Luka Di Pelaminan

Luka Di Pelaminan
Bertengkar


__ADS_3

Pagi yang indah menyambut keduanya di negara asing itu. Karena hari ini hari libur Anggrek dan Arjuna memutuskan hanya berada di rumah tanpa pergi ke kantor.


Saat ini Anggrek tengah berada di ruang keluarga yang ada di apartment mereka. Apartment yang di rancang khusus oleh Anggrek sejak mereka tinggal berdua di sana.


Anggrek tengah menata tumbuhan-tumbuhan hidup yang memang sengaja di letakkannya di ruang keluarga.


"Rajin amat Yang, itu kan sudah di rawat sama Bibi Juliana," kata Arjuna yang datang dengan semangkuk buah-buahan yang tadi di potong-potong oleh Anggrek.


"Lagi pengen aja Abang. Seneng gitu lihat yang hijau-hijau, makanya ini tadi aku abis pesen beberapa taneman lagi biar makin adem gitu di pandang mata," kata Anggrek yang masih sibuk menata tanaman-tanaman yang sengaja dia letakkan di ruang keluarga.


"Kalau kebanyakan nanti malah kayak hutan Sayang," kata Arjuna yang hanya duduk memperhatikan sambil memakan buah-buahan di mangkuknya.


"Ngaklah Bang, justru malah kayak suasana Outdoor gitu. Aku suka soalnya," kata Anggrek.


"Kenapa ngak balkon aja yang kamu rancang begitu yang. Kayaknya lebih mendukung gitu, suasana hijau dan juga di luar ruangan pasti sangat indah," kata Arjuna memberikan usulnya.


"Bagus juga itu Bang, jadi ketika pulang bekerja ataupun butuh suasana baru untuk bekerja bisa memanfaatkan balkon. Tapi balkon kita adanya di kamar, emangnya Abang ngak masalah kalau bikin suasana outdoor di sana?" tanya Anggrek pada sang suami.


"Ya ngak papa kali Sayang. Bagus malah, biar kamu juga ngak terlalu memaksakan diri di kantor. Bagaimanapun aku ngak mau kamu kelelahan apalagi kemaren sampai sakit begitu," kata Arjuna yang sekarang sudah membantu Anggrek mengangkat tumbuhan ke ruang balkon mereka.


Setelah di tata ternyata tumbuhan yang di beli oleh Anggrek tidak sebanyak yang di harapkan.


"Abang, kayaknya ngak cukup deh tanamannya. Lalu kita harus bagaimana Abang? Beli lagi boleh?" tanya Anggrek dengan wajah menggemaskan pada Arjuna.


"Baiklah, Abang akan pesan pada toko langganan Abang. Kamu maunya tumbuhan apa? Atau ingin jenis bunga? Seperti bunga mawar merah mungkin?" tanya Arjuna yang lupa jika nama kakak angkat Anggrek adalah Mawar.

__ADS_1


"Aku ngak mau jenis bunga apapun Abang. Aku hanya ingin tumbuhan hijau dan bisa membuat lokasi ini hidup layaknya taman. Jangan pernah ada Mawar di antara kita," kata Anggrek dengan raut wajah yang sudah berbeda.


"Baiklah, lalu kamu mau pesan apa? Atau mau langsung ke sana saja? Biar sesuai dengan semua selera kamu," kata Arjuna yang di angguki oleh Anggrek.


Saat ini keduanya tengah berada di toko bunga. Anggrek membeli banyak jenis tumbuhan hijau yang berukuran kecil dan sedang.


"Kamu ngak beli bunga Sayang?" tanya Arjuna pada Anggrek.


"Iya tapi ngak mau yang jenis ini," kata Anggrek menunjuk pada bunga melati dan bunga mawar yang mekar indah di hadapannya.


"Jangan benci pada tanaman yang mekar begitu indah. Kita juga tidak tahu kehidupan mereka sekarang seperti apa, yang sudah berlalu meski dia tidak meminta maaf padamu tapi berusahalah untuk memaafkannya Sayang," kata Arjuna mengusap lembut kepala sang istri yang di tutupi kerudung.


"Tapi rasa sakit itu masih terasa nyata Abang! Bagaimana mereka memfitnahku dan membuat aku terjerembab ke arah yang benar-benar tidak aku inginkan," kata Anggrek dengan mata yang suadah berair dan suara yang lirih.


"Sayang dengarkan perkataanku! Apa kamu bahagia menjadi istriku?" tanya Arjuna pada Anggrek.


"Aku tidak bahagia menikah denganmu Abang," kata Anggrek.


Duar


Dunia Arjuna serasa runtuh saat mendengar perkataan sang istri. Apakah benar jika tidak ada rasa bahagia dalam hati istrinya saat bersamanya.


Anggrek yang merasa moodnya sudah tidak lagi baik memilih pergi dari toko bunga itu. Arjuna yang juga merasa hatinya kacau dan dadanya sesak karena mendengar perkataan sang istri lebih memilih ikut memasuki mobil bersama dengan Anggrek.


Keduanya diam tidak ada yang bicara. Arjuna menengadahkan kepalanya sesekali menahan air mata, sedangkan Anggrek menatap keluar dengan mata yang berlinang deras air matanya.

__ADS_1


"Apa kamu juga menyesal menikah denganku?" tanya Arjuna kembali.


"Iya aku sangat menyesal menikah denganmu Abang! Sangat-sangat menyesal telah menjadi bagian dari hidupmu. Jika aku bisa memutar ulang waktu Abang, aku tidak pernah ingin kenal denganmu tidak akan pernah," kata Anggrek penuh penekanan.


Pada saat ini mereka tiba di suasana yang ada di dekat hutan. Suasana sejuk dan rindang serta sunyi menambah syahdu pertengkaran hebat kedua suami istri itu. Meski pertengkaran kali ini hanya ada air mata tanpa ada barang yang di hancurkan.


"Apa kanu begitu menyesal telah mengenal pria yang jauh dari kata baik-baik saja ini? Aku akui jika aku salah dalam cara memulai hubungan kita tapi sekalipun aku tidak pernah menyesal. Jikapun kamu menyesal apa kita tetap bisa layaknya sebagai suami-istri? Aku tetap ingin belajar mencintai dirimu Anggrek," kata Arjuna yang sudah menepikan mobilnya dan menatap lirih sang istri yang enggan menatap balik dirinya.


"Aku tidak ingin lagi belajar menerima kamu! Aku tidak ingin lagi belajar menyayangi kamu dan aku tidak ingin lagi belajar mencintai kamu!" teriak Anggrek yang sudah di ujung emosinya pada sang suami.


"Di sini teramat sakit! Sakit sekali saat aku berusaha menahan dan berpura-pura jika aku baik-baik saja. Aku ingin lepas Abang, aku sudah ngak sanggup lagi," kata Anggrek yang membuat Arjuna semakin tidak berdaya. Apa dia harus kehilangan lagi? Setelah berkali-kali kehilangan pasangan dan sekarang harus mengalaminya lagi?


Hati Arjuna hancur mendengar perkataan sang istri tapi dia masih menggenggam tangan istrinya erat.


"Sayang aku mohon, kita pasti masih bisa mencoba. Bukankah selama ini kita baik-baik saja? Bahkan kita berhubungan layaknya suami istri pada umumnya yang saling sayang, saling cinta," kata Arjuna tapi sebelum Arjuna melanjutkan perkataannya Anggrek menutup milut suaminya dengan tangannya.


"Itu semu Abang, semuanya tidaklah benar! Kita hanya bermain rumah-rumahan dan setiap hari aku menderita bersama dengan dirimu," kata Anggrek.


Arjuna yang tidak lagi kuasa menahan sesak di dadanya mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan.


"Lalu apa yang kamu inginkan untuk hubungan kita kedepannya. Aku akan ikut apapun yang kamu katakan bahkan yang terburuk sekalipun asal kamu bahagia," kata Arjuna dengan wajah sendu.


Anggrek mendekat dan menyatukan bibir mereka hanya kecupan tidak lebih dari itu.


"Berhenti belajar mencintai aku! Aku ingin kau benar-benar mencintaiku Abang! Apa kamu tahu Abang, setiap hari aku selalu bertanya apakah kamu akan selalu ada untukku? Apa aku bukan hanya pelarianmu? Aku tidak bahagia bersamamu karena merasa teramat takut kehilangan dirimu dan aku tidak lagi ingin belajar menerima, menyayangi dan mencintai dirimu karena aku telah jatuh cinta padamu Abang. Rasa ini bagai sakit tanpa penawar..." perkataan Anggrek di potong oleh Arjuna dengan kecupan singkat di bibir sang istri.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu Sayang, maaf karena keraguan-demi keraguan yang aku miliki membuatmu tersiksa," kedua pasangan halal itu saling berpelukan dan saling berbagi rasa gundah di hati mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2