
"Sayang sesuai janji, selueuh keluargamu yang datang hari ini harus melalui proses sreening dahulu biar bersih," kata Arjuna yang membuat Papah dan Mamah geleng-geleng kepala.
"Abang! Kamu kira keluarga aku bawa virus apa?" tanya Anggrek kesal.
"Lebih dari bawa Virus makanya harus Abang amankan, atau tidak bertemu sama sekali!" tegas Arjuna tanpa bisa ditawar.
"Ngak usah cemberut gitu! Entar aku malah ngak jadi berangkat kerja, noh lihat udah dijemput sama tugas perusahaan. Kamu ngak lihat apa itu Kai dan Ariana wajahnya udah sengsara kerena beban hidup. Kalau aku ngak ngantor eajah mereka makin sengsara karena beban mereka makin banyak," kata Arjuna.
"Kok bawa-bawa saya Pak. Memangnya kapan saya ngelarang Bapak buat ngak ngantor?" tanya Kai tidak terima dengan tudingan Bosnya.
"Kai, gaji kamu saya potong 25 persen bulan ini ya!" kata Arjuna watados dan mengecip kening sang istri lalu berpamitan dengan kedua orang tuanya.
Melihat Bos besar telah berangkat Kai dan Ariana buru-buru menyusul tentunya diiringi dengan nyanyian Kai yang tidak ingin gajinya dipotong.
Sepeninggal Arjuna, Anggrek menatap memelas pada sang Mamah mertua karena Papah telah berangkat setelah 10 menit Arjuna pergi.
"Mamah," lirih Anggrek menatap memelas pada Mamah mertuanya.
"Maaf Sayang, kali ini Mamah sependapat dengan Suami kamu. Apapun yang kami lakukan tidak terlepas demi keselamatan kamu.
"Ya sudah Mamah berkebun dulu," kata Mamah berlalu untuk memeriksa tanaman hijau dan juga bunga yang menjadi peramai kebun belakang rumah megah milik Arjuna.
Disisi lain Mawar dan kedua orang tuanya tengah berada di pesawat penerbangan ke USA.
"Pa, Mama ngak menyangka akhirnya kita bisa bertemu dengan Anggrek," kata Mama dengan raut wajah yang sangat bahagia.
__ADS_1
"Papa juga senang Ma, tapi Papa juga malu bertemu dengan anak angkat kita setelah apa yang sudah berlalu," kata Papa menerawang mengingat masa lalu.
"Pa, Mama juga merasakan hal sama tapi bagaimanapun Mama sangat merindukan Anggrek Pa. Bagaimanapun Mama mempertaruhkan nyawa Mama demi melahirkan dia bagaimana mungkin Mama bisa melupakan anak Mama sendiri walau semarah apapun Mama sama dia," kata Mama tanpa sadar.
Perkataan Mama sontak membuat Papa dan Mawar menatap bingung sang Mama.
"Apa maksud Mama?" tanya Papa dan Mawar bersamaan dengan pandangan menyelidik.
"Maksudnya tanya Mama bingung tanpa sadar kalimat yang telah diucapkannya.
"Mama mengatakan jika Mama melahirkan Anggrek mempertaruhkan nyawa Mama, apa Anggrek benar-benar anak kandung kita? Bukankah Mama bilang anak kita meninggal dunia dan mengadopsi Anggrek sebagai pengganti anak kita?" tanya Papa menatap dalam pada Mama.
Mama gelagapan mendengar pertanyaan beruntun dari sang suami belum lagibtatapan penuh selidik yang dilayangkan oleh Mawar.
"Astagfirullah, Pa. Maksud Mama bukan seperti itu, Mama telah merawat Anggrek sejak bayi merah. Belum lagi Anggrek lahir dihari yang sama dengan Bayi kita yang meninggal Pa, Mama merasakan betul sakitnya melahirkan hingga hampir meregang nyawa. Itu juga yang Ibu kandung Anggrek rasakan, dia mempertaruhkan nyawanya demi menghadirkan Anggrek ke dunia meski Anggrek terlahir dari kesalahan," kata Mama menatap lirih dan mata berkaca-kaca.
"Sudah Mama jangan lagi menangis, sebentar lagi kita akan berjumpa Putri kita. Mama tidur ya, perjalanan masih panjang. Belum lagi kita harus menghadapi semua anggota keluarga Arjuna," kata Papa merebahkan kepala Mama disandaran kursi.
Tidak lama Papa dan Mama tertidur. Berbeda dengan kedua orang tuanya, Mawar tenggelam dengan semua pikirannya sendiri.
Tidak terasa air matanya melereh lagi dikedua matanya. Ya bagaimana tidak, Uztadz Khairil menolak menikahi dia tapi ternyata sebulan kemudian Uztadz Khairil malah menikah dengan santri yang baru lulus dari pesantren milik Nyai Halimah dan Kyai Abdullah.
"Ya Allah, mengapa aku begitu sulit untuk bahagia. Ditolak terang-terangan tapi dia malah menikahi gadis lain, apa ini karena aku tidak lebih dari seorang gadis hina yang menjajakan tubuhku hanya demi segepok uang? Tapi aku bisa apa aku tidak sepintar Anggrek dan juga tidak berpendidikan," lirih Mawar tanpa suara dan hanya air mata yang mewakili kesedihannya.
Hingga tanpa sadar dia kembali memutar memori pada sang Adik bungsu. Anggrek selalu beruntung, lepas dari Abimanyu dia malah mendapat Arjuna yang tampan juga kaya raya. Sedangkan dia meski mendapatkan Abimanyu tetap saja buntung karena malah disiksa lahir dan batin.
__ADS_1
"Anggrek pasti sangat bahagia menikahi pengusaha tampan dan muda seperti Arjuna. Hmmm siapa juga yang akan mampu menolak pesona Arjuna, walau kata jadi istri keduanya siapapun juga pasti mau termasuk aku," lirih Mawar tersenyum saat membayangkan wajah Arjuna yang pernah dia lihat di media dan juga foto pernikahan Anggrek dan Arjuna yang tersebar dimedia.
"Astagfirullah Mawar sadar! Cukup semuanya sudah cukup, jangan sampai kamu ulangi lagi apa yang telah terjadi dulu. Anggrek sangat baik mau memaafkan kamu bahkan membantu keuangan papa dan mama sejak Melati meninggal dunia," kata Mawar seraya memukul-mukul kepalanya.
Perjalanan panjang ternyata tidak banyak waktu lagi, ya mereka semua sebentar lagi akan sampai.
"Mawar, Mama harap kamu tidak mengulangi sikap bodoh kamu lagi dengan memisahkan Arjuna dan Anggrek. Cukup pernikahan Anggrek dan Abi yang hancur, jadi Mama harap kamu mampu bersikap dewasa untuk kali ini saja atau kamu tidak perlu berjumpa dengan Anggrek dan keluarganya." kata Mama penuh penekanan.
"Iya Ma," kata Mawar pasrah sedangkan Papa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
Tidak lama setelahnya ketiganya sampai di Bandara. Ternyata berbeda dengan apa yang mereka pikirkan, mereka pikir yang menjemputnya adalah Anggrek dan Arjuna. Tapi ternyata yang menjemput mereka adalah dua laki-laki berpakaian rapi ala bodyguard.
"Maaf Tuan, sebelumnya saya ingin bertanya. Kenapa Arjuna dan Anggrek tidak datang menjemput kami?" tanya Mama pada laki-laki muda berpakaian Rapi yang tengah mengemudi itu.
"Tuan tengah ada penting, sehingga tidak bisa ditinggalkan. Sedangkan Nyonya Anggrek menjadi tahanan rumah oleh Tuan Arjuna dan juga orang tua Tuan karena Nyonya tengah hamil tua, jadi tidak bisa keluar rumah tanpa ditemani Tuan Arjuna," kata Pengawal itu tegas.
Setibanya di apartement yang disediakan oleh Kai untuk mereka sukses membuat mereka terperangah, ini sangat-sangat mewah sekali.
"Pa, apa ini benar-benar rumah yang disediakan oleh menantu kita? Ini sangat-sangat mewah Pa," kata Mama berlinang air mata karena terharu.
"Iya Ma, ini Arjuna yang menyiapkannya. Mama jangan memangis," kata Papa mengusap pipi sang istri.
Melihat haru dimata kedua orang tuanya ada hal berbeda dari Mawar. Entah mengapa rasa Iri yanh sempat hilang kembali menyapa karena nasipnya yang tidak seberuntung Anggrek.
"Haruskah aku membuatnya bertekuk lukut agar semua ini bisa aku miliki? Aku lelah hanya menjadi pelarian dan tidak pernah dianggap, pastinya dengan Arjuna, Anggrek selalu berlimpah kekayaan dan harta," lirih Mawar dalam hatinya.
__ADS_1
"Persetan dengan dosa dan taubat, toh hidupku tidak membaik. Mas Arjuna aku datang," lagi rencana jahat berseliweran dikepala Mawar.