Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Berdebat Hanya Gara-Gara Panggilan


__ADS_3

Kapal ferry tujuan Tanjungpinang-Tanjungbalai Karimun itu akhirnya bersandar di dermaga Pelabuhan Jangkar. Jantungku seamkin berdebar tak karuan saat menyambut kedatangan ibu.


Kusambut barang bawaan ibu. Oleh-oleh penganan otak-otak.


''Lho....tas pakaian ibu mana?'' tanyaku untuk menghilangkan perasaan aku yang lagi dirundung gelisah.


''Kenapa wajah kamu pucat?'' tanya ibu padaku, dan aku tambah gugup.


''Iya ya....Bu.''


''Iya...kenapa?'' tanyanya lagi.


''Belum sarapan mungkin Bu.'' jawabku. Padahal, aku baru saja sarapan bareng Bos Robert.


Kami berjalan bertiga, menuju mobil aku. Sedangkan Bos Robert menuju mobil dia sendiri. Tapi, sebelum berpisah, Bos Robert mengurungkan niatnya naik mobil sendiri, dan dia meminta kunci mobilku. Katanya, dia mau mengajak ibuku sarapan dulu.


''Sini kuncinya, kita sarapan dulu saja dimana,'' kata Bos Robert dan aku pun pasrah begitu saja menyerahkan kunci mobilnya. Bos Robert yang menyetir.


''Nanti antar aku lagi ke sini ya.'' pinta Bos Robert.


''Oke.'' sahutku.


Di sepanjang perjalanan, kami bertiga lebih banyak diam. Ibu, kulihat dia memejamkan matanya, saat di perjalanan.


Bos Robert membawa aku dan ibu, ke warung Pak Dollah. Warung langganan kami saat makan siang.


Pelayan warung itu mendekati meja kami dan menyodorkan buku menu.


Ibu minta pecel lele. Kami pun akhirnya ikut-ikutan juga order pecel lele. Selama order makanannya belum sampai, kami masih terdiam. Ibu kulihat masih asik otak-atik ponselnya.


Lalu, tak lama, order makanan pecel lelenya sudah tiba.


''Ayo....Bu. Silakan.'' kata Bos Robert mempersilakan makan kepada ibuku.


''Iya Pak,'' jawab ibu dan aku pun ikut-ikutan menyantapnya.


Lima belas menit kemudian, makanan yang ada di hadapan masing-masing, sudah habis.


''Enak, ya sambalnya,'' celetuk ibu.


''Iya....ini rumah makan terenak di Tanjungbalai Karimun,'' jelas Bos Robert.


Ibu, kulihat manggut-manggut saja.


Setelah selesai makan, kami pun beranjak dari rumah makan itu. Di sepanjang perjalanan saat di mobil, kami kembali terdiam.


Bos Robert, sesekali berbicara sama ibuku. Sedangkan aku lebih banyak diam, karena duduk di belakang. Bahkan, aku sempat memejamkan mata, karena terlalu pagi bangunnya tadi. Jadi, aku ngantuk berat. Untung hari ini hari Sabtu. Tak masuk kantor.


''Gimana Bu, tadi ombaknya kuat nggak, saat di kapal dari Tanjungpinang-Tanjungbalai?''


''Lumayan tenang tadi Pak.''


''Alhamdulillah.'' sahut Bos Robert.

__ADS_1


''Mi....... nanti kita ajak jalan Mama ke Astaka Alun--Alun ya. Kalau malam kan ramai!'' kata Bos Robert.


Aku langsung tersentak saat mendengar dia memanggilku dengan sebutan Mi, di depan ibuku.


''Aduh....gila Bos Robert ini. Mesranya nggak lihat-lihat situasi. Mana panggil aku Mi, di depan ibu aku.'' gumamku langsung panik sendiri.


Tapi, aku diam saja, dan pura-pura memejamkan mata.


Bos Robert menoleh ke belakang.


''Oh....tidur toh!''


''Ya ampun, selesai makan, tidur.'' kata ibu yang ikut menimpali, dan aku masih pura-pura memejamkan mata aku.


''Duh....matilah aku. Apa penilaian ibu ya. Bos Robert memanggil aku Mi. Oalah......'' gumamku yang masih panik sendiri, meski mata aku pura-pura terpejam.


Tak lama, kurasakan mobil berhenti, dan aku masih pura-pura tertidur. Menunggu salah seorang dari mereka, membangunkan aku.


''Mi....bangun.'' kata Bos Robert.


Dalam hati, rasanya aku ingin menonjoknya, karena memanggilku dengan panggilan Mami.


''Aduh.....sialan banget hari ini. Pasti ibuku berpikiran yang macem-macem. soal ini,'' kataku masih dalam hati.


Ibu turun sembari membangunkan aku.


''Pulas banget, ngantuk berat sepertinya.'' celetuk ibu.


''Iya....ibu.''


Saat kulihat ibu sudah menjauh dari aku dan juga dari Bos Robert, aku mulai mengomel.


''Maksud kamu apa sih. Panggil-panggil aku ma....mi....ma....mi... di depan ibu aku? Gila kamu ya. Kamu nggak jaga perasaan ibu aku!'' kataku setengah membentaknya tapi pelan.


''Maaf...., Mi, aku nggak sengaja. Soalnya kebiasaan memang itu panggilannya.'' kata Bos Robert mencoba memberi alasan ke aku.


''Sudahlah....kamu sudah menyakiti perasaan ibu aku. Pasti ibu aku mikir yang macem-macem, dengan kamu memanggil aku dengan panggilan itu. Nasi sudah menjadi bubur. Kecewa aku sama kamu,'' kataku seraya meninggalkan dia.


''Mi....antar aku ke pelabuhan lagi. Mobil aku di pelabuhan gimana?'' pintanya, bingung.


''Bodo amat. Pergi aja ke pelabuhan sendiri, atau kamu kan bisa naik gojek!'' kataku sinis pada Bos Robert.


''Baiklah kalau begitu.'' jawabnya dan dia berusaha pamitan dulu sama ibuku, lalu beranjak pergi dari rumahku itu.


''Maaf ya Bu. Saya pergi, silakan berehat. Nanti sore, saya kemari lagi.'' kata Bos Robert dengan santun.


Ibuku pun mempersilakannya.


''Terimakasih ya Pak.'' ucap ibu, saat Bos Robert hendak beranjak pergi dari hadapannya.


''Iya....bu....sama-sama.'' Bos Robert pun berlalu dari hadapan kami berdua.


Sebenarnya aku merasa bersalah memperlakukan dia seperti itu. Tapi, aku dibuat kecewa dengan ulah dia hari ini.

__ADS_1


''Ya Allah, ibu pasti mikir macem-macem ke aku. Gimana ini?'' gumamku.


''Ibu mau istirahat di kamar aku, atau di kamar Fira?'' tanyaku dan ibu langsung rebahan depan tv.


''Lho di depan tv?''


''Iya nggak apa....mau ke kamar masih panas.'' sahut ibu.


Spontan aku langsung menyalakan kipas angin ruang tengah itu. Maklum, Ac ruangan, hanya ada di satu tempat, ruang kamar Fira saja. Karena, Fira memang selalu merengek kamarnya minta dipasangin AC.


''Ibu, di kamar Fira aja, dingin. Ada AC nya.'' kataku mengajak ibu pindah tempat.


Akhirnya ibu bangkit, menuju ke kamar Fira.


''Mana Fira?''


''Biasa dia main ke anak tetangga sebelah.'' jelasku.


''Ohhh ya sudah. Ibu ngantuk berat. Rebahan sebentar ya.''


''Iya...silakan.....ibu,'' jawabku.


''Selamat.....,'' ucapku dalam hati.


''Setidaknya, kalau ibu rebahan sampai beberapa jam ke depan, aku selamat. Ibu nggak tanya macem-macem sama aku.''


Kutinggalkan ibu di kamar Fira, dan aku masuk ke kamar aku sendiri.


Tak lama, Fira pulang.


''Mi....lapar.'' kata Fira yang tiba-tiba sudah muncul di hadapan aku. Pasti dia dari rumah tetangga sebelah.


''Dari mana anak Mami, kok balik-balik langsung lapar?''


''Main di sebelah Mi.'' jawabnya sembari mendek ke aku, dan dia manja di pangkuan aku.


''Sayang....tahu nggak siapa tamu kita hari ini?'' katau sembari membelai rambut pendeknya itu.


Fira menggelengkan kepalanya.


''Ayo....tebak. Siapa.'' kataku lagi mencoba menguji dia.


''Ada nenek tu....di kamar Fira.'' sebutku dan dia langsung beranjak pergi, menuju ke kamarnya.


''Nenek.....,'' teriak Fira, dan ibu pun terbangun.


''Sini.....cucu nenek paling cantik comel ini.''


Fira pun langsung menghambur ke neneknya, dengan manja.


''Tadi Fira kemana, waktu nenek datang kok nggak ada?'' tanya ibuku.


''Main ke tetangga sebelah Nek.''

__ADS_1


''Ohh....baiklah kalau begitu. Kita rebahan yuk, nenek masih ngantuk berat. Nanti sore-sore, kita jalan-jalan, sama ayah baik.'' kata ibuku dan Fira terlihat kegirangan saat mendengar mau diajak jalan sore nanti.(bersambung)


__ADS_2