Luka Di Pelaminan

Luka Di Pelaminan
Stevan, Barack, Justin dan Marvell


__ADS_3

"Sayang, kamu maukan ketemu dengan dia?" tanya Arjuna pada sang istri.


"Tapi Abang aku ngak gimana gitu. Lagi pula aku belum pernah ketemu sama Daddy, bagaimana kalau Daddy itu pemarah kayak Laverna kan ngeri Abang," kata Anggrek yang berhasil mendapat jentikan jari dari sang suami di keningnya.


"Kamu kebiasaan deh Yang. Jangan kayak gitu, kamu bahkan belum ketemu sama Mr Mikhail Radislav Ayah kamu. Jadi lebih baik kita datang bertemu, ngomong-ngomong baik-baik," kata Arjuna yang berusaha membujuk sangg istri yang masih eggan bertemu dengan sang Ayah.


"Sayang, baiklah jika kamu memang ngak mau ketemu ya Abang juga ngak bisa memaksakan. Tapi kamu tahu bukan kita hanya manusia. Terlalu banyak hal-hal diluar kuasa kita dan kita tidk tahu masa depan. Aku harap kamu tidak menyesal jika memang tidak akan pernah lagi ada kesempatan untuk bertemu Ayah kandung kamu. Mengenai tes DNA kalau kamu ragu, kamu lihat sendiri kalian memang memiliki hubungan darah. Tapi ya semuanya tergantung kamu," kata Arjuna dengan nada dingin dan berlalu dari sana.


Setibanya diluar kamar Arjuna merasa matanya basah, ya dia sedikit emosional tapi juga tidak ingin memarahi pujaan hatinya. Bagaimanapun dia sangat mencintai istrinya, namun sebagai seorah Ayah, Arjuna bahkan tidak sanggup membayangkan jika Fateen tidak menginginkan dirinya. Bagaimana dia sangat mencintai putrinya Fateen dan juga kedua Putranya.


Arjuna tidak ingin menunda waktu dengan memikirkan yang tidak-tidak, pria tampan itu segera memasuki mobilnya karena dia harusĀ  pergi ke kantor pagi ini untuk rapat dan juga perjanjian kerja sama.


"Maafkan Saya Mr Radislav, Saya belum bisa membujuk Anggrek untuk bertemu Anda. Mungkin saya akan mengulanginya lain waktu. bagaimanapun Anggrek memiliki gangguan panik. Saya takut jika nanti Anda langsung datang untuk bertemu dengannya dia malah mengalami shock," kata Arjuna pada Mr Radislav melalui sambungan telepon.


"Semuanya tidak mudah Tuan, tidak akan sekejab semuanya butuh waktu. Saya yakin Nyonya Anggrek adalah orang yang bijaksana , meski begitu tidak mudah berdamai dengan diri sendiri mengenai apa yang menimpanya dalam waktu yang lama. Tidak pernah mengetahui siapa Ayah kandungnya dan selalu dikecewakan oleh orang dari masa lalunya pasti ini tidak mudah Tuan," kata Gio yang tengah menyetir dan Arjuna hanya mneganggukkan kepala saja.


Sementara Anggrek hanya memandangi taman bunga tempat dia duduk. Arjuna yang tahu jika dia sangat menyukai tanaman meminta orang-orang untuk membuat taman bunga agar Anggrek selalu merasa Nyaman di rumah.

__ADS_1


"Nak, minum dulu susunya selagi hangat," kata Bibi Carol membawa susu vanila hangat.


"Mengapa kamu terlihat begitu gelisah Nak? Ada masalah apa?" tanya Bibi Carol.


"Abang, tahu mengenai orang tua kandungku Bi. Lebih tepatnya Ayah kandungku, aku hanya merasa takut akan kedepannya Bi. Aku tidak pernah mengenalnya dengan baik bagaimana mungkin aku bisa langsung bertemu dengannya? Terlalu banyak yang aku khawatirkan Bi," kata Anggrek menatap gelisah pada sang Bibi.


"Nak, Bibi tahu ini bukan perkara mudah tapi Nak ini adalah kesempatanmu untuk bertemu dengan Ayah kandung mu. Setiap orang bisa melakukan kesalahan di masa mudanya Nak, tapi setidaknya dengan kamu memberikan kesempatan kedua pada Ayahmu itu adalah yang terbaik Sayang. Karena tidak ada yang namanya mantan orang tua. Mau seburuk apapun seorang Ayah ataupun Ibu tidak akan ada yang namanya mantan Ayah ataupun Mantan Ibu, keduanya tetaplah Ayah dan Ibu. Semuanya tergantung padamu Nak, tapi jangan sampai kamu menyesal karena menolak bertemu dengan Ayahmu, karena kita manusia ini terbatas Nak. Serindu apapun jika Tuhan tidak lagi mengizinkan kita berjumpa dengan orang yang kita sayang maka akan hanya alam mimpi dan cerita saja Nak," kata Bibi Carol yang membuat Anggrek merenung lama.


Mansion Radislav


"Stefand akan memimpin transaksi malam nanti, pastikan tidak ada musuh dalam selimut! Jika ada yang urgent hubungi aku segera!" kata Radislav menyuruh orangnya pergi. Radislav tengah duduk di lantai 4 rumahnya lebih tepatnya atap. Radislav berdiri dan melihat kebawah lebih tepatnya taman bunga milik mendiang istrinya.


"Sayang, aku harus bagaimana? Aku masih harus bertanggung jawab sebelum menentukan penggantiku, meski aku memiliki banyak anak angkat aku harus mendengarkan suara terbanyak. Kau tahu Sayang, meski hidupku diujung peluru dan bom aku masih hidup hingga sekarang, apa karena Tuhan sangat membenciku hingga malaikat maut enggan membawaku karena terlalu banyak dosa yang aku lakukan?" monolog Radislav seorang diri.


"Aku sangat merindukanmu Sayang, tidak pernah terbesit untuk mencari penggantimu. Aku beuntung memilikimu, meski perilaku bejatku menghasilkan Anggrek, anak yang selama ini kau minta aku mencarinya tapi aku tidak ingin karena melihatnya seperti meliha dosaku padamu Sayang. Tapi sekarang aku tahu bagaimana rasa sakitnya tidak ingin ditemui bahkan tidak diiginkan. Kau tahu Sayang, menantu kita yang manis berusaha menyampaikan dengan kalimat yang manis perkara penolakan Putriku untuk berjumpa denganku... Tapi aku tahu jauh dari dalam lubuk hatinya tidak ingin aku bersama dengannya," kata Radislav lagi yang entah bicara pada siapa.


"Jangankan tinggal bersama Ayahnya ini, aku yakin untuk bertemu denganku saja Putriku enggan Sayang. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menjebaknya dan mengurungnya seperti tawanan? Ayolah aku masih punya tiga cucu yang manis yang masih sangat membutuhkan Putriku dan aku tidak boleh egois bukan? Aku yakin kalau kau melihatnya kau pasti akan sangat bangga padaku," kata Radislav.

__ADS_1


"Kakak Ipar akan sangat bangga bila kau berhenti melakukan bisnismu yang ini Kak, lagi pula kau memulai bisnis ini dulunya hanya agar bisa membangun kerajaan bisnismu dan sekarang sudah ada lalu apa yang kau khawatirkan. Aku yakin Black Pearl bisa diatasi oleh Stevan, Barack, Justin dan Marvell. Mereka memang hanya anak angkatmu Kak, tapi kebaikanmu pasti tidak akan mengkhianatimu," kata Lev yang tiba-tiba bicara dibelakang sang Kakak.


"Maksudmu apa?" tanya Radislav pada Lev.


"Kenalkan mereka pada Anggrek, bagaimanapun Anggrek adalah putri kandungmu, dia berhak atas kerajaan bisnismu dan kerajaan bisnismu tidak bisa terlepas dari dunia gelap karena memang mereka kau buat secara saling bergantungan," kata Lev pada Radislav.


"Aku tidak bisa meletakkan putriku pada bahaya Lev. Meski mereka aku buat secara berdampingan, tapi untuk urusan Bisnis aku tidak pernah menggunakan identitas asliku. Aku tidak ingin melakukan tindakan bodoh dengan membahayakan orang-orang yang aku cinta," kata Radislav menolak keras ide Lev.


"Lagi pula, biarlah Stevan, Barack, Justin dan Marvell tidak pernah tahu mengenai Anggrek. Aku tidak ingin nantinya malah mereka..." perkataan Radislav terpotong oleh Lev.


"Kak, kau yakin Stevan, Barack, Justin dan Marvell tidak tahu mengenai Anggrek? Mereka orang yang cerdas, bahkan memiliki kecerdasan diatas rata-rata dan sedikit gila. Bagaimanapun kau menyembunyikan Anggrek pasti akan ketahuan juga, jadi elbih baik kau beritahu mereka. Seperti mereka yang mendapat kasih sayangmu dan Kakak Ipar aku yakin mereka juga akan menyayangi Adik mereka. Ingat kartel Mavia menjunjung tinggi kesetiaan," kata Lev pada Radislav.


Hingga pembicaraan mereka buyar karena Marvell menghadap menumui sang Ayah.


"Ada apa Nak?" tanya Radislav.


"Daddy, nanti malam semuanya ingin berkumpul setelah transaksi dilakukan. Kami ingin Daddy menceritakan tentang Adik kami yang memang disembunyikan Anggrek putri angkat Tuan Taufik Raharja," kata Marvell yang membuat Radislav menegang. Inilah yang dia takutkan, sehati-hati apapun dia akan tetap membuat nama sang Putri melalang buana di dunia bawah tanah.

__ADS_1


__ADS_2