Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Izin Pulang Cepat


__ADS_3

Kuberanikan diri, minta izin, karena ada acara Family Gathering kantor Mas Arga. Semua karyawan kantor, wajib membawa serta keluarga mereka. Kata Mas Arga, dia berangkat duluan ke Tanjungpinang. Sedangkan aku dan Fira, janji akan menyusul dengan kapal ferry last minute.


Mas Arga setuju saja, karena dia juga bareng teman-temannya, dari Batam ke Tanjungpinang.


''Aku berangkat dulu ya, sama teman-teman. Kamu jangan sampai nggak datang. Nanti, aku kena warning sama bos, karena nggak mematuhi perintah atasan.'' sebut Mas Arga, mengingatkan aku.


''Oke,'' jawabku singkat.


''Jangan lupa, bawa Fira.'' imbuhnya sebelum mengakhiri percakapan di whatsapp.


''Oke,'' jawabku lagi.


***


''Aku minta izin ya, mau balik cepat. Rencana mau ke Tanjungpinang. Ada acara family gathering kantor suami aku,'' jelasku pada Bos Robert.


''Nggak bisa!'' elaknya.


''Bisa nggak bisa, aku izin. Karena semua karyawan kantor aku, wajib bawa anak istrinya,'' kataku tetap bersikukuh mempertahankan alasanku.


Tetapi, sekali lagi, Bos Robert menolak untuk memberikan izin padaku. Alasan dia, banyak kerjaan.


''Mau kamu apa sih. Jangan mengekang aku terus-terusan!'' kataku mulai emosi di depan dia.


''Aku ikut kalau kamu tetap ngotot pergi!'' desaknya.


''Ya ampun, andai ada asbak rokok di depan dia, sudah kulempar dia pakai asbak rokok itu,'' celetukku dalam hati.


''Kamu nggak boleh pergi sendiri, tanpa aku. Kalau ada apa-apa, gimana?''


Rasanya aku benar-benar terbelenggu dengan sikap dia seperti itu. Daripada berdebat lebih lama, akhirnya aku diam. Setelah tak ada kata sepakat, aku putuskan saja pergi begitu saja, meninggalkan dia di ruangan. Tapi, ternyata dia mengekori aku. Sial! Aku sudah seperti burung peliharaan dia yang ada di sangkar emas.


''Aku numpang di mobilmu ya. Aku belikan tiketnya untuk kamu dan Fira.'' katanya memberitahuku.


Tapi, aku masih diam, karena menahan emosi.


Kupercepat laju mobil aku, supaya cepat sampai ke rumah. Karena aku harus menjemput dan mempersiapkan segala kebutuhan Fira. Sepanjang perjalanan, aku dan dia nggak bicara. Tapi, sesekali, kulihat dia memandang ke arahku.


''Jago ngebut ya, kalau nyetir.'' godanya berusaha memecah suasana.


''Jangan marah dong sayang. Nanti cantiknya hilang.'' katanya sekali lagi mencoba menggodaku.


''Tadi, aku belum makan, sayang!'' keluhnya.


''Istri aku tadi, masak masakan yang kurang aku sukai.'' cerita dia, dan aku masih acuh tak acuh mendengar ceritanya.


''Sayang, kamu nggak kasihan sama aku? Lemes aku belum makan.''

__ADS_1


''Bodo amat!'' sahutku.


''Kalau aku mati gimana!?''


''Bodo amat!'' jawabku masih ketus.


Sejujurnya aku kasihan banget, mendengar cerita dia. Tapi, aku gengsi untuk menunjukkan kepedulianku. Soalnya, nanti pasti dia besar kepala.


Aku berusaha pura-pura nggak peduli saja. Soalnya, aku memang sudah terlanjur emosi, sore ini.


''Bisa berhenti nggak. Aku benar-benar lapar. Tunggu sebentar ya aku makan di rumah makan padang ini!'' sebutnya.


''Duh bikin lama!'' gerutuku masih dengan nada emosi.


''Sebentar aja, sayang. Benar-benar belum makan, aku seharian ini,'' jelasnya dengan memelas padaku.


Akhirnya, aku menuruti keinginannya. Terpaksa aku ikut masuk ke rumah makan itu, dan aku pun tergoda ikutan makan juga.


''Temani aku makan ya Mi,'' katanya memanggilku dengan panggilan mami.


Sumpah aku mau tertawa tapi di sisi lain aku merasa tersanjung mendengar dia memanggil aku dengan panggilan mami.


''Mi, bilang ya.....sama pelayannya, minta teh hangat. Kayaknya aku masuk angin nih, belum makan. Jadi perlu teh hangat,'' pintanya.


Aku berdiri, mendekati pelayan rumah makan padang itu.


''Makannya lauk apa kak?'' tanya pelayan lelaki satu lagi, padaku.


''Ikan bakar sama sambal ijo,'' sebutku. Menu itu, adalah menu kesukaan Bos Robert, kalau beli nasi padang.


''Oke,'' jawabnya seraya menghidangkan nasi, ikan bakar dan sabal ijonya di piring terpisah.


Dengan lahapnya, dia menyantap makanan yang aku order. Aku sendiri, order ikan gulai, plus perkedel dan sambal ijo.


''Sayang, makasih ya, kamu tahu aja, apa makanan kesukaan aku,'' katanya, saat aku menyodorkan ikan bakar sambal ijo di hadapannya.


''Kamu, makan apa Mi?!'' tanyanya. Dia belum menyentuh makanan yang aku sodorkan, selama aku juga belum dapat makanan yang aku order.


''Udah nih, gulai ikan,'' sebutku santai, dan pelan-pelan hatiku luluh, melihat dia makan bareng aku.


Dia berharap, suatu hari nanti, dia bisa makan masakan aku, setiap pulang kantor.


Kujawab saja, ngayalnya jangan ketinggian.


''Istri kamu, dikemanakan?!'' tanyaku sinis.


''Ayolah, jangan marah-marah terus sama aku.'' pintanya sambil terus melahap ikan bakar sambal ijonya itu.

__ADS_1


''Siapa yang marah!'' kataku mengelak.


''Hahahaha! Wajah ayumu itu tertutup, Mi, kalau marah-marah sama aku.'' katanya menggodaku. Dia selesai makan duluan. Aku pun jadinya mempercepat makanku.


''Sudah jam 15.00 wib, Mi. Kita naik kapal ferry last minute ya?!'' sebutnya, melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


''Hmmm. Aku jemput Fira dulu. Tadi, Bik Inah sudah aku suruh siapkan baju-bajuku dan juga baju-baju Fira. Kita tinggal jemput saja, dan langsung ke pelabuhan Bulang Linggi,'' sebut aku.


***


Ya Allah, entah kenapa, diam-diam aku bahagia saat pergi bersama dia. Sebenarnya ada apa dengan perasaan aku ini?


Apa iya......dia dikirim Tuhan, disaat hidup aku hancur dan berantakan seperti sekarang?


Semesta.....


Tolong jawab pertanyaan aku.....


Dia itu, dikirim Tuhan untuk aku ya....


Akhirnya, berlayar bertiga. Di sepanjang perjalanan di kapal ferry, Fira nggak mau diam. Dia, begitu akrab dengan Bos Robert.


Aku merasa tersanjung, saat Bos Robert meminta Fira, untuk memanggilnya ayah baik.


''Sayang, panggil Om, ayah ya?!'' katanya, mengajari Fira.


Spontan, Fira pun menirukan apa kata-kata Bos Robert.


''Om baik, Fira mau makan KFC nanti ya kalau sampai di Tanjungpinang,'' sebutnya dan buat aku tertawa terkekeh.


''Kan......Fira lupa. Panggilnya bukan Om. Tapi, ayah!'' kata Bos Robert lagi mengingatkan Fira.


''Belum apa-apa, sudah minta makan KFC. Bisa bangkrut aku.'' kataku berbisik pada Bos Robert.


''Oh iya, ayah!'' katanya sambil melepas tawa ala bocah usia 5 tahunan.


''Nanti, sampai di Tanjungpinang kita maem KFC ya sayang, berdua. Mami nggak usah diajak.'' katanya bercanda bareng Fira.


''Tahu begitu, aku nggak mau ngasih tumpangan ke pelabuhan tadi,'' kataku sewot.


''Tu lihat, Fira. Mami marah karena nggak diajak makan KFC.'' kata Bos Robert mengejek aku.


''Sial memang bos satu ini.'' celetukku lagi pelan.


Tapi, sepanjang hidup aku, baru kali ini aku merasa bahagia, pergi bareng bersama seseorang lelaki . Tapi, sayang dia bukan milik aku. Andai dia milikku, betapa bahagia hidupku.


''Mami....mami, nanti Fira makan ayam KFC sama ayah,'' kata Fira, dengan polosnya. Dia terlihat senang banget berada di dekat Bos Robert.(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2