Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Diintrogasi


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 wib. Bos Robert janji akan ke rumah aku, setelah adzan ashar. Kata dia, mau ajak jalan-jalan ibu ke astaka alun-alun.


Bersamaan dengan adzan ashar, ibu terbangun. Lalu menunaikan kewajiban salat lima waktunya.


''Fira mana, kok dia ngilang lagi?'' tanya ibu, soal cucunya itu.


''Biasa...dia jam segini kelayapan. Palingan ke tetangga sebelah.'' jawabku santai.


''Jangan dibiasakan kelayapan terus. Nanti dia nggak tidur siang. Pasti setiap hari jarang tidur siang.''


Aku diam saja, mendengarkan perkataan ibu. Ibuku benar. Apalagi kalau aku sedang di kantor. Kerjanya kalau nggak main HP, pasti main pondok-pondokan sama anak tetangga sebelah. Maklum, anak tetangga sebelah juga cewek. Aku lebih bersyukur kalau Fira main sama tetangga sebelah, ketimbang harus di rumah tapi main HP terus. Kasihan otak dia, terkontaminasi main hp terus, bahaya buat pertumbuhan dia ke depan.


''Ibu mau masak,'' katanya padaku.


''Nggak usah, ibu. Nanti bos aku jemput, kita diajak jalan-jalan. Makan di luar.'' jelasku.


Ibu terperangah mendengar pernyataanku. Lalu dia melontarkan beberapa pertanyaan yang sudah aku duga sebelumnya.


''Ibu mau tanya. Ibu heran dan selalu aja bingung melihat kamu sama bosmu itu. Kenapa kalian selalu berdua?'' tanyanya penuh selidik.


''Iya ibu....itu kan karena urusan kerja.'' jawabku masih santai. Padahal, jantungku berdebar tak karuan, karena ibu pasti bakal tanya macem-macem soal keberadaan Bos Robert yang selalu dilihatnya selalu sama aku.


''Sampai sejauh mana hubungan kamu sama dia? Kamu jangan macem-macem ya. Ingat anak kamu, dan Arga!'' kata ibu mewanti-wantiku.


Ya Allah.... aku bingung mau jawab apa.


''Itu bos aku bu. Semua karena urusan kerja.'' jelasku berusaha meyakinkan ibu.


''Alah......nggak usah mungkir!'' tegasnya.


''Jawab pertanyaan ibu. Berani ya kamu bohongi ibu, dengan mengaku kalau hubungan kamu dengan bosmu itu hanya hubungan kerja.'' kata ibu dengan nada emosi.


Aku mulai menangis sesenggukan.


''Nggak usah pakai drama. Bener kan....kamu ada hubungan sama dia? Sudah sejauh mana hubungan kamu itu!'' ulang ibu mendesak aku untuk segera menjawab pertanyaannya itu.


"Maaf bu....Winona nggak bisa cerita sekarang.'' kataku dengan suara yang tiba-tiba serasa tercekat di tenggorokan aku.


''Oh....jadi benar, firasat aku selama ini. Bahasa tubuh kalian memang nggak bisa dibohongi. Semua orang dan juga dunia sejagad raya ini, tahu kalian itu pasangan tak semestinya.'' papar ibu panjang lebar.


''Ya Allah....gimana ini....ibu akhirnya bisa membaca kebersamaanku dengan Bos Robert.'' Aku masih terus menangis.


''Kenapa kamu seperti ini. Sadar nggak kamu, kamu harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kamu di akhirat nanti.'' masih kata ibu yang seakan-akan berhasil membongkar rahasia terdalamku bersama Bos Robert.

__ADS_1


''Arga tahu semua ini?'' tanya ibu lagi.


Aku hanya menggelengkan kepalaku. Lalu, ibu bertanya, sebenarnya apa masalahnya, sampai-sampai aku main serong di belakang Arga.


''Sebenarnya ibu sudah tahu sejak lama. Ibu curiga saja sama bos kamu itu. Kenapa setiap kamu balik ke rumah, dia juga ada. Alasan kalian karena ada acara kantor, bukan? Tapi, naluri ibu, berkata lain. Kalian ada hubungan, meski tak kalian ungkapkan di depan ibu.'' tegasnya.


Ibu mulai memelankan nada bicaranya, setelah melihat aku terus menangis.


''Sekarang, tolong ceritakan masalah kamu yang sebenarnya apa. Ibu sama sekali nggak mau melihat kamu seperti ini. Karena.....kamu itu punya suami. Punya anak. Kecuali, kalau kamu lajang, atau janda. Terserah kamu mau sama siapa saja, ibu nggak ada urusan.''


''Ibu benar....tapi, aku harus berpisah sama Mas Arga bu,'' kataku, sedikit demi sedikit mulai terbuka sama ibu.


''Kamu ini kenapa sih, dari kemarin selalu saja bilang mau pisah....mau pisah....! Apa sebenarnya masalah kalian? desak ibu, yang emosinya meninggi lagi.


''Iya bu....aku sudah nggak bisa bersama dengan Mas Arga lagi. Karena ada alasan yang saat ini belum bisa aku ungkapkan ke ibu.'' kataku lagi.


''Oke....kalau kamu nggak mau cerita. Jangan pernah kamu panggil aku ibu kamu!'' bentaknya. Aku menangis lagi sejadi-jadinya. Bingung sekaligus takut untuk menceritakan semuanya ke ibu.


Ibu langsung ke kamar Fira, mengemas semua baju-baju bawaannya.


''Ibu....tolong beri aku waktu, aku pasti akan cerita ke ibu, apa masalahnya yang membuat aku dan Mas Arga harus memutuskan untuk berpisah.'' jelasku berusaha menghentikan ibu yang sepertinya akan beranjak pergi dari rumah aku.


Tapi, ibu nggak peduli. Dia bilang minta antarkan ke hotel.


''Ibu....maafin Winona. Baiklah....ibu. Wi akan cerita nanti. Tapi, beri Winona waktu nanti malam, Wi akan cerita semuanya.'' sebutku dan aku berhasil mencegah ibu pergi dari rumah aku.


Setelah perdebatan itu, kulihat mobil Bos Robert sudah ada di depan rumah aku.


''Assallamuallaikum,'' sapa Bos Robert saat tiba di rumah aku.


Ibu menjawabnya dengan ucapan salam juga.


''Waallaikum salam.'' Begitu juga aku ikut menjawabnya, pelan. Buru-buru aku ke kamar mandi, membasuh wajahku dengan air, agar tak kentara kalau aku baru saja menangis.


''Masuklah.....'' kata ibu kudengar mempersilakan Bos Robert masuk ke rumah.


''Iya Bu.''


''Sebentar ya....Pak....mandi dulu. Setelah itu kita jalan ke astaka alun-alun.'' kataku dari arah ruang tengah.


''Oke....kita tunggu.'' sahut Bos Robert.


''Iya, dari tadi dia santai. Padahal, katanya setelah ashar, mau jalan.'' jelas ibu di depan Bos Robert.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu juga, Fitri pulang dari mainnya di tetangga sebelah.


''Ayah baik.....datang.'' katanya seraya menghambur ke Bos Robert.


Ibu, yang menyaksikan pemandangan itu, hanya terdiam.


''Mandi sana, sayang ya....anak ayah baik harus cantik. Kita kan mau jalan-jalan.'' kata Bos Robert pada Fira. Fira begitu manja di pelukan Bos Robert.


''Fira sayang sini. Mandi dulu. Ganti baju yang bagus, kita jalan sama ayah baik.'' kataku meminta Fira segera ke kamar mandi.


''Iya Mami,'' jawabnya dan dia berlari mengetuk pintu kamar mandi.


''Tunggu. Mami sebentar lagi siap. Terus Fira mandi.''


''Oke....Mami.''


Senyap. Nggak ada perbincangan. Ibu masih bersiap-siap di kamarnya.


Bos Robert masih terlihat asik, ngobrol sama Fira.


Ya.....kulihat mereka berdua seperti pasangan anak dan bapak. Tapi, statusnya pasangan yang palsu.


Tak lama, aku dan ibu sudah siap. Bos Robertpun menggendong Fira, masuk ke mobilnya.


''Fira....turun nak. Sudah gede masa iya harus gendong sama ayah baik.'' celetukku.


Fira pun turun, menuruti kata-kataku.


''Nah begitu dong. Sudah gede minta gendong. Malu euuuyyy.'' selorohku.


''Mami....nanti Fira mau es krim KFC.'' pintanya saat di perjalanan.


''KFC libur, sayang. Ini hari minggu.'' kataku, membohonginya.


''Ih...ya udah Mi. Es krim walls,'' sebutnya.


''Hmmm....anak Mami ini memang hantunya es krim. Kalau keluar, selalu minta es krim. Nanti Mami bangkrut Nak, uang Mami habis.'' keluhku di depan dia.


Spontan, dia menjawab, kalau uang aku habis, bisa minta sama ayah baiknya.


''Ya Allah....mati aku. Kok bisa Fira berkata seperti itu.''


Ibu yang mendengarnya diam saja, dan Bos Robert hanya cengar-cengir.(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2