Luka Di Pelaminan

Luka Di Pelaminan
Anggrek Diculik


__ADS_3

Malam harinya Arjuna menemani Anggrek membuat rancangan gaun yang begitu indah. Ya Anggrek ingin membuat rancangan pesanan salah satu sahabat baiknya yang akan menikah dalam waktu dekat. Jadi Anggrek harus memberikan yang terbaik.


"Oh iya Sayang gimana kerja karyawan baru yang diberikan oleh Jinyoung? Apakah membantu Sayang?" tanya Arjuna pada sang istri.


"Secara keseluruhan sangat membantu Abang, terlebih saat ini aku sangat koalahan karena pesanan yang meledak." kata Anggrek yang menyandarkan kepalanya kepada sang suami.


"Abang," lirih Anggrek pada Arjuna.


"Ya Sayang," kata Arjuna yang masih mengusap krambut sang Istri.


"Apakah besok Abang akan ke kantor pagi-pagi sekali?" tanya Anggrek pada Arjuna.


"Sebenarnya aku juga tidak ingin Sayang, namun kenyataannya aku memang harus pergi pagi-pagi karena ada Clien dari Surabaya," kata Arjuna pada Anggrek.


"Ya sudah ngak papa Bang. Oh iya Bang, besok aku rencananya mau mengunjungi Mama Ayana di rumah sakit. Apa boleh?" tanya Anggrek pada Arjuna.


"Tentu saja boleh Sayang, tapi kamu jangan pergi sendirian. Ajaklah Kevin atau siapapun yang bisa menemani dan punya kemampuan beladiri. Abang ngak mau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi," kata Arjuna yang disetujui oleh Anggrek.


"Ya sudah tidurlah lebih awal. Tidak baik jika tidur terlalu larut," kata Arjuna dan pri itu berlalu ke kamar mandi yang ada di kamar mereka.


Pagi harinya, Anggrek tengah memasak untuk Arjuna dan seluruh keluarganya. Tentu saja ada yang membantu, ada beberapa pelayan rumah yang ikut serta memasak bersama Anggrek sedangkan yang lain sibuk membersihkan rumah.


"Masyaallah, Menantu Mamah udah masak saja. Wangi banget Sayang, pasti enak," kata Mamah yang membuat Anggrek tersenyum.


"Mamah bisa saja, coba dicicipi dulu Mah apakah sudah pas?" tanya Anggrek memberikan kuah dari gulai yang tengah dimasaknya.


"Ini udah pas Sayang, yaudah Mamah bantu sajikan ya?" tanya Mamah dan Anggrek hanya mengangguk tersenyum mengiyakan.


Setelah semua tertata rapi, Anggrek berlalu ke kamarnya untuk melihat sang suami. Ya Anggrek dan Arjuna memilih di kamar yang baru yaitu lantai satu agar Anggrek tidak kesulitan membawa triplet menggunakan kareta bayi.

__ADS_1


"Abang, sudah selesai siap-siap?" tanya Anggrek begitu memasuki kamarnya dan sang suami.


"Ini loh Yang, bandel banget. Maunya cuma dipasangin sama kamu, jadi mau ngak mau aku harus nunguin kamu," kata Arjuna dengan senyum manisnya seraya menunjukkan dasinya yanh hanya dia kalungkan dilehernya.


"Sudah, udah rapi." kata Anggrek setelah membantu sang suami mengenakan dasinya.


"Triplet belum bangunkan? Yaudah biarin aja, Abang ayo ke meja makan buat sarapan dulu," kata Anggrek pada Arjuna.


"Ayo," kata Arjuna seraya menggenggam tangan sang istri yang bebas karena sebelah tangan Anggrek yang lainnya membawa tas sang suami yang berisikan laptop dan semua peralatan kerjanya.


Setelahnya Anggrek langsung menyajikan masakannya pagi ini untuk sang Suami. Hal itu tidak lepas dari oandangan Mamah dan Papah yang memandangi anak dan menantunya, mereka senang karena Anggrek dan Arjuna harmonis.


"Segini cukup Abang?" tanya Angrek mengambilkan lauk yang diminta sang suami.


"Cukup Sayang, makasih ya." kata Arjuna dan mereka mulai sarapan pagi.


"Bagaimana kondisinya Dokter? Mengapa Mama saya harus diikat pada ranjang dan juga terlihat memandang kosong begitu?" tanya Anggrek pada Dokter Dennis.


"Saya tidak tahu harus bagaimana Nyonya, Ibu Ayana terus berhalusinasi ketika melihat orang-orang disekitarnya. Jika dia melihat wanita maka dia akan meneriakan nama Anda dengan segala sumpah serapahnya dan sebaliknya jika dia melihat pria maka dia akan menganggap itu adalah Mantan Suaminya Bapak Taufik Raharja dan mulai mengamuk, memohon agar tidak ditinggalkan, menangis histeris hingga menyakiti dirinya sendiri," kata Dokter Dennis yang membuat mata indahnitu menyendu menatap wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


"Apakah aman jika saya mencoba mendekati beliau Dokter?" tanya Anggrek.


"Sebaiknya jangan Nyonya. Dia sangat membanci Anda, bahkan setiap perawat wanita yang mengurusnya tidak pernah keluar dengan keadaan baik. Mulai dari wajah yang lebam, baju yang sobek bahkan hingga hampir tertusuk oleh pisau buah yang dibawa oleh perawat dan penyerangnya adalah Nyonya Ayana,'' kata Dokter Dennis.


"Apa tidak ada solusi untuk menyembuhkan Mama saya Dokter?" tanya Anggrek pada Dokter Denis.


"Hanya satu solusinya, Bapak Taufik. Tapi sesuatu yang dipaksakan juga tidak akan baik bukan?" tanya Denis dengan senyuman serba salah terlebih dia mengetahui cerita ini karena Nyonya Ayana sering kali memeluknya erat dan meminta maaf karena mengira dirinya adalah Taufik Raharja. Dosa yang seharusnya dia sembunyikan rapat-rapat malah sudah menjadi rahasia umum bagi orang-orang yang menangani Ibu Ayana.


Anggrek hanya bisa menghela nafas panjang, hatinya sesak tapi air matanya enggan keluar. Bukan apa-apa, hingga akhir Mamanya tetap menganggapnya sebuah kesalahan dan seharusnya tidak pernah ada di Dunia ini.

__ADS_1


Disisi lain ada seseorang yang tengah mengintai Anggrek. Tapi sedari tadi tidak mendapaykan celah karena Anggrek selalu bersama Gio sang pengawal.


"Sial! Aku tidak mau tahu, pokoknya kalian harus menangkapnya dan membawanya kemari. Aku telah membayar mahal harga untuk ini! Jadi jangan biarkan dia lolos kali ini! Tidak peduli seberapa banyak pengawalnya!" teriak wanita dari seberang telepon.


Disisi lain Gio dan Anggrek tengah berjalan kearah parkiran mobil mereka.


"Gio, saya mau ke toilet sebentar." kata Anggrek dengan keadaan terburu-buru dan Gio menganggukan kepalanya.


Tepat saat Anggrek baru saja keluar dari kamar mandi seseorang menyegapnya dari belakang.


"Hmmmmmmpppp!" lengguh Anggrek karena suaranya tertahanndengan sapu tangan yang dicampur bius. Tidak lama setelahnya tubuh Anggrek melemah.


"Mission complete," kata pria yang menggunakan outfit serba hitam itu.


Sedangkan Gio mulai gelisah karena sang Nyonya tidak kunjung kembali setelah 30 menit berlalu.


"Ya Tuhan, dimana Nyonya? Mengapa pama sekali?" tanya Gio pada dirinya sendiri.


Tidak ingin merasa lebih gelisah lagi Gio menyusul sang Nyonya yang berada di toilet wanita yang tidak jauh dari parkiran dan masih bisa dijangkau oleh penglihatannya.


"Saya tidak melihatnya Mr, mungkin dia sudah pergi." kata Wanita pertama yanh dia temui dan dijelaskan ciri-ciri Anggrek.


"Sejak saya masuk saya tidak melihat gadis yang Mr jelaskan. Sepertinya dia meninggalkan Anda sendirian, mungkin Mr bisa menghubunginya via hp," kata Wanita kedua yang ditanyai oleh Gio.


Setelah memastikan sang Nyonya tidak ditempat, Gio benar-benar kalut dan panik. Dia segera mendatangi pihak cctv untuk melihat siapa yang masuk dan siapa yang keluar.


Hingga dia menangkap sosok mencurigakan yang menggunakan pakaian serba hitam dan juga masker. Hingga tabir terbuka ketika adegan Anggrek dibius dan dipapah layaknya orang sakit yang baru keluar toilet.


"Bre***k! Kau bermain-main denganku!" geram Gio yang merasa sangat kesal melihat rekaman itu. Dengan langkah sigap Gio memasuki mobilnya untuk mengejar orang yang telah menculik Nyonynya

__ADS_1


__ADS_2