
Malam itu Anggrek entah mengapa merasa sangat gelisah. Jarum jam telah menunjukkan angka 8.30 malam. Anggrek yang kelewat letih karena aktivitas padat yang di jalaninya selama 3 hari kebelakang sangat menginginkan istirahat. Namun mata indah miliknya enggan menutup dan mendatangi alam mimpinya. Sang suami belum pulang dari kantor dan ia enggan menghubungi karena Arjuna telah mengabari jika ia mungkin pulang agak larut.
Tiba-tiba Anggrek tidak kuasa menahan suasana hati yang merasa kesepian, takut dan juga rindu akan sang suami. Anggrek menangis terisak di ranjangnya dan memeluk poto pernikahannya dan sang suami. Tidak sampai di sana agar bisa tenang dan juga tertidur Anggrek mengambil kemeja yang masih tersisa bau tubuh sang suami yang di pakai kemarin, tapi masih wangi karena di gantung dengan hanger.
Anggrek tersedu-sedu dalam tangisannya dan memeluk erat kemeja kerja Arjuna. Lebay banget ngak sih? Gimana dong, namanya juga rindu siapa yang bisa nahan coba?
30 menit berlalu bukannya mengantuk dan bisa tenang kondisi hati Anggrek malah semakin tidal karuan. Yang dia inginkan adalah Arjuna segera pulang dan memeluknya erat seperti hari-hari sebelumnya.
"Ngak aku ngak mau ganggu kerjaan Abang. Kasian kalau Abang harus lembur lagi di rumah hanya karena menuruti permintaan aku yang ngak karuan ini," gumam Anggrek sendirian seraya memejamkan mata.
"Tapi rasanya beda, kalau Abangkan bisa langsung di unyel-unyel lah bajunya kan ngak bisa di apa-apain. Aduh gimana dong? Ganggu ngak ya?" kata Anggrek kembali bermonolog dan melihat jarum jam yang menunjukkan angka sembilan malam.
__ADS_1
"Sabar Anggrek yang cantik jelita membahana dan juga sexy menggoda," kata Anggrek dengan sejuta kalimat narsisnya.
"Abang Arjuna akan segera pulang, jadi sabar. Ayo bobo biar cantiknya tetap awet dan selalu tampil menggoda di depan Abang. Aduh kok jadi gaje gini ya? Ya udah tidur Anggrek," kembali wanita 23 tahun itu bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Tapi maunya di peluk sama Abang Arjuna yang mempesonah gimana dong?" tanya Anggrek lagi.
"Ya Allah, lama-lama aku beneran jadi aneh seperti yang di bilang Amanda," kata Anggrek pada dirinya sendiri.
"Ngak aku harus hubungi Arjunaku. Aku ngak bisa bobo kalau Abang tercinta belum pulang," kata Anggrek seraya mengambil benda persegi kesayangannya.
Anggrek yang tidak kuasa menahan suasana hatinya malah menangis kejer di balik handphonenya yang masih bisa di dwngar jelas oleh Arjuna.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa? Loh kok nangis? Hei, katakan sesuatu Honey?" tanya Arjuna dari seberang sana.
"Kangen!" satu kata yang berhasil membuat Arjuna menghela nafas panjang.
"Abang marah?" tanya Anggrek masih sesenggukan dari seberang sana.
"Mana mungkin Abang marah Sayang. Harusnya Abang senang dong di kangenin istri tercinta," kata Arjuna.
"Seneng sih seneng Neng di kangenin sqma si Eneng. Tapi ngak gini juga Sayangku," lirih Arjuna dalam hatinya terlebih melihat mejanya seperti kapal yang siap siaga berngkat kepelabuhan karena terlalu banyak isinya.
"Abang pulang sekarang ya? Aku capek banget, pengen tidur tapi ngak bisa karena ngak ada Abang di samping aku. Berkasnya bawa pulang aja kalau memang masih banyak banget," kata Anggrek dengan entengnya.
__ADS_1
"Baiklah Sayangku, Abang akan pulang sekarang," kata Arjuna pasrah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...