
Gara-gara ngeliat postingan makanan soto padang, yang diposting Fitri di instagram, jadinya aku kepingin makan soto padang itu. Akhirnya, Fitri berjanji mengajakku makan ke tempat soto padang itu.
''Jam 12.00 wib ya, aku jemput. Kita makan soto padang itu, kalau kakak pengen!'' kata Fitri, saat aku kepoin postingannya di IG.
''Hahahahah. Jadi, kamu ngeliatin aku makan aja?'' tanyaku bercanda.
''Ya ikutan makan sih, Kak. Masa aku ngeliatin kakak makan,'' sebut Fitri.
''Hahahaha. Ya udah. Ayo.....pas jam makan siang ya, kita kesana,'' kataku mengiyakan ajakannya.
''Sipp.....,'' jawab Fitri.
Sekitar jam 12 siang kurang, Fitri sudah sampai di depan rumahku, dengan mobil jazz miliknya.
Tak lama, aku dan Fitri sampai di rumah makan soto padang itu.
Baru lima belas menit sampai, bahkan makanan yang aku order juga belum sampai di hadapanku, bos galakku yang ganteng itu, meneleponku.
Dia minta aku mempersiapkan bahan rapat besok, Senin pagi. Jadi, tanpa basa-basi, dia perintahkan aku, mempersiapkan bahannya hari ini.
Dalam hati, kalau bukan karena bos satu itu, aku akan lawan penindasan ini. Di hari libur pun, dia mengganggu ketenangan aku.
Parahnya lagi, dia mau tahu saja, dimana keberadaan aku.
''Dasar bos posesif sinting!'' pekikku dalam hati.
Belum selesai menanyakan dimana keberadaanku, dia minta panggilan chat aku lewat whatsapp, dialihkan ke panggilan video call.
''Alihkan panggilan teleponnya di panggilan video call!'' perintahnya tanpa basa-basi.
''Ih! Aku kesel dibuatnya. Ini adalah permintaan video call dia, untuk kesekian kalinya, setiap menanyakan posisiku dimana, dia pasti minta video call!''
''Cepat alihkan panggilan teleponnya ke panggilan video call,'' desaknya lagi lewat chat.
Maka, dengan terpaksa, aku pun mengalihkan panggilan teleponnya ke panggilan video call.
''Coba.....arahkan kamera ponselnya, ke beberapa sudut ruangan, posisi kamu sekarang,'' perintah dia lagi, memaksa aku.
Anehnya, aku menuruti semua permintaan dia.
''Ya udah, lanjut makan siangnya. Salam sama Fitri,'' katanya sembari mengakhiri percakapannya.
__ADS_1
Fitri, yang melihat itu, hanya senyum-senyum. Kuminta sama dia, supaya jangan cerita ke orang-orang, atas kelakuan bos galak satu itu.
''Cie.....video call-an sama bos galak itu. Hahahahahaha!'' seloroh Fitri.
''Stttt....jangan cerita siapa-siapa ya....,'' pesanku, supaya Fitri tutup mulut, atas kejadian yang baru saja dia lihat.
''Di kantor, Kak, kalau nggak ada Kakak, bos satu itu pasti tanya ke aku. Winona kemana? Kenapa dia nggak bilang mau keluar!'' cerita Fitri ke aku.
''Hah? Masa iya. Segitunya dia nyariin aku?'' tanyaku penasaran.
''Iya Kak. Pokoknya bos satu itu, kalau nggak ngeliat kakak, pasti dia uring-uringan!'' jelas Fitri lagi.
Mendengar itu dari Fitri, aku mau ketawa sendiri dalam hati. Betapa tidak, bisa-bisanya bos galak tapi ganteng itu, nyariin aku, kalau aku nggak pamitan sama dia, saat keluar.
''Aku jadi takut nih, ngeliat bos kamu aneh kayak begitu!'' sebutku.
''Itu bos kakaklah!'' kata Fitri lagi. Spontan aku pun melepas tawa mendengar pernyataan Fitri.
''Kak. Jujur, dia marah banget Kak, kalau ngeliat Kakak nggak di tempat!'' ulang Fitri cerita soal bos Robert Airlangga itu.
''Eh udahan ceritanya. Serem, ah! Sekarang kita nikmati soto padang ini.'' kataku mengalihkan pembicaraan, karena soto padang yang aku order itu, sudah di depan mata.
''Ya udah yuk, habiskan. Kalau perlu, namboh ciek (tambah lagi-bahasa padang-red).'' kataku, dan aku [un berusaha menikmati semangkok soto padang yang masih panas-panas itu.
''Enak banget emang ya. Seger, sedap, kuahnya!''
''Hm...iya Kak,'' sahut Fitri singkat.
''Besok, kita hunting seafood yuk, pas jam makan siang. Biar kakak yang traktir,'' kataku berjanji pada Fitri.
''Aman, Kak. Aku mau banget kalau diajak hunting makanan seafood,'' jawab Fitri.
Fitri, selain partner kerja yang asik, dia juga teman makan yang menyenangkan. Makan apa saja, Fitri doyan. Dia nggak pilih-pilih.
***
Masih belum sampai rumah, ponselku bergetar. Bos ganteng-ganteng galak tapi manis itu, menelepon aku lagi.
Ya ampun, aku risih banget dipantau seperti ini. Serasa 24 jam, berada dibawah pengawasan dia.
''Fit. Angkat nih. Bos kamu telepon lagi, pakai panggilan video call. Aku terima, tapi kamu yang ngomong ya. Kameranya aku arahkan ke kamu ya!'' kataku ke Fitri.
__ADS_1
''Ih jangan Kak. Kan dia telepon ke nomor kakak. Ngapain juga aku yang bicara sama bos itu,'' sebut Fitri, menolak.
''Hahahaha. Bilang aja lagi on the ke mall mana gitu. Kita mau shoping.'' kataku mengajari bohong ke Fitri.
''Ih. Nggak mau Kak,'' kata Fitri masih bersikeras menolak untuk bicara sama bos satu itu.
Selama belum diangkat, sepertinya bos satu itu, bakal meneleponku terus. Akhirnya, aku angkat juga, karena mengingat dia adalah bos aku. Hahahahaha!
''Dimana. Lama kali terima video call aku!'' protesnya padaku.
''Hahahaha. Iya kami lagi mau jalan-jalan ke mall, shoping!'' kataku, berbohong padanya.
''Tugas yang aku perintahkan, secepatnya aku tunggu malam ini. Persiapkan bahan rapat untuk besok,'' katanya.
''Iya. Kami mau shoping dulu Pak.'' tegasku lagi.
Dia tiba-tiba marah sama aku. Katanya, lagi-lagi aku dibilang melawan atasan. Tidak menuruti perintah pimpinan.
''Sebenarnya aku ini pegawainya atau istri dia sih, main perintah seenaknya. Ini kan hari libur. Bebas dong, aku mau ngapain.'' gumamku dalam hati, kesal.
''Aku nggak mau tahu, bahan rapat untuk besok pagi, aku tunggu. Karena mau aku cek. ada yang kurang atau gimana,'' tegasnya.
Karena nggak ingin banyak bicara, akhirnya aku iyakan saja apa yang menjadi perintahnya.
''Dasar bos diktator,'' makiku dalam hati.
Kalau bukan karena dia bos aku, sudah aku lawan dia.
***
Sampai di rumah, aku terpaksa lembur. Padahal, aku ingin menikmati libur, dengan rehat sejenak. Tapi, demi bos galak tapi ganteng itu, aku terpaksa mengerjakan perintahnya. Sebenarnya, mempersiapkan bahan rapat untuk besok, tidaklah ribet. Semua berkas yang dibutuhkan, tinggal diprint.
Tak sampai satu jam, tugas mempersiapkan bahan rapat besok pagi itu, akhirnya selesai juga. Giliran aku, rehat sejenak. Kukabarkan pada bos itu, kalau apa yang dia perintahkan, sudah beres semua.
Sial! Chat aku hanya dibaca, tak dibalasnya.
''Dasar bos tak tahu berterimakasih. Apa salahnya bilang makasih atau apa ke aku. Dasar sombong, diktator. Sok kegantengan. Eh tapi dia memang ganteng. Ups!''
Beberapa pegawai perempuan di kantor, kudengar-dengar, saling berlomba mencari perhatian ke dia. Hahahahah!
Itu, urusan mereka. Kalau aku, buat apa cari perhatian ke dia. Dia aja, galak sama aku. Ih....nggak ah! Takut!.(***)
__ADS_1