Luka Di Pelaminan

Luka Di Pelaminan
Hei ini Bukan Setan!


__ADS_3

Mendengar sang Kakak menangis diseberang sana membuat Anggrek merasa ikut tersakiti. Bukan apa-apa, meski hubungannya dengan Abimayu seperti proklamasi yang terjadi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Baik itu ta'aruf maupun pernikahan yang harus berakhir talak setelah beberapa jam akad.


Anggrek mengusir jauh-jauh bayang-bayang kepedihannya. Itu semua telah berlalu sekarang dia mendapat suami yang begitu menyayanginya dan sabar, jangan lupakan tajir pula. Belum lagi mertua yang sangat menyayanginya layaknya anak sendiri.


Setelah bebarapa saat Anggrek hanya menjadi pendengar yang baik tanpa ada niat untuk ikut menimpali. Bukan tanpa alasan tentunya, tapi Mawar sekarang sangat butuh didengarkan bukan diceramahi panjang lebar.


"Menurutmu, kakak harus apa Dek? Rasanya terlalu sesak dan Kakak juga masih punya urat malu untuk memaksa Uztadz Khairil untul menikahi Kakak. Cukup dengan Abimanyu pernikahan Kakak berakhir pilu, kakak ingin memiliki rumahntangga yang tentram dan damai. Dimana suami Kakak nantinya orang yang sabar lagi penyayang, tapi masalahnya apa mungkin kakak bisa mendapatkan itu semua sedang Kakak bukan orang yang baik. Bahkan jauh dari kata baik," kata Mawar yang kembali tidak kuasa menahan tangisnya.

__ADS_1


Ternyata diseberang sana dari jarak pandang yang cukup jauh ada seseorang yang memperhatikan Mawar. Sebenarnya tidak ada niat untuk memperhatikan hanya saja tidak sengaja terlihat. Melihat bagaimana Mawar menangis jujur saja membuat ujung hatinya bersalah. Ingat ujung ya, berarti sedikit sekali rasa bersalahnya. Tapi jika dipaksakan hanya akan membawa luka, lebih baik terluka diawal dari pada terluka setelah hati berbalut penuh cinta.


Sementara dilangit malam dibeda negara Anggrek mengela nafas panjang. Sulit baginya memberi saran karena pada waktu itu dia hanya bisa mengikhlaskan walau hatinya pilu tak bertepi, belum lagi cobaan seakan enggan berhenti. Tapi satu yang dia selalu percaya, Allah akan selalu mengarahkannya kejalan terbaik yang harus dia tempuh.


"Kak! Ini mungkin nasihat yang tidak berperasaan, tapi ini yang aku lakukan saat hal yang begitu perih menimpa diriku dulu," kata Anggrek dengan suara berat lantaran air mata mulai menggenang dipelupuk matanya.


Ayolah hei! Anggrek hanya wanita biasa, tentu saja dia juga punya titik lemah tersendiri yang tidak mampu diungkapkan.

__ADS_1


"Terima kasih Dik, maaf Kakak menghubungimu diwaktu istirahatmu," kata Mawar.


Rupanya Arjuna terbangun dari tidurnya, dia mendengar percakapan Anggrek hanya saja enggan menginstrupsi. Dari nada bicaranya Anggrek seperti membahas masalah yang berat.


Hingga tampak bahu Anggrek bergetar, Anggrek juga berulang kali beristigfar dan segera kekamar mandi. Tidak butuh lama, wanita usia 24 tahun itu langsung mengambil mukenahnya untuk menceritakan keluh kesah hatinya oada sang pemilik hati.


Arjuna masih belum ingin mengganggu, alasannya satu. Dia ingin sang istri meraaa nyaman, boleh jadi salah satu penyebabnya adalah dirinya hingga istrinya memilih menangis ditengah malam diatas sejadah.

__ADS_1


"Abang," lembut dan dingin. Itulah yang Arjuna rasakan. Hei ini bukan setan!


Itu tangan Anggrek yang mengusap pipi Arjuna untuk membangunkannya sholat tahajjud. Karena sudah menjadi rutinitas keduanya.


__ADS_2