
Valentine Day, hari yang selalu ditunggu pasangan muda-mudi, untuk mengungkapkan kasih sayang . Tapi, bukan berarti pasangan yang tak muda lagi, nggak berhak atas hari kasih sayang itu.
Jujur, sebenarnya aku ingin mengatakan aku sayang sama dia. Ya....dia! Laki-laki yang buat hidupku aku seperti buah simalakama. Bertahan sama dia, rasanya selalu terjadi gencatan senjata saban hari. Melepas dia, kenapa hidup aku jadi hambar? Benar-benar seperti makan buah simalakama. Jadi serba salah aku.
''Winona. Jangan berkhayal di hari ini kamu dapat bunga. Nanti kamu ditertawakan sama cicak. Baru tahu! Dia itu bukan tipe laki-laki romantis! Ingat itu Winona!'' gumamku bicara sendiri dalam hati.
Sepertinya, di hari valentine day ini aku kurang bersemangat, mengerjakan tugas-tugas kantor. Hatiku juga belum tergerak, untuk bicara dengan Bos Robert, meski kemarin sempat jalan bertiga. Aku, Fira dan dia, jalan ke mall.
''Sudahlah, Winona. Akhiri saja semuanya. Kamu mau, hidupmu selalu dalam genggaman si laki-laki posesif itu? Nggak capek?'' kata batin aku, terus berteriak.
***
Kumatikan ponselku, setelah jam kantor berakhir. Aku buru-buru menuju parkiran. Ingin ke swalayan. Beli bahan untuk buat kue kering nastar.
Nggak tahu kenapa, aku kepingin banget praktek buat kue kering nastar. Karena, kupikir, aku bisa mencari tambahan uang belanja, dengan berjualan kue kering nastar. Apalagi, tak lama lagi, akan memasuki bulan suci ramadan.
''Ibu. Minta resep kue kering nastar buatan Ibu.'' kataku pada ibu. Karena, sebagai anak pengusaha kue kering, tak bisa buat kue kering itu, rasanya lucu banget.
Ya jujur, aku kurang suka masak atau praktek buat kue apa pun. Karena, hobby aku tak lain adalah cuma makan. Kalau disuruh buat kue, lebih baik aku melarikan diri aja, dari rumah.
''Eh ada angin apa, sampai mau minta resep buat kue nastar, sama ibu?'' kata ibu, membalas chat aku.
''Gimana mau buat kue nastar yang enak, kalau disuruh memperhatikan ibu praktek saja, nggak pernah mau.'' kata ibu lagi, terkesan mematahkan semangat aku.
''Ibu, ayolah, jangan pelit-pelit sama anak sendiri.'' bujukku terus mendesak ibu.
''Iya nanti dikirim resepnya. Tapi, daripada buang-buang bahan, apalagi tepung dan juga bahan-bahan lainnya mahal, mending kamu balik aja ke Tanjungpinang. Ibu ajari sini.'' sebut ibu serius.
''Ibu...., hari gini, semua serba canggih. Lihat di youtube, bisa......!'' kataku lagi, percaya diri.
''Beda, kalau kue ibu, sama kue di youtube. Jauh beda rasanya. Ibarat bumi dan langit, itulah perbedaan rasanya.'' jelas ibu lagi mencoba mempengaruhi aku.
__ADS_1
''Iya.....makanya kirim ya Bu, resepnya. Malam nanti, saat Fira sudah tertidur, aku mau praktek bikin kue nastar,'' jelasku lagi.
Setelah resep kue rahasia nastar ibuku, aku segera ke swalayan membeli bahan-bahan kue nastar, seperti resep yang dikirimkan ibu ke aku.
''Awas aja nanti kalau gagal. Ibu pasti bakal ketawain kamu, Winona!'' kata ibu mengejekku.
''Ih.....apaan ibu ini.'' balasku.
***
Sejak jam enam sore tadi, selepas adzan maghrib, aku benar-benar tak ingin mengaktifkan ponsel aku. Karena aku memang mau fokus praktek buat kue nastar. Ya.....rasa penasaran aku memuncak, di awal tahun ini.
''Pokoknya nanti kalau berhasil buat nastarnya, aku mau jualan kue nastar itu, jelang hari raya Idul Fitri.'' tekadku dalam hati.
Tapi, di sisi lain aku resah, saat Fira belum tidur. Takutnya, kalau dia belum tidur, bakal ganggu konsentrasi aku buat kue nastar.
Aku pura-pura tidur di kamar, untuk memancing Fira, supaya ikut rebahan juga di kamar.
Hingga akhirnya dia aku ceritakan dongeng kancil mencuri ketimun.
''Hmmmm....ini bocah, kapan tertidurnya, dia masih bersemangat mendengar cerita aku!''
''Mi.....kapan lagi, jalan ke mall sama Bos Robert?'' kata Fira, saat aku berhenti bercerita soal kancil mencuri ketimun itu.
''Fira. Nggak boleh sering-sering minta jalan-jalan sama ayah baik. Ayah baik kan sibuk. Punya tugas di kantor yang haruis diselesaikan. Kalau Fira ngajak jalan terus, bisa-bisa pekerjaan ayah baik di kantor, berantakan.'' jelasku pada Fira.
Tapi, saat aku jelaskan itu panjang lebar ke dia, Fira malah tertidur. Entah dia mendengar aku atau tidak, yang pasti dia sudah terlelap, dan aku akan beraksi dengan rencana aku, praktek buat kue nastar.
***
Waktu menunjukkan pukul 23.00 wib. Aku, sengaja rehat sejenak. Menghilangkan rasa lelahku. Ternyata buat kue itu menyenangkan, sekaligus melelahkan. Bagaimana dengan ibu aku yang sudah menjalaninya hingga belasan tahun? Bayangkan saja, sejak ayah aku tiada, ibu banting tulang, mencukupi kebutuhan keluarga. Uang pensiunan yang ibu terima dari kantor ayah, rasanya nggak cukup, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
__ADS_1
Padahal, ketiga anak-anaknya, sudah menyandang status sebagai pegawai negeri. Namun, apalah daya, gaji pegawai yang baru diangkat sebagai ASN, rasanya belum bisa untuk membahagiakan ibuku. Dalam hati, aku selalu berdoa, kapan aku bisa membahagiakan ibu aku.
Kalau aku curhat ke Bos Robert soal aku yang merasa belum bisa membahagiakan ibuku, dia selalu marah-marah. Dibilangnya, aku tukang ngeluh.
''Sekarang, berusaha sebisa mungkin, bahagiakan ibu kamu, dengan rejeki yang kamu punya.'' itu sarannya.
''Aku ingin, ibuku akan selalu bahagia di sisa hidupnya.'' ucapku saat itu.
''Iya....semua anak punya impian seperti itu. Termasuk aku,'' kata Bos Robert waktu itu. Kata-kata dia, selalu terngiang-ngiang di telinga aku.
***
''Wah......berhasil.'' pekikku kegirangan dalam hati.
Tak henti-henti aku cicipi kuenya. Asal jadi, pasti ada saja yang aku makan. Sisanya aku masukkan ke toples. Serasa mau lebaran saja, buat kue nastar.
Kupasang foto nastar aku di status whatsapp aku. ''Praktek buat kue nastar, langsung berhasil. Ini resepnya secara turun temurun, dari ibu aku tercinta.''
Bersamaan dengan itu, puluhan chat dari Bos Robert, masuk bertubi-tubi. Maklum, beberapa jam yang lalu, aku matikan ponselku, demi kenyamanan aku praktek buat kue nastar.
''Yes.....ibu. Kue nastar aku sukses,'' kataku memberitahu ibu, lewat chat whatsapp.
Tapi, chat aku itu masih centang satu. Maklum, sudah jam 04.00 wib. Ibu pasti sudah tertidur. Tapi, biasanya ibu bangun dini hari untuk melaksanakan salat tahajut.
Semoga, saat ibu melihat status whatsapp aku, ibu memberikan pujian buat aku.
Karena berhasil praktek buat kue nastar, otakku langsung membayangkan bisnis kue kering, jelang hari raya idul fitri.
''Semoga nanti kue nastar aku, laris manis. Kalau laris manis, banyak untungnya, terus bisa buat jalan-jalan,'' pikir aku masih berevoria soal kue nastar.
Tak hanya sekedar bisa buat jalan. Paling tidak, bisa menyisihkan sebagian keuntungannya, untuk ditabung, buat persiapan Fira kalau masuk SD nanti. Sebab, aku yakin, semakin besar Fira, maka kebutuhan biaya pendidikan dia, akan semakin meningkat.(bersambung)
__ADS_1
Awalnya aku sedikit cuek soal serangan chat yang dikirim bertubi-tubi sama Bos Robert. Karena aku memang berusaha cuek sama dia. Tapi, aku juga takut. Pasti, kalau ketemu di kantor, semua ini bakal jadi masalah. Endingnya, ponsel aku bakal dibanting dia. Terus, sampai kapan aku bisa bertahan dalam situasi seperti sekarang ini ya?