Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Dapat Kiriman Bunga


__ADS_3

Hari ini, niat izin pulang cepet, karena ada acara tetangga sebelah rumah, arisan. Niatnya nggak mau datang, tapi nanti takutnya dibilang tetangga sombong. Jadinya, aku harus pagi-pagi ke kantor, biar pekerjaan aku cepat selesai.


''Ada kiriman bunga?''


''Dari siapa?''


Fitri aku tanyain tapi dia nggak tahu. Katanya, saat Fitri tiba di kantor, bunga itu sudah ada di meja kerja Winona.


''Nggak tahu kak, tadi aku lihat waktu sampai sini, bunga itu udah nangkring di meja kakak.'' kata Fitri.


''Pasti itu dari penggemar rahasia ya Kak. Ups!'' kata Fitri, lirih.


Tak ada namanya.


''Aku akan selalu mencintaimu, Winona.'' dari lelaki yang selalu ada untuk kamu.


''Siapa, ini Fit ya pengirimnya.'' tanyaku masih penasaran.


''Tapi, apa mungkin Bos Robert?''


Aku bergegas menuju ke ruangan dia. Tapi, dia kulihat nggak ada di dalam. Lagi pula, aku juga belum melihat mobilnya, parkir di depan kantor.


Aku berniat menanyakan hal ini sama Bayu. Tapi, bagaimana mungkin dia yang mengirimnya. Sepertinya mustahil.


''Ini pasti Bos Robert,'' gumamku membatin, yakin.


''Tapi, kapan dia meletakkan ini? Kalau pagi ini, rasanya nggak mungkin. Dia aja belum datang. Kalau semalam, mungkin. Dia pulang terlambat, pasti. Menunggu orang-orang kantor sepi.


Aku menghela nafas panjang. Menyimpan seribu tanya, siapa pengirim bunga ini, dengan kata-kata seromantis itu.


''Apa mungkin, Bos Robert kirim bunga? Mau tanya dia lewat chat, takut bukan dia yang kirim. Nanti dikira aku pede banget. Tapi, siapa ya?!'' masih kataku, bicara sendiri.


''Cie...cie....dapat bunga pagi-pagi, dari penggemar misterius.'' kata Bos Robert tiba-tiba yang kedatangannya tak aku sadari. Karena aku masih penasaran, belum menemukan jawabannya, siapa pengirim bunga itu.


''Ke ruangan saya sebentar!'' perintahnya setelah itu. Aku dan Fitri pun saling menatap. Lalu aku beranjak dari ruangan kerjaku, ke ruangan Bos Robert.


''Sttt....Kak....jangan-jangan, dia Kak,'' kata Fitri berbisik lirih ke telingaku.


''Ih apaan. Masa iya. Dia aja baru datang.'' balasku.


''Itu kiriman bunga dari Bayu ya?'' tanya Bos Robert to the point.


''Maaf Pak, kalau bapak memanggil saya sepagi ini hanya untuk berdebat, saya banyak kerjaan.''


''Jangan begitulah, sayang. Aku harus bagaimana lagi meminta maaf padamu, agar kamu terima aku lagi.''


Dia pasang wajah sedih, dan suaranya memang sedikit parau. Katanya, dia lagi nggak enak badan, beberapa hari ini.


''Aku tersiksa banget, kalau kamu nggak mau ngomong lagi sama aku. Maafin aku Mi.''


Melihat dia seperti itu, hatiku jadi luluh.

__ADS_1


Ditambah lagi, dia menangis. Aku jadi tambah sedih melihatnya.


Dalam hati, aku ingin tertawa, melihat dia yang seperti kekanak-kanakan itu.


''Laki-laki nangis. Kayak bencong aja.'' kataku dalam hati.


Dia meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat. Untuk kesekian kalinya dia meminta padaku, agar aku memaafkannya.


''Mi, aku nggak semangat tanpa kamu. Aku sudah bilang berkali-kali tolong pahami aku. Jujur Mi, nggak ada nama perempuan lain di hati aku, selain kamu.''


''Aku nggak melarang kamu, kok, sama perempuan mana pun. Karena aku juga bukan siapa-siapa kamu. Lagian, kita cuma teman kantor. Nggak lebih dari itu.'' jelasku, dengan hati yang tercabik-cabik.


''Ya Allah aku selalu saja berbohong dengan perasaanku. Padahal, apa yang dia rasakan, aku juga merasakan. Aku juga sayang banget sama dia.'' kata batinku yang tak jujur pada diri sendiri.


''Mi, aku mau dengar dari kamu langsung. Sebenarnya perasaan kamu ke aku, gimana?''


Aku diam, nggak mau menjawab pertanyaan dia.


''Jawab Mi, biar aku tahu!'' desaknya.


Aku masih diam. Bingung mau jawab apa. Kalau aku jujur, nanti dia bisa besar kepala, sesuka hati mempermainkan perasaan aku.


''Apa perlu aku ceraikan istri aku sekarang, dan kita nikah di KUA?'' tantangnya dan aku nggak menyangka sama sekali apa yang baru saja dia katakan tadi.


Bersamaan dengan itu, aku menghempaskan tangan Bos Robert.


''Jangan gila!'' jawabku.


Aku berusaha pergi, beranjak keluar dari ruangan Bos Robert.


''Mi....tunggu Mi. Aku belum selesai bicara.'' kata Bos Robert.


Aku nggak mau jadi bahan gunjingan staf dan pegawai di kantor. Selama ini, orang satu kantor yang tahu hubungan aku dengan Bos Robert, cuma Fitri.


Aku melanjutkan kerjaku lagi, setelah otakku lelah, beberapa menit di ruangan Bos Robert, hanya untuk diajak berdebat.


''Urusan kita belum selesai, sayang. Semoga kamu senang ya dengan bunga yang ada di meja kamu tadi pagi,'' kata Bos Robert mengirim chat ke aku.


''Hm....ternyata benar, bunga itu dari laki-laki yang suka bikin kisruh itu. Hahahaha!''


''Bunganya sudah aku buang ke tong sampah, karena aku nggak kenal dengan pengirimnya.'' kataku membalas chat Bos Robert.


Tak lama kemudian, Bos Robert memberikan bunga yang sudah aku buang ke sampah tadi. Katanya, si pengirimnya sedih kalau aku membuangnya ke tong sampah.


''Simpan ya bunganya.'' pinta Bos Robert. Fitri, melihat adegan kami berdua, seperti pemeran drama Dilan dan Milea.


''Fit, semoga kamu nanti dapat cowok yang suka kasih bunga ke kamu ya.'' seloroh Bos Robert di hadapan aku dan Fitri.


Fitri hanya cengar-cengir mendengar pernyataan Bos Robert.


''Apaan sih, nggak penting banget. Jangan didengar Fit. Bos gila!'' celetukku.

__ADS_1


Bos Robert gantian yang cengar-cengir. Lalu, dia memerintahkan kami berdua untuk mempersiapkan keperluan rapat hari ini, bareng gubernur.


''Winona. Nanti ikut dampingi saya rapat di kantor gubernur. Kamu juga boleh ikut serta ya, Fit.'' pinta Bos Robert, dan kami berdua hanya menganggukkan kepala.


''Fit, nanti sama mobil kakak aja ya. Nggak usah ikut mobil bos!'' kataku pada Fitri, dan kamu mulai fokus mempersiapkan bahan untuk rapat bersama gubernur.


***


Lagi-lagi aku melanjutkan ngerumpi sama Fitri. Akhirnya aku kasih tahu soal siapa pengirim bunga tadi pagi itu.


''Fit, ternyata yang kirim bunga itu, bos kamu!''


''Hehehehe.....udah kutebak sih, Kak. Cuma mau ngomong ke kakak, nggak enak,'' jawab Fitri terkekeh.


''Jangan-jangan kamu tahu ya Fit, kalau bos itu meletakkan bunga di meja aku?''


''Nggak tahu Kak. Tadi, aja, waktu bos datang, bunganya sudah ada di meja Kakak duluan.'' sebut Fitri.


''Iya juga sih.'' sahutku.


''Fit, kamu yakin juga nggak kalau sebenarnya nastar yang ada di ruangan dia itu juga nastar buatan aku. Dia order pakai gojek Fit. Itu pun kemarin ordernya yang order kamu, Fit. Hahahahahah!'' kataku cekikikan.


''Eh ternyata cuma alibi aja, pinjem nama kamu,'' sebutku lagi.


''Tapi, kapan ya Kak, nanti kalau ada duit lebih, Fitri pengen order buat kado calon mertua,'' ucap Fitri dengan wajah ceria.


''Beuhhh....mau ngasih kado camer.'' celetukku.


Di sepanjang jalan, kami lebih banyak cerita soal Bos Robert yang ganteng-ganteng galak itu.


''Doain ya Kak, camer aku suka sama aku. Soalnya, sebelum nikah sama anaknya, harus pandai ambil hati camer dulu. Biar diterima jadi mantu kesayangan.'' curhat Fitri.


''Amin.....semoga Fitri jadi menantu kesayangan.'' kataku mendoakannya.


''Makasih ya Kak.....''


''Iya.....,'' jawabku lagi.


''Kak, gimana sih caranya jadi mantu kesayangan camer,'' tanya Fitri minta pendapat aku.


''Gampang. Kamu kasih aja kartu atm kamu, beserta pinnya! Yakin, seratus persen, kamu bakal jadi menantu kesayangan yang selalu dipuja-puja!'' jawabku setengah bercanda.


''Ih....kakak ini, bisa aja. Terus aku makan apa, kak?''


''Hmmm.....katanya mau jadi mantu kesayangan. Tapi, jujur Fit, aku juga belum bisa jadi mantu kesayangan. Karena, aku ngasih uang bulanan untuk belanja, cuma semampuku aja.'' jelasku terang-terangan ke Fitri.


''Ya nggak apa, Kak. Semampu dan seikhlas kita, Kak. Syukur kita bisa ngasih.'' ungkap Fitri, bijak.


'' Iya Fit, Kakak sudah ada tanggungan anak. Tahun depan, Fira sudah mau masuk SD. Kakak butuh uang untuk pendaftarannya. Sekarang saja, Kakak sambilan bikin kue nastar buat cari uang tambahan. Karena, kalau ngarep dari gaji dan pemberian suami, tak cukup Fit.


''Iya Kak, sabar aja ya.'' katanya. Tak terasa, kami sudah sampai di aula kantor gubernur, rapat koordinasi dengan semua kepala dinas. Aku dan Fitri, hanya itu mendampingi.(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2