Luka Di Pelaminan

Luka Di Pelaminan
Mendengar Kebenaran


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu sejak kejadian baklava dan teh Turki. Hari ini Anggrek tengah sibuk mendesign gaun pengantin salah satu klien yang menginginkan rancangannya. Designnya yang cukup unik tapi tetap elegan membuat Anggrek harus menguras tenaganya lebih untuk menyelesaikan prosesnya di karenakan sang pemilik gaun akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu satu bulan dari sekarang.


Karean terlalu lama tenggelam dalam dunia rancangan berteman dengan tablet, kertas dan pensil-pensil kesayangannya tidak terasa waktu makan siang telah tiba.


"Beb, aku tahu jika kamu lagi sibuk-sibuknya karena rancangan gaun pengantin yang menjadi projek penting untukmu. Tapi kamu juga jangan sampai lupa makan siang dong, ayo kita lunch bareng!" kata Amanda yang memasuki ruangan Anggrek tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Kamu kok masuk ngak ketuk-ketuk pintu dulu sih Amanda? Nanti kalau aku kena serangan jantung siapa yang tanggung jawab coba?" tanya Anggrek dengan wajah kesalnya.


"Ya ngak gitu pula kali Beb. Yuk, kita pergi sekarang," kata Amanda.


Saat akan berdiri Anggrek merasa dunianya berputar, meski begitu dia hanya menggelengkan kepalanya saja. Mungkin karena dia terlalu lqma duduk hingga sedikit terkejut ketika di bawa berdiri.


Anggrek hanya mengangguki perkataan Amanda bahkan tanpa dia mengerti sama sekali. Hingga saat keduanya akan keluar dari ruangan Anggrek tiba-tiba Anggrek terjatuh tidak sadarkan diri.


"Beb, kamu jangan becanda ah! Ngak lucu!" kata Amanda saat melihat sang sahabat hampir saja jatuh ke lantai tetapi tidak jadi karena Amanda dengan sigap menyambut tubuh sang sahabat.


"Anggrek! Hei, are you okay?" kata Amanda seraya menggoncang-goncangkan tubuh sang sahabat yang tengah lemah dan mata terpejam.


"Tolong! Tolong! Tolong!" teriak Amanda saat menyadari sang sahabat pingsan beneran.


"Kenapa Nona? Loh kok Nyonya Anggrek pingsan?" tanya salah seorang pegawai saat melihat teman-temannya membantu Amanda untuk membopong Anggrek ke kemar pribadinya yang memang juga ada di lantai dua.


"Jangan cuma nanya lu Jubaedah! Tolong telepon suaminya Anggrek, Pak Arjuna!" kata Amanda masih membantu teman-teman yang lain mengangkat tubuh Anggrek.


"Iya Nona," kata pegawai yang sebenarnya bukanlah bernama Jubaedah.

__ADS_1


Perempuan cantik bernama Rose itu segera menghubungi Arjuna yang notaben adalah suami sang Nyonya pemilik tempat dia mencari nafkah.


"Selamat siang, apa ini dengan Bapak Arjuna?" tanya Rose di balik sambungan telepon.


"Iya, saya sendiri. Dengan siapa ya?" tanya Arjuna kembali.


"Saya Rose, Tuan. Saya bekerja di studio Nyonya Anggrek. Saya ingin mengabari, jika Nyonya Anggrek tiba-tiba jatuh pingsan di studio beberapa menit yang lalu. Nona Amanda meminta Tuan Arjuna bisa datang untuk melihat kondisi Nyonya Anggrek," kata Rose panjang lebar dan betapa terkejutnya Rose ternyata sambungan telepon sudah lumayan lama terputus.


"Jadi tadi aku ngomong sendiri?" tanya Rose pada dirinya sendiri.


Di sisi lain, Arjuna yang mengetahui jika sang istri jatuh pingsan di studio segera meninggalkan ruanganya.


"Bos, mau kemana Bos? Sebentar lagi kita akan ada meeting bersama Mr Horald," kata Wirawan yang menghalangi langkah Arjuna yang akan pergi.


"What gua sendirian? Sedangkan meeting dengan Mr Horald kurang dari setengah jam lagi? Oh Tuhan, Arjunaaaaaa," teriak Wirawan antara kesal dan bagaimana gitu.


"Untung Bos, kalau ngak ya Allah udah aku jadiin sambel lalepan," kata Wirawan dan mulai mempelajari apa yang nanti haris di jelaskan saat meeting dengan Mr Horald.


Di sisi lain, dokter baru saja tiba dan bersamaan dengan Arjuna yang juga baru datang ke studio milik Anggrek.


"Apa Anda adalah Dokter yang akan menangani istri saya?" tanya Arjuna saat berpapasan dengan Dokter muda yang tampan itu.


"Iya Tuan, baiklah saya harus segera masuk. Karena kata Nona Amanda pasien langsung pingsan dadakan takutnya ada sesuatu yang serius," kata sang Dokter yang sebenqrnya belum mencerna tentang siapa Arjuna bagi pasien yang akan di tanganinya. Pada saat Arjuna ingin bertanya dia mengurungkannya, bagaimanapun kondisi sang istri adalah hal yang terpenting saat ini.


"Bagaimana keadaannya Jimy?" tanya Amanda setelah Pria tampan itu selesai memeriksa Anggrek.

__ADS_1


"Keadaannya baik-baik saja. Apa Anggrek telah menikah diam-diam tanpa mengundangku selaku orang paling berpengaruh dalam hidupnya?" kata Jimy mendramatisir.


"Sudah berhenti mendrama, bagaimana mungkin dalam keadaan pingsan bisa di bilang baik-baik saja," kata Amanda pada Jimy yang sedang menuliskan beberapa resep obat di kertas resepnya.


"Keadaannya baik-baik saja Amanda, kemungkinan terbesar Anggrek mengalami kelelahan dan harus banyak istirahat. Kalau aku tidak salah prediksi kemungkin sahabat terbaikmu ini tengah berbadan dua, tapi qlahkah baiknya di periksa langsung ke dokter spealis kandungan. Selamat ya sebentar lagi Kau akan menjadi seorang Tante Amanda. Oh iya, apakah ini kekasihmu?" tanya Jimy pada Amanda yang saat ini menatap Anggrek dengan penuh kekaguman karena rasa bahagia.


"Oh iya, aku sampai lupa memperkenalkan kalian. Ini Arjuna suami dari Anggrek, dan Arjuna ini adalah Jimy saudara sepupuku dan juga teman Anggrek," kata Amanda memperkenalkan Jimy pada Arjuna.


"Oh Tuhan, selamat Tuan Arjuna kau akan segera menjadi Ayah. Lebih baik segera bawa Anggrek untuk memeriksa langsung ke dokter spealis kandungan. Saya juga sarankan Anggrek jangan terlalu sibuk dulu untuk sementara waktu, karena itu tidak baik bagi janin dalam kandungannya yang masih muda," kata Jimy.


"Terima kasih," kata Arjuna dengan raut wajah bahagia dan juga sedikit perasaan tidak nyaman dengan dokter Jimy. Entah mengapa Arjuna merasa ada yang berbeda antara tatapan yang di berikan oleh Jimy saat mengetahui sang istri tengah berbadan dua ataukah ini hanya firasatnya saja.


"Baiklah, kalau begitu Saya harus kembali ke rumah sakit. Selamat siang dan sampai jumpa semuanya," kata Jimy dan berlalu dari kamar Anggrek.


Tidak membutuhkan waktu lama Arjuna langsung mengangkat tubuh Anggrek yang tengah tidak sadarkan diri. Ya, untungnya tadi Anggrek tidak di pasangkan infus sehingga Arjuna bisa langsung membopong tubuh mungil sang istri untuk di ajak pulang.


"Loh Anggrek langsung di bawa pergi Mas?" tanya Amanda pada Arjuna.


"Iya, aku langsung bawakan Anggrek ke apartment saja. Sekalian nanti langsung ke dokter kandungan," kata Arjuna dengan tergesa kqrena tengah menggendong sang istri.


Hingga di perjalanan Arjuna memutar balik kemudinya ke arah rumah sakit terbesar yang ada di kota X. Jujur saja dia sedikit khawatir karena Anggrek masih belum sadarkan diri.


"Apakah benar sudah ada kamu di dalam rahim Bunda kamu Sayang?" tanya Arjuna dengan suara lirih dan mata yang mulai berair saat di oarmiran rumah sakit. Dia sangat berharap jika kabar bahagia ini benar adanya, dia sungguh sudah tidak sabar untuk jadi Ayah. Besar harapan Arjuna untuk mendengar kebenaran yang sebenarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2