
Sudah sepekan, aku menyimpan rasa penasaran itu, baik-baik. Cerita Bik Minah, membuat aku nggak tenang. Benarkah suamiku menyukai sesama lelaki? Ah nggak mungkin. Seribu kata nggak percaya. Aku ingin tak mempercayai cerita Bik Minah.Tapi, batinku makin berontak. Rasa penasaran itu semakin menjadi-jadi.
Pelan-pelan aku mulai mengatur strategi. Bagaimana caranya agar aku bisa mengintai, apa saja kegiatan Mas Arga di luaran sana. Mulai dari bangun tidur. Saban hari, dia memang selalu bangun pagi, jam 05.00 wib. Setelah sarapan, dan jam dinding menunjukkan pukul 07.00 wib, Mas Arga langsung ke kantor, naik motor.
Sampai di kantor, apel. Setelah apel, dia bergerak ke salah satu kedai kopi langganannya. Tak hanya satu atau dua kedai kopi. Dalam sehari itu, dia bisa nongkrong di lokasi kedai kopi yang berbeda. Aku sendiri heran, kenapa bisa dia seperti itu? Pegawai tapi kerjanya nongkrong saban hari di kedai kopi.
Kerjanya, main high domino. Kalau nggak main game itu, sepertinya nggak sah, bagi dia. Ponselnya, tak pernah jauh dari tangannya. Tapi, sesekali kupinjam, dengan alasan mau telepon kawan, karena nggak punya pulsa. Dia nggak marah. Malahan dia memberi izin.
Saat ponselnya sesekali di tanganku, aku coba cek panggilan keluar dan panggilan masuk di ponselnya. Ada satu nama, yang sering menelepon ke ponsel Mas Arga. Tapi itu nama laki-laki. Aku juga tahu siapa nama orang yang ada di ponsel Mas Arga itu.
''Tapi, masa iya, dia sesering itu menelepon suami aku?'' kataku membatin tak percaya.
Rasanya nggak ada yang aneh, dari ponsel suami aku itu. Sebenarnya Bik Minah ini, ceritanya bohong atau dia hanya ngerjain aku?
''Ah tapi nggak mungkin Bik Minah ngarang cerita kayak begitu, Mas Arga bicara mesra dengan teman lelakinya? Bohong,'' kataku sendiri membantah cerita itu.
Penasaran itu sejenak mereda. Aku mulai cuek soal itu. Sudahlah. Buat apa mau curiga sama Mas Arga. Rasanya Mas Arga nggak mungkin menyukai sesama lelaki. Jangan-jangan Bik Minah hanya salah dengar.
***
Mas Arga cuti. Katanya dia mau santai di rumah nggak kemana-mana. Dalam hati, kamu mau cuti atau nggak, nggak berpengaruh sama aku. Dia juga nggak pernah mengajak aku jalan-jalan meski libur kerja. Karena, yang ada, dia hanya sibuk dengan ponsel dan permainan game dominonya.
Ya sudah. Aku berusaha mencari kebahagiaan sendiri, meski hatiku perih. Tapi, dibalik penolakan kemarin malam, aku masih belum puas. Aku akan mencari tahu sampai aku mendapatkan jawaban yang sebenarnya.
''Setiap aku mendekati dia, dia selalu menghindar dari aku. Alasannya dia sedang tak ingin didekati karena suasananya panas? Bukan. Kurasa bukan itu alasan dia. Aku bisa merasakan dia memang benar--benar menolak aku.
__ADS_1
''Mas. Tolong pasangkan tali BH aku ini,'' kataku suatu hari, pura-pura minta tolong ke dia, setelah selesai mandi.
Tak aku duga, dia menolak. Dia bilang aku manja. Dia minta aku mengerjakannya sendiri.
''Ah begitu aja nggak bisa. Pasang sendiri,'' katanya padaku waktu itu.
Ya ampun, apa salahnya hanya mengancingkannya sebentar. Namun, dia langsung menolak permintaanku.
Tak hanya itu. Beberapa kejadian aneh lainnya aku rasakan, dia memang menolak aku.
Pernah, nggak sengaja aku menjatuhkan ****** ***** yang aku angkat dari jemuran, tepat di depan motor dia. Dia langsung seperti jijik melihatnya, dan marah-marah sama aku.
''Kurang ajar banget sama suami,'' katanya memaki aku. Tapi, aku berusaha minta maaf padanya dan aku katakan kalau jatuhnya nggak sengaja.
Dia diam saja dan berlalu dari hadapan aku.
***
Senjata satu-satunya, yang harus aku andalkan untuk menyelidiki Mas Arga, hanya Bik Minah. Aku minta, Bik Minah melaporkan setiap gerak gerik Mas Arga.
Untuk kali ini, Bik Minah menceritakan hal yang sama, kepadaku. Kata dia, Bapak (Mas Arga) bicara mesra dengan seorang lelaki di balik ponselnya.
Ingin emosi rasanya mendengar cerita itu. Sampai-sampai, Bik Minah yang aku semprot, dan aku tuduh dia ngarang cerita yang aneh-aneh.
''Bik. Tolong jangan buat saya emosi. Bik Minah itu ngarang cerita atau apa, soal bapak?'' tanyaku mendesak Bik Minah supaya bicara jujur padaku.
__ADS_1
''Iya Buk. Sekali lagi, saya minta maaf kalau cerita saya membuat ibu emosi. Tapi, memang itu kenyataannya. Suara itu terdengar seperti suara laki-laki,'' katanya masih ngotot bahwa cerita dia itu memang benar adanya.
Aku jadi punya akal. Bik Minah aku suruh awasi benda yang bernama tape recorder. Apapun percakapan Mas Arga, aku minta Bik Minah merekamnya dari jauh. Semoga saja suaranya bisa terekam.
''Ingat ya Bik. Apapun percakapan bapak, tolong direkam. Biar saya percaya kalau cerita Bik Minah ini nggak mengada-ada.'' kataku penuh emosi.
Kulihat Bik Minah seperti ketakutan melihat aku bicara sedikit agak tinggi nada bicaraku.
''Maaf ya Bik. Gara-gara cerita Bik Minah, jujur saya resah Bik.'' ungkapku, dengan meneteskan air mata.
''Cukup Bik Minah saja yang tahu ya tentang keluarga saya seperti ini. Tolong, berjanjilah. Bersumpahlah jangan menceritakan aib keluarga aku ini, ke orang lain.'' pintaku penuh harap.
Kugenggam erat tangannya, kuminta dia bersumpah, untuk menyimpan rapat-rapat aib keluargaku.
''Maaf ya Buk. Jangan marah sama saya,' kata Bik Minah memelas padaku.
''Saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat di depan mata kepala saya,'' aku Bik Minah yang gantian menangis.
Tak kusadari, aku memeluk Bik Minah dengan perasaan yang hancur. Aku ingin mengelak cerita itu, tapi kata Bik Minah, cerita itu muncul di depannya.
''Kalau Bik Minah anggap saya seperti anak sendiri, pasti Bik Minah nggak tega menceritakan aib saya ke orang lain. Hidup saya hancur Bik, setelah mendengar cerita Bik Minah kemarin. Serasa nggak percaya, tapi Bik Minah memberikan pembenaran bahwa cerita bapak telepon mesra dengan seorang lelaki, itu membuat hati saya hancur Bik.'' kataku panjang lebar.
''Iya buk, saya berjanji akan menjaga cerita ini sampai saya mati nanti,'' kata Bik Minah berjanji padaku.
''Terimakasih ya Bik, Bik Minah sudah baik sama aku selama ini. Aku nggak akan bisa membalas kebaikan bibik selama ini, untuk keluarga aku. Aku yakin, bik Minah juga sedih setelah mengetahui bapak seperti itu. Doakan aku kuat ya Bik, menghadapi kenyataan hidup seperti ini. Padahal Bik, dia itu adalah lelaki yang begitu aku puja. Dulu, dia mengejarku bik, meminta aku, agar aku bersedia jadi pendampingnya. Aku akui, aku juga dulu cinta dia Bik. Tapi, jujur, sekarang aku kecewa berat Bik. Andai memang dia itu menyimpang hidupnya, seperti yang bibik tahu. Jangan cerita ke orang ya,'' kataku masih panjang lebar, dengan tangis yang sesenggukan.(***)
__ADS_1