Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Bicara Lagi Sama Ibu


__ADS_3

Libur telah tiba. Seperti biasa, aku selalu mengajak Fira ke rumah neneknya di Tanjungpinang.


Dia begitu kegirangan.


"Mi. Naik kapal ferry lagi ya?" tanyanya dengan polos.


"Iya sayang. Kita siap-siap yuk, berangkat hari ini," ajakku menyemangati dia.


Baru hendak berkemas, Bos Robert meneleponku. Terpaksa nggak aku angkat, karena Mas Arga masih di rumah. "Tumben dia di rumah." pikirku.


Tapi dia nggak tanya sama sekali, aku mau kemana sama Fira sepagi ini.


Ya Allah, aku memang sudah nggak dibutuhkan dia lagi. Hidup serumah tapi seperti hidup masing-masing.


"Ayah nggak ikut ya....," tanya Fira ke ayahnya.


"Nggak. Ayah ngantuk," jawabnya acuh tak acuh ke Fira.


"Ya Allah, Nak...."


"Maafkan ayah kamu ya Nak kalau seperti itu," gumamku sedih dalam hati.


"Mas aku pergi ke rumah ibuku ya," pamitku meski dia acuh tak acuh melihat aku pergi.


"Hmm..." sahutnya masih dengan posisi rebahan dan memejamkan matanya di sofa ruang tamu.


Aku pun berlalu begitu saja dari hadapan Mas Arga. Sebenarnya pemandangan ini sudah biasa kulihat. Dia acuh tak acuh padaku. Jadi dengan seperti ini, aku semakin kuat untuk ambil keputusan berpisah dari dia. Apapun yang terjadi.


Di taksi yang aku sewa. Kulihat Fira tertidur. Sepertinya dia masih mengantuk.


Kutelepon balik Bos Robert yang tadi panggilannya sempat aku tolak.


Aku panggil lewat video call, dan Fira begitu bersemangat ngobrol sama dia.


"Kok rebahan di pangkuan Mami. Fira masih ngantuk ya." katanya dan Fira pun mengiyakan apa yang menjadi pertanyaan Bos Robert.


"Nanti aku nyusul ke pelabuhan," katanya padaku, serius.


Belum smpat aku jawab dia sudah menutup panggilan video call aku. Dasar laki-laki menyebalkan.


Tiba di pelabuhan, kulihat dia sudah berdiri tegak di ruang tunggu pelabuhan. "Ya ampun bener-bener nyusul aku."


"Dasar gila." pekikku dalam hati.


Fira yang melihat Bos Robert langsung menghambur ke pelukannya.


Ya Allah anak aku...


"Wuih....cantik banget anak ayah pagi ini," pujinya ke Fira dan Fira manja banget sama dia.


Kami bertiga pun naik kapal ferry tujuan Tanjungbalai-Tanjungpinang. Fira masih dalam gendongan Bos Robert.

__ADS_1


Kulihat Fira tertidur dalam pelukan Bos Robert. Jadinya, aku bebas bicara.


"Kenapa sih kamu ikut terus kalau aku pulang ke rumah ibuku," tanyaku sewot. Padahal, dalam hati aku bahagia, dia selalu ada untukku, kemanapun aku pergi.


"Aku nyari kesempatan," jawabnya.


"Maksudnya apa, kesempatan?" tanyaku bingung.


"Aku itu, sangat berharap kalau balik ke rumah, ibu kamu bertanya ke aku." jelasnya.


"Tanya apa?" tanyaku lagi semakin penasaran, dibuat dia.


"Aku berharap banget, ibu kamu mengintrogasi aku. Kalian ada hubungan apa, sama anak aku. Kenapa barengan terus kalau ke Tanjungpinang. Itu aja. Jadi aku selalu ikut kamu kalau balik," jelasnya.


"Ih nggak banget. Pasti kamu takut aku jumpa laki-laki lain kan?" sebutku menggodanya supaya emosi.


"Awas aja kalau ketahuan sama laki-laki lain di Tanjungpinang. Aku bunuh laki-laki itu. Masuk penjara, nggak masalah," katanya sok pemberani.


Aku langsung terkekeh mendengar pernyataannya.


Dua jam lebih di atas ferry. Fira juga masih terlelap di pelukan Bos Robert.


Akhirnya sampai juga di pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang.


Aku berusaha membangunkan Fira, agar dia nggak kaget saat turun kapal.


"Sudah nggak apa. Dia masih ngantuk kelihatannya," kata Bos Robert membela Fira.


Di pelabuhan, beberapa supir taksi sudah stay di sana. Aku pun langsung melobi salah seorang dari mereka.


"Pak...ke Jalan Tempinis," sebutku.


"Oke Bu..... Seratus ribu ya," katanya memberi penawaran ke aku. Aku pun mengangguk saja, menyetujui penawaran ongkos taksinya.


Tak lama, aku, Fira dan Bos Robert tiba di rumah. Ibu langsung menyambut kedatangan cucunya. Dia memeluk Fira, mengecup ubun-ubunnya.


"Cantik banget cucu nenek hari ini," katanya. Fira pun masuk ke rumah, langsung rebahan.


Ibuku langsung komentar.


"Ya ampun....anak gadis ini capek banget. Ngantuk berat rupanya. Sampai rumah nenek langsung bobok."


"Wi...buatkan kopi, untuk bapak ini," kata ibu memerintahkan aku, supaya membuatkan kopi untuk Bos Robert.


Aku langsung ke belakang. Bos Robert pun ngobrol ditemani ibuku.


Mereka tak banyak bicara.


Kopi buatan aku selesai, dan aku sodorkan ke Bos Robert.


Malamnya, Bos Robert aku antar ke hotel. Aku beralasan ada kawannya di hotel sedang menunggu. Ibu aku percaya.

__ADS_1


"Mi....karena cuma berdua, aku boleh ya peluk kamu," katanya basa-basi.


"Tumben. Pakai izin segala," pikirku dalam hati.


"Aku nggak bisa lama. Nanti ibu aku curiga. Udahan ya ini jam 23.00 wib," kataku dan seraya meninggalkan dia seorang diri.


Sampai di rumah kulihat ibu sudah tertidur di kamarnya. Untung ibu sudah tidur.


Kalau belum tidur pasti aku diitrogasi macem-macem.


Paginya, seperti biasa. Bangun lebih awal. Setelah mendengar adzan subuh.


"Jam berapa semalam balik?" tanya ibu padaku. Bersamaan dengan itu, jantungku deg-degan tak karuan.


"Kamu serius ya sama dia?" tanya ibu tiba-tiba. Aku langsung bingung mau jawab apa soal itu.


"Tem..anan....aja Bu," jawabku sedikit gugup.


"Aku lihat bahasa tubuhmu berkali-kali, kamu serius." kata ibu aku to the point.


Lagi-lagi aku terdiam, tak bisa menjawabnya.


"Kamu sudah perjelas belum sama Nak Arga. Semuanya ini?" tanya ibu seolah menohok.


"Sudah ibu, makanya aku minta pendapat ibu lagi soal ini, aku sudah mantap mau bercerai," ungkapku serius.


Ibuku tiba-tiba menangis mendengar penjelasan aku tadi.


"Sudah nggak bisa dipertahankan Bu, pernikahan aku sama Mas Arga," jelasku lagi untuk kesekian kalinya.


"Status bos kamu itu apa, lajang atau gimana?" tanya ibu terus, dan kali ini lebih mendetail.


"Ibu.....sebentar ya....ada panggilan masuk dari Bos aku," kataku menghindar dari ibu.


"Ya Allah beneran deg-degan aku mau jawabnya. Takut salah dan akan membuat hati ibu terluka," kataku membatin.


Tak lama ibu mendekati aku. Mendesakku untuk segera menjawab pertanyaan dia tadi.


"Aku juga nggak tahu Bu, selama ini. Setahu aku dia sudah cerai dari istrinya," jawabku terpaksa berbohong.


"Kamu harus perjelas semuanya. Jangan sampai kamu merebut suami orang," kata ibu mewanti-wanti aku.


Aku hanya menganggukkan kepala. Tapi, di sisi lain aku merasa berdosa banget karena berbohong sama ibu.


"Firasat ibu, dia belum bercerai dari istrinya," imbuh ibu.


"Bener bu dia masih jadi suami orang," jawab aku sendiri, dalam hati. Andai aku berani menjawab itu.


"Pikirkan lagi masa depan anak-anak kamu bagaimana kalau kamu cerai sama Arga. Sudah siap belum kamu memberi makan mereka," tegas ibu.


Ibu benar. Ada banyak konsekwensi yang harus aku terima, andai aku jadi bercerai sama Mas Arga.(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2