
"Abang, ada yang mau aku katakan," kata Anggrek saat ini keduanya tengah berada di kamar mereka dan jam sudah menunjukkan waktu tidur.
"Mau bicara apa Sayang?" tanya Arjuna mengusap rambut istrinya yang bersandar padanya.
"Mama, Papa dan Kak Mawar mau kesini saat aku lahiran apakah boleh?" tanya Anggrek pada suaminya.
Arjuna menghela nafas panjang, bukan maksudnya ingin menjauhkan Anggrek dari keluarganya. Hanya saja ini memang bukan hal yang baik. Bagus jika Mawar benar-benar sudah berubah, tapi bagaimana jika belum? Sebenarnya Arjuna tidak khawatir pada dirinya yang akan tergoda pada Mawar tapi Arjuna sadar betul jik istrinya mudah emosi dan bersumbu pendek. Jika Arjuna mengizinkan tidak menuntut kemungkinan Anggrek akan cemburu buta bahkan ngamuk karena salah faham jika Mawar belum berubah.
Belum lagi Arjuna mendapat kabar jika Mama dari Anggrek menyimpan rahasia besar mengenai identitas Anggrek. Arjuna tidak masalah jika mereka datang tapi Arjuna menuntut kejujuran itu langsung dari mulut Ibu dari Mawar tersebut.
__ADS_1
"Tanyakan pada Mamamu, apakah dia bersedia mengungkapkan semuanya? Jika dia bersedia maka biarkan dia bicara dengan Mamah," kata Arjuna dengan raut wajah yang sudah tidak bersahabat.
"Abang kenapa begitu sensi pada keluargaku? Meski mereka keluarga angkat, tapi Mama dan Papa yang membesarkan aku Bang," kata Anggrek yang mulai emosi.
"lagi pula ada masalah apa Abang sama dan Papa sehingga begitu membenci mereka? Yang punya masalah dengan mereka itu aku," kata Anggrek yabg mulai berapi-api. Entah mengapa sejak hamil tua emosinya kian tidak bisa terjaga.
"Abang! Jangan lari dari masalah, aku ngak mau terus-terusan berjarak dengan Mama dan Papa. Aku merindukan mereka, kenapa Abang ngak ngerti juga? Meski ada kejadian yang begotu fatal dimasa lalu mereka tetap Ayah dan Ibuku Bang. Terlepas dari orang tua angkat aku bahkan ngak punya orang tua kandung," kata Anggrek sudah berlinang air mata menggenggam tangan suaminya.
Melihat Arjuna hanya mematung Anggrek memberanikan diri memeluk suaminya demgan erat.
__ADS_1
"Aku mohon jangan marah, aku hanya merindukan mereka. Insyaallah semuanya akan baik-baik saja Abang," kata Anggrek memeluk erat suaminya dengan berlinang air mata.
"Kamu itu pencemburu Anggrek, tidak sekali dua kali kesalah-pahaman terjadi diantara kita. Kamu ngamuk dan melakukan hal-hal yang membuat aku tidak bisa bicara, tidak masalah selagi semuanya baik-baik saja. Tapi sekarang kamu hamil besar, masa lalu Mawar dan apa yang dia lakukan tidak semudah itu untuk membuatku percaya jika dia telah berubah. Bagaimana jika kejadian pada Abimanyu terulang padaku? Aku yakin masih bisa mengendalikan diri atas perlindungan Allah, lalu bagaimana kamu dan anak kita. Kamu sadar jika kamu tengah hamil tua? Resiko melahirkan?" tanya Arjuna menatap lamat mata istrinya.
"Tapi Mas Aku ingin bertemu Mama dan Papa," kata Anggrek lirih.
"Baik aku akan mengizinkan mereka datang tapi tidak tinggal satu rumah dengan kita. Aku akan meminta Kai untuk membeli apartment baru untuk ditempati Mawar, Papa dan Mamamu," kata Arjuna yang tidak ingin dibantah lagi.
Melihat keras dan tegas sikap suaminya Anggrek hanya punya pilihan mengiyakan tanpa bisa berkata bahkan bertindak lebih.
__ADS_1