
"Sayang bagaimana prasaanmu sekarang? Apa kau baik-baik saja?" tanya Arjuna mengusap pipi sang istri yang malah menatap jauh laut lepas yang dihadapannya.
"Tidak Abang, aku baik-baik saja. Abang jangan khawatir," kata Anggrek mengusap tangan kekar suaminya yang mengusap pipinya.
Anggrek mengecup tangan suaminya yang dipipinya.
"Makasih Abang, aku bahagia banget punya Suami seperti Abang. Anggrek ngak bisa bayangkan bagaimana jika aku tanpa Abang, Aku...."
"Ssssst! Jangan kamu bilang begitu sayang, apapun itu Abang akan selalu mengusahakan untuk kebahagiaanmu," kata Arjuna mengusap pipi Anggrek saat pria tampan itu mendekatkan wajahnya ke arah Anggrek. Saat wajah keduanya hampir tiada jarak Arjuna mengurungkan niat untuk melakukan hal teramat mesra dengan istrinya karena mengingat ada banyak mata yang mengawasi keduanya.
"Kenapa tidak jadi Abang?" tanya Anggrek yang sadar sang suami tidak jadi melakukan tindakannya.
"Tidak, sayang..." perkataan Anggrek terpotong saat Arjuna mendengar teriakan dibalik alat pendegar yang dipasang ditelinganya. Salah seorang pengawalnya berteriak dan memanggil namanya.
"Menghindar Tuan Arjuna! Senjata api dari arah Utara!" teriak Kevin yang menyadari senjata api tengah ditodongkan kearah sang Bos.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Suara senjata api bersautan hanya berjarak 1 senti peluru yang hampir mengenai jantung Anggrek, beruntung Arjuna dapat melihat pergerakan pistol dan memperkirakan dengan tepat sehingga menarik sang istri ke arah Selatan.
"Abang...." lirih Anggrek dengan suara sesak dan air mata langsug berjatuhan karena takut.
"Ssst, kamu istri dan calon Ibu yang kuat jangan takut. Kita dalam bahaya, kita harus pergi dari sini!" kata Arjuna pada Anggrek dan menuntun istrinya berjalan cepat, hingga dia melihat pri aberpakaian hitam yang tidak sempat ditangkis oleh team Kevin menyerangnya dengan pistol.
__ADS_1
Dengan cepat Arjuna mengalihkan posisi berdiri Anggrek dan menembakkan peluru kearah pria yang mengejar mereka. Peluru itu tepat megenai tangan pria yang mengejarnya hingga pistol pria itu jatuh, tapi pria itu malah berlari mengejar Arjuna dengan melompat, Arjuna dengan posisi siap hingga bangku hantam terjadi.
Dor!
Terdengar suara memekakan telinga membuat tubuh pria didepan Arjuna membeku, ya Arjuna melepaskan pistol yang ditangannya kearah pria yang seperti tidak ada lelahnya.
"Darah...." lirih Anggrek saat melihat sang suami yang tangannya berlumuran darah.
"Abang! Awassss!" teriak Anggrek saat melihat seorang pria akan menikam sang suami dari belakang. Dengan langkah cepat Arjuna melumpuhkan pria itu. Setelah itu dia melihat ada dua pria berbaju hitam menggunakan pisau menghampiri sang istri. Hingga Kevin berteriak melempar pistol dari kejauhan.
Dengan langkah cepat Arjuna mengambilnya dan pertarungan sengitpun terjadi. Rupanya musuh datang silih berganti hingga Anggrek pucat dan berkeringat dingin. Arjuna dan anak buahnya merasa kalah jumlah karena yang menyerangnya sangat banyak, Perkiraan Arjuna yang menyerangnya lebih dari seratus orang.
"Bos, cepat bawa Nyonya dari sini! Kami akan memperlambat pergerakan mereka menggunakan bius dan senjata yang ada. Nyonya telah memucat dan sepertinya akan segera pingsan Tuan," kata Kevin mewakili teman-temannya.
Dengan langkah cepat Arjuna menarik tangan Anggrek dengan cepat, dia ttidak ingin istrinya drop apalagi sang istri tengah hamil tua. Beruntung Kevin dan teman-temannya bisa mengambil alih, namun rupanya iblis berbaju hitam itu masih mengejar dan mereka memesuki mobil utuk mengejar Arjuna yang membawa lari Anggrek.
"Sayang, Abang mohon bertahan jangan pingsan. Abang ngak ingin kehilangan kamu," kata Arjuna mengemudi dengan panik saat menyadari Anggrek sesak nafas dan seketika Arjuna hampir menangis saat menyadari sang istri mengeluarkan darah.
Sedangkan mobil setan itu masih mengejarnya dibelakang, hingga Arjuna teringat Kevin.
"Kevin bagaimana situasi disana? Apa bisa terkendali?" tanya Arjuna dengan nafas pas-passan karena dia ragu jika pengawalnya yang hanya 15 orang mampu menghalau lebih dari seratus orang bahkan sebelum dia pergi dia melihat beberapa pengawalnya telah bergelimang darah.
"Aman Tuan hanya saja 3 dari sahabat kita tewas dan 8 orang terluka parah hanya 4 orang yang masih dalam kondisi baik-baik saja," kata Kevin yang tengah membawa para sahabatnya yang terluka e mobil agar segera dilarikan ke rumah sakit.
"Tolong hubungi polisi ke jalan XX aku butuh bantuanmu! Ternyata masih ada dua mobil yang mengejarku. Istriku pendarahan aku harus segera membawa Anggrek ke rumah sakit," kata Arjuna dengan kecepatn tinggi saat mengemudi,
"Tidak peduli apapun kau harus segara mendapat penanganan Sayang," kata Arjuna memtuar mobilnya cepat hingga supah serapah pengguna jalan melihat kencangnya lari mobil calon Ayah dari Anak kembar itu.
"Dokter!" teriak Arjuna seraya menggendong san istri tanpa memarkirkan mobilnya yang berhenti didepan ruang UGD. Tapi salah seorang yang ternyata berhasil mengejarnya hingga
__ADS_1
Dor!
Suara tembakan menggema dan Arjuna sekali lagi menghalanginya karena sempat melihat dari ujung matanya.
"Tolong!" teriak para suster dan Dokter karena pasien yang pendarahan hebat dan sang suami yang terkena luka tembak.
Beruntung pelaku berhasil diringkus oleh Kevin dan team kepolisian saat akan melarikan diri. Sedangkan Arjuna menolak ditangani luka tembah dibahunya karena melihat darah yang megalir dikaki sang istri.
"Abang.... Jangan keras kepala, Aku tidak ingin anak-anak kita kehilangan sosok Ayah karena dirimu dalam keadaan berdarah begitu tidak mau diobati," kata Angrek dengan suara berat dan putus-putus.
"Sayang Abang tidak apa-apa, yang penting kamu dan anak-anak kita baik-baik saja," kata Arjuna namun Arjuna tidak bisa menemani Anggrek masuk keruangan operasi. Ya melihat pendarahan yang dialami Anggrek dan juga ketubannya yang pecah mau tidak mau Anggrek harus segara di operasi.
"Mohon maaf Tuan, Nyonya harus segara dioperasi. Kondisi Nyonya sangat parah dan kita harus segera mengeluarkan bayinya agar keduanya bisa selamat tepat waktu. Mohon Anda mengurus administrasinya agar Nyonya bisa segera ditangani," kata perawat yang menghampiri Arjuna tadi.
Arjuna menangis karena tidak menyangka niat ingin menghibur istrinya malah berujung petaka.
" Ya Allah, tolong Istri hamba agar bisa selamat dalam melahir kedua anak-anak kami," tangis Arjuna berjalan gontai kerah administrasi, beruntung sebelum Arjuna sampai ke Administrasi seorang suster memberikan lembaran yang harus disetujui oleh Arjuna hingga Arjuna tidak harus menjauh dari ruang operasi sang istri.
"Semuanya sudah selesai, sekarang kita hanya bisa mendo'akan agar Nyonya bisa melahirkan dengan selamat dan Anaknya sehat. Tapi Tuan juga harus mengobati luka Tuan, agar darahnya tidak hilang lebih banyak lagi,bagaimanapun nanti setelah Nyonya melahirkan orang yang pertama kali dia butuhkan adalah Suaminya," kata Suster itu menguatkan Arjuna namun tidak digupris oleh pria tampan itu hingga Kevin menghampiri sang Bos.
"Suster tolong panggilkan Dokter agar mengibati luka Bosku disini saja. Tuan tidak akan ingin beranjak karena begitu mengkhawatirkan Nyonya dan kondisinya akan semakin memburuk jika Suster terus menunda mengobati karena Pasien tidak ingin dirawat layaknya pasien yang lainnya!" tekan Kevin agar sang suster mengerti.
"Bagaimana keadaan Anggrek didalam sana Kevin, aku sangat takut. Semua ini gara-gara aku, aku yang menghantarkan nyawa anak dan is...."
"Jangan berbicara begitu Tuan, Nyonya dan anak-anak Tuan pasti akan selamat. Jangan berpikir negatif tentang keadaan Nyonya," kata Kevin.
Menyadari jika Arjuna mulai terlihat lemas karena kehilangan darah, Kevin menghubungi kedua orang tua Arjuna agar bisa memberikan tindakan yang tepat.
Disisi lain Mamah membeku mendapat pesan dana alamat rumah sakit yang dikirimkan oleh ketua team pengawal yang mengawali anak dan menantunya.
__ADS_1
"Ada apa Mah?" tanya Papah mengusap bahu sang istri.
"Anggrek dan Arjuna diserang," lirih Mamah.