
"Sayang pokoknya kamu ngak boleh sampe kecapean lagi! Aku ngak mau tahu kamu harus kurangi aktivitas kamu di studio dan di butik," kata Arjuna dengan semangat yang menggebu-gebu dalam dirinya.
"Abang..." perkataan Anggrek langsung di potong oleh pria tampan itu dengan meletakkan jari tulunjuknya di bibir indah Anggrek.
"Sayang, Abang lagi ngak terima protes dalam bentuk apapun," kata Arjuna yang membuat Anggrek tersenyum hangat pada sang suami.
"Suamiku tercinta, ngak ada yang mau protes Abang Sayang! Kalau kita ngobrol terus, kapan kita sampai di rumah Sayang? Sedari tadi kita masih di parkiran Rumah sakit Abang sementara hari kian larut," kata Anggrek dengan senyumannya.
"Ya Allah, Abang sampe lupa. Ayo sekarang kita pulang. Kamu dan Dedek bayi harus segera istirahat," kata Arjuna dan segera menghidupkan mesin mobilnya.
Anggrek hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami.
"Abang, kalau aku cepat pulang dan tidak melakukan aktivitas apapun aku pasti kesepian," kata Anggrek memulai percakapan saat sang suami tengah tenang mengemudikan mobilnya.
"Sayang, jika kamu merasa kesepian kamu kan bisa ke kantor Abang," kata Arjuna pada sang istri.
"Iya tiba di sana aku di cuekin Abangkan sibuk sama kertas-kertas Abang yang lebih berharga itu," kata Anggrek.
"Ya ngak gitu juga sayang. Abangkan kerjanya juga buat kamu, buat masa depan kamu dan anak-anak kita nanti," kata Arjuna yang sanggup membuat hati Anggrek meleleh mendengar penuturan sang suami.
"Oh iya Abang, Mamah dan Papah jadi ke sini?" tanya Anggrek pada sang suami.
"Katanya sih jadi tapi ngak tahu kapan spesifik waktunya. Karena Palah juga lagi sibuk dengan proyek-proyek yang ada di kantor sana," kata Arjuna yang berhasil membuat Anggrek menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Kangen Mamah?" tanya Arjuna pada sang istri.
"Iya, kalau ada Mamah di sini pasti lebih seru. Bisa ngobrol, masak dan berkebun bareng," kata Anggrek dengan binar bahagia yang tampak jelas di matanya.
"Ya coba telpon aja Sayang. Sekalian kamu ajak Mamah ke sini! Siapa tahu kalau yang ngajak langsung menantu tercinta akan membuat Mamah langsung terbang ke sini," kata Arjuna dengan seraya membayangkan sang Mamah yang memang memperlakukan Anggrek layaknya anak kandung sendiri.
"Ngak ah, nanti kasian Mamah kalau harus jauh dari Papah. Aku aja ngak sanggup jauh dari kamu, pasti Mamah juga begitu," kata Anggrek dengan suara manjanya seraya merebahkan kepalanya di lengan kekar sang suami yang tengah mengemudi.
"Cie! Cie! Cie! Ada yang ngak sanggup jauh nih sekarang? Segitu cintanya ya Neng? Sama Abang?" tanya Arjuna dengan senyuman di wajahnya seraya menggoda sang suami.
"Kalau ngak cinta, ngak mungkin sekarang ada Dedek bayi di rahim aku Abang," kata Anggrek dengan senyum malu-malu seraya tangan sebelahnya mengelus perut ratanya.
"Baik-baik ya Nak di sana, Bunda dan Ayah menunggu kamu," kata Arjuna seraya menatap sekilas perut rata sang istri dengan binar kebahagiaan yang menguar di wajahnya.
"Yang ini aja Bang, udah yuk! Aku udah ngantuk banget pengen tidur. Pulang kita lagi," kata Anggrek yang memang matanya tampak sudah sangat menyipit karena mengantuk.
Berbeda dengan Arjuna dan Anggrek yang tengah di banjiri berita bahagia maka beda dengan Melati yang sekarang sedang di sekap di apartemant sang calon suami. Niat hati ingin memberikan pelajaran pada Jeff sang calon suami karena telah berani mempermainkan dirinya malah membuat Melati terjerat hal yang tidak mengenakkan seperti ini.
"Bagusnya kita apakan dia ya Sayang?" tanya Jeff pada sang kekasih gelap yang tidak lain adalah sahabat dekatnya.
"Aku sangat ingin menghajarnya dan membuat wajah sok cantik miliknya itu menjadi hancur dan penuh sayatan dengan pisau tajam ku ini," kata Wanita itu seraya memainkan pisaunya di hadapan Jeff.
"Tapi jika kita merusak wajahnya, bukankah itu membuat nilai jualnya menjadi hilang sayang? Aku tidak ingin dia hanya merasakan sakit dari pisau ini! Itu terlalu baik untuknya Sayang," kata Jeff seraya memeluk wanitanya dari belakang.
__ADS_1
"Lalu bagusnya apa yang harus kita lakukan padanya Sayang? Bagaimanapun caranya kita harus membalaskan dendam sakit hatiku," kata wanita licik itu tersenyum manja pada Jeff.
"Iya aku tahu, bagaimana kalau dia kita jadikan sebagai tambang emas untuk kita?" tanya Jeff pada sahabat dan juga kekasih gelapnya itu.
"Tambang emas bagaimana? Sampah seperti dia apa yang bisa di lakukannya untuk kita? Yang ada dia hanya bisa menyusahkan saja." kata Wanita itu kembali.
"Kita bisa jual dia pada temanmu yang Mucikari itu loh Sayang!" kata Jeff yang berhasil memunculkan sisi Iblis Jenny saat mendengar penuturan Jeff.
"Pinter kamu Sayang! Pasti harganya mahal, apalagi kalau dia masih perawan uhh jangan di tanya pasti mahal banget itu," kata Jenny pada Jeff.
"Tapi aku kurang yakin sih kalau dia masih Perawan. Apalagi saat pacaran sama aku dianya kayak wanita murahan gitu," kata Jeff dengan tampang jijik saat membayangkan sifat sang tunangan.
"Kok kamu bilang gitu sih Jeff, sekarang tampang jijik, padahal di awal mah kamu yang lebih semangat pasti," tuding Jenny pada Jeff.
"Kucing manasih Sayang yang bakal menolak kalau di kasih ikan? Ya pasti maulah, kan gratis! Dianya juga mau-mau aja," lata Jeff dengan entengnya yang berhasil membuat Melati yang di dalam ruangan mendengar cara Jeff mengatakan dirinya dengan begitu hina. Melati bahkan tidak sanggup menahan air matanya lagi.
Kali ini bukan hanya air mata ketakutan, tapi juga air mata kekecewaan yang begitu dalam pada orang yang sempat begitu spesial di hatinya.
"Jika aku yang memang melakukannya dengan suka rela saja dengan Jeff menjadi sesakit ini saat dia mengatakan aku perempuan murahan bagaimana dengan Anggrek? Apakah ini karma karena diriku yang jahat pada adik angkat yang selalu menjadi kambing hitam untuk setiap perilaku burukku," kata Melatih dengan lirih dalam tangisannya.
"Bahkan meski dia tahu jika hancurnya pernikahan yang baru beberapa jam bersama Abimanyu adalah perbuatan diriku dan Mawar di masih tidak menudih sama sekali dan hanya di minta memberikan pembuktian tapi itupun kami halangi agar dia benar-benar menjadi terhina dan semua orang menatap jijik padanya," tangis Melati kian deras saat mengingat dosanya yang begitu banyak pada sang adik angkat.
"Tidak aku tidak boleh hanya berdiam diri di sini! Aku harus bisa melarikan diri, ataupun menghubungi polisi. Iya meski aku seorang pendosa tapi aku tetap ingin bisa menemukan jalan taubat. Aku harus keluar dari sini sebelum orang-orang bajingan itu menjualku pada Mucikari," kata Melati dengan semangat menggebu. Dia harus bergerak cepat atau nanti dia akan terlambat.
__ADS_1