
Balik dari Tanjungpinang, rasanya badan masih pegel. Masa iya harus cuti. Nggak mungkin. Kerja di kantor, bawaan ngantuk.
Berkhayal jadi orang kaya. Banyak duit, nggak perlu kerja mati-matian. Kerjanya happy-happy keliling dunia.
Ponselku bergetar.
''Tumben ini ibu aku telepon pagi-pagi, di jam kerja.'' pikirku.
Buru-buru kuangkat tapi aku deg-degan juga waktu angkat teleponnya. Ada apa?
''Assallamuallaikum Bu,'' sapaku duluan, mengucap salam, di ujung telepon genggamku.
''Waallaikum salam.'' jawabnya.
''Sibuk nggak?'' tanya ibu serius.
''Nggak juga Bu. Biasa. Kalau dibilang sibuk ya sibuk. Ada saja tugas dari bos.'' jelasku berusaha santai. Karena debaran jantungku dari tadi, serasa nggak karuan, sejak ibu meneleponku tadi.
''Ibu mau kamu jawab jujur.''
''Ibu....nanti kalau Wi ke Tanjungpinang, Wi janji cerita pokoknya sama ibu. Nggak enak kalau lewat ponsel seperti ini.'' kataku mengelak untuk menjawabnya.
''Alasan....pasti nggak berani cerita jujur kan, sama ibu?'' sebut ibu to the point.
''Iya beneran ibu. Ibu....aku dipanggil sama bos. Sebentar lagi kami ada rapat, setelah jam makan siang.'' kataku lagi, beralasan dan buru-buru menutup percakapan aku sama ibu.
''Ya sudah ibu tunggu. Awas kalau ibu diPHP,'' seloroh ibu serius.
''Iya Wi janji. Percaya sama Wi,'' ucapku.
''Ya udah....ya, ibu sayang. Waallaikum salam,'' kataku.
Aku menghela nafas panjang. Merasa lega. Karena berhasil mengelak dari kejaran pertanyaan ibuku.
Aku chat Bos Robert.
''Bisa minta waktu nggak siang ini. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan?'' pintaku.
''Bisa banget, sayang. Aku akan selalu ada untuk kamu,'' balasnya serius.
''Nanti aku tunggu di Kafe Oishi.''
''Oke....nona cantik Winona.''
''Serius ya....nggak sibuk kan?'' tanyaku ingin memastikan.
''Mau sibuk sama gubernur, aku bisa ninggalin, semua demi nona cantik Winona.''
Tak sabaran, aku terus-terusan ngelirik jam dinding.
''Cepetlah jam 12.00 wib,'' pikirku.
__ADS_1
''Sekarang ya sayang aku on the way ke kafe Oishi.'' kata Bos Robert lewat chat, memberitahuku.
Serasa tak percaya, aku telepon saja menanyakan kejelasan chatnya itu.
''Serius sekarang. Kan masih jam 11.00 wib?'' tanyaku, bingung.
''Iya....aku selalu saja rela berkorban untuk kamu. Kamu aja yang nggak memahami pengorbanan aku.'' celetuknya.
''Jangan bercanda. Ini serius. Kumohon,'' kataku penuh harap.
''Oke...oke...aku on the way kita ketemu di lokasi. Sekitar lima belas menitan ya.''
Aku pun bergegas mengemasi barang-barangku. Karena aku niat izin, setelah makan siang, aku nggak mau balik lagi ke kantor.
Saat aku hendak beranjak pergi. Ibu lagi-lagi chat ke aku.
''Biar ibu yang ke Tanjungbalai, sekalian refresing.'' katanya chat ke aku.
''Aduh.....semakin gawat ini. Ibu terus mengejar aku, supaya menceritakan soal Bos Robert,'' gumamku panik sendiri.
Aku sengaja nggak mau jawab. Karena aku sendiri masih bingung mau mengiyakan atau menolak kedatangan ibu ke rumah aku.
Aku berusaha mempercepat langkahku menuju parkiran, biar cepet ketemu sama Bos Robert. Karena situasinya semakin ruwet, setelah ibuku curiga soal keberadaan Bos Robert.
Sesuai kesepakatan bersama, aku sudah tiba di kafe Oishi. Bos Robert kulihat juga sudah tiba di kafe ini.
''Makan siang dulu, biar nggak panik. Keliatannya kamu gelisah banget. Ada apa?'' tanya Bos Robert sembari memegangi tanganku, erat.
''Ibuku.....'' kataku masih dengan nafas terengah-engah, karena tadi memang buru-buru, gerak cepat.
''Ibu mau ke rumah aku. Mau tanya soal keberadaan kamu. Gimana ini?'' kataku masih panik.
''Gampang. Biar aku jemput. Nanti aku cerita yang sebenarnya.''
''Jangan gila!'' sergahku.
''Jangan aneh-aneh. Kumohon. Jangan buat ibu aku marah.'' kataku memelas padanya.
''Hahahaha. Begitu aja kamu sudah percaya. Ya nggak mungkin sayang.'' ungkapnya mengklarifikasi pernyataannya tadi.
''Beneran ini aku mohon sama kamu. Jangan cerita dulu. Aku nggak mau ibu aku marah.''
Aku mengambil ponselku dan menunjukkan chat ibuku ke Bos Robert.
Katanya, kalau memang terpaksa harus cerita, ia akan bertanggungjawab atas semuanya.
Bahkan, Bos Robert juga berani mengakui di depan ibuku, kalau dia mencintai aku.
''Kapan ibu datang? Nanti aku yang jemput?'' tanyanya santai.
''Besok.''
__ADS_1
''Sepetinya ibuku nggak sabaran mau mendengar pengakuan aku seperti apa, hubungan aku dengan kamu.''
''Tenang sayang. Jangan panik. Kita hadapi berdua, apa pun masalahnya.'' kata Bos Robert lagi.
Sungguh kata-kata dia membuat aku tenang. Tapi, dibalik itu, aku masih takut. Takut membayangkan kemarahan ibu atau pun kekecewaan ibu.
Sekali lagi, dia ingin menegaskan bahwa dia akan bertanggungjawab atas hubungannya dengan aku. Aku percaya kata-kata dia. Tapi, sebelum semua itu terbukti, aku masih nggak tenang.
''Sekarang aku tanya. Kamu percaya nggak sih sama aku?'' tanyanya.
Aku terdiam dia bertanya seperti itu.
''Masa iya, kita sudah pernah tidur bareng seperti itu, kamu masih meragukan keseriusan aku sama kamu.''
Dia meraih tanganku lagi, berjanji akan selalu menemani dalam setiap langkahku.
''Jujur, aku sama istri aku, sudah nggak ada rasa.''
''Ah gombal.'' gumamku dalam hati tak percaya.
Bukankah semua laki-laki memang jago menggombal. Sedangkan aku, adalah korban rayuan gombalnya.
''Atau....sekarang kita resmikan?'' tantangnya.
''Resmikan apa?'' tanyaku seperti orang lugu.
''Ya kan kamu masih terus meragukan aku. Padahal, kita sudah sering barengan. Aku tahu luar dalamnya kamu. Kalau aku laki-laki brengs^^k, pasti aku sudah tinggalkan kamu.''
''Iya....'' kataku.
''Jadi, gimana endingnya. Besok pagi ibu aku datang. Dia pasti mendesak aku, untuk menceritakan semuanya.''
''Sudah....jangan panik. Pokoknya besok semua selesai.'' katanya meyakinkanku.
''Lagian, untuk apa bingung. Aku ini atasan kamu. Kalau ibu kamu tanya, tinggal jawab saja, aku ini atasan kamu. Bos kamu di kantor. Wajar kalau sering bersama. Bilang aja kalau kamu sekretaris pribadi. Pasti ibu kamu percaya.'' jelasnya panjang lebar.
Setelah dia bicara panjang lebar, aku berusaha tenang.
''Boleh nggak aku langsung balik ke rumah. Pengen istirahat. Lelah rasanya seharian ini, memikirkan soal ibuku,'' keluhku.
''Sttt...sudah. Nggak boleh negatif thinking. Aku janji, besok aku akan membuat ibu kamu tersenyum lebar.'' janjinya padaku.
Hingga akhirnya kami berpisah. Dia balik ke kantor dan aku ke rumah.
Sesampainya di rumah, kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Sejenak merefresh otakku dari rumitnya masalah perjalanan cintaku yang tak ada ujung pangkalnya ini.
''Tolong aku keluar dari masalah ini ya Allah.'' kataku berdoa dalam hati.
Ponselku bergetar. Ada panggilan masuk dari Bayu.
Aku hampir saja lupa, ada janjian ketemu sama Bayu. Tapi, kali ini aku ingin menolaknya. Kujanjikan dua atau tiga hari lagi, aku akan menghubunginya.
__ADS_1
''Bayu, maaf banget. Aku lelah. Besok aja ya kalau aku ada mood, aku hubungi kamu ya. Maaf banget hari ini aku nggak bisa keluar, karena ada urusan keluarga.'' kataku beralasan.
Bayu pun setuju saja dengan kesepakatan yang aku buat. Kita berjanji akan bertemu tiga hari lagi, di kafe rahasia yang tak pernah aku datangi bareng Bos Robert.(bersambung)