
"Dek, Kakak mohon bantu kakak menyampaikan permintaan maaf kakak pada Anggrek. Kita terlalu sering menyakitinya, jangan sampai kamu mengalami penyesalan yang sama seperti Kakak. Ungkapkan lah kebenaran itu pada Mama dan Papa," kata Melati.
"Kak, kenapa Kakak harus membahas wanita pembawa sial itu lagi..."
"Dek, bertaubatlah! Hentikan semua perbuatan yang merugikan dirimu sendiri. Ingatlah, mati tidak menunggumu untuk berusia tua," kata Melati lalu menghilang dari sana.
"Kakak!" teriak Mawar dan wanita muda itu sontak terbangun.
Air matanya tanpa kuasa untuk di tahannya. Masih basah di ingatan bagaimana jasad sang Kakak di temikan sudah tidak lagi berbentuk dan menggembung di mana-mana. Mawar melihat ke samping, tidak ada satu orangpun di sisinya.
Mawar melihat ke sekeliling, baju-bajunya berserakan di dalam kamar dan juga terlihat sangat berantakan layaknya kamar seseorang yang telah memadu kasih. Mawar melihat pada tubuhnya yang tidak lagi di baluti busana.
"Apa yang aku lakukan ini salah? Apa aku yudak bahagia dengan ini? Bukankah yang aku inginkan adalah hidup mewah bergelimang harta?" tanya Mawar dalam hatinya tanpa terasa hatinya berteriak dan air mata mengalir tanpa di minta.
"Ini salah Mawar, ini Zina! Kamu harus bertaubat, ingat kematian tidak datang untuk menunggumu tua. Bagaimana jika kau mati dalam keadaan maksiat?" tanya hati nuraninya sendiri dalam kesunyian malam yang mencekam.
"Apa aku bisa berubah? Jika aku berubah apakah ada orang yang mau menerimaku? Tidak berasal dari keluarga kaya raya dan minim pendidikan aku akan berakhir seperti apa?" tanya Mawar kembali tergugu dalam tangisannya.
__ADS_1
Mawar mengambil ponsel pintarnya dan mencari kontak sang adik angkat. Lalu menelponnya, panggilan itu terhubung tapi tidak diangkat pada panggilan pertamanya. Mawar mengulangi untuk kedua kalinya, lalu ponsel itu di angkat.
"Assalamu'alaikum," salam sesorang dan terdengar suara seorang laki-laki yang menjawab.
"Walaikumussalam, apakah ini bukan nomer ponsel Anggrek Putri Raharja?" tanya Mawar melalu sambungan teleponnya.
"Ya benar, ada keperluan apa Anda menelpon istri saya?" tanya Arjuna dengan nada yang tidak bersahabat dari seberang sana.
Hingga terdengar suara Anggrek yang menghampiri Arjuna.
"Abang! Katanya mau nemanin aku seharian dan ngak sibuk sama pekerjaan kok malah sibuk sama ponsel!" terdengar rengekan manja dari Anggrek yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mawar," kata Arjuna memberi tahu sang istri.
"Ngapain sih bahas-bahas Mawar, aku kan udah bilang kalau Abang mau beli bunga jangan bunga Mawar apalagi bunga Melati. Beli sjaa jenis yang lain apapun itu asal jangan itu," nada suara Anggrek berubah ada luka, marah dan kesedihan di dalam suaranya.
"Kakak kamu Mawar yang telepon," kata Arjuna menjelaskan dan menampilkan kontak nama 'Kak Mawar' di ponsel Anggrek.
__ADS_1
"Matikan saja! Aku tidak ingin bicara dengannya!" kata Anggrek ketus tapi saat mengambil ponsel dari pegangan sang suami malah ke pencet loud speakers hingga terdengar suara Mawar dari seberang sana.
"Anggrek! Tolong jangan di matikan dulu," suara itu bergetar dan terdengar berat.
"Aku..."
"Aku..."
"Aku..." Suara Mawar berkali-kali terputus-putus dari seberang sana.
"Kamu mau bicara apa? Jika tidak ada yang penting lebih baik kau tutup panggilannya. Bukankah di antara kita tidak ada yang perlu di bicarakan lagi?" tanya Anggrek sarkas melalui sambungan telepon
"Aku mau minta maaf sama kamu," kata Mawar yang di iringi dengan tangisan yang tersedu.
"Aku benar-benar ingin minta maaf untuk apa yang telah aku dan Kak Melati lakukan kepada kamu Anggrek," tangis Mawar kian menjadi saat teringat Mendiang Melati.
"Aku telah memaafkan semua kesalahan Kak Mawar dan Kak Melati, jauh sebelum kakak minta maaf," kata Anggrek lirih dengan mata yang berkaca-kaca di serang sana saat mendengar Mawar tersedu dalam tangisan saat meminta maaf padanya.
__ADS_1
"Kak Melati, sudah meninggal dunia," kata Mawar dengan suara bergetar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...