Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Tidak Boleh Dekat dengan Cowok Lain


__ADS_3

Tak terasa, melirik jam dinding sudah jam 17.00 wib. Mana pekerjaan aku di kantor belum beres. Mau balik, takut ditagih sama bos. Katanya, ditungguin sampai selesai. Akhirnya aku putuskan lembur saja, daripada nanti aku pulang, pekerjaan belum beres, bakal jadi masalah.


''Hai makan dulu yuk. Temani, lapar nih Winona!'' ajak Bayu. Teman satu bidang sama aku. Dia memang selalu mengajakku makan, saat dia tahu aku fokus dengan kerjaan. Dia tahu aku suka telat makan kalau sudah fokus ngerjain pekerjaan kantor.


''Aku lapar nih, makan yuk!'' ulangnya lagi mengajak aku.


Terpaksa, aku pun menghentikan pekerjaan aku. Memilih pergi makan sama dia.


''Iya aku juga lapar nih,'' kataku, jujur.


''Itulah, kerja melulu. Nggak ingat makan.'' celetuknya.


''Hahahahahah!'' kataku tertawa lepas.


''Sttt....nanti bos kamu dengar, dibilang nggak tahu aturan, ketawa ngakak. Ini kantor bukan pasar!'' seru Bayu, mengingatkan aku.


''Iya sih. Nanti kena panggil ke ruangan dia. Mampus aku,'' kataku lirih, pada Bayu.


Baru hendak melangkahkan kaki keluar ruangan. Bos Robert datang. Dia tiba-tiba menggagalkan rencana makan bareng Bayu.


''Eh kalian mau kemana?'' tanyanya dan Bayu spontan menjawab, mau keluar, makan sebentar.


''Eh Winona. Mana tugasmu. Sudah kamu bereskan?!'' tanya bos Robert memandang ke arah aku.


''Gagal deh, makan siang ini bareng Bayu. Padahal, aku lapar banget.'' gumamku kesal.


Bayu, cuma bisa diam. Mau bicara, takut kena damprat.


''Ya udah, Bayu. Kamu makan sana sendiri. Aku gampang, nanti aja, mau menyelesaikan pekerjaan aku,'' jawabku dengan hati yang kesal.


''Ya Allah, sabar....sabar.....beri hamba kesabaran,'' gerutu aku sendiri.


Rasanya ingin marah. Tapi, marah sama siapa. Kesel aja, mau makan nggak ada dikasih kesempatan.


Belum hilang rasa kesal aku. Bos Robert mengintrogasi aku habis-habisan.


Dia tuduh aku, ada affair dengan Bayu.


Kalau dia bukan bos aku, mungkin sudah aku tonjok wajah gantengnya itu.


''Kamu kenapa berani-beraninya makan berdua sama Bayu! Kamu itu kan punya suami!'' bentak dia, sambil menggebrak meja kerjaku.

__ADS_1


Aku ketakutan banget melihat dia begitu emosi saat bicara padaku.


''Pak. Saya cuma makan. Bukan berarti saya ada hubungan sama Bayu. Dia teman satu bidang. Dimana letak salahnya, makan sama teman?'' kataku dengan nada kesal dan nyaris membentaknya.


Dia diam, tak membalas pernyataan aku. ''Selesaikan ya tugas kamu sekarang. Aku tunggu. Nanti aku traktir kamu, setelah selesai semuanya,'' kata dia, sembari melangkah pergi meninggalkan ruangan aku.


''Kenapa dia selalu buat aku kesal. Sebenarnya apa tujuan dia, sama aku. Sebentar baik, sebentar sikapnya seperti kerasukan setan.'' pekik aku.


''Winona, maaf ya. Gara-gara aku, kamu jadi kena marah sama bos,'' kata Bayu lewat chat.


Aku langsung bilang ke Bayu, kalau dia sama sekali nggak bersalah.


''Sudah, nggak masalah kok. Aku sudah biasa kena maki sama bos kamu itu!'' kataku membalas chat Bayu.


''Sekali lagi, maaaf ya Winona. Besok deh aku traktir ya makan siang. Sekarang ini aku makan sendiri.'' ulang Bayu seolah-olah, dia merasa bersalah.


***


Sama seperti bulan-bulan kemarin. Setiap akhir bulan, sampai awal bulan, biasanya aku sibuk dengan pekerjaan di kantor. Biasa, ada berkas-berkas yang harus aku selesaikan. Sekali lagi, Bayu, adalah teman paling setia menemani.


''Yuk, makan siang dulu. Rehat sejenak. Nanti lanjut lagi,'' sebut Bayu.


'Jangan kerja melulu. Nanti kamu sakit. Kalau sakit, nanti malah repot,'' sebut Bayu, peduli padaku.


''Sudah, nanti saja kerjanya,'' ajak Bayu lagi sembari menarik tanganku.


Bersamaan dengan itu, muncul bos Robert. Tak lama, dia memanggilku dan Bayu, ke ruangannya.


''Kalian pacaran atau kerja. Pegang-pegang tangan di ruangan kerja. Itu melanggar etika. Aku bisa saja mengambil tindakan tegas, buat kamu, Bayu! Camkan itu!'' ancam bos Robert.


''Maaf, saya tadi Pak yang salah,'' kataku berusaha membela Bayu.


''Jangan bicara kalau saya sedang bicara,'' bentak bos Robert dengan tatapan mata nanar, ke arahku.


''Ya Allah, mati aku.'' gumamku, dengan rasa ketakutan yang membelengguku.


Baru kali ini aku melihatnya begitu emosi saat bicara sama aku. Kertas yang ada di meja kerjanya, diserahkan ke arah aku.


''Selesaikan berkas ini. Kerja nggak becus kamu ya!'' bentaknya masih di depan Bayu.


''Keluar kalian berdua.'' bentaknya lagi.

__ADS_1


Kami pun melangkah keluar meninggalkan ruangan dia. Bayu, diam tak bisa berkata-kata. Dia bingung sekaligus ketakutan. Ancaman kata-kata bos Robert masih menghantui Bayu, seiring langkah kakinya meninggalkan ruangan bos Robert.


''Bayu, maaf ya, kamu sering dapat masalah, gara-gara aku.'' kataku berusaha meminta maaf padanya dengan setulus hati.


''Nggak apa Winona.'' katanya, lirih.


''Belakangan ini, aku benar-benar menyusahkan kamu ya.'' ucapku lagi, memohon maaf padanya.


''Nggak Winona. Tenang aja. Kurasa ada yang aneh dengan bos kita satu itu.'' katanya menerka-nerka.


''Maksud kamu?'' tanya Winona penasaran.


Bayu langsung to the point.


"Sepertinya, bos Robert cemburu melihat aku dekat sama kamu," ucapnya.


Mendengar pernyataannya itu, aku tak bisa berkata-kata lagi.


Aku tahu itu, tapi aku berusaha mengelak. Aku sendiri juga nggak tahu, kenapa bos Robert bisa marah begitu, saat aku bersama pria lain. Padahal, jujur aku sama Bayu juga nggak ada hubungan spesial. Kuakui, Bayu memang sering perhatian ke aku. Kalau aku lembur, dia orang pertama yang suka khawatir aku sudah makan apa belum.


''Makan yuk,'' itu ajakan dia. Jelas saja, mendapat perhatian seperti itu, aku pun meresponnya. Suami sendiri saja nggak peduli. Tapi, Bayu, kulihat begitu peduli padaku.


***


Keesokan harinya, Bayu dipanggil bos Robert. Setelah itu, kutahu, dia langsung dipindahkan ke bagian lain.


''Ya ampun.....kenapa bisa jadi begini,'' gumamku merasa bersalah pada Bayu.


''Kita ketemuan, Bayu. Aku ingin minta maaf sama kamu. Semua ini, biang keroknya aku. Semua gara-gara aku. Kalau bukan karena aku, aku yakin kamu nggak bakal tiba-tiba dipindah ke bagian lain,'' pintaku memohon pada Bayu.


Tapi, lagi-lagi, chat aku nggak dibalas Bayu.


***


Aku datangi dia di kantor barunya. Tapi aneh, dia langsung menghindari aku. Tentu saja, sikap Bayu, membuat aku semakin penasaran. Mengapa dia seperti itu.


''Tolong beri aku kesempatan bicara, Bayu,'' kataku saat melihat dia di parkiran motor.


''Maaf Winona, lupakan semua dan tolong jangan hubungi atau mencari aku lagi,'' kata Bayu, menolak aku.


''Bayu, kumohon. Aku salah apa, aku minta maaf. Beri aku waktu. Katakan padaku, kenapa kamu bisa dipindahkan tiba-tiba?'' kataku masih mendesaknya untuk memberiku waktu untuk bicara dengannya.

__ADS_1


''Winona, maaf ya. Aku lagi buru-buru. Anak istriku menunggu di rumah. Tolong mulai sekarang jangan hubungi atau bertemu aku lagi,'' katanya lagi, menghindari aku.


''Aku minta waktu kamu, kapan ada waktu, aku tunggu, Bayu.'' pintaku memelas padanya.(***)


__ADS_2