Luka Di Pelaminan

Luka Di Pelaminan
Rahasia Mama


__ADS_3

Ramai suasana pesantren dan terdengar sholawat menggema seisi pesantren membuat suasana kembali syahdu.


"Umi, aku ingin mengatakan sesuatu mengenai Mawar," kata Uztadz Khairil yang duduk dimeja makan bersama Nyai Halimah.


"Ada apa Nak? Bukankah kamu sudah setuju mengenai perjodohan yang Umi ajukan bersama Mawar?" tanya Umi menatap lamat sang Putra.


"Jujur saja aku tidak berniat untuk menikah dalam waktu dekat, bukan apa-apa Umi bagaimana mungkin aku bisa bersama Mawar jika hatiku masih tertaut sempurna pada mendiang istriku Fatia. Itu hanya akan menambah luka pada hati Mawar, Umi. Terlebih Mawar juga telah mengalami luka yang mendalam dari suaminya terdahulu yang bernama Abimanyu," kata Khairil menatap sendu sang Ibu.


"Lalu bagaimana mau mu Nak? Tidakkah kamu kasian pada putri kecilmu Aisyah? Dia butuh sosok Ibu yang tepat terlebih sekarang usianya sudah 6 bulan, Umi khawatir jika Aisyah kehilangan figur seorang Ibu," kata Nyai Halimah.


"Entahlah Umi, Khairil belum mau memikirkan itu. Tolong Umi jangan lagi paksa aku, pilu ini masih belum hilang. Lagi pula Mawar berhak bahagia, aku yakin diluar sana ada banyak laki-laki baik yang mau mempersunting Mawar menjadi istrinya," kata Khairil dan berlalu dari sana.


Khairil berlalu dari sana dan meninggalkan sang Ibunda yang memandangnya dengan tatapan sendu.


Sementara itu dikediaman Mawar sudah hampir satu bulan waktu yang diberikan berlalu. Saat ini Mawar tengah membuat gorengan dari kulit lumpia.


"Anaknya Mama lagi masak apa? Kenapa hatinya terlihat rusuh begitu? Ada apa?" tanya Mama pada Mawar.


Mawar memaksakan senyum walau terlihat garing dimata sang Mama. Mama yang menunggu Mawar mau bersuara ikut membantu Putrinya untuk memotong sayur yang akan ditumis.


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Mama lagi pada Mawar.


"Sampai saat ini masih belum ada tanda-tandanya Ma. Padahal Mawar sudah rutin mengerjakannya tapi yang ada malah hati Mawar yang semakin jatuh pada Uztadz Khairil. Hanya saja Uztadz Khairil tidak pernah menanggapi lebih, dia menyama ratakan Mawar bersama para muridnya yang lain," kata Mawar dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sudah, jangan banyak berpikir banyak-banyak istigfar. Biar Allah yang menjawab semuanya Nak. Pesan Mama jika nanti memang takdirmu dan Uztadz Khairil memang tidak ada jangan sekali-sekali kamu melakukan hal gila seperti saat bersama dengan Abimanyu. Mama mohon cukup dengan Abimanyu kamu berbuat nekad jangan lagi untuk yang kedua kalinya Nak," kata Mama yang berhasil membuat Mawar merasa sangat tertampar mengenai dirinya yang dulu.


"Apakah aku sangat buruk, hingga Mama begitu memohon takut aku melakukan sesuatu yang tidak sewajarnya? Ya Allah maafkan aku," lirih Mawar dalam hati.


"Do'akan saja Mawar untuk selalu berada dalam lingkaran yang benar. Terima kasih Mama sudah mengingatkan Mawar," kata Mawar.


"Oh iya Ma, Anggrek sudah hamil tujuh bulan bukan ya? Mawar jadi penasaran sudah sebesar apa kandungannya? Apa belakangan Anggrek ada menghubungi Mama?" tanya Mawar.


"Huft, Adikmu itu sudah jauh disana kalaupun menghubunginya ngak bisa disembarang waktu karena waktu kita dan dia berbeda. Apalagi sekarang Adikmu sangat sibuk dengan ketiga butik yang tengah dikelolanya," kata Mama menyendu memandang jauh kedepan.


"Kalau Mama rindu mengapa tidak mengirim pesan pada Anggrek, atau setidaknya meminta izin untuk menemui Anggrek kesana," kata Mawar mengusap bahu Ibunya.


"Mama mertua Anggrek belum lama ini menemui Mama Nak," kata Mama yang tidak kuasa lagi menahan tangisnya.


"Lalu?" tanya Mawar.


"Rahasia apa Ma? Memangnya apa yang Mama rahasiakan?" tanya Mawar pada Mamanya akan tetapi Mama malah semakin tampak gelisah dan menggelengkan kepalanya.


"Mama belum bisa mengutarakannya padamu Nak. Hal ini sepenuhnya kesalahan Mama, Mama ngak bisa," kata Mama kembali menangis.


"Kalau memang Mama belum siap jujur setidaknya Mama tenangkan diri Mama dulu. Jangan sampai kerinduan Mama akan Anggrek malah membuat Mama sakit," kata Mawar.


#Anggrek

__ADS_1


Menggunakan stelan gamis dan lengkap jilbab syar'i miliknya membuat wajah Anggrek tampak sangat anggun. Terlebih jemari mungilnya menari indah dilayar tabletnya menggambar design baju- baju dan gaun yang akan dipasarkan.


Ya semakin usia kandungannya tua semakin calon Ibu dua anak itu malah semakin aktif mengerjakan ini dan itu.


"Minum dulu susunya Nak, kamu itu calon Ibu dua Baby. Jangan sampai apa yang kamu lakukan malah menjadi bumerang untuk dirimu sendiri," kata Mamah mengusap bahu menantunya.


"Mamahku Sayang, Anggrek ngak akan kerja rodi bagaikan kuda kok. Lagi pula Anggrek belakangan ini merasa cukup bosan karena Abang lagi sibuk-sibuknya. Makanya Anggrek juga cari kesibukan Ma, biar ngak caper mulu sama Abang. Abang sudah letih bekerja seharian masa harus menerima sikap manja Anggrek jufa ketika di rumah," kata Anggrek seraya tersenyum lebar pada Mertuanya.


"Tapi ingat kamu jangan sampai abai akan kesehatanmu sendiri. Ya sudah Mama mau bersiap-siap dulu karena sebentar lagi Papah akan datang menjemput Mamah untuk menghadiri pesta ulang tahun perusahaan. Karena Menantu Mamah yang cantik ini ngak mau ke pesta karena tengah hamil besar jadi Mamah dan Papah yang harus menggantikan kamu dan Arjuna kesana," kata Mamah menatap sang Menantu seolah-olah iya keberatan untuk pergi.


"Maafin Anggrek ya Ma, tapi Anggrek memang ngak bisa hadir. Karena nanti pasti akan sangat banyak wangi farfum dari berbagai manusia dan Anggrek ngak kuat Mah," kata Anggrek yang memang saat ini tengah sensitive dengan bau-bauan.


"Kalau Mamah memang ngak bisa ikut biar Abang aja yang pergi. Anggrek ngak papa kalau ditinggal sendiri di rumah," kata Anggrek dengan mata berkaca-kaca karena sebentar lagi akan hujan lokal.


"Sayang Mamah cuma bercanda. Ngak Mamah sama sekali tidak keberatan untuk pergi. Udah ya jangan nangis lagi," kata Mamah menghapus air mata sang menantu.


"Apa masih banyak rancangan yang belum selesai?" tanya Mamah pada Anggrek.


"Masih lumayan Mah, tapi sebentar lagi Anggrek akan berhenti karena hari sudah petang dan Anggrek mau masak Ayam kecap dan capcai," kata Anggrek semangat.


"Tapi masakan kamu tadi pagi aja masih banyak loh Sayang. Tinggal dipanasin mubazir kalau masak lagi," kata Mamah seraya mengambil roti cokelat yang ada didepan meja kerja Anggrek.


"Anggrek kepengen banget Ma, boleh ya. Ngak tahu dari tadi pengin banget, tapi kerjaan belum kelar makanya sekarang mau bikin," kata Anggrek yang membuat Mamah mencubit pipi gembul snag Menantu.

__ADS_1


"Kamu itu ya, padahal kalau kamu mau Mamah bisa masakin. Kalau sekarangkan Mamah ngak ada waktu lagi Sayang," kata Mamah dengan wajah yang merasa bersalah.


"Mamah jangan ngerasa bersalah. Ngak papa kok, Anggrek memang lagi pengen masak sendiri," kata Anggrek pada Mamah mertuanya.


__ADS_2