Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Ancaman Ibu


__ADS_3

Sepulangnya dari jalan-jalan, Bos Robert mengantarkan aku, Fira dan ibuku langsung pulang ke rumah. Kata Dia, malamnya nanti dijemput lagi, makan malam di luar.


Ibuku hanya diam, tak mengiyakan atau menolak. Aku langsung chat ke Bos Robert. ''Ceritanya, konon ada pejabat, mentraktir makan-makan terus, untuk keluarga aku. Kira-kira tujuan dia apa ya.....?'' kataku lewat chat.


''Oh iya. Mau tanya nih, kepada Tuan Robert Airlangga. Nanti, ibuku setelah Tuan servisce habis-habisan, ada timbal baliknya nggak, yang harus aku bayar, supaya impas!'' tanyaku, masih lewat chat whatsapp.


''Apaan sih. Kucium baru tahu rasa nanti. Eh nggak sekedar cium. Aku lucuti bajunya juga biar kapok!'' seloroh Bos Robert.


Tak puas lewat chat. Bos Robert meneleponku.


''Belum pernah kan.....diikat tangan dan kakinya, terus dicium. Biar nggak bisa menolak.'' katanya di ujung telepon.


''Kapan-kapan kita coba yuk, Mi, bercinta dengan gaya macam itu?!'' pintanya.


''Pokoknya, sekarang kalau ngomong yang judes-judes, aku cium. Nggak peduli depan orang. Terus, sanksi kedua, kalau ngomong nggak bener atau pakai marah-marah nggak jelas sama aku, aku lucuti bajunya. Pilih mana. Opsi pertama atau opsi kedua?'' cerocosnya masih by phone.


''Ih pejabat tapi ngomongnya nggak sopan, sama anak buah!'' protesku.


''Bukan anak buah. Mami itu, selir hatiku. Hahahahah!'' sebutnya di ujung telepon.


''Nggak mau. Sori banget. Aku nggak mau jadi selir!''


''Hahahaha. Ya udah, jadi istri, permaisuri hatiku aja ya? Dapat dua status. Istri dan juga permaisuri di hati.''


''Mi....siap-siap ya, nanti malam kita dinner sama mama kamu!'' katanya, mencoba mengalihkan pembicaraan.


''Mama? Aku nggak punya mama. Tapi, aku cuma punya ibu.'' protesku dan dia terkekeh.


''Mau mama atau ibu, yang penting aku mau ajak makan malam sama calon mertua.'' katanya lagi-lagi menghayal mau jadi menantu ibuku.


Kulirik jam dinding, sudah jam 19.00 wib. Aku pun siap-siap mandi. Begitu juga Fira. Ibu, masih asik nonton sinetron di depan TV.


''Bu, kita siap-siap yuk. Sebentar lagi, selepas adzan isya, kita mau dijemput sama bos aku,'' kataku, mengingatkan ibu lagi soal ajakan Bos Robert makan malam.


Ibu bangkit, menuju kamar mandi. Lalu, katanya mau salat dulu, baru ikutan makan malam.


''Wi....kalau ibu nggak ikut, boleh nggak?'' tanya ibu minta pendapat aku.

__ADS_1


Aku langsung protes. Kalau ibu nggak ikutan, lebih baik aku juga nggak ikut makan malam.


''Kamu aja, Wi. Ibu kayaknya nggak ikut. Capek. Lagian ibu sudah kenyang.'' kilahnya.


Akhirnya aku batalkan saja janjian sama Bos Robert. Kubilang kalau ibu aku nggak mau diajak makan malam, karena sudah kenyang.


Bos Robert pun menghormatinya.


''Gagal deh, makan malam sama calon mertua.'' kata Bos Robert dengan nada kecewa.


''Bagaimana kalau besok. Pokoknya sebelum ibu kamu balik ke Tanjungpinang, aku ingin mengajaknya makan malam.'' ucapnya penuh harap.


Aku pun berjanji akan membujuk ibu, besok.


''Semoga ibu aku mau, kalau besok diajak makan malam bersama.'' janjiku pada Bos Robert.


''Kalau ibu nggak mau makan malam bersama, gantinya kita jalan-jalan aja gimana. Bilang aja kita mau jalan ke pantai.''


''Ih....orang nggak mau, terus dipaksa. Terserah ibu aku dong!''


Bos Robert terkekeh.


''Kenapa pula, bertanya soal dia. Nggak ada hubungannya sama kita.''


''Cie....masih ada rasa. Kenapa harus marah, kalau memang nggak ada hubungan?'' tandasnya.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ibu sudah bangun. Kudengar, sejak adzan subuh, ibu sudah bangun. Seperti biasa, nggak di rumah sendiri, atau di rumah aku, ibu selalu rajin buat sarapan pagi untuk anak-anaknya. Padahal, aku sendiri suka malas-malasan kalau masak untuk sarapan pagi. Paling, makan roti bakar sama minum teh hangat. Sudah cukup. Jelang jam 10.00 wib, aku selalu ke kantin kantor, sarapan lontong sayur.


''Ibu.....jangan rajin-rajin, dong. Ini masih pagi. Lagian, Wi juga jarang, bahkan nggak biasa sarapan pagi. Ini masih pagi banget.....ibu. Ibu istirahat saja dulu.'' kataku masih dengan mata menahan kantuk.


Maklum, kalau hari libur Sabtu Minggu, aku pasti bangun siang-siang bolong. Bahkan, Fira juga ikut-ikutan bangun siang, kalau hari libur.


''Mi....ke pantai yuk,'' ajak Fira yang tiba-tiba juga ikutan bangun pagi.


''Hm....anak gadis Mami ini banyak banget permintaan kalau nenek lagi di rumah.'' sebutku, dan Fira manja di pangkuan neneknya.


''Boleh kalau ke pantai, asal Fira nggak mandi laut.'' kataku memberinya sebuah syarat.

__ADS_1


''Yah....,'' ucapnya kecewa dan dia ngeloyor masuk ke kamarnya lagi.


''Hm...pasti dia itu mengigau. Bangun tidur, pagi-pagi kok minta ke pantai!'' celetuk ibu.


''Wi...kamu harus jujur sama ibu.'' katanya dan seketika jantungku langsung dag dig dug der, nggak karuan. Ini bahas Bos Robert.


Kukira, ibu aku lupa soal itu. Ternyata dia masih terus mengejar dan mencari tahu sampai dapat jawaban yang benar.


''Kalau kamu nggak cerita juga, kamu nggak usah balik lagi ke Tanjungpinang, dan nggak usah panggil aku ibu lagi.'' ancam ibu tak main-main.


''Ya Allah....seperti sebuah jebakan, pertanyaan ibuku ini.'' pekikku bingung sendiri.


''Kamu itu masih menghargai ibumu kan? Bapak kamu sudah nggak ada. Jadi yang kamu hargai siapa lagi? Masih mau merahasiakannya dari ibumu ini?'' desak ibu lagi, mengintrogasiku.


Aku mencoba menghela nafas panjang. Mencoba mencari kata-kata yang tepat, untuk kuceritakan pada ibu.


''Sudah berapa lama, kamu berhubungan sama bos kamu itu?''


''Dia tahu kan, kamu sudah punya suami. Punya anak?''


''apa dia nggak mikir, kalau nanti suami kamu tahu, apa jadinya?''


Pertanyaan itu dilontarkan ke aku secara bertubi-tubi dan aku berusaha tenang, menghadapinya.


''Bagaimanapun juga, ibu nggak akan setuju kalau kamu pisah sama Arga. Dia kurang baik apa sama kamu? Nggak dikasih nafkah? Coba sekarang ceritakan semuanya. Ibu harus tahu masalah kamu yang sebenarnya. Karena, sudah berapa kali, kamu terus-terusan bilang mau cerai sama Arga!''


''Belain terus aja menantu ibu yang tak ada guna itu.'' pekikku dalam hati.


''Dia memang memberiku nafkah lahir. Tapi, ibu tahu nggak, aku nggak pernah mendapat nafkah batin dari dia.''


Kalimat itu ingin sekali aku katakan pada ibu. Tapi, sumpah aku belum berani.


''Cerita....tolong cerita sama ibu. Kamu masih anggap ibu hidup kan? Atau kamu anggap ibu sudah mati?'' kata ibu dan aku spontan menghambur memeluknya, dengan isak tangisku.


''Setiap ibu minta kamu cerita, pasti kamu nangis. Apa sebenarnya masalahnya. Ibu nggak suka lihat perempuan cengeng kayak begini.'' katanya sembari menepuk-nepuk pundak aku, dan mengusap air mata aku yang meleleh membasahi pipi.


''Ibu....tapi sumpah demi Allah aku nggak sanggup menceritakan masalah rumah tangga aku ini. Ini aib aku dan suami.'' kataku menangis sesenggukan.

__ADS_1


''Ya Allah....apa sih maksud kamu bicara seperti itu. Aib apa?'' tanya ibu heran bercampur marah.


''Sekarang begini saja. Kamu mau cerita atau nggak, sama ibu. Kalau nggak mau cerita, ingat nggak usah lagi ngaku-ngaku jadi anak aku.'' ancam ibu tegas, dan dia berlalu dari hadapan aku.(bersambung)


__ADS_2