Luka Di Pelaminan

Luka Di Pelaminan
Waktu Bersama Keluarga


__ADS_3

" Anggrek akhirnya kamu pulang juga Nak. Mamah sangat merindukan kamu," teriak Mamah yang langsung memeluk menantu kesayangannya sedangkan Arjuna hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya saja.


"Arjuna engak Mah?" tanya Arjuna yang masih mendorong kareta bayinya.


"Tentu saja Mamah sangat merindukan Anak Mamah yang badung ini. Kamu sehat Nak? Badannya makin subur ya? Kamu pasti banyak maam ya belakangan ini?" tanya Mamah pada Arjuna yang berada dipelukannya.


"Ya mau gimana Istri tercinta selalu memanjakan perut aku ketika pulang dari bekerja ataupun olahraga Mah  Ya mau ngak mau badan aku jadi subur ini," kata Arjuna yang malah membuat Mamah semakin gemas pada putranya.


"Abang badanya ngak subur kok, cuma lebih sedikit berisi dan membuat Abang tampak lebih tampan," kata Anggrek dengan wajah watadosnya.


"Dengar noh Mah, anak Mamah makin ganteng kata permaisuri hatinya," kata Papah meledek.


"Lah mereka memang seperti itu Pah, sering lupa sekitar kalau sudah ketemu pasangan satu sama lain," kata Mamah yang langsung membawa menantunya ke dalam sedangkan Arjuna mendorong Kareta bayi mereka bersama dengan Fateen yang berada dalam gendongan Papah.


"Uuuh cucu Opa makin cantik aja ya? Sayang bangen Opa sama kamu Sayang, rasanya Opa ngak mau ngelepasin kamu," kata Papah mengecupi wajah Fateen seraya menggendongnya.


Suasana ang memang masih gelap membuat Mamah menyuru anak dan menantunya untuk beristirat terlebih dahulu bagaimanapun penerbangan dari Korea Selatan ke Indonesia bukan perjalanan yang dekat.Butuh waktu 8 jam lebih baru sampai ke kediaman Mamah Riati.


"Sayang, kenapa masih bangun?" tanya Arjuna menyadari jika sang istri sedari tadi bolak ke kiri dan bolak ke kanan.


"Aku susah tidur Bang, kepala aku pusing." kata Anggrek membuat Arjuna segera meraba mencari minyak aroma terapi dan menusapkan ke kepala sang istri.


"Sekarang coba kamu pejamin matanya sambil berzikir ya, biar mudah terlelap," kata Arjuna.


"Tapi Abang, ngak seharusnya kayak....


"Ssssst! Jangan ngebantah istrinya Abang yang cantik. Abang ngak mau kamu kurang tidur," kata Arjuna dan Anggrek hanya bisa mengikuti saja.


Dengan telaten Arjuna mengurut kepala sang Istri dengan tenang  agar Anggrek bisa cepat terlelap. Arjuna tidak ingin Anggrek merasa gelisah. Tindakan Arjuna berhasil tidak mebutuhkan waktu lama sang istri telah terlelap.


"Semoga mimpi indah Sayang," kata Arjuna mengecupkening Anggrek dalam.


Waktu pagi seolah enggan menunggu, tapi rasa lelah menolak untuk terbangun. Arjuna terlelap dengan baju koko dan sarung yang masih melekat ditubuhnya. Sedangkan Anggrek sudah berda di dapur bersama Mamah.


"Nak, kalau masih capek kamu tidur aja. Mamah ngak kerja sendiri, nanti kalau triplet bangun pasti akan membutuhkan stamina yang kuat," kata Mamah.


"Tapi Mah..."


"Ngak ada tapi-tapian Sayang kamu istirahat aja dulu," kata Mamah dan akhirnya Anggrek hanya mampu menuruti saja.


Setelah Anggrek berlalu, Papah datang memeluk Mamah dari belakang.


"Mamah masak apa?" tanya Papah pada Mamah.


"Ini Mamah masakin makanan kesukaan Arjuna dan Papah," kata Mamah yang masih sibuk meracik makanan yang akan dimasaknya.


"Pah, nanti ada Bibi. Mamah malu," kata Mamah mencoba melepaskan pelukan sang suami.


"Cuma sebantar Mamah Sayang, ya sudah Papah mau mandi dulu. Hari ini Papah mau main golf dengan teman-teman sekalian nanti mau ngajak Arjuna agar bisa pergi bareng," kata Papah yang hanya disambut Anggukan oleh Mamah.


Sedangkan dari kejauhan Bibi Carol yang memang tidak sengaja melihat adegan tadi merasa sangat bahagia. Berarti Arjuna banyak mencontoh kemesraan Papah dan Mamahnya pada sang istri sehingga terlihat sangat romantis diberbagai kesempatan bersama Anggrek.


"Kamu beruntung sekali Nak, semoga selalu dalam lindungan Allah dan membagi lebih banyak manfaat bersama orang-orang sekitarmu," gumam Bi Carol yang mengacu pada Anggrek.


Sementara di kamar, Arjuna malah mempererat pelukannya pada sang pujaan hati.


"Abang, jangan kuat-kuat. Aku jadi sesak," kata Anggrek yang berusaha melonnggarkan pelukan sang suami.


"Sayang, akhirnya kita kembali ke rumah. Rasanya sangat membahagiakan, walau sering keluar dan keberbagai tempat tetap rumah adalah tempat ternyaman," kata Arjuna mengecup lama kening sang istri.


"Kamu gimana Sayang?" tanya Arjuna.

__ADS_1


"Apalah dayaku Bang, bagiku kamu adalah rumahku. Kemana Abang kesana aku juga akan pulang," kata Anggrek manatap wajah tampan sang Suami penuh cinta.


"Sayang bagaimana jika kamu mendapati masa laluku yang tidak semanis yang kamu bayangkan..."


"Ssssst, Abang. Aku tidak pernah ada dimasa lalumu sebelum kita menikah, aku tidak mau tahu bagaimana keburukanmu di masa lalu karena itu rahasiamu. Tapi jika ada kesakitan di masa lalu yang memang ingin dibagikan padaku agar kamu merasa lebih lega dan lebih tenang aku tidak masalah. Aku bersedia menjadi sahabat, teman, istri dan rekan kerja kamu Bang. Jadi jika memang ada luka, tolong jangan biarkan hingga infeksi bahkan membusuk, walau hanya tergores dan sedikit darah ceritakanlah padaku karena kamu sangat berarti bagiku Bang. Aku mencintaimu sangat, jadi tolong untuk selalu ingatkan aku agar kita selalu berjalan beriringan menuju ridho-Nya," kata Anggrek yang membuat mata Arjuna berkaca-kaca.


"Terima kasih Sayang," kata Arjuna pada Anggrek.


"Abang, aku ada sesuatu yang ingin aku lakukan bersamamu. Biasanya aku meminta Amanda atau anak-anak yang lain yang melakukannya sedangkan aku hanya memberikan uangnya karena kemarin aku tengah hamil besar dan beberapa kegiatan kita yang tidak bisa aku tunda karena mendesak," kata Anggrek menatap serius pada sang suami.


"Apa Sayang?" tanya Arjuna.


"Aku ingin pergi ke Panti Asuhan Kasih Bunda yang ada di dekat daerah kita Bang. Aku ingin berbagi sedikit rezeki secara langsung kepada anak-anak yang kurang beruntung disana, sekalian aku ingin melihat bayi-bayi lucu disana," kata Anggrek tersenyum bahagia dan penuh harap pada Arjuna.


"Kapan kamu mau kesana Sayang?" tanya Arjuna mengusap rambut sang istri yang tengah memeluk erat tubuhnya yang tengah berbaring.


"Aku ingin nanti sore ba'da ashar Bang, apa Abang bisa?" tanya Anggrek pada Arjuna.


"Insyaallah Abang akan bisa Sayang. Bagaimana dengan triplet? Apa kita tinggalkan bersama dengan Mamah dan Papah saja?" tanya Arjuna.


"Kita coba bicarakan saja pada Mamah dan Papah gimana baiknya. Nanti Mamah pasti akan ada saran," kata Arjuna pada sang istri.


"Baik Abang," kata Anggrek.


Paginya sekitar jam 9 pagi sesuai dengan rencana Papah yang ingin mengajak Arjuna bermain golf bersama teman-teman bisnisnya dan Arjuna menyanggupinya.


Saat ini semuanya tengah sibuk dan serius bermain golf kecuali yang cewek-cewek sedangkan kaum Bapak-bapak sangat terfokus pada bola kecuali Arjuna pastinya. Demi apapun dari pada lapangan hijau yang luas membentang, Arjuna lebih menyukai bermanja-manja bersama sang istri atau bermain dengan Putra dan Putrinya. Tapi bagaimanapun Arjuna tidak bisa menolak permintaan sang Papah karena mereka jarang bertemu.


"Anakmu sangat serius sekali bermain Albern. Padahal disini sangat banyak daun hijau yang menyegarkan pemandangan tapi lihat Putramu melihat bola sudah seperti melihat musuhnya sehingga setiap pukulannya tidak ada yang meleset," kata sahabat Papah yang memperhatikan Arjuna sedari tadi.


"Iya Albern, padahal aku ingin mengajakmu kesini agar otakmu tidak panas selalu oleh angka-angka yang berisi jutaan dolar setiap mengerjakan tender. Terlebih aku mendengar jika Putramu baru saja memilki anak, aku yakin betul jika Istrinya lebih memperhatikan anak-anak mereka dan melupakan Arjuna yang malang. Oh aku sudah pernah merasakan fase itu, tapi untungnya aku tidak polos-polos banget. Aku memilih mencari kebahagiaan diluar yang tidak mampu aku temukan di rumah," kata Teman Papah yang satunya lagi.


"Nak Arjuna, tidakkah kamu mau mengajari Putriku bermain golf? Karena anak gadisku ini tidak bisa memegang tongkat golf dengan benar," kata salah seorang yang membawa putrinya yang sedari caper pada Arjuna namun malah selalu dikacangi oleh Arjuna.


"Aduh maaf sekali Tuan, aku sudah sangat lelah. Sedari tadi aku memberikan seluruh tenagaku pada permainan ini, terlebih aku juga kurang istrihat karena olahraga ranjang bersama istriku tadi malam. Jadi maafkan aku Nona, aku tidak ada kekuatann lagi untuk mengajarmu," kata Arjuna yang membuat kedua orang itu merona karena marah dan malu.


"Nak, jangan terlalu serius pada sebuah hubungan. Kau tahu? Terlalu lama menjalin hubungan dengan wanita yang sama membuat kejenuhan yang teramat sangat dalam sebuah hubungan. Sesekali kau bersikaplah sedikit liar, seperti ini," kata Pria itu dan mencium panas gadis berpakaian kurang bahan di depannya dengan tidak tahu malunya.


"Itu semua tergantung padamu Pak Tua! Ketika suatu hubungan dilandasi dengan n@fsu maka akan sangat mudah berakhir dengan kata bosan. Satu hal lagi yang harus kau ingat Pak Tua, sesuatu yang dipakai oleh banyak orang siapa yang menjamin barang yang kau gunakan benar-nbenar sehat. Kita tidak selamanya sehat, hidup juga begitu. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Lanjutkan saja kesenanganmu, aku harus pulang!" kata Arjuna yang diikuti oleh sang Papah yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sang Putra yang sekarang semakin bersumbu pendek sejak banyak kejadian kejam yang menimpanya.


"Nak," panggil Papah.


"Jangan membela mereka Pah, aku muak dengan lingkungan orang-orang seperti itu!" kata Arjuna kesal.


"Tidak Nak, apa yang kamu lakukan dan kamu katakan tadi sudah benar. Tidak ada yang mau Papah luruskan ataupun tegur. Hanya saja Papah ingin minta maaf kamu malah harus mendengar perkataan dari para orang tua yang kekurangan ... Huft Papah bingung bagaimana menjabarkan mereka," kata Papah yang juga kehabisan kata-kata.


"Tidak usah dibahas lagi Pah. Oh iya Pah, aku mau ke mall sebentar untu membelikan sesuatu," kata Arjuna dan Papah hanya mneganggukkan kepala saja.


"Papah ikut?" tanya Arjuna pada sang Papah.


"Iya kita pergi bersama saja," kata Papah.


Setelahnya laki-laki beda generasi itu pergi ke pusat pembelajaan tapi berpisah karena Papah juga ingin membelikan sesuatu.


Sementara Arjuna pergi ke toko perhiasan, dia ingin mengambil pesananya beberapa hari yang lalu. Arjuna membeli dua set perhiasan untuk  dua wanita paling berharga dalam hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Mamah dan Anggrek sang istri tercinta.


"Barangnya sudah bisa saya ambilkan Mbak?" tanya Arjuna begitu dia menunjukkan kwitansi lunas pembayarannya melalui ponsel miliknya.


"Oh sudah Mas, sebentar saya ambilkan dulu," kata pramuniaga tokohnya dan Arjuna menunggu dengan sabar.


Tidak membutuhkan waktu lama, Bapak dan Anak itu selesai dengan sesi belanjanya.

__ADS_1


"Papah beli apa?" tanya Arjuna melihat sang Papah yang membawa banyak paper bag.


"Udah nanti di rumah juga tahu. Ayo kita makan dulu atau minimal minum, Papah udah lama ngak jalan-jalan sama kamu. Rasanya waktu terlalu cepat berlalu. Dulu kamu masih sangat kecil dan mau kemana-mana harus bareng sama Mamah dan Papah, ngak pernah mau jauh. Tapi sekarang kamu bahkan sudah punya tiga Anak yang lucu-lucu, Papah bangga kamu bisa menjadi Ayah dan Suami yang baik bagi keluarga kecil kamu. Ini bukan akhir Nak, tapi sebuah perjalanan yang panjang. Badai pernikahan akan selalu menggoncang kalian berdua, baik dari orang ketiga ataupun masalah pekerjaan, apapun itu Papah hanya mampu berharap kalian tetap langgeng bersama hingga kakek Nenek dan saling bergenggeman tangan untuk menuju Jannah-Nya," kata Papah yang diaamiinkan oleh Arjuna.


Keduanya sangat menikmati berjalan-jalan bersama, sebenarnya baik Arjuna maupun Papah sudah lama menginginkan hal ini namun terkadang kesibukan, jarak dan masih banyak lagi persamaan yang harus mereka cari sehingga sangat-sangat jarang ada waktu untuk berdua saja dengan sang Papah.


"Bagaimana sikap Anggek sejak ada triplet diantara kalian Nak?" tanya Papah pada Arjuna.


"Anggrek makin manja, makin nempel dan makin yah susah dijelaskan lah Pah. Tapi makin kesini Arjuna makin ngak suka jika terlalu lama di kantor ataupun terkait pekerjaan. Arjuna selalu ingin pulang dan bertemu dengan Anggrek dan juga anak-anak," kata Arjuna dengan raut wajah bahagia.


"Papah ikut seneng jika kamu bahagia, jaga Anggrek dan anak-anak kamu dengan baik," kata Papah pada Arjuna.


Arjuna menganggukkan kepalanya ia tahu benar jika dia lengah segala sesuatunya bisa saja terjadi dan dia tidak ingin mengulang kisah Mr Lev Dimitri yang harus kehilangan sang Putri karena kekejaman para pembisnis licik yang menjadi musuhnya.


"Oh iya Pah, apakah Papah telah mengatakan kebenaran menganai siapa Ayah kandung Anggrek pada Mamah?" tanya Arjuna..


"Itu perkara besar Nak, Papah ngak ingin diakhir ada drama perselisihan antara Menantu dan Mertua maka dari itu Papah tidak menutupinya sedikitpun pada Mamah kamu. Anggrek telah kehilangan sosok Ibu dari Ayana, dan Papah tidak ingin hubungan Mamahmu memiliki jarak dengan Anggrek," kata Papah yang diangguki oleh Arjuna.


"Lalu bagaimana respon Mamah Pah?" tanya Arjuna pada sang Papah.


"Seperti yang kamu ketahui, tidak ada yang berubah antara sikap Mamah kamu pada Anggrek. Dia begitu menyayangi Istrimu seperti menyayangi anaknya sendiri," kata Papah.


"Ayo kita pulang pasti Mamah dan Anggrek sudah menunggu di rumah," kata Papah yang diangguki oleha Arjuna.


Setibanya di rumah, Arjuna mendapati Anggrek tengah terlelap dikasurnya dengan Fateen yang masih menghisap sumber asi pada sang Bunda.


"Kamu sangat manis Sayang, tapi Abang mau mandi dulu baru bisa deket-deket sama kalian semua kesayangan Ayah," kata Arjuna dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Karena terlalu lama berendam didalam bathtub  sehingga waktu dia keluar Anggrek telah terbangun dan sedang menonton siaran televisi.


"Kapan pulangnya Bang? Maaf ya aku ketiduran," kata Anggrek yang langsung berdiri dan memeluk tubuh wangi sang suami sehabis mandi.


"Wangi," kata Anggrek yang dibalas pelukan erat oleh Arjuna.


"Kenapa harus minta maaf Sayang, Abang malah seneng lihat kamu tidur. Kalau capek ya memang harus istirahat Sayang. Apalagi kamu ngak mau ada yang bantu buat urus anak-anak kita, pastinya sangat koalahan ketika aku ngak di rumah," kata Arjuna mengusap rambut sang istri.


"Enggak juga Abang, aku ngak sepenuhnya ngurus dedek sendiri. Pelayan-pelayan disaat kita berpindah-pindah rumah selalu ikut andil walau tidak banyak tapi ngak sepenuhnya," kata Anggrek yang makin mendusel-dusel pada dada sang suami yang selalu memberikan rasa nyaman pada dirinya.


"Sayang nanti Abang kebablasan loh, sebentar lagi waktu zuhur." kata Arjuna yang merasa dirinya tidak dizona aman karena ulah sang pujaan hati.


"Ih Abang omes!" kata Anggrek malah mnyernyit memandangi sang Suami.


"Omes sama istri sendiri siapa yang larang Sayang. Oh iya Abang ada beli sesuatu buat kamu, semoga kamu suka ya. Oh iya Abang juga beli satu set buat Mamah tapi modelnya sama ngak papakan?" tanya Arjuna pada sang istri seraya menggeruk-geruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal.


"Ya Allah, ini indah sekali Abang. Terima kasih," kata Anggrek yang malah menghujani wajah sang suami dengan kecupan-kecupan manja.


"Sama-sama," kata Arjuna mengusap rambut sang istri.


"Ya sudah yang satunya langsung Abang kasih ke Mamah aja biar nanti kita punya satu set yang sama jadi couple gitu," kata Anggrek dengan senyuman sumringahnya.


"Abang ke Mamah dulu ya buat kasih ini. Kamu coba langsung dipakai ya Sayang, Abang mau lihat. Pasti sangat cantik kalau dipakai oleh Istri Abang yang cantik ini," kata Arjuna yang diangguki oleh Anggrek.


Saat Arjuna keluar kamar, ternyata sang Mamah sedang asik ngedrakor yang diperankan oleh Park Bogum.


"Assalamu'aalaikum Mamahku yang cantik, wah lagi seru ini." Kata Arjuna yang memeluk sang Mamah dari belakang.


"Ya ampun kamu Arjuna, ngak berubah-berubah. Nanti kalau Anggrek lihat emang kamu ngak malu?" kata Mamah yang mencubit kecil lengan sang Putra.


"Meluk Mamah sendiri kok malu, oh iya Mah. Ini Arjuna ada hadiah buat Mamah tapi ngak seberapa dan Arjuna juga kasih set yang sama buat Anggrek," kata Arjuna yang memberikan kotak beludru merah yang elegan itu pada sang Mamah.


"Sayang ini sangat bagus, terima kasih ya Nak. Mamah sangat suka. Mamah senang jika kamu membelikan set yang sama dengan Anggrek berarti nanti kita bisa pake couple kalau pergi kemana-mana," kata Mamah pada Arjuna.

__ADS_1


__ADS_2