
"Nak Mawar, sebenarnya Umi tidak sampai hati ingin menyampaikan ini padamu. Tapi apa yang dibilang Khairil benar adanya. Jika dipaksakan hanya akan menambah luka yang telah lama ada," kata Nyai Halimah menjeda kalimatnya.
"Tidak apa Nyai, insyaallah Mawar siap mendengar apa yang akan Nyai sampaikan," kata Mawar dengan suasana hati yang berdisko.
"Ini sebenarnya kesalahan Umi, Umi yang tidak tahan melihat Khairil yang terpuruk dan semakin membeku sejak kematian Fatia. Belum lagi Aisyah yang butuh sosok seorang Ibu dan Umi merasa kamu adalah pilihan yang tepat. Namun rupanya..."
Umi menghela nafas panjang dan menatap Mawar sendu. Lalu perlahan Umi memegang tangan Mawar erat dan matanya sudah berkaca-kaca.
"Sekali lagi Umi minta maaf karena Umi telah memberika harapan palsu pada Putri Umi ini," kata Nyai Halimah mengusap kerudung Mawar.
Mawar yang menduga jika ini pertanda buruk juga sudah berembun pada matanya. Apalagi ini ya Allah, apakah uztadz Khairil tidak ingin menerimanya sebagai istri?
"Khairil menolak untuk mempersuntingmu menjadi istrinya. Bukan tanpa sebab ataupun ingin mempermainkanmu tapi kamu sudah pernah gagal dan menderita dalam berumah tangga. Khairil takut jika pernikahannya denganmu nanti hanya akan menambah luka baru bagimu Mawar karena hatinya masih sepenuhnya milik Fatia," kata Nyai Halimah.
__ADS_1
Duar
Bagai tersambar petir rasanya hati Mawar seolah bertemu gemuruh. Tidak ada satu katapun yang keluar hanya tatapan nanar dan senyum yang dipaksakan serta genangan air mata yang tidak kuasa mendengar perkataan Nyai Halimah.
"Tidak apa Nyai, mungkon memang aku dan Uztadz Khairil tidak berjodoh. Insyaallah aku akan berusaha untuk ikhlas, mungkin ini yang terbaik Nyai," kata Mawar.
Saat ini mawar tengah sendiri di pondok dekat parkiran motor para pengajar di Pesantren. Hujan lebat seolah menggambarkan hatinya yang pilu karena penolakan Uztadz Khairil.
'Assalamu'alaikum Anggrek. Apa kabar?' tanya Mawar melalu pesan.
Rupanya seolah mengerti jika dirinya sedang tidak baik-baik saja Anggrek menelpon sang Kakak.
"Assalamu'alakum Kak Mawar apa kabar?" tanya Anggrek dengan suara menyejukkan dari seberang sana.
__ADS_1
"Walaikumussalam Adikku, sedikit kurang baik bagaikan cuaca hari ini." kata Mawar dengan suara parau.
"Jika Kak Mawar tidak keberatan aku bersedia menjadi pendengar yang baik," kata Anggrek kembali.
"Bukankah seharusnya disana waktunya tidur malam, apakah Arjuna tidak memarahi Mu?" tanya Mawar menanyakan dulu keamanan mereka bertelepon ria. Bukan apa-apa baik dirinya maupun sang Mama sudah sama-sama pernah disemprot dengan ucapan sarkas Arjuna.
Ya bukan kasar hanya saja tegas jika sang iatri tidak boleh hingga kelelahan.
"Aku terbangun tengah malam, dan sekarang tengah makan buah dan juga merancang busana. Kakak tenang saja Abang tengah tidur nyenyak," kata Anggrek dari seberang sana.
Tanpa bisa dibendung lagi cerita menyedihkan yang Mawar alami mengalir bagai air sungai ke telinga Anggrek. Anggrek hanya diam dan mendengarkan dengan seksama hanya sesekali menanggapi.
"Aku sudah lama memendam rasa padanya Dik. Kau tahu, sikap baiknya dan semua yang ada pada dirinya menyilaukanku. Hingga lamaran itu tiba seolah membawa air ditengah dahagaku. Meski aku bersyukur dia berterus terang diawal tapi tetap perihnya tidak mampu aku tanggung rasanya Dik. Apakah ini karma untukku yang telah merebut Mas Abi dengan cara keji darimu?" tanya Mawar dengan tangis yang semakin deras.
__ADS_1