
Setelah kepergian Papa, Mawar masih berada disana dan memegang pundak sang Mama.
"Ma, Papa hanya marah sesaat. Nanti Mama bisa ngomong baik-baik ke Papa," kata Mawar mengusap bahu sang Mama yang bergetar karena tangis.
Anggrek sebenarnya merasa bingung dia harus bersikap seperti apa. Disisi lain dia merasa sangat bersalah karena kebenaran tentang dirinya membuat sang Mama dan Papa bertengkar, sebagian dari dirinya menyalahkan takdirnya tapi setelah dipikir-pikir siapa yang mau menjadi seperti Anggrek yang lahir tanpa jelas siapa Ayahnya bahkan kebanyakan masyarakat mengatakan sebagai Anak Haram yang lahir diluar pernikahan.
"Sayang, udah kamu jangan nangis lagi. Abang tahu ini berat buat kamu tapi Abang ingin kamu tahu kebenaran ini, bahwa faktanya kamu dan kedua kakakmu adalah saudara se Ibu," kata Arjuna mengusap bahu Anggrek.
Sedangkan Mama masih menangis dipelukan Mawar. Mama mengalihkan perhatiannya saat mendengar perkataan Mamah dari Arjuna.
"Apa yang terjadi hari ini adalah buah dari perbuatanmu di masa lalu Nyonya. Saya tahu ini berat sekali buat kamu tapi kamu juga harus tahu semuanya ada imbas dari apa yang telah kamu lakukan dimasa lalu. Masa lalu bukan milik kita karena kita tidak akan bisa mengubahnya walau kata menangis darah dan berusaha sekuat mungkin. Yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki dan merancang masa depan sebaik mungkin. Luka yanh kau torehkan pada suamimu juga tidak seketika bisa hilang tapi tidak ada salahnya mendatanginya dan memohon maaf, minta petunjuk dari sang Kuasa agar mempermudah segalanya," kata Mamah mertua Anggrek itu.
"Tapi ini semua tidak akan terjadi jika Kamu tidak memaksa aku jujur mengatakan ini pada semuanya. Aku tidak akan kehilangan Suamiku karena kebenaran ini!" teriak Mama pada Besannya itu.
"Dan Kau! Seharusnya sejak awal aku tidak mempertahanmu di rahimku! Karena nyatanya sejak Kau hadir hanya membawa sial! Kau tahu Ayah kandungmu memberikan aku janji-janji manis namun rupanya dia telah beristri dan punya Anak!" Teriak Mama marah dan berjalan cepat kearah Anggrek yang membuat Arjuna waspada.
__ADS_1
"Harusnya bukan melati yang mati tapi Kau! Harusnya Kamu yang Mati Anggrek! Kenapa hidupmu terlalu beruntung! Kenapa!" teriak Mama semakin tidak terkendali dan ingin mendorong dan hendak menampar Anggrek. Tapi untungnya Ibu Mertua Anggrek cepat tanggap dan menghalangi tangan ganas Besannya itu.
"Istigfar kamu Nyonya Raharja! Kemarahanmu pada Anggrek tidak akan mengubah apapun! Kamu pikir dengan menyembunyikan fakta ini semuanya akan aman hingga akhir? Jangan hanya bisa menyalahkan orang lain atas dosa yang kamu lakukan, bertaubatlah selagi masih ada waktu!" kata Mamah pada Nyonya Raharja.
"Persetan dengan perkataanmu Perempuan Tua! Kau pikir aku akan begini jika tidak berawal dari janjimu! Jika sampai Suamiku meninggalkanku hanya gara-gara Anak pembawa sial ini aku pastikan gadis bodoh itu akan mati ditanganku!" ancam Mama dan meninggalkan Anggrek yang menangis sesenggukan dalam pelukan sang suami.
"Abang, Mama menyumpahiku agar cepat mati," lirih Anggrek dengan penuh takut dalam nadanya.
"Sayang dengar, jangan pikirkan apa yang Mama kamu katakan. Kita serahkan semuanya pada Allah, hidup dan mati seseorang bukan ditangan manusia tapi ditangan Allah. Kamu jangan cemas, banyak berdo'a banyak berzikir ingat Allah, Sayang. Lagi pula anak kita akan dalam bahaya jika kamu terlalu stress," kata Arjuna menenangkan Anggrek.
Sedangkan Nyonya Ayana Raharja telah pergi bersama Mawar Putrinya tanpa pamit pastinya. Jika Ayana panik karena sang suami tidak lagi ingin bicara padanya maka Mawar panik karena sang Mama pergi dalam keadaan kalut.
"Apa yang dikatakan Suamimu benar Sayang. Jangan terlalu dipikirkan perkataan Ibumu tadi, bukan salahmu hadir dari hubungan gelap dan bukan salahmu juga hadir dari kesalahan. Ingat kamu ngak sendiri ada Mamah, Papah dan pastinya ada Arjuna yang selalu ada untuk kamu. Ini memang berat tapi percayalah Allah memberikan takdir ini padamu karena Allah percaya hanya kamu yang sanggup dan hanya kamu yang mampu," kata Mamah yang membuat Anggrek memeluk Mamah mertuanya.
Setelahnya mereka kembali pulang ke kediaman Arjuna dan Anggrek. Diperjalanan Anggrek terlelap karena lelah menangis, wanita muda itu terlelap dalam pelukan Arjuna.
__ADS_1
"Sayang sekali Ayana masih belum bisa bersikap bijak. Mamah kira menuanya usia dan hampir punya cucu akan membuatnya lebih dari dewasa tapi rupanya dia hanya wanita tua berjiwa remaja sungguhan yang mudah emosi dan bersumbu pendek. Sungguh Ibu yang mengerikan, Ya Allah jangan sampai menantu hamba mewarisi sikap Ibunya yang mengerikan itu," kata Mamah yang didengar oleh Papa dan Arjuna yang ikut serta mengaminkan. Tanpa mereka sadari Anggrek juga mengaminkan hal serupa, dia takut jika apa yang Ibunya lakukan mempengaruhi sikap dan sifatnyam bagaimanapun Anggrek calon Ibu dari kedua Anaknya.
Sementara dikediaman keluarga Raharja sekarang, Papa dan Mama kembali berdebat.
"Pa, Mama mohon maafkan Mama. Mama tahu Mama salah, tolong jangan bersikap seperti ini Pa. Masa karena masa lalu Mama, Papa jadi mengacukan Mama seperti ini?" tanya Ayana berlinang air mata menatap Taufik Raharja menatap garang sang istri.
"Apa katamu hanya karena masa lalu? Masa lalu buatmu tapi luka baru buatku Ma! Aku sebenarnya bertanya-tanya kenapa Anak-anakku sangat keji dan licik. Bagaimana mungkin seorang Kakak yang melihat bahkan ikut mengasuh bayi merah yang dijadikan Adik Angkatnya bisa merebut suami sang Adik dengan fitnah begiti kejam. Tapi setelah tahu rahasia yang selama ini kamu sembunyikan dariku aku merasa semuanya tidak salah, darah itu kental dan kedua Putriku juga mengalir darahnya dari dirimu," kata Papa dengan raut wajah yang kacau.
"Tolong biarkan aku sendiri! Aku butuh waktu, nanti kita bicarakan lagi," kata Papa meninggalkan Mama sendiri dengan kondisi masih menangis.
"Ini semua gara-gara anak pembawa sial itu, harusnya aku tidak pernah membiarkan dia hidup jika hanya mengacaukan pernikahanku dan Suamiku," kata Mama kesal dan wajah syarat akan kemarahan.
"Ma, istigfar Ma! Semua ini bukan salah Anggrek! Jika dia bisa memilih dia juga tidak ingin lahir dari wanita tukang selingkuh dan pezina sepertimu Ma!" kata Papa sarkas lalu pergi ke kamarnya.
Mama yang mendengar sang Suami masih ingin becara dengannya membuat Ayana langsung lari mengajar sang suami kedalam kamar mereka.
__ADS_1
Mama tertegun saat melihat suaminya tengah menunaikan Ibadah sholat. Disaat itu juga dia tersadar seharusnya dia memperbaiki hubungannya baik dengan Anggrek maupun sang suami. Bukan malah memperbesar koyakan diantara dia dan sang Putri. Tapi dia sungguh takut, jika Sang Suami mentalak dia yang sudah setua ini tanpa tabungan dan persiapan apapun bagaimana dia bisa hidup?
Sempit pikiran ya memang begitulah Ayana Raharja, berpikir sempit dan tidak sabaran.