Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Jadi Supir Dadakan


__ADS_3

Sudah jam 23.00 wib, mataku nggak juga terpejam. Padahal, sudah rebahan di tempat tidur sejak dari jam 20.00 wib tadi. Mana besok pagi ada rapat internal bareng bos. Pasti besok aku ngantuk berat. Ah! Besok....urusan belakangan. Kalau ngantuk, pasrah aja aku. Mungkin, ini gara-gara minum kopi botolan, tadi sore. Efeknya jadi nggak bisa tidur cepat.


Ponselku di atas meja rias bergetar. Terpaksa turun dari ranjang, dan buru-buru meraih ponsel pintar itu.


''Hmmm..., pasti dari bos Robert.'' Ternyata benar.


''Besok jangan telat datang. Ada rapat internal. Tolong siapkan berkasnya,'' perintah bos Robert malam itu.


Seperti biasa, aku hanya ingin membaca pesannya tanpa membalas.


Karena, kalau aku balas pasti ceritanya panjang. Lagian, kebiasaan banget, chat malam-malam untuk urusan kantor. Mana posisi dia ada di rumah. Nanti kalau dibaca istrinya, bisa mampus aku!


Setelah aku baca chat bos, aku mengembalikan ponselnya di tempat semula. Ponselku bergetar. Pasti, dia ngamuk karena nggak aku balas chatnya.


''Ah, masa bodoh."


Aku balik ke ranjang lagi, berusaha memejamkan mata. Tapi, telingaku terganggu dengan suara getaran ponselku yang tak kunjung diam itu.


''Apa sih mau dia,'' kataku kesal sendiri.


''Udah kayak nggak ada hari aja, besok kan bisa!'' kataku masih kesal.


*Angkat....


*Nggak....


*Angkat....


*Nggak....


Ragu mau angkat, tapi selama nggak aku angkat, dia bakal bergetar terus dan berisik pastinya.


''Ah biarin aja,'' langsung aku matikan saja data selulernya. Karena aku butuh alarmnya esok hari, biar aku nggak telat.


Kulihat, Mas Arga sudah terlelap di depan TV. Aku pun berusaha untuk kesekian kalinya, untuk memejamkan mataku.


Dasar nggak kompak. Mataku sudah mau terpejam. Eh hati aku resah. Kebayang besok, gimana ngamuknya bos Robert sama aku.


***


Nggak tahu aku tadi malam terlelap jam berapa. Pastinya, pagi ini aku bangun jam 05.00 wib, gara-gara alarm ponselku berbunyi nyaring banget. Pertama yang aku lakukan adalah mengambil ponsel di atas meja rias itu, lalu aku hidupkan data selulernya.

__ADS_1


Wow! Amazing!!!!!!


Ada puluhan chat masuk ke ponselku. Tak sempat aku baca, tapi sudah dihapus sama pengirimnya. Siapa lagi, kalau bukan bos Robert!


Aku menarik nafas panjang. menyaksikan chat sepanjang jalan kenangan yang sudah dihapus itu.


***


Dengan langkah gamang, aku memasuki ruangannya. Di ruangan dia, ada staf lain, dan dia buru-buru keluar, saat aku masuk.


Ya Allah. Jam makan siang pun dia mengganggu waktu aku. Mana cacing-cacing perut aku lagi demo, karena tadi aku memang nggak sempat sarapan.


Tak juga mempersiapkan sarapan untuk Mas Arga. Kubilang saja sama dia, kalau sarapannya dia beli di warung langganannya.


Tanpa basa-basi, dia memintaku membawakan tumpukan berkas di atas mejanya itu.


Meski debaran jantungku tak karuan, karena di dekat dia. Aku berusaha biasa saja, dan berusaha seprofesional mungkin menjalankan perintah atasan, saat di kantor.


Dibalik itu, doaku hanya satu.


''Semoga saja dia nggak membahas soal chat dia tadi malam, yang masuk bertubi-tubi ke ponselku, tapi nggak aku balas. Ya Allah, selamatkan aku dari pembahasan itu!''


Kubawa tumpukan berkas tadi, dengan mengikuti langkahnya dari belakang. Dia memacu langkahnya menuju mobilnya.


Aku pun nggak bertanya-tanya mau diajak kemana. Karena aku hanya menunggu perintah berikutnya.


''Kamu yang bawa mobil aku!'' perintah dia padaku.


''Siap Pak,'' kataku.


''Sebenarnya ini apa-apaan sih. Sekalian aja aku jadi sopir. Ini kan bukan tugas aku. Aku ini hanya staf. Tugas aku hanya membantu tugas-tugas pimpinan. Bukan jadi sopir pribadinya.'' protesku dalam hati.


Tapi, aku juga nggak berani protes. Nanti, kalau protes, pasti dibilang melawan atasan.


Dia protes, karena aku ngebut saat nyetir mobilnya.


''Kamu mau bunuh aku? Aku masih doyan kamu nih!'' katanya sembari melempar senyum tipisnya.


''Pak, tolong ini masih pagi. Jangan buat emosi orang ya,'' protesku setelah beberapa saat tadi hanya diam.


''Hmmmm. Maaf. Kamu sih ajak aku ngebut,'' katanya.

__ADS_1


Tapi, bersamaan dengan itu, aku langsung membelokkan setirnya, minggir di jalan.


''Kalau begitu, bapak saja yang bawa. Saya ini bukan sopir Pak, nggak jago nyetir,'' kataku padanya dan aku langsung membuka pintu mobilnya, berniat turun.


''Ih, pagi-pagi, Nona cantik satu ini sudah marah-marah.'' katanya mencoba meredakan emosiku.


Aku hanya diam, karena memang nggak minat merespon candaan dia.


''Kita sarapan dulu yuk, aku lapar. Temani ya,'' pintanya serius.


''Oke,'' sahutku singkat.


''Kalau begitu kita sarapan soto di Mak Ijuk. Enak lho,'' katanya padaku.


''Kalau begitu, bapak yang nyetir,'' kataku.


Soalnya, aku memang nggak tahu, nama rumah makan itu berada di mana.


''Ini jam 08.30 wib. Kita rapat bareng gubernur, jam 10.00 wib. Jadi, masih ada waktu satu setengah jam lagi,'' sebutnya sambil meliruk jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya itu.


''Besok, kita bakal ada tugas keluar kota. Kamu siap-siapa ya sayang. Kita bakal pergi berlima, sama orang kantor.'' sebut Bos Robert serius.


Mendengar itu, sekali lagi aku hanya diam.


''Saya nggak ikutan Pak. Nggak diizinkan suami.'' kataku pura-pura.


Dia langsung protes. Heran. Lalu dia bertanya padaku, sejak kapan suamiku peduli, aku mau kemana.


Dalam hati, aku sedih banget dengan kondisi aku saat ini. Rasanya hidupku hancur, setelah cerita Bik Minah. Benar kata Bos Robert, Mas Arga nggak akan pernah peduli sama aku. Mau aku gimana-gimana, dia bodoh amat sama aku!


''Aku mau kamu ikut denganku. Karena, staf yang mengerti soal data-data ini, hanya kamu. Karena kamu yang mengerjakan tugas ini.'' katanya menunjukkan berkas yang aku bawa tadi.


''Siap-siap kamu ya,'' ulangnya setengah mendesak aku.


Aku menghela nafas panjang, memikirkan bagaimana caranya masalah rumah tanggaku bisa berakhir. Cerai? Mungkin itu jalan terbaik buat aku. Tapi, aku belum siap dengan segala resiko yang bakal aku pikul.


Anak aku gimana? Dia butuh ayahnya. Tapi, perasaan aku gimana, aku sudah teraniaya rasanya dengan penolakan-penolakan yang sering Mas Arga lakukan ke aku.


''Sudah, nggak usah pakai mikir. Suami kamu nggak akan peduli, kamu mau kemana. Termasuk kamu mau lari ke pelukan aku juga, suami kamu nggak akan mau tahu!'' sebutnya.


Pernyataan-pernyataan bos Robert memang benar. Tapi, di sisi lain aku masih nggak mau menyakiti perasaan dia, dengan meminta cerai darinya.

__ADS_1


''Ya Allah, sampai kapan aku bisa bertahan dengan rumah tangga aku ini?''


''Udah....kita sarapan aja dulu, yuk. Soal rencana tugas luar itu, nanti kita bahas lagi ya sayang. Pokoknya kamu harus ikut sama aku.'' kata Bos Robert dengan mantapnya. (***)


__ADS_2