
Aku nggak tahu kenapa susah banget melepaskan diri dari kehidupan Bos Robert. Padahal, sejak dengan dia, kebebasan aku direnggut. Berteman dengan laki-laki mana pun tak diizinkan. Kalau aku melanggar pasti dituding main serong di belakang dia.
Terkadang aku sampai geleng-geleng kepala, kenapa aku bisa mengenal laki-laki seposesif dia.
Lebih parahnya lagi, kalau dia tahu dimana keberadaan laki-laki yang dekat sama aku itu, Bos Robert tak segan-segan langsung ngajak duel. Hmmmm......entahlah!
Sekarang, yang juga bikin kesel hati, berteman sama perempuan juga dijadikan masalah besar buat Bos Robert.
"Kenapa kamu suka ketemu sama sahabat kamu Tia. Ada apa?"
Pertanyaan Bos Robert itu sungguh buat aku emosi banget.
Aku langsung protes ke Bos Robert.
"Sebenarnya aku yang harus bertanya balik. Ada apa dengan kamu, Bang? Aku berteman dengan jantan salah. Berteman dengan betina juga salah. Sepertinya aku harus berteman dengan hantu saja biar kamu nggak mengekang aku!" potesku kesal.
"Bagusnya aku hidup di hutan aja, biar kamu nggak tahu kalau aku temanan sama siapa," kataku lagi.
"Jawab dulu pertanyaan aku. Jangan nyari masalah sama aku!" tudingnya masih penuh emosi.
"Ih ini orang gila banget sih. Nggak perlu aku jawab!" sebutku serius.
"Pasti kamu punya kenalan cowok lagi ya, terus dibantuin sama kawan kamu Tia itu," sebutnya lagi sesuka hati dia.
"Sialan. Kamu nuduh orang sesuka hati kamu aja ya!" kataku balik emosi.
"Ya sudah. Begini aja. Sekarang mau kamu apa, Bang? Terus terang aku sudah lelah harus menuruti semua keinginan kamu. Gara-gara kamu, aku sampai nggak punya teman. Teman cowok, cewek semua kamu larang. Bahkan pikiran kamu aneh-aneh saja sama aku. Padahal aku nggak semurahan yang kamu bayangkan." tegasku panjang lebar, dan perlahan aku mulai merendahkan suaraku.
Untung aku kelahi di pantai. Kalau kelahi di rumah makan, bisa-bisa aku jadi bahan gunjingan di rumah makan.
Tapi, aku sendiri juga heran, kenapa kalau berjauhan rindu. Kalau berdekatan, seperti Tom and Jerry. Hahahaha!
"Kamu memang nggak pernah jujur sama aku!" tuduhnya lagi masih seenak jidat dia.
"Kamu yang ngomong juga jangan asal jeplak aja!" kilahku balik menyalahkan dia.
__ADS_1
"Akui. Ayo akui. Kamu punya cowok lain kan, kenapa kalau memang nggak ada cowok lain, kenapa sering banget ketemu Tia? Siapa teman Tia yang dikenalkan ke kamu itu. Biar aku ajak duel saja orangnya. Berani nggak?" tantang Bos Robert dan aku semakin heran dengan sikap kekanak-kanakan dia ke aku.
"Aku bisa minta nomor Tia nggak! Sini biar aku cari cowok yang dikenalkan ke kamu itu," sebutnya masih dengan nada emosi dan penuh curiga.
"Ih gila. Nggak mau!" tolakku.
"Kamu itu niat banget ya mau mempermalukan aku di depan teman-teman aku?" bentakku.
"Sekarang aku mau pulang. Antar aku balik. Nggak mau aku lama-lama di pantai ini berdua sama kamu. Bisa gila aku!"
"Kalau nggak mau. Biar aku sewa taksi sendiri." imbuhku lagi. Dia masih diam awalnya.
"Nggak bisa. Urusan kita belum selesai. Berikan nomor ponsel Tia, aku antar kamu pulang!" katanya bernegosiasi sama aku.
"Nggak. Sekali nggak ya nggak akan aku berikan. Tia itu teman aku paling baik. Jangan pernah menyakiti dia atau mempermalukan aku di depan dia!" tandasku serius.
"Hahahah. Hahahaha!" dia malah balik mentertawakan aku.
"Ya sudah kalau nggak mau ngasih ke aku. Kita nggak akan balik!" tegasnya.
Aku pun diam saja tak meresponnya. Aku malahan sibuk main ponsel sendiri.
Tapi, aku juga nggak bodoh. Aku nggak ada simpan nomor Tia di ponsel aku. Karena aku sudah mengantisipasi akan hal ini.
"Untung saja aku sudah hapus jejak nomor Tia di ponsel aku." pikirku dalam hati.
"Disini kamu kasih nama siapa? Aku cari nama Tia nggak ada." protesnya setelah mencari-cari nama Tia tak ketemu.
"Nggak ada aku simpan. Kenapa sih nggak percaya sama orang hidup. Percaya aja sana sama orang mati," ucapku kesal.
"Aku curiga, kenapa kamu rahasiakan nomor Tia dari aku," protes Bos Robert lagi berulang-ulang dan aku pusing mendengar ocehannya.
"Kamu mau tahu nggak kenapa alasan aku rahasiakan? Nanti.....kamu naksir dia!" kataku serius.
"Kamu jangan kurang ajar ya," katanya dengan nada emosi yang meninggi.
__ADS_1
"Sudahlah. Capek aku. Ke pantai bukannya refreshing. Malah berdebat. Ini hari mau petang aku harus balik."
Aku berusaha merebut hp aku dari tangannya. Tapi, dia berusaha tetap menguasai hp aku.
Dia nggak peduli, meski melihat aku menangis, seperti anak kecil yang berusaha merebut mainan yang dipinjam kawannya.
Saat jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 18.30 wib, aku benar-benar merengek minta diantar pulang. Apalagi di pantai banyak nyamuk, saat jam Maghrib. Aku benar-benar kesal karena Bos Robert masih menyita HP aku dengan sesuka hatinya.
"Belum nikah aja, rasanya aku terpenjara seperti ini. Nggak ada lagi kebebasan untuk aku." gerutuku.
"Oh jadi kamu mau hidup bebas? Nggak bisa!" protesnya.
"Bukan aku mau bebas. Tapi, aku memang nggak punya kebebasan lagi sama kamu. Berteman sama cowok salah. Berteman sama cewek juga salah. Hidup aku benar-benar terjebak dengan pria posesif." keluhku lagi terang-terangan di depan dia.
*Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat pipi aku. Spontan aku pun berteriak lagi sekuat-kuatnya.
"Astagfirullahalladzim!" aku masih menangis, meratapi keadaan aku malam ini.
"Kamu bilang aku laki-laki posesif sekali lagi, aku hajar kamu!" ancamnya.
"Beraninya sama perempuan aja!" kataku mengejeknya.
Kulihat, dia menggeletakkan kunci mobil di atas kayu patahan, yang melintang di hadapan kami.
Karena dia lengah, secepat kilat aku raih kunci itu dan aku berlari menuju mobil. Tapi, secepat kilat juga dia menghadang aku, dan usaha aku akhirnya gagal.
"Kamu jangan menyiksa orang seperti ini. Tolong beri aku kebebasan. Aku bukan anak kecil yang semua harus dilarang. Yakinlah pada diri sendiri, kalau memang pasangan kamu cinta sama diri kamu, dia nggak akan macam-macem di belakang kamu," kataku seolah berdiplomasi.
"Padahal, masalahnya sederhana banget. Aku cuma bertanya berapa nomor ponsel Tia. Itu saja, kamu nggak mau terbuka sama aku. Kamu pasti menyembunyikan sesuatu." tudingnya lagi tanpa jeda.
"Aku bilang Tia itu teman baik aku. Terus apa salahnya? Nanti kalau aku kasih nomor Tia ke kamu, kamu telepon dia. Terus kamu tanya-tanya sama kawan aku itu. Winona punya pacar ya. Kamu mau mempermalukan aku? Di depan teman aku?" jelasku panjang lebar.
"Kamu jangan sok tahu. Aku cuma minta nomornya. Itu aja!"
__ADS_1
"Kalau aku nggak mau ngasih, kamu mau apa?"
"Ya sudah. Jangan harap hp kamu kembali," ancamnya tak main-main. Akhirnya aku diam dan sama sekali tak mau merespon apa yang dia katakan ke aku.(bersambung)