Luka Di Pelaminan

Luka Di Pelaminan
Rencana Jahat Mawar


__ADS_3

Dua hari telah berlalu sejak terjadi konflik antara Anggrek dengan sang Mama karena kebenaran yang terungkap. Selama dua hari juga Anggrek lebih banyak diam dan mencari ketenangan dengan mendatangi Tuhannya ketika gundah gulana melanda. Takut, kadang ketakutan itu datang begitu kuat namun Anggrek tidak ingin berlarut pada rasa takutnya apalagi sang Mamah mertua dan Suaminya selalu ada waktu lebih untuk sekedar mendengar curahan hatinya maupun memeluk lukanya.


Anggrek berusaha menjaga jarak yang signifikan dengan keluarga Raharja meski Mawar hampir lebih dari 100 kali menghubunginya entah untuk urusan apa. Bukan Anggrek ingin jadi anak durhaka apalagi tidak tahu diri hanya saja Anggrek tahu pasti kondisi sang Mama dan Papa dalam keadaan baik-baik saja melalui kamera pengintai diruang tamu dana ruang keluarga yang dipasang oleh Arjuna. Disisi lain apartement yang dihuni keluarga Raharja itu juga dilengkapi ART yang membantu Mama dan Mawar dalam menyiapkan makanan dan membersihkan rumah.


"Sayang, makan buah dulu yu. Kamu sedari tadi belum makan apa-apa, kasian anak-anak kita yang ada disini," kata Arjuna mengusap perut Anggrek yang sudah teramat besar.


"Abang, aku ngak salahkan hadir di Dunia ini? Kalau aku bisa memilih aku juga tidak ingin hadir sebagai anak hasil zina...."


"Ssssstttt," Arjuna menghampus air mata sang istri yang bertambah deras. Tidak bukan ini yang Arjuna inginkan dia tidak ingin sang istri berlinang air mata dan sedih berkepanjangan seperti ini.


"Sudah jangan kamu pikirkan lagi Sayang, itu hanya masa lalu yang harus kamu pikirkan adalah masa depan kita dan anak-anak kita. Abang ngak mau kondisi kamu jadi drop hanya karena menangis terus seperti ini, bukan kamu yang harusnya terpukul Sayang. Ini bukan salah kamu, ini salah Ibu kamu jadi Abang mohon kamu tenang!," kata Arjuna mengusap kepala sang istri yang bersandar di dadanya.


Perlahan tapi pasti Anggrek memakan buah segar yang Arjuna bawa, apayang suaminya katakan benar bukan dia yang harusnya terpendam dan terperosok jurang terdalam seperti ini. Anggrek semakin berusaha memasukkan sugesti-sugesti positif kedalam pikirannya. Terlebih sebenarnya Anggrek bukanlah pengangguran yang tidak punya pekerjaan, rancangan dan juga butiknya selalu mendamba sentuhan tangan seninya. Meski sang Mama selalu menganggap dia aib dan sebagainya Anggrek harus tetap menafkahi Mama dan keluarganya bukan terlebih Papa juga tidak bisa diharapkan. Mawar jangan ditanya dia masih tenggelam dengan duka gagal nikah dan menjadi janda.


Eits!  Bukan ya, bukan karena Arjuna tidak memberi uang lebih, Arjuna itu anak tunggal dan perusahaan Mamah dan Papah tentu saja Arjuna yang mengelola dan memiliki tapi ada perbedaan besar disini. Anggrek ingin Arjuna tidak menanggung beban keluarganya yang entah bisa disebut keluarga atau bukan, alasannya simple saja Arjuna adalah sepenuhnya milik Anggrek dan calon anak-anak mereka.


"Abang kepala aku pusing," lirih anggrek setelah semua buah yang disiapkan Arjuna habis disantap oleh Anggrek.


"Duduk dulu sebentar ya, nanti baru tidur. Makanya jangan nangis terus, mereka ngak pantas kamu tangisin. Air mata kamu terlalu berharga untuk orang-orang sepeti mereka," kata Arjuna.


Bertepatan dengan itu ponsel Anggrek berdering nyaring dan menampakkan nama Mawar sebagai tersangka penyebab ponsel wanita hamil itu berdering keras.


"Kenapa dia terus menelpon? Mau apalagi wanita ini?" tanya Arjuna kesal melihat si pemanggil/.

__ADS_1


"Aku sengaja tidak mengangkat panggilan dari Kak Mawar karena sedang tidak ingin bicara dengan siapapun  Abang. Matikan saja ponselnya Abang, kalau perkara pekerjaan Amanda akan datang untuk menemui aku secara langsung," kata Anggrek menatap sang suami.


Arjuna langsung mematikan ponsel Anggrek tanpa bertanya lagi. Lagian Arjuna juga muak melihat itu semua, sangat-sangat menyebalkan cintah.


"Abang ngak ngantor?" tanya Anggrek pada Arjuna.


"Gimana Abang bisa ngantor sayang kalau Istri Abang tercinta ini masih bersedih dan juga berwajah pucat begini?" tanya Arjuna mengelus wajah pucat Anggrek yang sama sekali tidak mengurangi rona cantiknya.


"Nanti kalau Abang ada meeting penting bagaimana?" tanya Anggrek pada Arjuna.


"Gampang ada Kai dan Ariana, lagi pula Papah juga ngak ngebolehin Abang ke kantor karena kondisi kamu sekarang," kata Arjuna menatap lamata sang istri.


"Maafin aku yang Bang, gara-gara aku Abang jadi ngak bisa....."


Arjuna menghentikan kalimat Anggrek dengan jemarinya yang dia letakkan didepan mulut Anggrek.


"Ya sudah sekarang kamu tidur, Abang ngak mau kamu banyak pikiran, ingat sebentar lagi anak kita akan lahir," kata Arjuna pada Anggrek yang diiyakan oleh Anggrek.


Tidak membutuhkan waktu lama wanita cantik itu sudah terlelap daam pelukan sang suami. Arjuna mengusap rambut panjang anggrek yang menutupi wajahnya.


"Apapun itu Abang harap kamu mampu setegar biasanya sayang, jangan goyang apalagi tumbang hanya karena masalah kecil ini. Abang akan berusaha mencari tahu siapa Ayah kandung kamu, semoga saja pria yang membuat kamu hadir di dunia ini tiddak sekeji Ayana," lirih Arjuna dengan suara pelan.


Setalah dirasa waktu cukup lama berlalu dan Angrek benar-benar tenggelam dialam mimpinya Arjuna membaringkan Anggrek pelan-pelan di ranjang mereka.

__ADS_1


Arjuna yang masih punya kerjaan dari kantor memilih mengerjakan dikamar secara daring. Bukan rapat hanya perlu melihat hal-hal yang harus ditanda tangani dan kontrak kerja sama yang masuk dari pihak Clien.


Tidak terasa satu jam berlalu, hingga Bibi Al datang dengan nafas terngah karena berlari dari lantai 1.


"Tuan ada tamu yang memaksa masuk dan membuat keributan diluar, dia mengaku jika dia adalah Kakak dari Nyonya Anggrek. Sedari tadi kami sudah berusaha menyuruhnya pergi karena tidak punya bukti apapun jika dia saudara Nyonya, tapi dia malah semaki anarkis Tuan, apakah saya perlu memanggil polisi atau perawat dari rumah sakit jiwa?" tanya Bibi Al.


"Biar saya lihat langsung saja Bi," kata Arjuna langsung meninggalkan kamarnya dan Anggrek dengn lngkah tergesa.


Tiba dibawah lagi Arjuna harus menghela nafas kasar karena Mawar tepat sedang berteriak-teriak seoerti orang kesetanan diluar pagar agar sang Security membuka pintu gerbang.


"Mau apa kamu kesini!" tanya Arjuna sarkas melalui lubang yang dia lihat dari dalam pagar.


"Eh Mas Arjuna ada di rumah, begini Mas saya ingin bertemu dengan Anggrek. Saya khawatir kondisinya akan drop karena stress atas permasalahan yang meimpanya dan juga hubungannya dengan Mama yang semakin renggang," kata Mawar percaya diri.


"Itu tidak perlu sama sekali, aku bisa mengurusi istriku sendiri tanpa bantuan kamu. Urus saja orang tuamu yang sedang bertengkar itu!" kata Arjuna sarkas.


"Mas, jangan pergi. Saya bnar-benar butuh untk berbicara dengan Mas Arjuna ini terkait pekerjaan," kata Mawar pada Arjuna.


Perkataan Mawar membuat langkah Arjuna terhenti sejenak.


"Saya tidak punya urusa pekerjaan bersama Anda!" kata Arjuna kwmbali.


"Mas! Mas Arjuna! Mas Arjuna tolong jangan pergi! Saya mmebutuhkan pekerjaan agar tetap bisa hidup di negeri gila ini! Mas Arjuna!" teriak Mawar yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Arjuna.

__ADS_1


"Sial! Sial dia malah pergi sebelum aku melakukan apapun, pokoknya aku ngak boleh kalah dari Mama. melihat tampang Anggrek yang ada wajah bulenya yang kental menunjukkan dia adalah keunggulan oang luar. Baiklah Mas kalau ngak hari ini mungkin bisa hari esok dan aku tidak akan goyah akan pendiriannya,"kata Mawar yang pergi dari sana dengan keadaan mencak mencak.


"Kita lihat nanti siapa yang bisa mengahalangi jalanku? Aku parti akan mendapatkanmu Mas Arjuna Sayang.  Kamu ttidak akan mampu menahan godaanku Arjuna apalagi dalam kondisi sitrimu sudah seperti bulatan karung sangat besar!" kata Mawar dan setelahnya tertawa keras melihat kearah rumah megah milik Angrek dan Arjuna..


__ADS_2