
Belakangan, aku suka malas masuk kantor. Terpaksa izin lagi sama bos. Untung dia baik dan pengertian akan masalah aku.
''Bisa ketemuan nggak kita?''
Bingung aku mau jawab apa. Karena aku sebenarnya lagi nggak ingin ketemu orang. Ingin menyendiri.
''Please beri aku waktu sebentar saja. Ada yang ingin aku sampaikan, penting!'' kata Bos Robert.
Akhirnya aku mengiyakan permintaan dia. Padahal, aku sudah izin nggak masuk kantor, eh jadinya aku harus ke kantor, hari ini.
Baru setengah jalan, dia chat aku lagi. Dia minta ketemuan di salah satu rumah makan seafood. Katanya dia belum makan siang.
"Syukur, nggak jadi ke kantor. Malas banget sih, kalau disuruh menemani makan. Lagi nggak selera makan, soalnya. Tapi, nggak apa, daripada nanti dituding melawan atasan, terpaksa aku menuruti apa kemauan bos satu itu.
''Aku on the way ke rumah makan Kaliandra. Sepuluh menit lagi, sampai.''
Aku cuma membaca chatnya tanpa aku balas. Tapi, dia memang marah kalau aku nggak balas. Meski satu huruf, wajib dibalas. Kalau nggak dibalas, bisa mengamuk sepanjang jalan kenangan. Hahahahaah!
Bener kan! Tak dibalas, dia langsung ngamuk. Dia meneleponku!
''Iya Pak Robert yang terhormat, saya sudah baca pesannya, sekarang saya juga on the way,'' jawabku, dan dia nggak berkata-kata dibalik ponselnya.
Belum selesai aku bicara, dia langsung menutup teleponnya. Dasar bos aneh!
***
Kurang dari 15 menit, aku juga sudah sampai di sana. Celingukan aku mencari dia duduk dimana. Hm......dia nyari tempat pojokan. Baguslah!.
''Aku malas makan,'' kataku padanya.
''Nggak bisa. Harus makan.'' katanya memaksa aku.
Tak lama, seorang pelayan datang ke arah kami. Dia menyodorkan buku menu makanannya, lalu mencatat beberapa orderan aku dan bos Robert.
''Aku mau makan yang ringan-ringan,'' sebutku.
''Beri dia krupuk aja, Dik!'' celetuk bos Robert.
''Hahahahahah. Apaan sih!'' sebutku sewot.
''Iya kan krupuk itu ringan!'' katanya bergurau.
Kupilih empek-empek karena di buku menu itu ada tertera makanan empek-empek.
''Minumnya teh es ya,'' kataku pada pemuda pelayan itu.
''Sama deh menunya!'' sebut bos Robert.
''Apaan sih. Menunya nyontek sama aku!'' protesku.
__ADS_1
''Boleh kan. Emang ada larangan, kalau menunya sama!'' sebut dia gantian sewot.
Beberapa menit kemudian, orderan kami sampai. Aku masih belum menyentuhnya. Dia cuma ngeliatin aku juga.
''Jadi, kita diam-diaman nih?'' katanya.
''Ya udah. Ayo maem. Aku ini, sebenarnya lagi malas makan. Karena lagi pengen mengkhayal.'' kataku.
''Mengkhayal? Mengkhayal apa? Kawin sama aku?'' tanya dia menggoda aku.
''Hahahahaha. Enak aja. GR banget sih bos satu ini.''
''Aku ingin pergi liburan ke Bali,'' sebutku.
''Hm....oke. Berapa biaya buat jalan-jalan ke sana,'' tanyanya seolah-olah akan memberi uang ke aku. Ternyata dia cuma tanya aja.
''Sabar ya. Tunggu gaji ke-13 aku keluar.''
''Hahahahah. Kirain tadi mau dikasih uang sekarang. Eh ini tunggu gaji ke-13. Kalau tunggu gaji ke-13, ngapain. Mending pakai uang sendiri.'' protesku lagi.
''Iya, sabar sayang. Aku usahakan. Gaji aku, tunjangan aku, sudah di tangan orang rumah aku,'' sebut bos Robert serius.
''Ih.....apaan sih!'' sebutku.
''Sabar ya. Nanti aku usahakan, kalau ada uang proyek cair, aku kasih ke kamu.'' katanya meyakinkan aku dan aku diam saja.
***
Ya di kafe Gadjah. Tempat favorit bos Robert buat menyendiri.
''Ini, tempat aku semedi. Hahahahah!'' selorohnya.
''Hahahaha. Semedi?'' kataku mentertawakannya.
''Iya beneran. Kalau lagi pusing kerja, aku pasti ke kafe ini. Kafe ini berada di tengah hutan, dan jarang terjangkau oleh kebanyakan orang. Sekalian ada villanya. Bisa bobok-bobok siang disini, kalau kamu mau. Tinggal bilang sama aku, aku antar kamu kesini,'' sebutnya panjang lebar.
''Hmmm... boleh. Terus, pas aku tidur, digerebek sama istri kamu, Mas. Eh, Bang aja!'' sebutku bergurau.
''Nggak. Istri aku aja, nggak pernah aku ajak kemari,'' sebut Bos Robert meyakinkan aku.
Sementara waktu, aku percaya dengan pengakuannya. Mungkin, ada betulnya, istri dia nggak tahu tempat pelariannya kalau lagi pusing di tempat kerja.
''Minggu depan, boleh nggak aku kesini.'' kataku minta izin.
''Boleh, sayang. Kapan kamu mau, aku antar.''
''Serius ya.'' aku kegirangan.
''Iya. Apa sih yang nggak buat kamu, si cantik pujaan hati aku,'' katanya memujaku.
__ADS_1
''Sekarang, jawab pertanyaan aku dengan jujur!'' katanya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
''Apa. Mau tanya apa. Aku pasti jawab dengan jujur?'' kataku menantangnya.
''Pertama, kenapa dengan suami kamu!'' tanyanya ingin tahu.
''Nggak usah bahas suami aku.'' kataku mengelak.
''Tolong jujur sama aku. Jujur aku sedih melihat kamu seperti sekarang!'' katanya.
''Nggak. Aku baik-baik saja sebenarnya. Kemarin itu, hanya salah paham aja. Daripada emosi, aku lebih baik lari,'' jelasku padanya.
''Jangan bohong. Aku tahu kamu ada masalah dengan suami kamu. Maaf ya aku terlalu ikut campur sama urusan pribadi kamu.'' katanya.
Ya....Allah, aku memang harus mengatakan yang sebenarnya. Karena aku sudah nggak kuat menyimpannya sendiri.
''Suamiku.....,'' kataku mengawali cerita.
''Tapi, janji ya jangan sampai cerita ini tahu sama orang lain.'' kataku meminta kepastian kepadanya.
''Iya. Aku janji.'' katanya.
Tapi, sebelum lebih jauh aku menceritakan tentang suamiku, aku nggak sanggup melanjutkannya.
''Nggak. Winona. Jangan ceritakan aib suami kamu!'' kata batinnya melarang.
Sejenak aku terdiam, lalu ak tak kuasa menahan air mataku.
''Sudah, kalau kamu nggak mau cerita sekarang, nggak apa, sayang,'' katanya sembari menggenggam tanganku erat.
''Maaf ya aku sudah buat kamu sedih.'' akunya.
Jujur, aku sebenarnya tadi ingin cerita. Tapi, aku nggak sanggup menceritakannya lebih lanjut.
***
Seharian ini, aku bersama dia. Dia memberiku kenyamanan. Rasanya, aku nggak sadar diri kalau dia sebenarnya punya orang lain.
''Bang. Maaf ya, aku menyita waktumu hari ini. Makasih ya, untuk hari ini,'' kataku saat dia mengantarkan aku di depan rumah.
Sampai di rumah, Mas Arga sama sekali tak mempedulikan aku. Bahkan, dia nggak bertanya, aku diantar pulang sama siapa, kenapa aku sampai malam?
''Ah. Biarin. Dia mau peduli atau nggak, itu urusan dia. Aku aja yang suka lebai, minta diperhatikan. Aku ini kan sudah nggak dibutuhkan lagi, sama dia,'' pikirku, dengan hati yang perih.
Aku langsung masuk kamar, ganti baju tidur tali satu. Dia juga sama sekali nggak melirik aku. Kulihat, anak gadisku sudah tertidur pulas di kamarnya.
''Maafkan mama ya, Nak,'' kataku sembari membelai rambutnya, dengan linangan air mata.
''Ya Allah, beri aku kekuatan untuk membesarkan anakku ini. Suamiku nggak peduli sama aku lagi ya Allah. Beri aku kekuatan menjalani hidupku yang sekarang,'' gumamku yang diam-diam menangis sesenggukan.(***)
__ADS_1