
Tawa Jenny menggelegar di kamar persegi yang biasa di tempati oleh Jeff itu. Di sisi lain Jeff sedikit merasa heran mengapa Jenny begitu lama mendandani Melati.
"Ah lebih baik aku lihat sendiri di kamar, lagi pula aku tahu persis bagaimana watak Melati. Wanita itu pasti tidak serta merta mengikuti apa yang di perintahkan oleh Jenny," kata Jeff dari dalam hati.
"Pak Budi, sepertinya aku harus melihat ke dalam dulu. Mungkin saja gadis yang nanti akan menemani Bapak, sudah menjadi sangat mempesona karena di dandani tangan dingin Jenny," kata Jeff pada Pak Budi.
"Baik, silahkan di lihat dulu. Ah saya merasa tidak sabar melihatnya secara langsung.terlebih dari foto yang Tuan Jeff perlihatkan kepada saya, Nona Melati ini sangatlah cantik," kata Bapak Budi dengan senyuman mesumnya.
"Pasti Pak! Pak Budi tidak akan menyesal telah memilih gadis yang saya tawarkan kepada Bapak! Dia ini teman terbaik saya dan pastinya dia adalah orang yang sangat menyenangkan," kata Jeff dengan senyuman penuh arti dan sirat akan bahagia karena akan segera menerima uang puluhan juta dari Pak Budi.
Dengan langkah mantap Jeff berjalan ke arah kamarnya. Setibanya di depan kamarnya Jeff langsung membuka pintu kamarnya. Begitu kamarnya di buka terdengar suara tawa Jenny yang menggelegar di dalam kamar tidur yang biasa di tempati oleh Jeff selama tinggal di apartment miliknya itu.
"Kenapa kamu Sayang?" tanya Jeff seraya memandangi sang kekasih gelaap yang terlihat sangat bahagia itu.
__ADS_1
"Lihat Sayang wanita yang akan menjadi istrimu tampak sangat indah dengan warna merah yang menemani tubuhnya. Hahahaha aku sangat bahagia Sayang, kenapa tidak dari tadi aku melakukannya, seperti yang aku lakukan pada kekasih yang dulu. Hahahaha," tawa Jenny membuat tubuh Jeff menegang dan wajahnya memucat. Penyakit sang sahabat kembali menghampirinya. Oh tuhan!
Perlahan Jeff melihat ke tempatnya bertijak dan bagai berguncang dunia Jeff saat menyadari jika di kakinya tengah bergenang darah yang sangat banyak. Tubuh Melati masih yang masih hangat tergelatak dengan banjir darah dan pisau buah yang masih menancap di jantung wanita malang itu. Dengan cepat Jeff memeriksa denyut nadi Melati dan seketika tubuh pria yang ngak tampan-tampan amat itu langsung terduduk lemas.
"Dia sudah meninggal dunia Jen," kata Jeff dengan lirih.
"Sayang mengapa kamu harus takut? Bukankah tujuan kita memang ingin membuat dia meninggal Sayang? Aku hanya membuat wanita sialan ini pergi lebih awal saja.
"Kamu ngak usah khawatir Sayang, bukankah yang penting aku bahagia?" tanya Jenny dengan suara manja.
Dengan perlahan Jeff mengeluarkan jarum yang berisi obat penenang yang memang selalu dia simpan dalam kantong pakaiannya sebagai jaga-jaga jika Jenny kambuh seperti ini..
Chouk
__ADS_1
Dalam sekejap jarum itu sudah menaancap di tubuh sang kekasih gelap.
"Sayang! Lagi kau berikan obat terkutu..." perkataan Jenny terpotong karena wanita itu langsung memejamkan matanya karena obat bius yang bereaksi cepat pada tubuhnya.
" Maafkan aku Melati, meski aku membencimu tapi bukan maksudku untuk membuatmu berakhir seperti ini. aku sebenarnya hanya ingin memberimu pelajaran karena telah membuat Sahabat dan orang yang aku cintai merasa kesakitan. Tapi dendam ini malah berakhir begitu cepat. Meski kematian menyeramkan untuk orang-orang sepertimu, tapi sungguh kematian ini terlalu mudah untukmu Melati!" kata Jeff dengan suara pelan.
Tahu jika sedang di buru waktu, Jeff segera menggendong tubuh Jenny ke atas ranjang tempat mereka biasa berbagi peluh dan melakukan kegiatan yang di larang agama itu.
Jeff segera mengambil tas besar yang bisa dia gunakan untuk membawa barang yang besar dan berukuran panjang. Jeff memasukkan tubuh Melati yang bergelumuran darah ke dalam tas plastik besar itu.
"Sorry Sayangku yang malang, kau harus berakhir begini," kata Jeff.
setelah Jeff membersihkan semua bekas pembunuhan yang di lakukan oleh Jenny dan menyimpan mayat Melati ke lemari kosong yang ada di kamarnya itu Jeff segera keluar. Jeff keluar dengan wajah panik dan keringan yang bercucuran di mana-mana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...