Mamah telepon aku beberapa hari yang lalu sebelum kasus naas itu menghampiri aku. Awalnya aku mau kasih tahu kamu tapi aku lupa karena ya kamu tahulah Sayang, bahkan aku ngelarang Kevin dan Gio untuk memberi tahu pada Mamah ya walau akhirnya Papah tahu juga dari orang kepercayaannya. Tapi Papah ngak mau ngasih tahu Mamah ya karena Mamah mudah panik, kasihan jugakan karena Mamah udah lumayan banyak kerjaan masa harus panik karena kasus kita," kata Arjuna pada Anggrek.
"Iya juga sih Bang pasti Mamah akan sangat panik jika mendengar peristiwa yang menimpa kita," kata Anggrek pada Arjuna.
"Ya sudah Bang, kita langsung telepon Mamah aja ya. Biar Mamah ngak sedih. Jam segini amankan ya telepon Mamah?" tanya Anggrek.
"Aman Sayang, ayok kita telepon Mamah. Lagi triplet kayaknya semangat banget tuh nungguin telepon dari Oma. Kangen Oma ya Sayang ya? Yuk kita telepon Oma," kata Arjuna.
Setelah tersambung Arjuna menyapa sang Ibunda dan juga memohon maaf mengenai dirinya yang lupa menelpon setelah tiba di rumah.
"Mamah kapan selesai di Jepangnya? Anggrek kangen sama Mamah. Kangen berkebun bareng, masak bareng. Terlebih sekarang lebih rame karena ada triplet," kata Anggrek menatap Mamah mertuanya dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang jangan nangis begitu, sebentar lagi kita akan berjumpa di rumah kita di Indonesia. Anggrek maukan tinggal sama Mamah walaupun udah ada triplet?" tanya Mamah pada sang menantu.
"Mau Mah, Abang jarang di rumah. Kalau sama Mamah, Anggrek ngak kesepian, apalagi kadang Abang pulangnya larut dari kantor," kata Anggrek mengeluh pada sang Mamah.
"Sayang, ngak papa nanti kita habisin waktu bersama. Berkebun bareng, melukis baren dan pastinya ngedrakor sambil ngasuh triplet bareng," kata Mamah dengan sangat bersemangat.
"Papah juga disini sudah hampir rampung, Mamah ngak sabar mau ketemu kamu dan cucu Mamah yang lucu." kata Mamah Riati semangat.
"Ya Allah Mah, kalau udah ngobrol berdua akunya dilupain deh. Tega," kata Arjuna sok melankolis.
"Ih kamu kebiasaan deh, kalau Mamah ngobrol sama Mantu Mamah kamu malah cemburu, Juna kamu ini ada-ada aja, masa cemburu sama Istri sendiri," kata Mamah pada Arjuna.
Meski begitu Arjuna sangat bahagia, bagaimanapun dia sangat tahu banyak orang diluar sana yang kurang beruntung karena bertemu dengan Mertua yang pemarah bahkan ada yang sensitive dan masih banyak ragam hubungan kurang menyenangkan antara menantu dan mertua. Tapi lihat Mamahnya? Mungkin Anggrek lebih dekat dengan Mamahnya ketimbang dia. Ibarat kata orang-orang, Mamah mertua serasa Mamah kandung begitulah yang Anggrek rasakan ketika bersama dengan Mamah.
__ADS_1