Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Salah Kostum dan Makan Siang Bareng Lagi, Sama Bos


__ADS_3

Sesuai jadwal, seingatku hari ini, pakai seragam baju batik. Tapi, entah kenapa, aku malah pakai baju bebas. Nggak ingat kalau harus pakai baju seragam batik.


''Mati aku. Sampai kantor, semua orang pakai baju batik. Pasti bos galak itu bakal ngomel-ngomel sepanjang jalan kenangan, karena aku nggak pakai baju batik,'' gumamku panik sendiri.


Fitri mengatakan aku dipanggil bos Robert Airlangga. Pasti dia mau marah-marah karena aku nggak pakai seragam baju batik. Mana ada jadwal presentasi soal program promosi pariwisata di depan walikota.


''Duh, gimana ini. Mau balik, nggak mungkin. Biar aja aku pakai baju ini,'' kataku cuek.


''Kamu kerja, jangan bikin aturan sendiri. Kamu tahu kan, hari apa sekarang?'' katanya sinis padaku.


Aku hanya diam saja. Menundukkan kepala, tak berani beradu pandang dengan dia.


''Maaf Pak,'' kataku memelas padanya. Sementara dia, hanya diam membisu, tak meresponku.


Sebelum disuruh pergi, aku tetap berada di ruangan dia. Memberi kesempatan padanya, untuk marah-marah sama aku.


''Puas-puasin marahnya. Aku terima dengan lapang dada. Hahahahahah!'' gumam aku, bicara sendiri.


''Beri aku kesabaran seluas samudra ya Allah, menghadapi makhluk aneh, tapi ganteng satu ini. Hahahahahah!'' kataku masih bicara sendiri dalam hati.


''Siapa suruh kamu lama-lama berada di ruangan saya!'' katanya padaku, dengan nada ketus.


''Oalah, kalau bukan karena dia itu bos aku, pasti udah aku tonjok sampai bonyok dia itu!'' gerutuku, kesal.


Spontan, aku pun beranjak meninggalkan ruangan dia. Kembali bekerja dan berkutat dengan tugas-tugas yang menumpuk.


Saat aku sedang fokus dengan tugasku, bos gila diktator itu mengirim chat ke nomor ponselku. Dia bilang, minta temani makan siang, hari ini.


Tak aku jawab. Karena hatiku masih kesal, dimarah-marah dia. Rasanya aku ini seperti anak sekolah, dimarah-marah karena melanggar aturan sekolah.


Kenapa nggak fleksibel, kalau soal seragam kantor. Hari ini, aku benar-benar lupa, kalau Hari Kamis, jadwalnya memakai seragam baju batik.


*Dia video call.....


*Angkat .....nggak.....angkat.....nggak.....


Akhirnya aku angkat juga. Lantaran takut dibilang melawan atasan kalau aku sengaja nggak angkat panggilan masuk dari dia.

__ADS_1


''Kenapa kamu lama angkat video call aku?!" tanyanya padaku, ketus. Dia bicara padaku, seolah-olah, aku ini seorang tersangka penganiayaan. Hahahahah!


''Tenang Winona. Dia itu sedang gandrung padamu!'' bisik batinku sendiri, merasa GR.


Aku hanya menebak isi hati bos galak itu. Kenapa dia begitu perhatian sama aku. Dia begitu protektif padaku. Penasaran aku. Mengapa dia over protektif banget sama aku.


''Iya Pak, maaf lagi banyak kerjaan yang harus saya selesaikan,'' sebutku memberi alasan padanya.


''Oh jadi, kamu menyelesaikan tugas, tapi mengabaikan panggilan video call dari aku? Bagus banget, ada staf seperti kamu!'' bentaknya.


Seketika, aku jadi tambah penasaran. Sebegitu marahnya dia sama aku, kalau aku terlambat angkat video call dari dia.


''Sekali lagi, beri hamba kesabaran yang tak terhingga ya Allah,'' kataku berdoa dalam hati.


''Jam 12.00 wib, temani saya makan siang. Setelah itu, kita ketemuan dengan salah seorang event organizer. Dia mau mengajak kita ketemuan. Kata dia, dia mau buat agenda perhelatan budaya di kota kita,'' jelasnya.


Tanpa aku iyakan atau aku tolak, dia mengakhiri percakapannya. Padahal, aku ingin sekali diberikan kesempatan, memberikan jawaban, apa aku bersedia atau nggak, menemani dia makan siang itu.


Lagi-lagi, aku juga tak kuasa menolaknya. Terpaksa, aku harus menuruti perintah dia.


***


''Pakai mobil aku saja,'' katanya, dan aku pun mengekori langkahnya, dari belakang.


Sepanjang perjalanan, aku hanya diam. Dia yang lebih banyak bicara.


Tanpa basa-basi, dia menggenggam tanganku, meski posisinya berada di balik kemudi mobilnya. Jantungku berdebar tak karuan. Mau menolak, rasanya tak kuasa. ''Ini sebenarnya aku lagi jatuh hati sama dia, atau apa sih?'' kataku, bertanya pada hati kecilku sendiri.


''Kenapa sih kamu suka cari gara-gara sama aku?'' tanya dia. Aku masih membisu seribu bahasa. Nggak tahu mau jawab apa dan ngomong apa, saat dia bicara padaku.


''Hei, nona cantik. Kamu bisu ya!?'' godanya, dan semakin erat menggenggam tanganku.


''Pak, sebentar. Saya mau angkat telepon. Sepertinya suami aku telepon,'' kataku minta izin padanya.


Bukannya memberi izin, malah memintaku mematikan ponselku.


''Ya ampun, dia ini sudah mulai kurang ajar sama aku. Tapi, mau aku tolak perintahnya, aku masih mikir-mikir. Nanti aku bisa-bisa kena pecat sama dia!'' makiku dalam hati.

__ADS_1


''Ih begitu aja dia udah mau nangis. Ya udah, terima aja panggilan masuk dari suami kamu. Aku diam, tak bersuara,'' katanya berjanji padaku.


Saat mau aku terima, ternyata suami aku sudah mematikan panggilannya. Ya sudah. Aku sengaja nggak mau telepon balik.


Bakalan nggak bebas bicara, kalau ada bos itu disampingku.


''Telepon baliklah,'' perintahnya.


''Nggak apa, telepon balik aja. Maaf ya aku tadi bergurau kok,'' katanya meralat kelakuannya tadi.


''Sumpah.Baru kali ini aku ketemu orang aneh, seaneh dia. Mana dia statusnya bos aku. Lengkap sudah penderitaan aku.''


Setengah jam kemudian, aku dan dia, sampai di suatu tempat. Rumah makan yang suasananya cukup menyenangkan. Rasanya, aku ingin berlama-lama di sana. Tapi, nggak ah! Nggak mau, kalau lama-lama disini sama pria aneh ini!


Makanan yang diorder bos aku itu, sudah terhidang di meja nomor 4. Ada 6 piring kosong yang letaknya ditelungkupkan. Pasti, nanti ada 6 orang yang bakal duduk di sana. Kupastikan, dua pemilik piring kosongnya itu, aku dan bosku. Berarti yang 4 piring lagi, adalah tamu bos aku itu.


''Gimana bisa langsung disana?'' tanya bos aku itu, pada pelayan.


''Okey, Pak. Silakan. Sudah ready. Tinggal menunggu pengunjungnya,'' jelas pelayan itu.


Benar, tak lama, ada tiga orang lelaki yang usianya tak jauh dari bos aku, datang menghampiri kami berdua. Mereka dari etnis Tionghoa.


''Hai.....apa kabar, Mister Robert,'' sapa lelaki etnis Tionghoa itu pada bos.


Si bos pun menyambut hangat sapaan itu. Mereka bersalaman, lalu mengambil posisi duduk masing-masing.


''Yuk, kita langsung aja. Hidangannya kayaknya bakal nggak enak kalau terlalu lama dianggurin.'' kata bos aku, mengawali makan siang dulu, dan lelaki etnis Tionghoa itu, mengikutinya.


''Hmmm. Enak banget, tom yam nya!'' sebut pria itu sambil terus melahap hidangan yang ada di depannya.


''Ini, rumah makan kelong terenak di jagad kota ini,'' kata bos aku, dengan semangatnya.


Pria etnis Tionghoa itu, hanya manggut-manggut. Sesekali dia bertanya, adakah makanan yang spesial, selain seafood?


Bos aku, menggelengkan kepalanya. Tapi, tak lama, dia cepat-cepat meralatnya.


''Ada, sih. Makanan lain yang enak. Paling ikan bakar,'' sebutnya.

__ADS_1


Pria itu langsung protes.


''Kalau ikan bakar, paling sama aja rasanya,'' kata dia membantah pernyataan bos aku.(***)


__ADS_2