Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Mimpi Dikejar Harimau


__ADS_3

Aku lari ketakutan, memasuki hutan belantara, saat induk singa itu mengejarku.


''Bug!' aku jatuh ke kubangan kecil. Disana, anak singa yang menyambut aku. Aku teriak sekuat tenaga, meminta pertolongan orang-orang penduduk sekitar.


Kulihat, Bos Robert datang membantu!


Seketika aku terbangun!


Kulirik jam dinding di kamar, jarum jam pendeknya masih di angka jam 02.00 wib, dini hari.


Jantungku berdebar seketika.


Kuambil air putih, di dapur. Kuteguk, untuk menenangkan diri.


''Ya Allah, apa makna dari mimpi aku tadi ya?''


Setelah aku teguk habis air putih di gelas tadi, aku berusaha memejamkan mata lagi. Karena jam 06.00 wib masih lama.


Tapi, semakin aku berusaha memejamkan mata, semakin susah aku tidur lagi.


Kuraih ponsel di atas meja rias aku.


Iseng aku cari tahu di Mbah Google, soal makna mimpi aku tadi.


Di pencarian Mbah Google, aku ketik kata kunci, dikejar harimau.


Konon, katanya akan ada keberuntungan yang aku dapat.


''Aminn.'' kuaminkan dalam hati. Semoga saja ada keajaiban yang akan terjadi, dan aku mendapat keberuntungan dalam segala hal.


***


''Fajar, tadi malam aku mimpi dikejar harimau!'' ceritaku pada Fajar, yang sengaja aku ajak jumpa makan siang di rumah makan Pak Dollah.


Bukannya dijawab, dia malah tertawa terbahak-bahak.


''Harimaunya itu, Bos Robert!'' sebut Fajar.


''His. Apaan sih. Bos Robert lagi, jadi pembahasan!'' protesku sambil melempar tisu yang sudah aku genggam.


''Kamu nggak sadar ya, dia itu harimau!'' sebutnya masih terkekeh.


''Mau aku lempar pakai kecap atau saos nih!?'' kataku yang sudah siap-siap pegang botol kecap dan saos.


''Lempar coba ke bos Robert. Dia nggak bakal marah,'' selorooh Fajar lagi.


Kata Fajar, dia sebenarnya takut banget ketemuan sama Winona. Kata dia, takut kepergok sama Bos Robert. Sempat kepergok, bisa mati berdiri, Fajar dihadiahi bogem mentah, sama Bos Robert.


''Kalau ke depan, apa rencana kamu sama Bos Robert?'' tanya Fajar tiba-tiba dan membuat aku salah tingkah. Aku nggak tahu harus jawab apa. Karena, aku nggak punya rencana apa-apa dengan Bos Robert.


''Rencana apa, sama suami orang. Gila aja!'' protesku.


''Sepertinya dia itu serius sama kamu. Aku bisa lihat sikap dia begitu posesif sama kamu!''


Benar kata Fajar. Bos Robert memang posesif sama aku. Aku juga heran, kenapa dia begitu mengekang aku.

__ADS_1


Fajar menawarkan jasa pengantaran. Lucunya, bukan pengantaran barang. Tapi, dia menawarkan diri, menemani aku ke dukun.


''Coba cek, apa maksud dan tujuan Bos Robert begitu cinta mati sama kamu!'' katanya, dan aku penasaran dengan kata-kata dia.


''Gimana cara ngeceknya?'' tanyaku polos.


''Kuantar ke orang pintar, yuk!'' ajaknya serius.


Aku menanggapinya dengan bergurau.


''Ke profesor?''


''Bukannnnnn. Ke dukun!'' sebut Fajar.


''Ih....nggak ah!''


''Ngapain ke dukun!''


''Penting, biar kamu bisa menyusun strategi, dia itu serius atau main-main sama kamu.'' kata Fajar memberi saran.


Sepertinya, memang benar apa yang dia katakan. Tapi, aku nggak minat untuk ke dukun, untuk sementara ini.


''Kamu jangan menyesal kalau pada akhirnya apa yang kamu inginkan, nggak sesuai dengan ekspektasi!'' sebut Fajar.


''Udah yuk, balik ke kantor. Nanti, telat masuk kantor, bisa kena maki aku sama Bos Robert. Jam makan siang kurang setengah jam lagi. Bagusnya aku sudah sampai kantor, jam 13.30 wib.'' kataku mulai mengalihkan pembicaraan.


''Cie....anak buah yang patuh sama atasan.'' seloroh Fajar.


''Ohh....iya dong.'' sahutku santai.


***


''Eh Kakak. Tadi dicari sama Bos Robert. Beliau minta berkas data lokasi pariwisata yanga ada saat ini.'' sebut Fitri.


''Hm...dia nggak ada telepon aku. Tadi, kakak makan siang. Maaf ya kakak nggak ajak Fitri, soalnya kakak sama suami,'' kataku berbohong pada Fitri. Dia nggak boleh tahu, aku sering-sering ketemuan sama Fajar. Nanti, bisa-bisa Fajar, ditonjok dia, mampus.


''Fit, kakak mau tanya nih.'' kataku setengah berbisik.


''Apa Kak?''


''Kamu diam-diam aja ya!''


''Iya, kakak!''


''Kamu ada kenal orang pintar nggak?'' tanya aku padanya bisik-bisik.


''Nanti aku tanya sama mama aku ya Kak,'' jawab Fitri.


Fitri langsung chat ke mamanya.


Seperti inginku. Aku diberi nomor telepon orang pintar itu.


Tapi, aku nggak berani, kalau langsung menghubungi dia.


Aku minta antar Fitri.

__ADS_1


Syukur, Fitri bersedia mengantarkan aku.


''Fit, janji ya. Jangan cerita sama siapa-siapa ya Fit, kalau aku minta antar kamu kesini. Kumohon ya Fit!'' kataku ingin memastikan ke Fitri.


Tapi, aku nggak ngomong ke Fitri kalau aku mau tanya-tanya ke orang pintar itu, soal Bos Robert.


''Iya, kakak. Aman. Aku janji nggak akan cerita sama siapa-siapa!'' kata Fitri meyakinkan.


***


Di ruangan itu, aku berdua sama lelaki yang kusebut dukun.


Kutunjukkan foto Bos Robert, ke dia.


''Harus siap-siap berkorban!'' katanya.


''Maksudnya harus siap-siap berkorban?'' tanyaku bingung tak mengerti.


''Iya, kamu lebih banyak berkorban segalanya, untuk dia!'' sebutnya, dan aku semakin nggak paham.


''Sudahlah, nggak usah aku lanjut. Karena aku nggak mau mendengar yang aneh-aneh lagi soal penerawangan dia, tentang Bos Robert.'' gumamku.


Tapi, ada yang buat aku penasaran. Soal mimpi dikejar harimau. ''Pak Maaf, kalau mimpi dikejar harimau itu apa maknanya ya. Saat dikejar itu, saya jatuh di kubangan. Lalu, di mimpi itu ada lelaki itu memberi pertolongan?'' tanyaku, sembari menunjukkan foto Bos Robert lagi.


''Akan ada keberuntungan yang bakal kamu dapatkan,'' jelas lelaki berambut putih berjenggot panjang itu, padaku.


Aku menghela nafas panjang dan merasa lega atas penjelasan dia. Syukur, dia mengartikan mimpi aku, bukan dengan penafsiran yang aneh-aneh.


''Kamu jangan neko-neko (macem-macem-red), kalau bisa lurus aja ya...!'' pesan lelaki itu padaku.


''Iya Pak, insya Allah.'' kataku padanya.


Karena sudah satu jam di ruangan lelaki itu, ditambah aku mulai nggak tahan dengan bau-bauan kemenyan. Jadinya aku minta undur diri.


''Makasih ya Fit, kamu sudah antarkan aku kesini.'' kataku.


''Iya Kak. Sama-sama.'' katanya.


Aku suka sama Fitri. Dia bukan tipe orang yang kepo dengan urusan orang.


''Makan siang yuk. Aku lapar,'' ajakku.


Fitri langsung setuju.


''Ke rumah makan Pak Dollah ya.'' sebutku.


''Siap, Kakak. Aku ikut aja. Aku juga lapar,'' jawab Fitri terang-terangan.


''Fit, menurut kamu, Bos Robert itu gimana?''


''Maksudnya Kak?''


''Iya, kamu kan tahu sendiri. Kakak pergi sama orang lain, dia marah banget sama aku. Nggak sama cewek, nggak sama cowok! Dia marah. Kan aneh Fit. Kakak ini sudah punya suami. Anak satu. Coba Fitri pikir sendiri!'' kataku blak-blakan.


Lagi-lagi, Fitri diam, tak bisa berkata-kata. (bersambung)

__ADS_1


__ADS_2