Maaf Suamimu Aku Pinjam

Maaf Suamimu Aku Pinjam
Pagi-Pagi Diintrogasi Ibu


__ADS_3

Alarm ponselku terus berbunyi. Jam 06.00 wib, tanda aku harus segera bangun. Padahal aku masih berat banget mau buka mataku. Fira, tiba-tiba masuk kamarku, melanjutkan tidurnya di sampingku.


''Ngantuk Mi, Fira.'' katanya sambil memboyong guling busuknya itu.


''Aduh.....aduh.....anak gadis Mami tumben masih ngantuk. Biasa kalau di rumah sudah bangun, mainan HP. Eh....ini di rumh nenek masih ngantuk.'' kataku.


Ia tak peduli, karena memang mau melanjutkan tidurnya.


Kebelai rambutnya sebentar, lalu aku tinggalkan dia sendiri di kamar. Aku bergegas ke toilet, mau mandi. Sudah jadi kebiasaan aku, bangun tidur mandi dulu, baru sholat subuh. Terus menyiapkan sarapan. Berhubung di rumah orang tuaku, aku sedikit ingin berleha-leha, menikmati suasana yang berbeda.


Karena kulihat ibu sudah di dapur, sibuk membuat nasi goreng, aku pun tergoda untuk melihatnya.


''Hmmm....sedap, nasi gorengnya. Jadi kepengen sarapan dulu, baru mandi.'' kataku pada ibu.


''Jorok. Mandi sana dulu. Baru sarapan. Nanti ditiru sama Fira, baru tahu, kalau jorok-jorok!'' protes ibu. Akhirnya aku melanjutkan langkahku menuju ke kamar mandi saja.


''Baiklah kalau begitu, ibuku sayang dan paling baik sedunia.'' kataku memberinya pujian.


''Sebenarnya kamu dari mana saja sama bos kamu itu,'' tanya ibu, dan aku pura-pura tak dengar soal pertanyaannya tadi.


''Sebentar ya, Bu. Winona mandi dulu,'' sahutku.


Padahal, aku bingung mau jawab apa. Makanya aku nggak merespon pertanyaan ibu.


Tak pakai lama. Paling mandi seperlunya saja. Apalagi suasana masih dingin banget, mau mandi pagi lama-lama. Aku berlari dengan menutup separuh tubuhku dengan handuk, dari kamar mandi, menuju kamar tidur.


''Kebiasaan. Nggak berubah. Mandi, seharusnya bawa baju ganti sekalian.'' celetuk ibu mengomeli aku. Aku diam saja. Karena, aku memang suka lupa bawa baju atau handuk saat mau mandi.


Saat aku sudah rapi, aku buru-buru pamitan sama ibu. Karena sudah janji sama Bos Robert mau sarapan bareng. Sebenarnya mau bertiga sama Fira. Tapi, kulihat dia masih terlelap di kamarku. Aku nggak tega, membangunkan dia, lalu menyuruhnya mandi.


''Biarin aja dia masih tidur.'' pikirku.


''Ibu....maaf, tadi bos aku sibuk telepon, katanya ada pertemuan lagi dengan rekan kerja dari dinas pariwisata. Jadi, terpaksa aku harus mendampingi.'' jelasku ke ibu.


Ibu memintaku sarapan dulu, sebelum beranjak pergi.


''Nanti Fira balik Bu. Kata bos, Fira harus sudah sampai di lokasi, jam 08.00 wib.'' kataku lagi, berusaha meyakinkan ibu.


''Rasa dulu nasi goreng ibu. Nggak boleh, kalau disuruh rasa, terus kamu nggak rasa. Pamali, kata orang melayu.'' sebut ibu, dan aku pun ambil piring kecil, mencicipi masakan nasi goreng ibu, barang sesendok, dua sendok.


''Wuih....bener-bener sedap, Bu. Nanti Winona ulang lagi ya setelah pulang dari mendampingi bos. Bos aku itu super cerewet Bu.''


''Iya....sudah.'' jawab ibu singkat.

__ADS_1


Aku tahu, kulihat ada rasa kecewa tergambar di wajahnya. Tapi, aku harus menghindar, karena aku belum siap dengan pertanyaan-pertanyaan soal kebersamaanku dengan Bos Robert tadi malam.


***


Kupencet bel kamar hotel 236 itu. Tak lama. Penghuninya, muncul. Dia membukakan pintu untukku. Parahnya, dia muncul hanya dengan mengenakan ****** *****.


''Ih....porno.'' celetukku.


Dia langsung menutup pintu kamar hotel, lalu menarikku, dan mengajakku ke atas ranjang. Aku hanya pasrah, tak ingin memberontak, karena aku memang sangat merindukannya, pagi ini.


Dalam posisi sama-sama rebahan, dia menanyakan Fira.


''Fira kenapa nggak jadi diajak?''


''Aku mau bangunkan dia, nggak tega. Sepertinya dia masih ngantuk berat.'' jelasku.


''Ya sudah. Aku mandi sebentar ya. Setelah itu kita cari sarapan.''


''Yup....,''


Tak terlalu lama, Bos Robert sudah rapi, dan dia mengajakku keluar, mencari sarapan dan kopi pagi.


Makanan kesukaannya, tak lain kalau ke Tanjungpinang, adalah mie tarempa. Mie ini memang tak hanya digemari satu atau dua orang. Nyaris orang sejagad Tanjungpinang ini pasti doyan mie tarempa, untuk memenuhi kebutuhan kampung tengahnya saat di pagi hari.


***


''Bang....tapi aku bingung nih, dari kemarin malam. Aku yakin ibu masih menyimpan seribu tanda tanya untukku. Ibu penasaran soal kamu.'' jelasku, galau sendiri.


''Sudah....jangan dipikirin. Bilang saja aku ini bos kamu. Karena memang kamu anak buah aku.'' jelasnya memberi saran ke aku.


''Iya sih.....tapi ibu aku masih penasaran. Ibu mulai curiga sama aku. Tadi pagi aja, aku menghindar. Aku buru-buru, kubilang, karena bos ada pertemuan dengan orang dinas pariwisata. Jadi aku harus mendampingi.'' jelasku panjang lebar.


''Ih....bohong,'' katanya mengejek aku.


'Apaan sih. Ini kan semua gara-gara abang!'' tudingku.


''Ya sudah, maaf kalau gara-gara aku, harus berbohong.''


''Nggak ada maaf bagimu!'' jawabku ketus.


''Kupeluk nanti depan orang ramai, baru tahu!'' selorohnya.


''Bodo amat. Siapa takut.'' tantangku.

__ADS_1


''Tunggu ya.....biar banyak dulu pengunjung warung mie tarempa ini. Baru aku peluk Mami!'' balasnya.


''Dasar!'' sahutku, menimpali.


Tak lama, orderan kami datang.


''Sudah, ayo sarapan. Lupakan yang lainnya.'' pinta Bos Robert, sambil merebut ponsel aku.


''Sori, HP disita sementara. Karena akan ada pemeriksaan isi HP.'' sebutnya dan sedikit membuat aku kesal.


''Mau diperiksa seratus kali, nggak ada yang rahasia. Periksa aja.'' kataku pasang wajah sewot.


Sudah menjadi kebiasaan Bos Robert, kalau lagi makan siang sama aku, dia selalu merampas ponselku. Alasan dia melakukan itu, supaya aku benar-benar fokus menikmati hidangan makanan yang ada di depan aku, bukan malah asik main HP.


Awalnya aku kesal, karena dia terlalu berlebihan seperti itu. Bahkan, tak jarang, hanya karena dia memeriksa isi chat dalam ponselku, pasti ujung-ujungnya berantem. Apalagi, kalau ada chat mencurigakan di ponselku, pasti nomor itu akan dihubungi dia, dan orangnya akan diintrogasi habis-habisan.


Tak jarang, aku pun heran juga, kenapa aku bertahan begitu lama, bersama laki-laki itu. Spesialnya dia apa? Posesif!


Tapi, sudahlah, aku berusaha menikmati kebersamaanku dengan dia. Aku tak bisa membohongi hati kecilku. Meski aku benci sama dia, tapi aku juga lebih banyak menyukainya, karena dia memang memberiku kebahagiaan batin. Jujur, aku damai, saat ada di dekatnya.


''Mi....jujur, Mami sebenarnya sayang nggak sih sama aku?'' tanyanya terlihat iseng.


''Nggak. Ngapain sayang sama milik orang.'' jawabku ketus.


''Beneran ini nggak sayang sama aku? Nanti aku pergi, bisa-bisa nangis bombay!'' katanya menggodaku.


Aku pun spontan mengatakan ke Bos Robert, kalau aku nggak takut ditinggalin sama dia. Sebenarnya, aku berbohong saat mengatakan itu. Kalau dia pergi, aku pasti sedih. Tapi, aku nggak mau terlalu jujur ke dia. Nanti, dia bakal GR, dan bisa saja seenaknya sama aku.


''Mi coba telepon Fira. Ini kan sudah jam delapan. Masa iya masih tidur, anak gadis aku itu.'' kata Bos Robert mengalihkan pembicaraan.


''Nih telepon aja sendiri.'' kataku sembari menyerahkan ponselku ke dia.


*Dretttt....


*Dretttt....


*Drettt.....


''Tak diangkat.'' kata Bos Robert yang coba menghubungi nomor ponsel Fira.


''Dia biasanya bangun pagi kalau di rumah. Entah kenapa, tumben waktu di rumah neneknya sekarang, malah bangun siang!'' jelasku bercerita pada Bos Robert.


''Mi....kita ajak jalan dia, yuk ke pantai. Pasti suka. Kita rental mobil,'' ajaknya.

__ADS_1


Aku setuju saja apa yang dia usulkan. Setidaknya aku memang ingin Fira akrab dengan Bos Robert.


''Ya sudah kalau begitu kita jemput Fira saja, di rumah. Kita cari rental mobil dulu.'' pungkasnya.(bersambung)


__ADS_2