
Arjuna menembakkan pelurunya dengan tepat sasaran, seperti penembak handal. Bahkan setelah 10 kali menembak tidak pernah meleset dari targetnya membuat Barack bertepuk tangan meriah.
"Wah Kakak Ipar, kau sepertinya tidak cocok menjadi CEO berpengaruh dunia, kau lebih cocok menggantikan Daddy dengan pistol ditanganmu Kak," kata Barack dengan semangat dan bertepuk tangan gemuruh yang membuat Justin geleng-geleng kepala melihat sikap Barack.
"Kau terlalu memujiku Kawan, Aku bisa dimutilasi oleh istriku jika bermain-main hal yang seperti ini. Aku masih menyukai kegiatan bermesraan dengan istriku keimbang berkeringat dan bermesraan dengan pistol, itu buruk kawan. Aku tidak menyukai itu," kata Arjuna dan berlalu meninggalkan tempat itu.
"Dad, kau dengar dia adalah calon kepala mafia yang berjiwa pujangga," kata Barack.
"Nak, apa yang kau dengar tidak salah. Arjuna memang liar dan punya banyak link di dunia bawah tanah. Tapi Arjuna adalah orang yang sangat-sangat menyayangi keluarganya terutama Ibu dan istrinya. Terlebih sekarang dia sudah punya tiga anak, kondisiku dan Arjuna adalah dua perbedaan besar Nak. Arjuna dari keluarga berada yang terbiasa mandiri, sedangkan aku adalah orang yang terbuang dan berusaha untuk bangkit. Kau tahu Nak, aku sangat jarang menyukai anak-anak dari keluarga kaya karena mereka cenderung manja dan payah. Tapi melihat Arjuna aku merasa jika tidak semua pria begitu, bahkan sekelas Arjuna harus berkali-kali dikhianati oleh pasangannya bagaimana tida Stafandku yang malang tidak mengalaminya sedang dalam dunia kita terlalu banyak tipu muslihat Nak," kata Daddy pada Barack dan Justin.
Sementara di taman bunga, Anggrek masih disana. Ya taman bunga itu dekat dengan tempat latihan menembak, karena tempat latihan menembah terlalu berisik jadi Anggrek menunggu Arjuna disana.
"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau begitu menyukai bunga?" tanya Stefand pada Anggrek.
"Aku menyukai bunga, tapi tentu bukan hanya itu alasannya kak. Arjunaku tengah berlatih pistol dan aku bosan jika tanpanya, kau tahu Arjunaku adalah suami terbaik yang pernah aku miliki. Dia sangat manis," kata Anggrek membayangkan wajah tampan sang suami dengan senyuman sumringah.
"Arjuna, kau mengatakan Aku sayang?" tanya Arjuna yang langsung duduk disamping sang istri.
"Abang sudah selesai?" tanya Anggrek pada Arjuna.
"Alhamdulillah sudah," kata Arjuna mengusap pipi sang istri sedangkan Stefand mengalihkan pandangannya.
"Jika sudah bagaimana jika kita masuk kerumah, hari semakin terik triplet sudah harus berteduh," kata Anggrek karena memang hari sudah mulai panas walau ditempat duduknya tidak panas tapi Anggrek tidak terlalu menyukai sang anak terlalu lama diluar apalagi hampir tengah hari, kalau kata Mamah pamali.
"Kak, aku duluan. Semoga kau bertemu dengan gadis yang tepat, percayalah Allah maha baik," kata Anggrek dan meninggalkan Stefand yang hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Setibanya di kamar mereka berdua, Anggrek langsung membuatkan jus untuk sang suami. Karena Anggrek tahu jika sang suami merasa kepanasan dan juga pastinya lelah terlebih Arjuna memaksakan diri untuk datang ke kediaman Daddy walau dalam keadaan letih.
__ADS_1
Anggrek masih orang yang peka dia tidak akan membuatnya hanya untuk Arjunanya tapi Anggrek juga membuatkan untuk yang lain.
"Wah Putri Daddy lagi buat apa?" tanya Radislav begitu memasuki dapur untuk minum.
"Aku tengah membuatkan jus jeruk Dad, panas-panas begini enaknya minum yang seger-seger," kata Anggrek dan menyajikannya di dalam gelas dan diletakkan di ruang keluarga untuk Dadd, Paman, dan kakak-kakaknya. Sedangkan satu gelas dia bawa ke kamarnya dan Arjuna.
"Makasih Sayang," kata Radislav dengan raut bahagia sedangkan yang lain merasa sangat bahagia karena mereka kembali melihat senyum ramah Radislav yang menghilang setelah sang Istri tiada.
"Sama-sama Daddy," kata Anggrek dan tertelan oleh pintu kamarnya.
"Abang minum dulu, haus kan?" tanya Aggrek saat sang suami telah menggunakan kaca mata baca dan mulai terpekur dengan tugas kantornya.
"Terima kasih Sayang," kata Arjuna dan meminum minumannya tapi tetap meninggalkan sedikit karena Arjuna tahu pasti sang istri akan menginginkannya tapi sangat suka ketika itu dari gelasnya.
"Aku mau ya Bang," kata Anggrek meminum sedikit karena minuman itu tinggal setengah. Alhasil keduanya minum segelas berdua. Jangan heran Arjuna dan Anggrek sangat terbiasa dengan hal seperti itu, karena kata Anggrek akan lebih manis makanya dia selalu melakukan itu.
"Alhamdulillah, semua urusan pekerjaan sudah selesai tadi malam dan hanya beberapa tadi Abang kerjakan via email. Jadi ayo kita pulang nanti malam, apakah Bibi Carol mau ikut hingga ke Indonesia ataukembali ke USA?" tanya Arjuna pada anggrek.
"Aku kurang tahu perihal itu Bang, ada baiknya kita tanyakan langsung hal ini pada Bibi Carol." kata Anggrek yang diiyakan oleh Arjuna.
Hari sudah semakin petang, meski belum puas bersama Anak dan cucunya, Mikhail tidak bisa memaksakan diri bukan. Terlebih Anggrek sangat dekat dengan Ibunda Arjuna, jadi perpisahan yang mengharukan itu terjadi juga.
"Kakak Ipar, aku tidak bercanda mengenai di lapangan penembakan itu. Kau sangat cocok menggantikan Daddy," kata Barack dengan senyuman sumringahnya.
"Oh ayolah Kawan aku tidak sehebat itu. Aku hanya belajar agar bisa melindungi Istri dan anak-anakku," kata Arjuna dan berpamitan pada semua Kakak Iparnya begitu juga Anggrek.
"Anggrek jika ada sesuatu yang mengganjal dan ingin aku tanyakan apakah aku boleh langsung menghubungimu?" tanya Stefand dihadapan semua orang.
__ADS_1
"Tentu saja, Kak. Selagi aku bisa membantu aku tidak akan menolak," kata Anggrek dan mereka berpisah setelah itu.
Diperjalanan raut wajah bahagia Anggrek tidak bisa disembunyikan. Dia sangat bahagia, akhirnya tabir kehidupannya satu persatu terbuka. Anggrek hanya ingin hubungannya dan Mama Ayana membaik. Jika memungkinkan hubungannya dengan Kak Mawar juga demikian. Jika dia bisa berhubungan baik dengan banyak orang lalu mengapa dia tidak bisa berhubungan baik dengan keluarga yang memang ada hubungan darah dengan dirinya.
"Sayang kau tampak sangat bahagia sekali?" tanya Arjuna pada Anggrek.
"Terima kasih untuk selalu menjadi orang paling depan dalam mengingatkan akuu Bang. Aku sayang kamu, sehat terus, ganteng terus kayak sekarang," kata Anggrek sedikit konyol dibagian akhir.
"Ya Allah, Yang kalau masalah ganteng seiring usia juga hilang kali Sayang. Apalagi usia kita jaraknya lumayan jauh, ah kamu ada-ada aja," kata Arjuna dengan wajah pura-pura kesal.
"Pokoknya tetapjadi suami aku yang baik hati. Terima kasih juga mau pulang ke Indonesia hari ini, aku rindu sekali dengan Mamah," kata Anggrek menggenggam tangan Arjuna yang terlepas dari stir kemudi. Ya mereka pulang dengan pelayan yang diikut sertakan oleh Daddy agar Anggrek tidak merasa kesulitan membawa anak-anak mereka. Karena Kevin dan Gio tergabung dengan Bodyguard yang diutus oleh Daddy untuk menemani perjalanan mereka.
"Abang apa nanti kita akan pulang menggunakan pesawat pribadi seperti kemaren??" tanya Anggrek.
"Aku rasa itu lebih aman Sayang. Jika hanya kita berdua Abang masih bisa handle tapi sekarang kita berlima, Abang ngak mau ambil resiko dan kamu tahu pasti ini dengan baik bukan?" tanya Arjuna dan Anggrek hanya bisa menganggukan kepala saja.
Malam rupanya enggan menunggu. Anggrek benar-benar menikmati jam terbangnya. Jangan tanyakan triplet, mereka paling mengerti jika sang Bunda tengah dalam keadaan bahagia. Ketiganya tenang setelah mendapat asi dari Sang Bunda.
"Fateen, sayang lihat dari kaca jendela hanya terlihat awan gelap dan bintang. Ah Ayah kamu kebangetan kita ngak bisa lihat pemandangan siang Dek. Tapi pemandangan kemerlap lampu dimalam hari juga sangat indah. Adek cepat besar biar Bunda ada teman buat ngegoship," kata Anggrek yang membuat Arjuna bergidik ngeri.
"Yang kok temen buat ngegoship sih? Buat teman kamu murojaah, teman kamu merancang busana atau masak jauh lebih keren deh dari pada ngegoship yang," kata Arjuna menegur perkataan sang istri.
"Ya Allah, Abang kamu serius amat. Bercanda sayang," kata Anggrek tersenyum pada Arjuna.
"Iya Abang tahu kamu bercanda, hanya saja terkadang kita bercanda tapi malaikat mengaminkan Sayang. Makanya lebih baik katakan saja yang baik-baik atau lebih baik diam," kata Arjuna mengingatkan sang istri.
"Astagfirullah, terima kasih Abang sudah mengingatkan aku. Aku hampir lupa, terima kasih Abangku sayang," kata Anggrek dan mengecup manja pipi sang suami tanpa lihat-lihat tempat yang malah membuat Bibi Carol meringis malu dan memerah karena melihat betapa manisnya pasangan ini.
__ADS_1