
Aku selalu berharap, di momen spesial hari ulang tahunku, ada seseorang yang spesial, memberiku kado yang juga spesial. Tapi, itu hanya khayalan aku saja, selama ini. Berharap itu, hanya akan membuat hati kecewa.
Berharap dari Mas Arga? Mustahil.
Lalu, bagaimana dengan Bos Robert? Aku juga berharap satu hal yang sama. Tapi, lagi-lagi itu cerita dongeng atau mimpi di siang bolong! Mustahil terjadi!
''Nggak ada yang peduli. Tapi, terimakasih untuk kesempatan hidup sampai detik ini. Happy Birthday untuk diri sendiri!''
Aku tulis kalimat itu di status whatsapp aku. Seperti biasa, orang pertama yang selalu baca status di WA aku, tak lain Bos Robert.
''Ehem.......'' kata Bos Robert chat ke aku.
''Aku yang paling peduli, sama Mami. Aku rindu masakan kamu.' Mi,'' katanya mencoba menghiburku.
Tapi, langsung aku protes.
''Peduli apaan. Ulang tahun aja pun nggak ada dikasih kado.''
''Oooooooo. Jadi itu masalahnya, Mi. Bilang dong.....kalau ulang tahun. Nanti ayah kasih kado.'' kata Bos Robert berjanji padaku.
''Ah! Bohong. Padahal kemarin mau kasih kejutan. Tapi, bohong. Malahan, lupa kalau aku ulang tahun. Benar-benar nggak ada yang peduli.'' keluhku, lewat chat.
''Ya sudah...kamu minta apa, Mi?'' tanyanya, masih lewat chat.
''Basi!'' balasku dengan membubuhkan emoticon wajah orang marah.
''Jangan begitulah Mi. Ayah nggak ingat sama sekali kalau Mami hari ini ulang tahun.'' katanya memelas padaku.
Dia langsung video call sama aku.
Karena masih kecewa, aku nggak berminat untuk mengangkat panggilan video callnya.
''Kamu, kenapa sayang. Maafin ayahlah. Beneran ayah nggak ingat kalau Mami ultah hari ini,'' katanya lagi.
***
Untuk mengobati kekecewaanku, akhirnya aku ajak Fira makan KFC. Dia pun kegirangan bukan main. Apalagi saat makan es krimnya. Dia benar-benar terlihat riang gembira.
''Mami, hari ini ulang tahun, makanya mau traktir Fira,'' kataku ke Fira.
''Mi, kenapa ayah Arga nggak pernah ajak jalan-jalan Fira.'' protesnya.
''Ya Allah, pertanyaan dia, tamparan keras buat aku. Rasanya aku berdosa banget sama Fira. Karena aku memang menghindar untuk jalan bareng sama Mas Arga.
''Mi...besok ajak ayah Arga, yuk, jalan ke mall,'' katanya mengungkapkan keinginannya.
''Ayah Arga itu sibuk, sayang. Nanti kalau kita ajak jalan-jalan, pekerjaan ayah Arga bisa berantakan.'' kataku berusaha memberi Fira pengertian.
''Sibuk banget ya Mi,'' tanyanya padaku.
''Iya sayang, ayah Arga sibuk kerja di kantor. Nanti, uangnya buat beli maem Fira,'' tambahku lagi.
Dia kulihat diam saja, sambil main ponselnya.
Dalam hati, aku membatin, untung anak gadisku ini masih kecil. Kalau dia sudah beranjak remaja, pasti dia marah banget sama Mas Arga. Karena kebersamaan Mas Arga dan Fira, memang jarang banget. Bahkan, boleh dibilang nyaris tak pernah jalan bareng.
Jujur, aku nggak pernah memaksa Mas Arga untuk meluangkan waktu buat aku dan Fira. Semua itu, berlangsung selama belasan tahun.
Kalaupun Mas Arga mengajak jalan, palingan Fira yang diajak jalan. Aku, hanya bisa menelan kekecewaanku, karena memang Mas Arga nggak pernah tertarik ajak jalan aku.
__ADS_1
''Nanti, kalau Fira ulang tahun, Fira mau dikado apa?'' tanyaku.
Dia langsung mengatakan ingin minta kado sama ayah baik (Bos Robert). Kata dia, ayah baik itu, banyak duit dan nggak pelit. Apapun yang diminta Fira, pasti dibelikan.
''Kenapa pikiran dia harus tertuju ke Bos Robert? Heran aku.'' gumamku.
''Fira, Mami tanya nih. Fira sayang mana, antara ayah Arga atau ayah baik?'' tanyaku penasaran menunggu jawabannya.
''Ayah baik.'' jawabnya polos.
Ya Allah....anak gadis aku ini kenapa lebih memilih Bos Robert? Bahkan, dia juga merasa cocok dengan Bos Robert.
Aku juga ingat, kata Bos Robert, Fira itu sudah dianggap anak gadisnya sendiri.
''Fira memang mau minta apa sama ayah baik, kalau ultah?''
''Boneka barby.'' sebutnya.
''Waduh....kan sudah banyak, sayang boneka barby di rumah.'' kataku menasehatinya.
''Atau kita beli celengan gambar barby yuk. Biar Fira belajar nabung ya. Nanti kalau tabungannya sudah banyak, baru beli boneka barby.'' sebut aku mengajarinya berhemat.
Aku ingatkan juga ke Fira, untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, nggak boleh minta sama orang lain. Tapi, berusaha sendiri.
''Caranya, Fira harus menabung.'' kataku, meyainkan dia.
''Mau Mi.....beli celengan gambar barby.'' jawabnya penuh semangat.
''Nanti, celengannya tunjukin ke ayah baik ya.'' kataku berbisik kepadanya.
Fira menganggukkan kepalanya, tanda dia mengerti apa yang aku katakan.
''Wuih memang pinter banget anak gadis Mami satu ini,'' pujiku, pada Fira.
''Iya, pokoknya mulai sekarang Fira harus rajin menabung ya. Terus nanti kalau sudah mau sekolah SD, bisa buat beli seragam, tas, sepatu buku. Hebat kan....kalau bisa beli kebutuhan sekolah, dengan uang celengan.'' kataku berusaha memberi penjelasan ke Fira, agar dia lebih semangat untuk belajar menabung.
***
Di swalayan deret rak aneka celengan. Kulihat ada celengan gambar barby yang diinginkan Fira. Tanpa berpikir panjang, aku ambil celengan itu lalu aku tawarkan ke dia.
''Ini sayang, celengannya bagus kan....gambar barby. Tadi kan Fira minta celengan gambar barby.'' kataku padanya.
Dia setuju saja dengan celengan pilihan aku.
Di celengan itu, selain bergambar barby, ada tulisan angka 2 ribuan, hingga totalnya mencapai tiga ratus ribuan.
''Ini, sayang. Nanti kamu belajar menabung dua ribu sehari ya. Kalau uangnya sudah dimasukkan ke celengan, dicoret ya angka dua ribu yang ada di kotak pertama ini.'' kataku mengajarinya memahami celengan itu.
***
Bangun tidur, Fira mengambil celengannya, lalu memasukkan selembar uang dua ribuan ke celengan barunya itu.
Lalu, sebelum aku berangkat kerja, dia menunjukkannya ke aku.
''Mi lihat ini,'' katanya sambil mengguncang-guncangkan celengannya itu.
''Iya setelah diisi, jangan lupa ya coret kotak pertamanya,'' kataku mengingatkannya.
''Iya, Mi. Oke!'' sahutnya.
__ADS_1
''Jadi, sejak Fira punya celengan, wajib nabung ya Nak.''
''Iya, Mi.''
''Terus, ngak boleh jajan-jajan sembarangan ya.'' kataku lagi mengingatkan.
''Besok, kalau celengan Fira sudah penuh, beli lagi celengannya ya. Nabungnya sedikit demi sedikit, lama-lama nanti jadi bukit.''
''Mi, boleh nggak video call sama ayah baik.'' pintanya dan buat jantung aku deg-degan saja. Untung Mas Arga sudah berangkat ke kantor. Begitu juga Bik Inah juga belum datang. Dia, datang jam 08.00 wib, balik jam 17.00 wib.
''Iya sini, tapi sebentar aja ya. Mami mau ke kantor.'' kataku memberi alasan ke Fira.
Aku tahu, Bos Robert sudah berada di kantor, jam 07.30 wib.
Nggak pakai lama, panggilan video call aku, langsung diangkatnya.
''Fira mau ngomong, lima menit.'' kataku saat Bos Robert telah menerima panggilan video call aku.
''Eh, anak gadis ayah baik, pagi-pagi telepon. Kenapa nih. Pasti rindu ya, mau ngajak jalan?'' tanyanya to the point ke Fira.
Fira tanpa malu-malu, langsung menunjukkan celengan barunya itu.
''Ayah baik, Fira punya celengan baru,'' ceritanya manja, pada Bos Robert.
''Wah....hebat dong. Belajar menabung. Nanti, kalau sudah banyak, kita jalan-jalan ya....!'' seru Bos Robert.
''Nanti kalau celengan Fira sudah banyak, kata Mami, mau buat beli seragam, sepatu, tas dan buku. Fira kan tahun depan, sudah masuk sekolah dasar kelas satu.'' jelasnya tanpa jeda.
''Hmmm.....memang hebat anak gadis ayah baik satu ini. Ya udah, sayang....ayah kerja dulu ya. Nanti kalau ayah baik nggak sibuk, kita jalan ya sama Mami, makan KFC dan beli es krim.'' kata Bos Robert berjanji ke Fira.
''Oke. Oke, ayah baik.'' jawab Fira.
Ponselku langsung aku ambil alih. Dia langsung aku marahin.
''Jangan sering-sering manjain Fira. Karena itu nggak bagus buat perkembangan dia.'' protesku.
''I love you...sayang. Cepetan aku tunggu di kantor,'' katanya sembari menutup ponselnya.
''Sialan. Belum selesai bicara dia sudah kabur. Awas aja nanti aku labrak dia di kantor.'' gumamku kesal.
Sungguh aku nggak ingin melihat Fira tumbuh sebagai gadis yang manja. Aku ingin dia tumbuh jadi gadis yang mandiri, tanggungjawab dan tangguh, dalam segala situasi. Kalau segala hal yang dia inginkan, langsung disuguhkan di hadapannya, bagiku, itu nggak mendidik sama sekali.
''Berapa kali aku harus bilang ke kamu. Jangan manjain anak aku dengan kemewahan.'' tegasku lewat chat.
Dia hanya membacanya. Tanpa membalas. Karena emosi, aku langsung matikan ponsel aku saja, biar Bos Robert bingung saat menghubungi aku.
''Itu hukuman buat dia.''
''Winona, jangan dilawan!'' gumamku bicara sendiri.
Karena tak bisa menghubungi, dia langsung meminta Fitri, untuk memanggilku, datang ke ruangan kerjanya. Karena nggak ingin ribut, terpaksa aku memenuhi panggilannya itu.
''Jangan aneh-aneh Mi. Sini ponsel kamu kenapa nggak kamu aktifkan. Baru saja chat sama aku, kamu sudah matikan data selulernya.'' protes Bos Robert.
''Ih....suka-suka aku dong. Mau aku matikan atau aku hidupkan data selulernya. Bukan urusan bos.'' kataku pasang wajah cuek.
''Itu urusan aku karena kamu bawahan aku. Kamu mau melawan atasan?'' ancamnya.
Akhirnya aku keluar saja beranjak dari ruangan kerja Bos Robert. Karena, waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 wib. Kalau berantem di ruangan sama bos, pasti bakal viral di media sosial. Mampus aku!
__ADS_1
''Hei...aku belum selesai bicara!'' bentaknya. Tapi, aku nggak peduli dan terus beranjak pergi, demi menghindari keributan yang lebih heboh.(bersambung)