Luka Di Pelaminan

Luka Di Pelaminan
Kumpulkan Bukti


__ADS_3

Anggrek menyiapkan makanan untuk semua anggota keluarganya pagi itu. Arjuna telah meninggalkan rumah pagi-pagi sekali entah ada urusan apa Anggrek sama sekali tidak tahu karena sang suami pergi bersama Kai dalam keadaan terburu-buru. Apapun itu Anggrek hanya mengharapka semuanya berjalan dengan baik.


Waktu sarapan telah berlalu cukup lama, namun kegelisahan Anggrek enggan pergi dari dirinya. Bagaimanapun sang Suami masih diluar dan tidak tahu apa yang sebenarnya mereka alami karena Arjuna juga enggan membagi masalahnya dengan Anggrek.


Hingga tangisan Faris memecahkan keheningan. Sang Putra menangis begitu keras seolah berkata agar sang Ibunda memperhatikan dirinya yang sedari tadi menatap sang Ibunda namun Anggrek enggan menatap karena memang tidak sadar jika salah satu Putranya telah terbangun.


Menangisnya Faris membuat kedua kembarannya sontak melakukan hal yang sama yang membuat Anggrek panik. Wanita muda itu mengambil stok asinya uuntuk dipanaskan, karena tidak mungkin ketiganya bisa disusui secara bersamaan.


"Sayang sabar ya, jangan menangis. Bunda khawatir melihat Mas dan Kakak menangis begitu keras. Apalagi Adek yang baru saja terlelap karena baru selesai mandi langsung menangis lagi," kata Anggrek mengusap-usap ketiga tubuh anaknya.


"Fateen anak Bunda yang pintar dan cantik. Jangan nangis lagi ya," kqta Anggrek yang langsung memasukkan kepala dot bayi yang kenyal dan lembut untuk dikenyot Fateen agar asi yang didalam botol keluar dan memenuhi nutrisi sang baby.


Fateen dan Faqih perlahan diam sedangkan Faris yang belum mendapat apa yang dia minta masih meraung keras meminta sumber kehidupannya pada sang Mommy. Jangan tanyakan Bi Carol? Bi Carol bersama Zizi tengah keluar membelikan beberapa kebutuhan rumah dan juga kebutuhan triplet.


Meski merasa repot dan juga kesusahan tidak ayal senyum terbit di wajah Ibu muda itu. Anggrek langsung meyandarkan tubuhnya dikepala ranjang agar bisa memangku faris dan Fateen bersamaan. Faris langsung menyesap kuat sumber kehidupannya langsung dari tubuh sang Ibu sedangkan Fateen tetap menggunakan botol asi dan Faqih disamping Anggrek dengan keadaan telentang dan matanya yang biru muda menatap lama sang Bunda.


"Kenapa Mas Faqih natap Bunda begitu? Mas Faqih mau di pangku juga? Mau gimana, Bunda ngak bisa mangku Mas Faqih juga karena sekarang kita hanya berempat sedangkan Ayah tidak di rumah. Mas Faqih yang sabar ya. Insyaallah nanti Mas Faqih akan menjadi anak kebanggaan Bunda yang suaranya selalu menggema paling keras diantara orang yang sholat dan memimpin orang-orang yang sholat. Ya Mas Faqih ya," kata Anggrek mengusap pipi bulat sang Putra yang menatapnya lekat sesekali mengerjapkan matanya imut.


Kesyahduan Anggrek tengah menyusui ketiga sang Anak buyar saat mendengar suara pintu terbuka. Ternyata itu adalah Arjuna.


Pria tampan itu langsung ke kamar mandi tanpa menyapa ataupun tersenyum pada Anggrek. Awalnya Anggrek ingin menyapa namun urung karena sang suami sudah terlanjur tenggelam dibalik pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang...." teriak Arjuna bergitu keluar dari kamar mandindan wajahnya terlihat segar meskipun raut lelahnya sama sekali tidak hilang.


Arjuna memeluk Anggrek erat dan menangis dibahu sang istri. Bahkan pria dewasa itu lupa jika sanh Putra tengah menyesap asi dari sang istri. Meski begitu pelukan Arjuna sama sekali tidak mengganggu ketiga anak-anaknya.


"Abang, ada apa?" tanya Anggrek yang heran mengapa sang Suami menangis dibahunya.


"Terima kasih, Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Abang sangat bahagia Sayang, pqdahal tadi malam Abang telah menemukan ruang buntu semuanya terasa tidak mungkin. Tapi alhamdulillah semuanya berjalan sesuai rencana," kata Arjuna dan kembali memeluk sang Istri.


"Sayang, Abang mau sholat dulu setelahnya Abang mau tidur sebentar. Kepala Abang rasanya sangat pusing," kata Arjuna yang hanya diiyakan saja oleh Anggrek.


Sedangkan Kai di ruang keluarga sudah terlelap lengkap dengan setelan jaz dan juga sepatu kerjanya. Ya keduanya pulang bersamaan, setelah semua urusan selesai dan misi tertuntaskan.


Bukan, bukan kerja sama yang disini yang bermasalah. Tapi perusahaan yang mereka tinggalkan di Indonesia mendapat masalah yang serius. Beruntung, Arjuna bisa mengatasinya dari jauh, jika tidak Arjuna bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan jutaan karyawan yang bekerja untuknya.


"Abang jika ingin makan, makanlah dulu. Maaf Anggrek tidak bisa mengambilkan kerena anak-anak kita sedang tidak bisa dipindahkan," cicit Anggrek lirih karena merasa tidak enak karena tidak menyajikan makanan untuk sang suami.


"Sayangku, Abang makannya nanti saja. Kepala Abang sangat pusing, setidaknya Abang ingin tidur dulu sejenak," kata Arjuna dan tertidur disamping Faqih yang mengggenggam tanganbsang Ayah.


"Faqih kangen ya sama Ayah. Ayahnya bobo, nanti kalau sudah bangun Faqih boleh main sama Ayah. Ayahnya capek karena baru pulang kerja," kata Anggrek mengusap kepala sang Putra yang menggeliat dan tersenyum yang membuat hati Anggrek membuncah bahagia.


Setelah ketiga bayinya terlelap, perlahan Anggrek meletakkan Faqih, Faris dan Fateen pelan-pelan ke Box bayi yang ada disamping ranjang.

__ADS_1


"Sssssss ssssss Sayangnya Bunda, tidur yang lelap biar nanti jadi anak yang sholeh dan sholehah," kata Anggrek yang meletakkan putra dan Putrinya perlahan.


Setelah selesai Anggrek membunyikan murattal al-qur'an surat al-baqarah dan setelahnya Anggrek membuka tablet, laptop dan beberapa rancangannya yang belum selesai.


Saat tengah sibuk dengan rancanganya terdengar suara Zizi yang berlari ke arah kamarnya.


"Tante, Om dan Dedek bobo ya?" tanya Zizi begitu ingin berteriak tapi Anggrek meletakan jari di bibirnya pertanda jangan berisik.


"Iya Om dan Dedek bobo, Zizi baru pulang?" tanya Anggrek mengusap rambut sebahu Zizi.


"Iya, Tante. Nenek tadi membelikan banyak sekali di Pusat pembelajaan katanya karena kebutuhan untuk Dedek dan kebutuhan dapur juga banyak Tante," kata Zizi yang membuat Anggrek menyendu.


Sekilas melihat Zizi dia teringat masa kecilnya, ketika dia ingin bercerita banyak hal Mamanya tidak pernah ada waktu untuknya dan memilih pergi bersama Kak Mawar dan Kak Melati.


Sementara di belahan bumi yang lain, seorang pria paruh baya tapi masih tampak bugar dan segar tengah melakukan olah tubuh dengan menggunakan alat-alat berat ditempay Gym pribadinya.


"Hari ini Tuan akan ada janji temu dengan Nona Kim dari Korea Selatan, setelahnya rapat direksi dan sekitar jam 3 sore Anda harus terbang ke US untuk mengunjungi Mr Xavier," kata sang sekretaris yang tengah membaca jadwal Tuannya.


"Bagaimana perkembangannya apa kau telah menemukan wanita itu? Aku rasa bukan hal yang sulit hanya untuk menemukan tikus got itu," katanya santai.


"Hingga saat jni kami belum menrmukannya Tuan, terkahir dia kami temukan di Indonesia tapi itu beberapa bulan bulan lalu." katanya lagi.

__ADS_1


"Teruskan pencarian lalian kumpulkan bukti yang cukup," katanya seyelahnya pria itu berlalu.


__ADS_2